Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Bukan Malam Pertama


__ADS_3

Sebelumnya author mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para pembaca setia Kian dan Arkan karena sudah sangat lama sekali tidak update, dikarenakan ada pekerjaan di dunia nyata yang tidak bisa di tinggal dan beberapa alasan lainnya... 🙏🙏🙏 Sekali lagi maaf ya readers tercintaku 🙏🙏😣😣


Semoga masih suka sama ceritanya ya 🙏🙏🙏


****


Sepulang dari restoran, Kian tertidur di mobil setelah perutnya terasa kenyang. Arkan tidak ingin membangunkannya dan memilih menggendong Kian seperti biasa. Ia meletakkan tubuh Kian di atas ranjang dan melepas sepatunya. Lalu menarik selimut, menutupi tubuh Kian agar tidak kedinginan.


Malam sudah semakin larut. Setelah seharian melewati banyak hal, Arkan merasa tubuhnya sudah sangat lelah. Ia pergi mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur dan membaringkan dirinya di sebelah Kian. Memandangi wajah Kian yang kini sudah sah menjadi istrinya.


Sayang sekali, bahkan setelah kita menikah aku tidak bisa memelukmu. Tapi tenang saja, aku akan sabar menunggu. Sekarang beristirahatlah, kau pasti sangat lelah. Selamat tidur, istriku.


Baru saja Arkan hendak memejamkan mata, ia merasa sesuatu menyusup pinggangnya. Ia kembali membuka matanya dan mendapati tangan Kian sedang memeluknya seperti guling. Wajah Kian yang berada tepat di depan dadanya, rasanya ingin sekali ia peluk. Namun, ia tidak ingin Kian terbangun dan merusak posisi mereka saat ini.


"Ck. Jangan melakukan kontak fisik apanya! Lihat, justru sekarang kau sendiri yang memelukku. Kau ingin menggodaku, hmm?"


Merasakan tangan Kian hangat memeluknya, Arkan tidak ingin bergerak sedikit pun. Ia ingin Kian terus memeluknya sepanjang malam hingga pagi menjelang.


Jam sudah menunjukkan pulul 04.30, Arkan terbangun karena harus melaksanakan kewajibannya. Ia lepaskan pelukan tangan Kian dengan hati-hati lalu beranjak ke kamar mandi.


Selesai melaksanakan kewajibannya, Arkan kembali ke ranjang. Menatap Kian yang masih tertidur pulas. Arkan ingin membangunkan Kian, tapi bingung bagaimana memanggil wanita yang sudah menjadi istrinya itu.


"Hei, bangun!" ucap Arkan pelan. Namun Kian tidak bergerak. Arkan mengacungkan jari telunjuknya dan menekan-nekan wajah Kian agar wanita itu segera bangun.


"Hei, bangun," panggilnya lagi.


"Hmmpphh." Kian justru menggeliat sambil merentangkan kedua tangan lalu memeluk pinggang Arkan yang duduk di sampingnya.


"Kenapa rasanya nyaman sekali?" gumam Kian pelan. Lalu ia merasa ada sesuatu yang keras menyentuh tangannya. Masih dengan mata yang terpejam, Kian mencoba merabanya.


"Kenapa bisa ada pisang di tempat tidur?" Tanpa sadar, tangan Kian memegang junior Arkan yang mengeras karena perbuatannya. Dia bahkan mengelusnya ke atas dan ke bawah.


Tunggu kenapa bentuk pisang kali ini rasanya aneh. Ada bagian yang lebih besar dari yang lainnya.


"Heiiii!! Apa yang kau lakukan?" Arkan berteriak saat Kian menarik juniornya dengan keras. Spontan Kian terbangun karena terkejut mendengar teriakan Arkan.


"Kenapa kau berisik sekali pagi-pagi buta seperti ini?" Kian mengucek matanya dan mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar sadar.


"Ke-kenapa itu mu berdiri?" tanya Kian tergagap melihat sesuatu dibalik celana Arkan yang tegak menjulang ke arahnya.


"Apa kau bodoh? Kau sendiri yang membangunkannya sejak tadi. Kau bahkan mengelus dan menariknya. Apa kau pikir ini buah pisang?"


Kian melotot mendengar ucapan Arkan. "Apa??! Jadi yang ku pegang sejak tadi itu milikmu? Bukan pisang??"


"Kau ingin menggodaku, hmm?" Arkan bergerak mendekati Kian yang mulai pucat pasi. Wanita itu ingin beranjak, namun Arkan sudah lebih dulu menguncinya dengan menahan tubuh Kian ke dinding ranjang dengan kedua tangannya.


"Apa yang ingin kau lakukan? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak melakukan kontak fisuk?" tanya Kian gugup.


"Apa kau lupa? Jika kau yang memulainya, maka jangan salahkan jika aku yang mengakhirinya." Hembusan napas Arkan terasa hangat menerpa wajah Kian.


"Tapi aku tidak sengaja?" balas Kian cepat. Ia mulai merasa sekujur tubuhnya merinding karena posisi mereka yang begitu dekat. Kakinya bahkan tidak bisa berkutik karena kedua lutut Arkan menahannya.


"Sengaja atau tidak, tapi kau sudah membangunkannya dari tidur panjang. Dan sekarang, ia tidak akan tidur sebelum menemukan tempat berlabuh." Arkan semakin bergerak maju hingga tubuh mereka menempel. Ia bahkan bisa merasakan dada Kian yang merekah menyentuhnya. Membuat jiwanya semakin bergejolak.


Kian menutup mata, tidak ingin melihat apa yang akan Arkan lakukan padanya. Meskipun takut, semua ini karena salahnya sendiri yang mengusik milik pria itu terlebih dulu. Sekarang, ia hanya bisa pasrah jika Arkan akan melakukan itu padanya.


Melihat Kian menutup mata dengan wajah yang ketakutan, Arkan beranjak dari posisinya.

__ADS_1


"Cepat bangun dan sholat shubuh!" seru Arkan.


"Eh?" Kian membuka mata perlahan.


"Aku tidak akan melakukannya padamu jika kau tidak menginginkannya. Tapi jika kau melakukannya lagi, aku tidak akan melepasmu sekalipun kau memohon."


Glek. Kian merasa kali ini Arkan tidak main-main dengan ucapannya. Jika sampai ia melakukan hal bodoh pada pria itu lagi, habislah. Dilihatnya Arkan yang berjalan menuju pintu lalu keluar dari kamar tanpa berkata apapun lagi. Kian segera berdiri dan melaksanakan sesuai perintah Arkan. Bagaimanapun pria itu sudah menjadi suaminya, yang memiliki tanggung jawab penuh atas dirinya.


Disaat sinar mentari mulai menyingsing pagi, Kian sibuk menyiapkan sarapan untuknya dan Arkan. Ia tidak tahu apa yang disukai pria itu, jadi ia hanya membuat nasi goreng sebagai menu sarapan yang cepat dan mudah.


Sementara di kamar, Arkan tengah bersiap untuk berangkat ke kantor. Kemeja putih sudah menempel sempurna di tubuhnya di tambah dengan balutan jas berwarna burgundy yang membuatnya begitu menawan. Tiba-tiba ia mencium aroma yang terasa menggelitik perutnya.


"Apa yang sedang dia lakukan?" Arkan mengalungkan dasi di kerah kemejanya sambil berjalan menuju dapur. Tempat dimana Kian sedang berkutat dengan masakannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya sambil melongok ke arah wajan di depan Kian.


"Membuat sarapan," jawab Kian tanpa menoleh. Ia masih fokus mengaduk masakannya agar semua bumbu tercampur rata.


"Sarapan?" Arkan sudah selesai mengikat dasi dan mendekat ke Kian.


"Hmmm." Kian tersenyum lebar sambil menunjukkan dua piring nasi goreng yang sudah siap di tangannya. Ia meletakkan nasi goreng tersebut di atas meja.


Dengan kening yang masih berkerut, Arkan mengambil sendok lalu mencicipinya. Matanya bergerak ke samping seolah menyesapi rasa masakan Kian sambil mulutnya terus mengunyah.


"Gimana?" tanya Kian penasaran.


"Makanan apa ini? Kenapa rasanya aneh sekali?"


Kian segera merebut sendok dari tangan Arkan dan ikut mencicipi. "Ini enak kok!"


"Ck. Enak apanya! Apa lidahmu mati rasa? Tidak bisa membedakan makanan yang enak atau tidak?" cibir Arkan.


"Tidak bisa! Karena kau sudah membuatkannya untukku. Berarti ini milikku!" Arkan menarik piring nasi goreng dari depan Kian dan melahapnya sampai habis.


Bukannya tadi dia bilang rasanya aneh? Kenapa piringnya sampai bersih begitu? Dasar aneh!


"Kau ingin berangkat ke kantor?" tanya Kian. Ia baru sadar Arkan sudah berpakaian rapi. Dan melihat penampilan pria itu, jujur saja ia terpana. Arkan terlihat sangat tampan memakai jas berwarna burgundy itu.


"Hmmm. Aku akan ke kantor sebentar untuk mengambil berkas. Setelah itu, bertemu rekan bisnis." Arkan meneguk air putih yang dituang Kian untuknya.


"Apa aku sudah boleh berangkat ke kantor?" Terhitung sudah genap sebulan Kian cuti sejak kejadian penusukannya waktu itu.


"Apa kau benar-benar sudah sembuh?" tanya Arkan.


"Sudah. Lihat ini, bahkan lukanya sudah tidak terlihat sama sekali!" Kian menarik bajunya dan menunjukkan bekas luka. Melihat sebagian tubuh Kian yang terbuka, Arkan justru gagal fokus. Pikirannya dengan cepat melayang entah kemana.


"Kau ingin menggodaku lagi, hmm?"


Sadar dengan apa yang dilakukannya, Kian langsung menurunkan bajunya. "Tidak, tidak! Maaf aku tidak sengaja." Geleng Kian cepat.


"Kalau kau merasa sudah baikan, kau boleh berangkat. Tapi ingat, kau harus berhati-hati!"


Kian langsung mengangguk paham. "Siap, Pak Bos!" ucapnya sambil meletakkan tangan di kening, memberi tanda hormat.


"Ingin berangkat bersamaku?" tawar Arkan.


"Tidak, kau berangkat lebih dulu saja. Aku akan naik kendaraan umum."

__ADS_1


"Apa??! Sudah ku katakan berhenti menaiki kendaraan umum. Sam akan mengantarmu nanti!"


"Tapi..."


"Tidak ada tapi-tapian. Atau kau tidak boleh berangkat ke kantor hari ini!" tegas Arkan. Bulat dengan keputusannya.


Sebenarnya Kian ingin menolak diantar oleh Sam karena takut rekan-rekan kerjanya akan menaruh curiga padanya. Ia sudah terlalu sering keluar masuk mobil pribadi Arkan, bahkan sebelum ia sah menjadi istrinya. Kian tidak ingin mereka tahu hubungannya dan Arkan yang sebenarnya. Tapi, menolak keputusan Arkan saat ini hanya akan membuatnya tidak bisa berangkat ke kantor. Padahal sudah lama ia ingin bekerja kembali.


"Baiklah. Terserah kau saja." ucap Kian pasrah.


"Aku berangkat ke kantor dulu. Kau berhati-hatilah di jalan nanti!"


"Hmmm." Kian mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Cuppp." Sebuah ciuman lembut mendarat di kening Kian. Spontan, ia terkejut mendapat perlakuan tersebut dari Arkan. Meskipun otaknya ingin protes karena itu termasuk kontak fisik, tapi entah kenapa hatinya membuatnya membeku hingga ia hanya bisa mematung tanpa protes sedikitpun.


Kenapa jantungku tiba-tiba bergetar seperti ini saat dia menciumku?


"Tutup mulutmu sebelum lalat menerobos masuk!" ledek Arkan saat melihat Kian menganga karena terkejut.


"Apa? Eh?" Kian menutup mulutnya sambil memukul bahu Arkan yang sudah menggodanya.


Selepas Arkan pergi, Kian membuka lemarinya dan memilih pakaian yang akan ia kenakan. Ia sedikit terkejut karena baru menyadari ada beberapa pakaian yang tidak biasa. Diambilnya beberapa pakaian tersebut dan mencobanya satu persatu.


"Lumayan. Apa dia ingin aku memakainya ya?" gumam Kian sambil menatap dirinya dalam cermin.


Akhirnya setelah memutuskan, Kian memakai salah satu pakaian tersebut. Ia pun segera turun dari apartemen menuju lobby, tempat dimana Sam sudah menunggunya.


Melihat penampilan Kian, Sam nyaris tidak bisa mengedipkan matanya. Andai saja dia tidak mengingat status Kian kini dan pesan dari tuan mudanya, mungkin ia akan berlama-lama menatap wanita itu.


Kenapa anda cantik sekali Nona? Andai di dunia ini ada satu lagi yang seperti anda, saya juga mau.


"Selamat pagi, Nona!" sapa Sam sambil membukakan pintu mobil saat Kian mendekat.


"Selamat pagi." Senyum yang melebar di wajah Kian membuat darah Sam berdesir.


Jangan tersenyum seperti itu padaku, Nona. Hati saya bisa meleleh.


"Kau tahu Sam, aku sangat senang akhirnya bisa berangkat bekerja lagi. Cuti sebulan benar-benar sangat membosankan!" celoteh Kian di dalam mobil.


"Itu karena Nona harus benar-benar pulih sebelum bisa berangkat bekerja," tukas Sam.


"Iya sih. Tapi lihat, badanku yang bertambah melar karena makan tidur selama cuti, Sam." Kian mencebikkan bibirnya cemberut.


"Tapi Nona tetap terlihat cantik kok!"


"Wah, sejak kapan kau sudah mulai pintar bohong?"


"Saya tidak berbohong, Nona. Kalau tidak, mana mungkin Tuan Arkan menyukai dan menikahi, Nona."


"Itu kan supaya dia tidak dijodohkan. Makanya dia terpaksa menikahiku."


"Selama saya mengenal Tuan, Tuan bukanlah orang yang bisa dipaksa. Terlebih masalah wanita. Baru Nona yang bisa dekat dengan Tuan."


Kian terkesiap mendengar ucapan Sam. Tapi ia tidak serta merta mempercayainya. "Tuh kan kau berbohong lagi. Tidak mungkin Arkan tidak pernah berpacaran sebelumnya!"


"Memang tidak pernah, Nona."

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya Kian menemukan fakta bahwa Arkan memang tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Meski hatinya ingin percaya, tapi entah kenapa pikirannya masih belum bisa menerima fakta tersebut. Sulit dipercaya bahwa hanya dia wanita yang baru dekat dengan Arkan.


__ADS_2