
Sudah nyaris separuh malam Kian dan Arkan masih bergumul ria di balik selimut. Sesuai janji Kian yang ingin berterimakasih pada Arkan, ia membiarkan pria itu menjamah seluruh lekuk tubuhnya. Membayar semua lelah yang Arkan lakukan untuknya.
Lagi-lagi Kian hanya merasa beruntung memiliki Arkan. Meskipun pria itu mengungkungnya dengan sangat posesif, namun tak seorangpun yang bisa membuatnya merasa begitu dicintai selain Arkan.
Krukrukruk. Terdengar suara perut Kian yang berbunyi dengan nyaringnya.
"Kamu lapar?" tanya Arkan setelah membuka selimut. Namun masih menutupi tubuh polos mereka.
Kian hanya mengangguk malu. Semenjak hamil, ia memang lebih cepat merasa lapar meskipun porsinya masih cukup normal.
"Mau makan apa?"
"Adanya apa?"
"Entahlah, sepertinya di kulkas masih ada beberapa bahan makanan."
"Kamu mau memasak?"
"Hmm."
"Kalau begitu aku akan membantumu."
Arkan mengeluarkan semua bahan makanan yang tersisa di kulkas. Tidak banyak, karena memang mereka belum sempat berbelanja.
"Bagaimana kalau kita membuat omelette?" tawar Arkan.
"Sepertinya enak! Aku akan memotong beberapa sayurannya." Kian baru saja mengambil sebuah pisau namun Arkan segera merebutnya.
"Tidak. Biar aku saja yang memotong!"
Kian mencebikkan bibirnya. "Lalu tugasku?"
"Panaskan saja teflonnya!"
"Baiklah."
Tunggu! Bagaimana kalau sampai nanti api menyambarnya?
"Tidak.Tidak! Jangan nyalakan kompornya!"
Dia ini kenapa sih? Ini ngga boleh. itu ngga boleh.
Kian kembali cemberut. "Terus aku bisa bantu apa?"
Arkan tampak berpikir. "Ahhh benar! memecahkan telur saja! Sebaiknya kamu melakukan itu saja. Itu cukup aman untukmu."
Astaga, jadi dia melarangku ini itu karena takut membahayakan diriku. Yang benar saja!
Akhirnya omelette siap dihidangkan. Meskipun makanan seadanya, namun Kian begitu menikmati masakan suaminya. Rasanya tidak kalah seperti yang ia makan di restoran. Jelas saja, kan Arkan belajar memasak juga dari chef langsung.
__ADS_1
"Sayang terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku lebih dari apapun. Tapi aku bisa menjaga diriku dengan baik." Kian menggenggam tangan Arkan untuk menyakinkan pria itu. Tidak ada yang salah dengan perhatian suaminya. Namun Kian khawatir-karena terlalu sering mengkhawatirkan dirinya-Arkan lupa untuk menjaga dirinya sendiri.
"Cepat makan sebelum dingin!" balas Arkan mengalihkan pembicaraan. Ia tahu maksud ucapan Kian, namun rasanya masih sulit melepaskan Kian melakukannya sendiri. Ia masih terlalu khawatir istrinya akan terluka. Lagi.
***
"Sayang, bangun!" Arkan mengusap lembut pipi Kian untuk membangunkannya.
"Hmmpphh." Namun yang terdengar justru gumaman. Kian menggeliat hingga baju tidurnya tersibak ke atas. Menampilkan paha mulusnya hingga ke perut. Tentu saja bagian yang tertutup segitiganya juga terekspos, seperti menantang junior Arkan untuk segera melesat kesana.
"Kau ingin menggodaku, hmm?" Tanpa aba-aba, Arkan langsung menarik cd berwarna hitam yang membuat Kian semakin terlihat seksi.
"Apa yang kamu lakukan?!" tanya Kian terkejut. Tubuh bagian bawahnya sudah polos tanpa sehelai benang pun.
"Tentu saja menerima tantanganmu!" balasnya menyeringai.
Kening Kian berkerut. "Tantangan?" Belum sempat ia berpikir, Arkan sudah melancarkan aksinya. Membuat Kian hanya bisa mengeluarkan desahan atas kenikmatan yang Arkan berikan.
Setelah selesai membersihkan diri, Arkan mengenakan pakaian kasual untuk berpergian.
"Kamu mau pergi?" tanya Kian.
"Hmm. Bukan hanya aku tapi kamu juga. Kita akan ke rumah besar hari ini."
"Ke rumah besar?"
Kian langsung menghambur menuju ruang ganti. Sementara Arkan mengangkat telepon dari seseorang.
"Aku akan segera kesana," jawabnya langsung memutuskan sambungan.
Mereka berdua turun menuju mobil. Disana sudah ada Sam yang menunggu mereka. Seperti biasa, pria itu selalu tersenyum ramah saat berpapasan dengan Kian.
"Selamat pagi Tuan, Nona!" sapa Sam.
"Selamat pagi, Sam!" balas Kian ramah. Namun ada tatapan sengit yang tertuju pada mereka.
"Hey Sam! Berhenti tersenyum saat melihat istriku! Dan lagi, berhenti menyapanya seperti itu!" Arkan merasa kesal saat Kian menyebut nama pria lain di depannya.
"Sayang, Sam hanya menyapa."
"Dan kamu, berhenti memanggil namanya!" tegasnya pada Kian.
"Lalu saya harus bagaimana jika bertemu dengan Nona, Tuan?"
"Cukup mengangguk saja!"
Bucin Tuan Muda memang tidak ada duanya.
"Baik, Tuan."
__ADS_1
Dalam waktu satu setengah jam mereka sudah tiba di rumah besar. Nyonya Wijaya bahkan sudah berdiri di depan rumah. Ia begitu girang menyambut keduanya.
"Menantuku!" Nyonya Wijaya langsung memeluk Kian.
"Ibu," sapa Kian sambil membalas pelukannya.
"Ayo masuk!"
Kian juga menyalami Tuan Wijaya yang sedang membaca koran di ruang tamu. Seperti biasa, ekspresi wajahnya masih terlihat dingin. Meskipun ia tidak menolak saat Kian menyalaminya.
Setelah saling menyapa satu sama lain, mereka langsung menuju meja makan untuk sarapan. Meskipun tadi di apartemen Kian sempat memakan pancake yang Arkan buat, namun sekarang ia sudah merasa lapar lagi.
"Ini, makanlah!" Arkan memotong Salmon Steak untuk Kian. "Ikan sangat bagus untuk calon anak kita."
"Calon anak?" tanya Nyonya Wijaya bingung.
"Hmm. Kian sedang hamil," sahut Arkan.
"Benarkah?" Nyonya Wijaya semakin girang mendengar kabar kehamilan Kian.
"Kita akan segera menimang cucu!" ucap Nyonya Wijaya pada suaminya. Bahkan Tuan Wijaya juga sedikit terkejut mendengarnya. Namun samar-samar ada guratan senyum tipis di wajahnya.
Akhirnya aku akan segera mendapatkan cucu.
Setelah acara sarapan selesai, Arkan meminta ibunya untuk menemani Kian berkeliling rumah. Karena selama menjadi menantu keluarga itu, Kian belum pernah melihat-lihat isi rumah lebih dalam.
Setelah Kian dan ibunya pergi, tinggal Arkan dan Tuan Wijaya berdua di ruang keluarga. Di lihat dari ekspresi wajahnya, Tuan Wijaya seperti menahan kekesalannya.
"Apa yang sudah kau lakukan selama ini?" Tuan Wijaya melemparkan laporan tentang penutupan Mall yang kemarin Arkan perbuat. "Kau bukan anak kecil lagi yang bisa bertindak seenaknya!"
"Demi istriku apapun akan aku lakukan!"
"Dasar bodoh!! Apa kau pikir aku membangun semua bisnis ini hanya untuk leluconmu? Kau tahu berapa kerugian yang harus di tanggung?"
"Apa menurut Ayah harta lebih penting daripada kebahagiaan Ibu?"
Tuan Wijaya terdiam. Ucapan Arkan seperti anak panah yang menusuk tepat di dadanya. Membuat nyeri.
"Mungkin itu sebabnya Ibu menjalin hubungan dengan Tuan Baskoro-"
"Tutup mulutmu!!!"
"Aku tidak akan melakukan kesalahan seperti yang Ayah lakukan pada Ibu! Aku mencintai istriku, dan segalanya akan ku lakukan untuk kebahagiannya!" Arkan pergi meninggalkan Tuan Wijaya yang masih mematung.
Meski kesal, namun Tuan Wijaya tidak bisa menyangkal semua ucapan Arkan. Tak dipungkiri sekelebat bayangan masa lalunya kembali muncul.
Selepas meninggalkan Ayahnya, Arkan berjalan menuju ruang bawah tanah. Tempat dimana Reino di tahan. Kali ini Arkan tidak akan melepaskannya dengan mudah. Sekalipun Reino dalam kondisi yang menyedihkan, Arkan tetap akan memberinya pelajaran.
"Bagaimana? Kau suka tempat barumu?" ejek Arkan ketika sampai di sebuah ruangan dengan pencahayaan redup. Ada sebuah kurungan besi disana. Seperti bekas kandang harimau atau binatang buas. Di sanalah Reino berada.
__ADS_1