Mr Arrogant'S First Love

Mr Arrogant'S First Love
Otak Gesrek


__ADS_3

***Hai readers, mohon maaf kalau beberapa part di bagian ini terkesan lambat. Soalnya author suka aja ngeliat kejadian-kejadian aneh Arkan saat di kampung. Secara kan dia gak pernah tuh hidup di kampung. Jadi sengaja author bikin agak panjang sampai beberapa bab. Mohon di maklumi ya πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Jangan lupa Like, vote and rate 5 ya, biar author makin semangat nulisnya.. Semoga para readers panjang umur dan sehat selalu😊😊***


Happy Reading πŸ˜‰πŸ˜‰


-----


"APA??!!!" Kian tersentak kaget saat Arkan mengatakan ingin menginap di rumahnya. Terlebih saat orangtuanya menyetujui permintaan gila pria itu.


Apalagi sih yang dia rencanakan?


"Sudah tidak apa-apa, lagian kasihan kalau malam-malam begini disuruh pulang sendiri. Apalagi supirnya tidak bisa menjemput. Sekarang ambilkan handuk di lemari, biar Nak Arkan mandi dulu," perintah Bapak pada Kian.


Meskipun Kian tidak setuju, tapi ia tidak bisa membantah Bapaknya. Sambil bersungut ia mengambil handuk dan memberikannya pada Arkan. Bau lumpur masih menempel di tubuhnya sekalipun ia sudah membersihkannya di sungai.


Arkan menerima handuk itu dengan senyum menyeringai karena berhasil menyakinkan orangtua Kian agar ia bisa menginap di rumah mereka. Dengan semangat ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun tak lama ia keluar lagi dengan raut wajah bingung.


Ia menghampiri Kian yang sedang duduk sendiri di dapur. Sementara orangtua dan adik-adik Kian berada di ruang tamu.


"Hei, kenapa di kamar mandi tidak ada shower atau bath up?" tanya Arkan penasaran.


Mendengar pertanyaan Arkan, Kian memutar bola matanya. Ini orang waras apa tidak sih??


"Apa kau pikir ini di hotel? Lagian mau ditaruh dimana? Di atas seng? Sudah sana mandi!" Kian mendorong tubuh Arkan kembali ke kamar mandi. Lalu menutup pintu.


"Terus bagaimana caranya aku membersihkan diri?" Arkan muncul lagi dari balik pintu.


Kian menghembuskan napas kasar. Lalu ia ikut masuk ke dalam kamar mandi.


"Caranya, buka pakaianmu lalu siram menggunakan gayung ini!" Kian memegang gayung di tangannya. Menunjukkan cara mandi ala rakyat jelata.


"Sekarang?" tanya Arkan dengan wajah innocent nya.


Kian melotot, dia baru sadar bahwa mereka sedang berada di dalam kamar mandi berduaan.


"AAAAAA!!!" Kian berteriak lalu menghambur keluar dari kamar mandi. Ia menutup wajahnya yang bersemu merah.


Melihat tingkah Kian, Arkan malah terbahak-bahak di kamar mandi. Segera ia menutup pintu dan membersihkan dirinya sesuai arahan Kian. Membayangkan wajah Kian yang bersemu merah, Arkan nyaris tidak bisa menahan dirinya.


Ahh dia sangat menggemaskan!

__ADS_1


"Kenapa kamu berteriak, Kian?" tanya Ibu saat melihat Kian lari dengan napas tersengal-sengal.


"Euhmm cicak bu, Kian lihat cicak!" jawab Kian gelagapan.


"Ohh cicak. Sejak kapan kamu takut sama cicak, bukannya dulu kamu sering menembaknya dengan karet?" Ledek Ibu.


"Cicak yang ini beda, bu. Ukurannya besar kayak manusia!" Kian mendramatisasi keadaan.


"Huss ngawur kamu! Ayo bantu ibu menyiapkan makan malam saja, daripada ngelantur."


Akhirnya Kian menurut membantu Ibu menyiapkan makan malam. Seperti biasa makanan itu dihidangkan di atas tikar. Semua orang sudah berkumpul, tinggal menunggu Arkan yang masih betah di kamar mandi.


Dia itu mandi apa bertelur sih??


Kian yang tidak sabar menghampiri Arkan dan menggedor pintu kamar mandi.


"Hei, apa yang kau lakukan? Cepat keluar!" teriak Kian.


"Sabar Kian, sebentar lagi juga pasti keluar!" sahut Ibu berusaha menenangkan Kian.


Tidak lama, pintu kamar mandi terbuka. Arkan yang hanya menggunakan lilitan handuk di pinggang, menampilkan dada bidangnya yang mulus. Bentuk kotak-kotak di dada itu membuat Kian melotot tanpa berkedip.


"Hei, apa yang kau lihat?" tanya Arkan mengagetkan Kian.


"Kenapa kau tidak memakai baju?" tanya Kian masih memalingkan wajahnya.


"Kau tidak memberikannya padaku tadi!"


Ahh Kian baru ingat, dia hanya menyodorkan handuk pada pria itu. Ia lalu menuju ke kamar dan mengambilkan pakaian Bapak.


"Pakai ini dan cepatlah! Yang lain sudah menunggu," ujar Kian melemparkan baju ke Arkan.


Pria itu kembali ke kamar mandi. Selang beberapa menit, ia keluar lagi dengan pakaian yang terlihat cingkrang di tubuhnya. Meski begitu, penampilannya tidak mempengaruhi wajah tampannya sedikit pun.


Benar-benar ketampanan yang hakiki!


Kian dan Arkan menyusul ke ruang tengah. Barulah acara makan malam dimulai. Kali ini lebih ramai daripada tadi siang, karena ada Ayu dan Angga. Mereka makan sambil di selingi obrolan kecil dan tertawa ringan. Kehangatan sebuah keluarga begitu terasa. Bahkan Arkan pun turut merasakannya. Dia belum pernah mengalami ini sebelumnya. Sebagai anak tunggal yang orangtuanya sibuk bekerja, Arkan lebih sering makan sendiri ditemani para pelayannya. Sekalipun makanan di rumah Kian sangat sederhana, tapi ternyata rasanya lebih nikmat ketimbang makanan lezat yang dimasak para koki di rumahnya. Itu karena suasana yang Arkan rasakan jauh berbeda dari apa yang dia alami sebelumnya. Dia merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga ini.


Arkan masih mengunyah makanannya disaat yang lain sudah menyelesaikannya. Meskipun Kian tidak mengambilkannya sebanyak tadi siang, tapi tetap saja ia paling akhir. Karena sebenarnya Arkan sangat jarang makan nasi. Dia lebih sering makan protein dan sayur mayur. Jadi saat Arkan makan nasi, dia sulit menghabiskannya. Tidak seperti orang-orang biasa, yang katanya kalau belum makan nasi, belum makan! Hahaha.


Namun begitu, Kian tetap setia menunggu pria itu menyelesaikan makannya. Dia menatap Arkan yang melahap makanannya.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku?" tanya Arkan masih mengunyah makanannya.


"Aku pikir kau tidak bisa memakan makanan seperti itu."


"Memang sebenarnya aku tidak bisa. Makanan ini bukanlah seleraku."


Mulai lagi deh gilanya!


"Terus kenapa kau memakannya?" tanya Kian sinis.


"Karena aku lapar. Memang apa lagi?"


"Ck. Benar, otak gesrekmu tidak akan bekerja kalau kau kelaparan." Kian mendengus kesal. Ia pergi ke dapur meninggalkan Arkan menyelesaikan makannya sendirian.


Sementara pria itu hanya melongo melihat kepergian Kian.


"Gesrek? Apa itu? Apa itu sejenis pujian?" Arkan mengangkat bahunya, tidak mengerti maksud perkataan Kian.


Di dapur, Kian mencuci piring kotor bekas makan malam. Raut wajahnya terlihat kesal setelah mendengar ucapan Arkan tadi.


"Mau ku bantu?" Arkan meletakkan piring kotor di hadapan Kian. Raut wajahnya tersenyum ramah pada gadis itu.


Apa aku tidak salah dengar? Tapi melihat wajahnya, sepertinya ia benar-benar ingin membantu.


"Tentu saja!" jawab Kian polos.


Lalu Arkan mengangkat kedua tangannya ke atas dan mulutnya berkomat kamit. Kian mengernyit melihat tingkah aneh pria itu.


"Sudah!" jawab Arkan lalu beranjak berdiri.


"Apanya yang sudah?" tanya Kian masih penuh dengan keheranan.


"Sudah ku bantu dengan do'a. Hahaha!" Arkan langsung melengos pergi.


"Sialan!" umpat Kian kesal.


Sudah kuduga otaknya tidak akan benar secepat itu.


Kian melempar sabut cuci piring di tangannya, ia bertambah kesal karena Arkan memberinya harapan palsu.


Seharusnya aku biarkan saja tadi dia pingsan di pinggir sungai, biar ia ditelan sama ular sekalian!

__ADS_1


Kian terus mengutuk Arkan dalam hatinya, ia merasa dibodohi telak oleh pria itu. Akhirnya Kian mengambil lagi sabut cuci piring yang sudah ia lemparkan dan melanjutkan mencuci piring. Ia ingin segera membalas pria itu.


__ADS_2