
Selesai pemasangan cincin, Rena diminta untuk mencium tangan Alan. Lalu dilanjut dengan Alan yang membalasnya dengan mencium kening Rena.
“Ini nih yang ditunggu-tunggu Alan,” ledek Iyus.
“Ingat, cuma kening, Lan! Jangan lari ke yang lain!” timpal Faiz yang mendapat cubitan dari Mauri.
Alan mencium kening Rena dengan penuh kasih, lalu berbisik di telinga Rena.
“Malam ini kamu tidak akan bisa lolos, Cinta,” bisik Alan yang membuat Rena terbelalak mendengar perkataannya.
Alan yang melihat reaksi Rena, lalu mengedipkan sebelah mata kepada istri tercintanya itu. Tak lupa senyum simpul yang sedari tadi menghias wajahnya. Sedangkan Rena, wajahnya kini semakin merona. Suaminya itu memang begitu pandai menggodanya. Setelah itu, mereka berdua pun mengalihkan perhatian mereka kepada keluarga, sahabat, dan para tamu yang hadir dalam acara akad keduanya.
Senyuman, tangis haru, pelukan, dan ucapan selamat serta doa diberikan oleh keluarga, sahabat, dan para tamu yang hadir di sana untuk kedua mempelai. Setelah itu keduanya melanjutkan berbagai proses yang umumnya harus dilalui oleh pasangan pengantin.
***
Kini tibalah saatnya para tamu menikmati makanan yang tersedia, disusul tamu-tamu lain yang datang memenuhi undangan keduanya.
“Bu Rena, selamat ya, barakallahhu fiik. Moga cepat dapet momongan,” ucap Bae memeluk erat Rena.
“Udah dong, Bae. Jangan lama-lama, antrian masih panjang!’ ucap Laela.
“Yaelah, iya napa,” jawab Bae bergantian dengan Laela, Riska, dan Mili.
“Makasih Bae, Laela, Riska, Mili, Sarah, kalian sudah datang,” ucap Rena.
“Tentu dong, Bu,” ucap Sarah memeluk Rena.
“Sarah, maaf ya, Ibu tidak hadir ke acaramu,” sahut Rena.
“Gak apa-apa kok, Sarah ngerti, Bu,” ucap Sarah.
Sarah mengerti alasan Rena tidak hadir dalam acara pernikahannya karena ia tahu bahwa ayahnya atau pun ayahnya Ziko, suaminya, sangat dekat dengan Rayhan, mantan suami dari Rena. Namun, yang masih belum dimengerti Sarah yaitu sampai kapan Rena dan Rayhan akan tetap berseteru.
Di tengah-tengah suasana pesta, kehebohan terjadi saat Alex Abdul Malik dan putra tunggalnya Adrian Abdul Malik datang menghadiri pesta pernikahan Alan dan Rena.
“Ya ampuuuuuuun, Ica...,” teriak Bae.
“Apa sih Bae?! Teriak-teriak enggak jelas,” ucap Felisa ketus.
“Lihat itu siapa yang dateng,” ucap Bae
separuh berteriak. Lalu ia menunjuk ke arah laki-laki yang sekarang sedang menyalami Alan dan memberi ucapan selamat pada Rena.
“Kak Adrian!!” teriak Laela dan Riska hampir bersamaan ketika keduanya menangkap sosok yang dimaksud Bae.
“Wah, bahaya tuh, jiwa-jiwa jomblo mereka kini sedang meronta-ronta,” ucap Sarah.
“Mau bagaimana lagi? Kak Adrian memang kelihatan ganteng banget... Pantes aja jika jiwa para jodi meronta-ronta.. Ya, Tuhan, mudah-mudahan ketampanannya menular sama kamu, Nak,” ucap Mili sambil mengusap perutnya yang sedang hamil 7 bulan.
Felisa ikut menoleh ke arah pandang teman-temannya.
“Huh, si pembuat masalah datang lagi,” gumam Felisa ketus.
“Ca, kita samperin, yuk!” ajak Bae.
__ADS_1
“Ngapain ah, males,” ucap Felisa yang berlalu keluar dari gedung itu.
Adrian adalah kakak kelas Felisa saat di SMP dan SMA. Ia dulu sering sekali membuat masalah dengan Felisa. Itulah sebabnya, Felisa tidak terlalu menyukainya.
***
“Tidak disangka Om akan datang. Padahal, Alan dengar Om sangat sibuk sekali mengurus bisnis Om yang semakin berkembang pesat saja,” ucap Alan pada Alex.
“Tentu saja, Om pasti datang Alan. Kamu kan sudah Om anggap seperti putra kandung Om sendiri. Biar bagaimana pun Papa Radit itu dulu sangat menyayangi kamu dan sebelum dia meninggal dia juga menitipkan kamu pada Om,” ucap Alex.
Radit memang sangat menyayangi Alan, selain karena rasa hutang budinya pada Alan yang mau menikah dengan putri semata wayangnya dan menemani putrinya itu hingga akhir hayatnya, Radit juga tak memiliki anak laki-laki. Itulah sebabnya, dia menganggap Alan atau pun Adrian seperti putra kandungnya.
“Selamat ya, Kak Alan, Bu Rena,” ucap Adrian dengan senyum simpulnya.
“Makasih, Adrian. Kamu juga selamat, aku dengar sekarang kamu berhasil meraih penghargaan sebagai pengusaha muda terbaik se-Asia,” puji Alan.
“Terima kasih itu sangat berlebihan, Kak Alan,” ucap Adrian merendah.
“Wah, hebat dong, tidak disangka kamu bisa sampai ke posisi itu padahal waktu sekolah kamu dikenal sangat usil dan nakal,” ucap Rena yang masih mengingat wajah Adrian yang tidak jauh berbeda dengan masa SMP-nya dulu.
“Hahahaha.. Bu Rena bisa saja, tapi aku sangat populer kan, Bu?” tanya Adrian.
“Iya, populer karena selalu dihukum,” jawab Rena.
“Benarkah itu Rena?” tanya Alex yang tidak menyangka akan ulah putranya selama di sekolah.
“Iya, awalnya aku tidak menyangka kalau Adrian itu anak Om, pantas begitu mendengar nama Abdul Malik rasanya begitu familiar." ucap Rena.
“Memang masalah apa saja yang sering dibuatnya, Cinta?” tanya Alan lembut.
“Banyak sekali Kak Alan dan masalah yang paling sering dia timbulkan yaitu masalah yang berhubungan dengan adik kesayanganmu," jawab Rena.
“Maksud kamu dengan Felisa?” tebak Alan.
“Iya, siapa lagi,” jawab Rena.
Jawaban Rena lagi-lagi membuat Adrian mengulas senyum manisnya. Ia teringat masa-masa remaja yang memang banyak dihabiskannya dengan berbagai keisengan terutama pada Felisa.
“Oh ya, ngomong-ngomong Felisa di mana? Kok dari tadi aku tidak melihatnya?” tanya Adrian melihat ke sekeliling.
“Sepertinya tadi kulihat dia di luar menyambut kedatangan para tamu yang lain,” jawab Reni yang tiba-tiba saja datang menghampiri Alan, Rena, Alex, dan Adrian.
“Oh, begitu.. Anda..?” tanya Adrian melihat ke arah Reni yang berdiri di samping Rena.
“Saya Reni, adik Kak Rena,” ucap Reni mengulurkan tangan kanannya pada Adrian.
“Adrian,” membalas uluran tangan dari Reni.
Ya Tuhan, tuh cowok ganteng banget... Kenapa aku baru lihat dia sekarang ya? (ucap Reni dalam hati).
“Kalau begitu aku mau menemui teman lamaku dulu ya, Pa," sahut Adrian.
“Maksudmu Felisa?” tanya Alex.
“Iya,” jawab Alex dengan senyum simpul yang memamerkan lesung pipi di kedua belah pipinya.
__ADS_1
***
Sesampainya di luar, Adrian kembali memasang senyum yang sama begitu ia melihat sosok Felisa yang kini sudah berdiri di dekatnya.
“Halo, Ratu comel,” sapa Adrian.
“Ngapain kamu kemari?” tanya Felisa ketus saat melihat kehadiran Adrian di dekatnya.
“Kok, ketemu teman lama gitu banget sambutannya,” sahut Adrian.
“Teman? Teman dari Hongkong? Sejak kapan aku jadi teman kamu?” jawab Felisa ketus.
“Kamu itu, dari dulu enggak pernah berubah, ya,” sahut Adrian sambil menoyor kepala Felisa.
“Adrian!!! Kamu tuh kebiasaan banget sih noyor-noyor kepala orang sembarangan!!” ucap Felisa gemas sambil memukul badan Adrian berkali-kali, namun bukannya marah Adrian malah tertawa terbahak-bahak seolah menikmati perlakuan Felisa.
Dari kejauhan tampak Abi yang sedari tadi melihat interaksi yang terjadi antara Felisa dengan Adrian. Wajahnya tampak terlihat masam. Guratan kekecewaan tampak terlihat jelas di raut wajahnya.
“Dasar, anak kecil!!” gumam Abi.
Sementara di tempat itu Adrian masih menerima pukulan dari Felisa dengan tawanya yang renyah, membuat Felisa lama kelamaan merasa lelah dan menghentikan pukulannya.
“Dasar, orang gila!!” ucapnya sambil cemberut dan berlalu meninggalkan Adrian yang masih saja menampakkan tawanya.
“Rasanya aku sangat merindukan suasana seperti ini,” gumam Adrian.
“Kakak ganteng kenapa? Dipukuli pacarnya ya?” sahut seorang tamu yang sedari tadi melihat tingkah Adrian dan Felisa.
“Pasti ketahuan selingkuh ya? Tapi, wajar sih Kakak punya selingkuhan bis Kakak ganteng sih aku juga mau dijadikan yang kedua,” goda dua orang perempuan yang berdiri di dekat Adrian.
Adrian sendiri tampak tidak begitu mempedulikan mereka. Ia malah terus berjalan menjauhi kedua gadis yang masih terpesona melihat ketampanannya.
Dengan wajah cemberut Felisa terus berjalan melewati Abi. Abi yang sedari tadi menuggu Felisa tampak tidak ingin melewati kesempatan itu. Ia lalu menarik tangan Felisa dengan begitu kuat, memaksa tubuh Felisa berbalik arah menghadap ke arah Abi. Pandangan mata keduanya saling bertemu, posisi keduanya pun sangat dekat bahkan hampir menempel hingga nafas keduanya bisa dirasakan.
“A-ada apa, Kak?” tanya Felisa kikuk, bingung dengan tingkah Abi.
“Eemmm, maaf.... Aku ingin berbicara serius dan meminta pendapatmu,” ucap Abi saat sadar bahwa tingkahnya sangat berlebihan.
“Gak apa-apa, kok. Emang Kakak mau bicara tentang apa?” ucap Felisa sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Abi yang dirasa cukup kuat dan menyakitkan. Sadar kalau Felisa sedang kesakitan, Abi pun melepaskan genggaman tangannya itu.
“Feli, bisakah kau ikut dulu denganku sebentar?” tanya Abi.
“Ke mana?” tanya Felisa.
“Iya, ikut saja dulu. Aku ingin meminta pendapatmu tentang sesuatu hal,” ucap Abi.
Kak Abi sebenarnya ingin ajak aku ke mana sih? Terus mau minta pendapatku tentang apa coba? Tapi, lebih baik aku ikut sajalah dari pada harus ketemu si Raja Usil itu (pikir Felisa).
Felisa pun mengikuti Abi, keluar meninggalkan acara resepsi pernikahan kakaknya. Meski, ia tidak tahu ke mana Abi akan membawanya pergi.
***
Lanjut ke ektra part 2.
Jangan lupa dukungannya lewat like, vote, rate, dan komennya ya..😍😍😍
__ADS_1