
Wajah Rena masih sama seperti saat ia pergi meninggalkan tempat parkir itu. Dingin, tak ada sedikit pun senyum yang nampak dari wajahnya. Sorot matanya memancarkan luapan amarah yang begitu dalam hingga siapa pun yang berpapasan dengannya bisa membaca bahwa perempuan ini sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
Langkahnya cepat, lurus ke depan hingga tak menyadari bahwa Yuna dan Jessi sedari tadi memperhatikan dirinya. Mereka memperhatikan Rena dari pertama kali Rena sampai di pintu depan SMP Cinta Kasih hingga kini mulai berjalan melewati lorong yang ada di lantai satu gedung tersebut.
“Kak Jessi, Bu Rena kenapa? Kelihatannya dia sedang marah besar?” tanya Yuna takut.
“Iya, kau benar Yuna. Tapi, biar bagaimana pun kita harus tetap minta maaf kepadanya bila tidak Arka dan Dewa pasti akan tetap marah pada kita,” ucap Jessi.
“Kalau gitu Kak Jessi saja duluan,” bujuk Yuna.
“Kok begitu?” protes Jessi.
“Iya, karena kalau aku yang duluan bisa-bisa aku ditampar sekali lagi oleh dia. Sedangkan, Kak Jessi kan jago taekwondo kalo kakak ditampar kakak pasti bisa menangkisnya,” bujuk Yuna.
“Kamu ini bisa aja. Lagipula mana mungkin Bu Rena melakukan itu kita kan hanya ingin minta maaf kepadanya,” sahut Jessi.
“Iya, kali aja. Jaga-jaga boleh dong Kak!” ujar Yuna.
“Ya sudah, kalau begitu nanti saja. Kita tunggu sampai mood dia membaik,” saran Jessi.
“Baiklah, kali ini aku setuju denganmu,” sahut Yuna.
Yuna dan Jessi pun terus mengikuti Rena hingga sampai ke ruang guru. Mereka masih tak henti memandangi wajah Rena yang masih terlihat masam.
Rena pun duduk di kursinya dengan wajah yang masam. Sungguh berbeda dengan ekspresi wajah yang kemarin diperlihatkannya. Hal itu tentu membuat guru-guru yang lain yang berada di ruangan itu tak berani menyapanya.
Kenapa sih Kak Alan bersikap seperti itu? Bisa-bisanya dia mau melakukan hal itu di depan anak –anak lagi. Untung, dia tidak benar-benar tidak melakukannya karena kalau dia sampai melakukan itu..... Awas saja, dia pasti sudah aku tampar. (Pikir Rena).
Ponsel Rena terus berdering menyerukan adanya tanda panggilan masuk ke telepon miliknya. Rena pun segera membuka tas miliknya dan mengambil ponsel yang ia simpan di dalam tas tersebut.
“Eh, ternyata dia,” Rena pun menekan tombol menolak panggilan saat melihat nama yang ada dalam layar ponselnya.
“Siapa sih yang memberikan nomor ponsel ini kepadanya? Rese banget,” gumam Rena saat lagi-lagi ia mendengar nada panggilan masuk yang berasal dari ponsel miliknya. Ia pun kembali menekan tombol menolak panggilan saat kedua kalinya ia mendapati nama Alan tertera di layar ponselnya.
“Telepon dari siapa Bu? Kok enggak diangkat,” tanya Bu Mila yang duduk persis di belakang Rena.
“Kalau memang Ibu tidak mau mengangkatnya, matikan saja Bu! Mengganggu,” sahut Bu Clara ketus.
Suara dering ponsel Rena memang terdengar cukup mengganggu, terlebih lima kali sudah ponsel itu berbunyi dan lagi-lagi Rena menolaknya. Kali ini, ia pun mengikuti saran dari Bu Clara dengan mematikan ponsel miliknya untuk sementara waktu.
Teeeet... teeeet.. teeeeet..
__ADS_1
Bel yang menandakan jam pelajaran pertama pun dimulai. Guru-guru mulai mempersiapkan diri mereka untuk masuk ke dalam kelas mereka masing-masing. Tidak ketinggalan pula dengan Rena yang juga tampak sibuk bersiap-siap untuk masuk ke dalam kelas.
“Sekarang sudah masuk. Nanti istirahat saja ya, kita bicara sama Bu Renanya,” ujar Jessi.
“Iya, sebaiknya istirahat saja. Mudah-mudahan saat itu moodnya sudah kembali membaik,” sahut Yuna yang sedari tadi masih sibuk memperhatikan Rena.
“Iya, semoga saja,” sahut Yuna.
Tak lama setelah itu ruangan yang sedari tadi tampak dipenuhi beberapa orang guru, kini terlihat sepi tak berpenghuni. Semua guru yang sedari tadi berada di ruangan itu kini telah berhamburan keluar menuju tempat tugasnya masing-masing.
Sementara di ruangan yang lain yang terletak di lantai 3, lantai teratas dari gedung bangunan SMP itu, masih tampak dua orang laki-laki yang tak lain adalah Alan dan Faizal. Wajah Alan terlihat sangat gusar, saat beberapa kali Rena menolak panggilan telepon darinya. Ia pun mencoba menghubungi Rena kembali.
“Dia mematikan teleponnya,” ucap Alan kecewa.
“Sudahlah Alan, biarkan saja. Dia masih marah kepadamu. Lagian aku tak menyangka kamu bisa seperti itu, hehehe,” ujar Faizal yang masih terkekeh setiap kali mengingat cerita polos yang keluar dari mulut Haikal, putra Rena.
“Saat itu aku benar-benar terbawa suasana Faiz sampai aku lupa kalau anak-anak berada di belakang kami,” tutur Alan.
“Tapi bagaimana bisa Rena tidak menyadarinya?” tanya Faizal.
“Saat itu dia sedang menutup matanya sepertinya sengaja karena tak ingin menatapku yang saat itu mengolesi salep di keningnya,” ucap Alan.
“Karena waktu itu Rena tiba-tiba saja membuka matanya dan membuat salep yang ada di tanganku terjatuh. Jadi, aku gunakan saja kesempatan itu untuk berpura-pura mengambil salep yang terjatuh. Dengan begitu, Rena tak menyadari apa yang hampir saja aku lakukan,” tutur Alan.
“Sayang sekali kamu tidak benar-benar melakukannya,” ucap Faizal.
“Hei, apa maksudmu? Apa kamu ingin Rena benar-benar menghajarku karena melakukan hal itu?” sahut Alan.
“Bukan begitu maksudku, Lan. Bukankah setahuku wanita biasanya tidak akan bisa menolak kalau yang melakukannya adalah laki-laki yang dicintainya. Dengan begitu kamu kan jadi bisa tahu Rena itu benar-benar mencintaimu atau tidak,” ujar Faizal.
“Dasar kepala sekolah berotak mesum! Kamu pikir semua wanita sama. Rena bukan wanita seperti itu,” sahut Alan.
“Kalau Renamu memang bukan wanita seperti itu berarti kamu harus segera melamar dia karena yang aku lihat kamu benar-benar menyukainya dan ingin memilikinya. Benarkan?” tanya Faizal.
“Iya, kau benar. Tapi, apa dia akan menerimaku? Bukankah ini terlalu cepat?” tanya Alan.
“Sayangnya hanya ini saja pilihanmu, Lan. Kau tidak memiliki pilihan yang lain,” ucap Faizal.
“Lalu bagaimana kalau setelah ini dia malah menghindar dariku?” tanya Alan ragu dengan saran yang dikemukakan Faizal.
“Memang kamu pikir setelah apa yang kamu lakukan hari ini dia tidak akan menghindar darimu?” tanya Faizal kembali.
__ADS_1
Alan pun sejenak memikirkan perkataan Faizal. Memang, sepanjang ia mengenal karakter Rena pastinya setelah kejadian hari ini perempuan itu akan berusaha menghindarinya. Contohnya seperti sekarang ini, Rena mematikan ponselnya dan bukan tidak mungkin setelahnya nomornya pun akan diblokir.
“Kamu benar. Tidak ada cara lain. Hanya ini satu-satunya cara agar aku bisa mendapatkannya,” ucap Alan.
“Begitu dong, ini baru Alan yang aku kenal. Tidak pernah takut dengan apapun resiko yang akan dihadapi demi bisa menggapai mimpi,” ujar Faizal.
“Kalau begitu kapan baiknya aku melamar dia?” tanya Alan.
Faizal pun berpikir sejenak.
“Bagaimana kalau saat acara reuni kita nanti?” usul Faizal.
“Acara reuni ya?” sahut Alan berpikir sejenak.
“Baiklah, aku setuju. Kamu bantu aku untuk menyusun rencananya dan pastikan Rena benar-benar akan hadir ke acara kita nanti,” ucap Alan.
“Kalau untuk itu kurasa kamu harus minta bantuan pada teman Rena seperti Novi atau Ais. Karena dalam hal ini mereka lebih bisa membujuknya,” saran Faizal.
“Iya, kamu benar. Tapi, apa kamu yakin Julian akan mengizinkan Ais untuk ikut ke acara kita nanti, mengingat kondisi Ais yang sekarang?” tanya Alan.
“Entahlah, paling tidak kita bisa mencobanya,” sahut Faizal.
Alan pun menyetujui saran dari Faizal dan saat itu juga mereka mulai menyusun rencana agar upaya Alan untuk bisa melamar Rena bisa terlaksana sesuai dengan harapan.
***
Bersambung
Aduh, kira-kira seperti apa ya rencana Alan dan Faizal untuk bisa membuat Alan meluluhkan hati Rena ?? 🤔🤔
Penasaran???
Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.
Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘
Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1