
Hari ini tepat di jam kedua, Rena mengajar di kelas VII.B, kelas yang dihuni hampir sebagian besar siswa perempuan itu merupakan kelas perwalian Rena. Saat memasuki kelas tersebut, senyum mengembang tampak di wajah polos mereka.
“Cie... cie...,” sahut Bae dan beberapa siswa lainnya.
“Ih, Ibu pinter banget, ya,” sahut Laela.
“Pinter? Pinter apa?” tanya Rena yang tidak memahami maksud pertanyaan siswanya itu.
Melihat reaksi Rena, para siswa itu pun saling memandang satu dengan yang lainnya. Seolah sedang memberi aba-aba untuk melakukan sesuatu pada guru yang kini berada di hadapan mereka. Tanpa aba-aba khusus secara bersamaan mereka mengangkat salah satu tangan mereka dan mengngipas-ngipaskan kartu undangan milik Rena dan Rayhan di hadapan Rena sambil memamerkan senyum usil yang menggoda.
Ya Tuhan, ternyata Rayhan sudah memberikan undangan itu rupanya pada mereka. Pantas sikap mereka aneh sekali. (Ucap Rena)
Rena hanya bisa tersenyum malu melihat kartu undangan yang dipamerkan para siswanya itu. Sekarang, ia paham ke mana arah perkataan yang tadi dilontarkan oleh Laela.
“Jadi, kalian sudah dapat kartu undangannya?” tanya Rena.
“Iya, Ibu. Ibu mah jahat enggak bilang-bilang sama kami mau nikah sama Pak Rayhan,” sahut Sarah yang disetujui oleh teman-temannya.
“Maaf, tapi sepertinya Ibu sudah pernah bilang deh kalau Ibu sudah ada calon dan akan segera menikah ?”sahut Rena mencoba mengingatkan mereka kalau sebelumnya ia sudah mengatakan hal tersebut kepada para muridnya, tepatnya ketika ia didesak dengan pertanyaan mengenai status Rena yang masih lajang atau tidak oleh murid-muridnya itu.
“Iya, tapi kan Ibu enggak bilang kalau calon suami Ibu itu Pak Rayhan. Kami kira Pak Dewa atau Pak Radit,” sahut Riska menyebut nama dua orang guru yang masih lajang di sekolah tersebut.
“Bener banget, Ris, aku juga nyangkanya dua orang itu secara Pak Rayhan kan baru banget di SMP ini. Kok Ibu bisa ya, sampai mau menikah dengan Pak Rayhan?” timpal Bae yang tak habis pikir dengan kenyataan yang diterimanya.
“Iya, aku juga enggak nyangka, Bae. Mana sebelumnya aku lebay banget lagi muji –muji Pak Rayhan sampai bilang kalau dia itu calon suami aku,” sahut Felisa yang akrab dipanggil Ica.
“Syukurin lo, Ca. Sekarang kamu berhadapan langsung sama calon istrinya, hahaha,” sahut Bae menertawakan Felisa.
“Tapi Bu, aku kasihan sama Pak Dewa, loh,” sahut Laela sedih.
“Sama Mili juga,” tambah Riska yang langsung mendapat cubitan dari Mili.
“Apaan sih, Ris?” sahut Mili sambil mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka dengan apa yang dikatakan temannya barusan.
“Maksud kamu?” tanya Rena berpura-pura tidak paham dengan maksud perkataan Laela.
__ADS_1
“Pak Dewa kan kayaknya suka sama Ibu,” jawab Laela.
“Bener, Bu. Kemarin aja mukanya kayak sedih gitu waktu denger ibu udah punya calon,” sahut Sarah.
Pantes tadi ketemu mukanya agak beda.(batin Rena)
“Emang kalian ngomong apa aja sama Pak Dewa?” tanya Rena penasaran.
“Kami cuma nanya Bu, apa Pak Dewa itu calon suaminya Bu Rena? Karena Ibu benar-benar bikin kami penasaran,” sahut Bae.
Rena pun menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar jawaban dari Bae. Ia sama sekali tidak menyangka kalau murid-muridnya itu begitu penasaran dengan urusan pribadinya sampai-sampai menanyakan hal tersebut langsung kepada Dewa.
“Kalian ini! Lain kali jangan seperti itu! Kalau Ibu bilang rahasia ya rahasia! Apalagi sampai menanyakan hal itu pada orang lain,” ucap Rena dengan nada kecewa.
“Maaf, Bu.. Kami janji enggak akan lakuin itu lagi. Tapi, Ibu dan Pak Rayhan benar-benar pinter deh menyembunyikan rahasianya sampai-sampai tidak terendus oleh kami," sahut Bae.
“Udah ya, Bae, bahas masalah Ibunya sampai sini aja, jangan mancing lagi! Sekarang waktunya belajar. Kalian sudah siapkan untuk belajar hari ini?” ucap Rena menyela pembicaraan para muridnya yang sepertinya tidak akan pernah habis jika ditanggapi terus.
“Yah... Ibu.. kami kan masih penasaran,” sahut anak-anak yang kecewa karena sebenarnya masih banyak yang ingin mereka tanyakan pada Rena.
***
“Assalamualaikum, Ibu...,” sapa Felisa dan Laela seraya mencium punggung tangan Rena.
“Waalaikumsalam, kenapa sih pake lari-lari? Segitu senangnya ketemu Ibu,” sahut Rena.
“Ah, Ibu tau aja. Oh ya, Bu, udah tau belum kalau Pak Dewa kemarin kecelakaan?” tanya Felisa.
“Apa? Yang benar kamu Ica?” tanya Rena kaget.
“Benar, Ibu... Kemarin Pak Dewa kecelakaan, motornya menabrak pohon,” ucap Laela sedih.
“Ya, Tuhan, tapi Pak Dewa enggak kenapa-kenapa kan?” tanya Rena.
“Katanya tangan dan kakinya patah, Bu,” jawab Felisa ikut sedih.
__ADS_1
“Ya ampun, kasihan sekali,” sahut Rena.
“Iya, Bu. Mungkin Pak Dewa di jalan kepikiran tentang kejutan pernikahan yang Ibu dan Pak Rayhan berikan kemarin,” ucap Laela.
“Aduh, Laela, kamu jangan mengada-ada ,” sahut Rena.
“Iya, Bu, kan aku udah bilang Pak Dewa itu suka sama Ibu,” sahut Laela.
Aduh, Laela, masa iya, kecelakan itu terjadi karena Pak Dewa memikirkan kejutan yang aku dan Rayhan buat. Kalau itu memang benar. Aku sungguh merasa bersalah. Maafkan aku, Pak, yang kurang peka dengan perasaan Bapak. (batin Renata)
***
Rena masih berada di ruangan Dewa, melamunkan semua yang telah terjadi di masa lalunya antara dia, Dewa, dan Rayhan, saat dia sedang berada sendiri di ruangan Dewa. Kebetulan saat itu Dewa meninggalkan ruangan tersebut untuk menemui kepala sekolah yang belum lama ini meneleponnya untuk meminta Dewa ke ruangannya.
Setelah satu jam, Dewa pun kembali ke ruangannya. Ia menatap Rena dengan perasaan bersalah.
“Maaf, Bu Rena, lama menunggu. Saya tidak tahu kalau kepala sekolah akan berbicara selama ini. Sepertinya untuk tes wawancara Ibu hari ini akan dilanjutkan besok karena hari ini kepala sekolah belum bisa melakukan tes itu. Beliau harus menemui yayasan hari ini karena ada hal penting yang harus mereka bicarakan,” jelas Dewa.
“Oh, tidak apa-apa, tidak masalah. Saya akan kembali lagi kemari besok,” ucap Renata.
“Bagus lah, karena saya yakin Ibu pasti akan diterima di sekolah ini melihat hasil tes Ibu hari ini sangat memuaskan,” sahut Dewa.
“Benar kah?” tanya Rena senang.
“Iya, itu benar. Apalagi kepala sekolah juga bukan orang asing bagi kita,” sahut Dewa.
“Oh ya? Apa saya mengenalnya?” tanya Renata.
“Iya, saya yakin kamu pasti mengenalnya,” jawab Dewa.
Ucapan Dewa memberikan sejuta tanya pada diri Rena tentang siapa sebenarnya sosok yang menjadi kepala sekolah di SMP bergengsi itu. Apakah dia benar-benar mengenalnya atau tidak? Lalu apakah kepala sekolah itu benar-benar akan menerima Rena sebagai guru di sekolah bergengsi ini? Namun, apa pun itu Rena hanya berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuknya.
***
Bersambung
__ADS_1
Terima kasih masih setia dengan cerita author ini dan jangan lupa bagi yang sudah mampir tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote, rate 5, dan komennya ya..💗💗💗😘😘😘