
Selesai acara pembukaan semua peserta diarahkan ke aula untuk menikmati makan siang bersama. Makan siang disiapkan panitia dalam bentuk prasmanan. Hal itu bertujuan agar bisa terjalin keakraban antar keluarga dari masing-masing peserta.
“Hadeuh.. Kalau lihat suasana seperti ini rasanya sedih banget,” gumam Iyus.
“Kenapa?” tanya Abi.
“Kamu enggak lihat di antara teman-teman kita, cuma kita bertiga saja yang enggak bawa keluarga. Bener-bener dah nasib jones,” keluh Iyus.
“Jones, apaan?” tanya Alan.
“Jomblo ngenes, Lan,” jawab Iyus lemas.
Abi dan Alan saling berpandangan. Mereka membenarkan kata-kata dari sahabatnya itu. Memang hanya mereka bertiga yang terlihat belum berkeluarga, padahal usia mereka sudah mencapai kepala tiga. Teman-teman seangkatan mereka bahkan sudah ada yang memiliki enam orang anak. Tapi mereka, jangankan anak, istri pun tak punya.
“Om Alan,” teriak Hana memanggil Alan.
“Hana,” sapa Alan saat melihat gadis kecil itu sedang berdiri di hadapannya.
“Siapa Lan? Cantik banget,” puji Iyus.
“Dia, putrinya Rena,” jawab Alan.
“Oh, berarti calon...,” Abi menyikut lengan Iyus sebagai isyarat agar temannya itu tak melanjutkan ucapannya.
“Calon apa, Om?” tanya Hana.
“Calon istri Om nanti,” jawab Iyus asal.
“Dih, enggak mau. Om kan udah tua,” jawaban Hana membuat Abi dan Alan terkekeh.
“Yaelah, pedas banget. Sama kaya emaknya kalau udah ngomong,” gumam Iyus.
“Kalau jadi istrinya Om Alan, aku baru mau,” ucap Hana.
“Eeeeh, enggak boleh. Om Alan juga sama, udah tua,” sahut Iyus menekan kata terakhir.
“Kalau jadi ayah kamu baru pantes,” lanjut Iyus.
“Tapi kan Hana udah punya ayah,” jawab Hana.
“Emang kamu enggak mau punya ayah dua?” tanya Abi tiba-tiba.
Gadis kecil itu pun mendongakkan kepalanya ke atas, memikirkan pertanyaan yang baru saja diajukan kepadanya.
“Mau deh, tapi Om Alan harus menikah dulu sama Mama baru bisa jadi ayah aku,” jawab Hana.
“Emang kamu izinkan kalau Om Alan menikah sama Mama kamu?” tanya Alan.
“Tentu dong, Om. Om Alan kan orangnya baik,” jawab Hana polos.
“Cieeee, ehem, ehem..,” ledek Iyus.
“Hana, kamu kok cepat banget sih jalannya. Mama cariin kamu loh dari tadi,” ucap Rena saat menemukan Hana yang sedang bercakap-cakap dengan Alan, Abi, dan Iyus.
“Maaf, Ma. Hana tadi ngejar Om Alan karena Hana senang banget lihat Om Alan di sini,” sahut Hana melihat ke arah Alan. Rena pun memandang Alan, namun pandangannya tertunduk saat mata mereka bertemu.
“Ehem, kalau Mamanya sendiri senang enggak ketemu Om Alan?” goda Iyus.
Rena hanya bisa tersipu mendengar pertanyaan dari Iyus, namun ia tak memberikan jawaban akan pertanyaan yang diajukan Iyus kepadanya.
“Mama, ditanya Om tua tuh,” sahut Hana.
“Om tua?” tanya Rena heran. Sementara Abi dan Alan terkekeh mendengar perkataan Hana barusan.
__ADS_1
“Om ganteng, Hana,” sahut Iyus menimpali.
“Oh, maksud kamu pertanyaan Om Iyus,” Hana mengangguk.
“Iya, Mama senang kok ketemu Om Alan. Puas?” jawab Rena dengan senyum sinis ke arah Iyus.
“Ampun tuh senyum, tajem banget kayak pisau,” gumam Iyus tak terdengar oleh yang lain.
“Ya sudah, kita makan di sana dulu yuk, Hana. Bareng sama Adhel, Nafa, dan Kak Nando,” ajak Rena menunjuk ke arah meja yang sebelumnya sudah ditempati teman-teman dan keluarga mereka masing-masing.
“Adek mana?” tanya Hana.
“Lagi ke kamar mandi dulu sama Om Diki,” jawab Rena.
“Oh,” Setelah mendengar jawaban dari sang Mama, Hana pun mengikuti perintah Mamanya untuk makan di tempat yang telah ditunjuk Rena sebelumnya. Meninggalkan Alan yang masih terpaku memandang wanita yang kini berada di hadapannya.
***
Selesai acara makan siang semua peserta menuju ke tempat peristirahatan masing-masing untuk melaksanakan ibadah shalat dzuhur sekaligus melepas lelah yang kini mulai mereka rasakan. Setelah itu tepatnya pukul 13.00 WIB barulah acara akan dilanjutkan kembali. Acara akan diisi dengan penampilan pentas seni dan hiburan yang telah disiapkan panitia acara.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul 13.00 WIB, semua peserta sudah kembali ke aula yang kini tengah disulap menjadi gedung pertunjukan. Semua yang hadir merasa takjub dengan hasil pekerjaan para panitia acara. Betapa tidak, ruangan yang tadi tampak biasa saja dalam sekejap sudah berubah menjadi ruangan yang begitu indah dengan perpaduan warna putih dan merah muda yang menciptakan nuansa hangat dan romantis.
Satu per satu acara hiburan dan pentas seni telah selesai ditampilkan hingga tibalah saatnya pada penampilan terakhir yang akan menutup acara pentas seni kali ini. Lampu yang tadinya terang benderang kini tiba-tiba padam. Hanya satu sorot lampu yang kini tengah mengarah pada sosok yang kini tengah duduk dan berada di atas panggung pertunjukan. Laki-laki itu memegang gitarnya. Senyumnya mengembang pada sosok wanita yang berada di hadapannya.
“Lagu ini aku khususkan untuk seorang wanita yang sangat spesial buatku yang kini tengah berada di antara kalian,” ucap Alan, laki-laki yang kini tengah berada di atas panggung itu.
Alan pun mulai memainkan jemarinya, memetik gitar yang ada di pangkuannya. Seiring dengan bunyi petikan gitar tersebut, sorak sorai dan tepuk tangan dari para sahabatnya itu tampak menggema di ruangan tersebut.
Abi yang teringat dengan kata-kata yang dibisikan oleh Felisa ke telinganya tadi, mulai mengeluarkan ponsel yang berada di saku kemeja miliknya. Memilih tombol perekam untuk merekam semua kejadian yang sedang berlangsung saat ini.
Kak, nanti tolong ya...rekam semua kejadian saat Kak Alan melamar Bu Rena hari ini. Lalu kirim ke ponselku (bisik Felisa saat itu).
Abi mulai mengarahkan ponselnya ke tempat di mana Alan kini tengah berada.
*Andai kau izinkan
Walau sekejap memandang
Kubuktikan kepadamu
Aku memiliki rasa
Cinta yang ku pendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau telah memilih
Menutup pintu hatimu
Izinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Izinkan aku menyayangimu
Sayangku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
__ADS_1
Cinta yang kupendam
Tak sempat aku nyatakan
Karena kau telah memilih
Menutup pintu hatimu
Izinkan aku membuktikan
Inilah kesungguhan rasa
Izinkan aku menyayangimu
Sayangku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
Bila cinta tak menyatukan kita
Bila kita tak mungkin bersama
Izinkan aku tetap menyayangimu, oh..
Sayangku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
Cintaku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
Sayangku, oh...
Dengarkanlah isi hatiku
Aku sayang padamu
Izinkan aku membuktikan*
Selesai Alan menyanyikan lagu tersebut, lampu di tempat itu pun kembali terang benderang dan di saat itulah Alan menghampiri Rena dan bersimpuh di hadapan wanita yang sangat dicintainya itu sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cicin putih yang indah.
“Rena, sebagaimana yang kau dengar dalam lirik lagu tadi bahwa selama ini aku memendam rasa cintaku kepadamu. Aku sayang padamu, Rena. Izinkan aku membuktikan kesungguhan hati ini dengan menjadikanmu pendamping hidupku. Maukah kau menerima lamaranku dan menjadikanku pasangan hidupmu?” pinta Alan.
Rena hanya terpaku mendengar penuturan dari pria yang kini tengah bersimpuh di hadapannya itu. Air mata haru menetes membasahi pipinya, tanpa bisa dibendungnya. Karena biar bagaimana pun ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang ada dalam hatinya. Namun, untuk menjawab semua pertanyaan Alan, rasanya untuk saat ini ia masih ragu.
***
Bersambung
Kira-kira Rena bakal menerima Alan atau tidak?
Terima kasih semua yang telah membaca cerita receh ini, tunggu dan nantikan cerita selanjutnya 😉 🙏🙏
Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘
__ADS_1