
Tanpa terasa air mata Rena pun menetes karena perasaan rindunya pada kedua sahabat yang telah lama tidak dijumpainya, Novi dan Rindu. Kedua sahabat yang sudah dikenalnya sejak ia masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
Begitu mengetahui bahwa sahabatnya Novi juga mengajar di sekolah tersebut, Rena pun langsung melangkahkan kakinya menuju tempat yang dimaksud oleh Iyus. Ia melangkahkan kakinya menuju gedung dengan perpaduan warna biru dan putih.
Di halaman depan gedung tersebut, tampak bocah-bocah kecil yang sedang berlarian ke sana-kemari dengan begitu riang. Namun meski begitu, tetap saja ada anak yang hanya duduk sendirian menikmati kesepiannya. Suasana saat itu memang tampak sangat ramai. Hal itu dikarenakan waktu sudah memasuki jam istirahat pertama bagi para siswa.
“Hei, anak-anak, hati-hati jangan berlarian ke sana kemari, nanti kalian jatuh!" seru seorang perempuan berkerudung biru yang tak lain adalah Novi.
Rena begitu bahagia melihat Novi ada di depan matanya. Senyum simpul menghias wajah yang manis itu. Ia pun berjalan mendekati Novi yang masih belum menyadari keberadaannya.
“Assalamualaikum..., permisi Bu Novi,” sahut Rena lirih saat dirinya sudah berada dekat dengan Novi yang sekarang sedang berdiri membelakanginya.
“Waalaikumsalam,” sahut Novi membalikkan badannya menghadap ke asal suara.
“Renaaa!” teriak Novi yang begitu terkejut melihat keberadaan Rena di belakangnya.
“Ya, ampun Na, aku kangen banget,” sahut Novi yang langsung memeluk Rena.
“Sama Novi, aku juga kangen...banget, udah lama ya kita nggak ketemu,” sahut Rena yang membalas pelukan Novi.
“Ke mana aja kamu? Kok nggak pernah ngasih kabar? Aku telepon juga nggak bisa-bisa. Aku cariin kamu ke rumah orang tua kamu, kamu juga nggak ada,” tanya Novi.
“Oh..., itu karena ponselku hilang Nov, dan aku juga nggak hafal sama nomer kamu. Terus sejak nikah aku memang jarang main ke rumah orang tuaku karena suamiku selalu tidak sempat mengantarkanku ke sana,” sahut Rena sedih mengingat saat menikah ia memang jarang sekali bertemu dengan orang tuanya, padahal jarak rumahnya dengan jarak tempat mengajarnya dulu tak terlalu jauh.
“Kok bisa bukannya jarak rumah orang tua kamu dengan tempat mengajar kamu itu dekat ya, Na?” tanya Novi heran.
“Entahlah Nov, Rayhan selalu beralasan lelah dan kasihan dengan anak-anak kalau terlalu lama ditinggal di rumah. Karena kamu kan tahu di sekolahku yang dulu aku mengajar dari pagi sampai sore dan jarak rumah kami dengan sekolah kami juga cukup jauh. Jadi, Rayhan tidak mau kebanyakan mampir-mampir. Terus kalau liburan juga dia inginnya diam di rumah aja, capek katanya kalau pergi-pergi terus,” sahut Rena mengingat kembali pengalamannya saat masih menikah dengan Rayhan.
“O.. begitu,” sahut Novi.
“Iya, Nov dan maaf juga aku nggak bisa menghadiri pernikahan kamu karena waktu itu aku nggak dapet izin dari suamiku. Padahal jujur saja, sebenarnya waktu itu aku ingin sekali bisa melihat sahabatku menikah,” sahut Rena menekan kata ‘ingin’.
“Iya, enggak apa-apa, Na. Sebenarnya waktu itu aku ngerasa sedih banget kamu enggak dateng. Tapi, ya mau bagaimana lagi, kalau kamu memang tidak mendapat izin dari suami kamu, karena kan seorang istri memang harus taat pada suaminya,” sahut Novi.
“Tapi sekarang dia bukan lagi suami aku, Nov,” ucap Rena penuh kepedihan.
“Apa maksud kamu, Na?” tanya Novi kaget.
__ADS_1
"Jangan bilang kalau kalian sudah...," ucap Novi menggantung.
Rena hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya, mencoba menahan air mata yang hampir saja mengalir dari bola matanya yang indah.
“Mmm, kita duduk di sana aja, yuk"" ajak Novi pada Rena dengan menunjuk sebuah kursi taman yang berada di dekat halaman gedung sekolahnya.
Lalu mereka berjalan ke arah kursi tersebut dan duduk di sana.
“Jadi kamu dan dia sudah bercerai begitu?” tanya Novi.
“Iya, Nov, aku dan dia sudah resmi bercerai sejak empat bulan yang lalu,” jawab Rena.
“Ya ampun, sabar ya, Na,” sahut Novi memeluk Rena yang sudah tidak bisa lagi menahan air matanya.
“Iya, Nov, nggak apa-apa, mungkin ini memang sudah takdirku,” ucap Rena.
“Sabar Na, mungkin Tuhan punya rencana lain untukmu. Aku yakin Tuhan akan memberikan kamu pengganti yang lebih baik lagi dari Rayhan,” sahut Novi.
“Entahlah, Nov. Rasanya aku juga sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk menikah,” sahut Rena.
“Iya, Nov, aku tahu. Tapi rasanya kehidupan yang pernah kualami selama pernikahanku dengan Rayhan, sedikit banyak memberikan aku trauma akan sebuah pernikahan,” sahut Rena.
“Maksud kamu?” tanya Novi.
“Sedikit banyak aku khawatir jika suamiku kelak akan memperlakukanku sama seperti yang pernah dilakukan Rayhan terhadapku,” sahut Rena.
“Tapi tidak semua orang itu sama Rena,” sahut Novi.
“Iya, aku tahu, tapi tidak ada jaminan kalau suami yang akan aku nikahi kelak akan lebih baik dari Rayhan. Justru mungkin lebih buruk darinya. Asal kamu tahu Nov, Rayhan yang aku kenal dulu adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang alim, lembut, taat beribadah dan humoris. Tapi apa kenyataan yang aku lihat setelah kami menikah? Semua sifat itu ternyata hanya kamuplase untuk menutupi sifat buruknya, yang hingga sekarang, membuat aku sangat membencinya,” ucap Rena dengan pandangan mata penuh kebencian.
“Kamu tidak boleh bersikap seperti itu Na, karena biar bagaimanapun dia adalah ayah dari anak-anak kamu,” sahut Novi.
“Kamu benar, Nov, tapi mau bagaimana lagi? Hatiku tidak bisa berkompromi. Mungkin rasa sakit yang ditorehkan Rayhan terlalu dalam hingga rasanya hanya ada satu kata untuk Rayhan di hatiku. BENCI,” sahut Rena menekan kata terakhir.
Ya ampun, Rena, entah apa saja yang mantan suami kamu lakukan terhadap kamu hingga membuat dirimu yang aku kenal dulu sangat berbeda dengan dirimu yang sekarang berada di hadapanku. Dulu, meskipun kamu itu dingin dan jutek, tapi kamu tidak pernah ingin mencari masalah dengan orang lain. Kamu tak pernah mau melakukan permusuhan dengan siapa pun apalagi sampai membenci seseorang seperti itu (batin Novi).
“Lalu sekarang anak-anakmu tinggal dengan siapa? Kalau tidak salah kamu memiliki dua orang anak, bukan? ” tanya Novi memecah keheningan.
__ADS_1
“Iya, Nov, aku memiliki dua orang anak. Mereka sekarang tinggal denganku,” sahut Rena.
“Syukurlah kalau begitu, karena kasihan jika mereka harus tinggal jauh dari ibunya,” ucap Novi.
“Iya, kamu benar Nov...,” sahut Rena.
Walaupun untuk mendapatkan mereka aku harus memberikan apa yang diinginkan Rayhan sebagai bentuk pertukaran nya (batin Rena)
“Ya, sudahlah, Nov. Jangan bicarakan dia lagi! Itu hanya akan membuat rasa benciku kepadanya semakin besar. Sekarang katakan, apa kamu tahu bagaimana kabar sahabat kita Rindu? Karena aku juga sudah lama sekali tidak berjumpa dengannya? Pasti, akan sangat menyenangkan bila kita bisa berkumpul bersama-sama lagi,” sahut Rena mengalihkan pembicaraan.
“Rindu? Apa kamu belum mendengar kabar tentang Rindu, Na?” tanya Novi seolah terkejut dengan pertanyaan Rena.
"Maksud kamu? Kabar apa?” tanya Rena bingung.
“Rindu.. sudah empat tahun yang lalu pergi meninggalkan kita semua untuk selama-lamanya, Na,” jawab Novi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Apa? Tapi kenapa?” tanya Rena yang masih tak percaya dengan kenyataan yang didengarnya.
“Dia, suami, dan anaknya mengalami kecelakaan, Na. Mereka meninggal di waktu yang bersamaan, ” jawab Novi dengan suara terisak.
“Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?” tanya Rena.
Novi pun mulai menceritakan kronologi kejadian yang dialami Rindu.
“Saat itu, hari kedua idul fitri, saat Rindu dan keluarga kecilnya hendak bersua ke rumah mertuanya, aku mendapat telepon dari seseorang yang tak kukenali. Orang itu mengatakan kalau motor yang ditumpangi Rindu, suami, dan anaknya menabrak sebuah truk kontainer hingga menyebabkan mereka harus dilarikan ke rumah sakit. Lalu, aku pun pergi ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit , aku mendapat kabar bahwa nyawa anaknya sudah tak tertolong. Sedangkan, Rindu sendiri mengalami luka yang cukup berat di bagian kepalanya, begitu pula dengan suaminya yang kehilangan banyak darah, ” ucap Novi menahan air matanya.
“Sebenarnya saat itu Rindu sempat sadar. Ia pun sempat menanyakan keberadaan suami dan anaknya. Lalu dokter memberitahu kepadanya bahwa putranya telah tiada dan itu membuat kondisinya memburuk. Tak lama setelah itu, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya,” ucap Novi yang tak mampu lagi menahan derai air matanya.
Ya Tuhan! Sahabat macam apa aku ini? Aku bahkan tidak tahu kalau sahabatku sendiri sudah tiada. Pantas beberapa tahun yang lalu, aku sering bermimpi tentang dia (batin Rena).
Seperti itulah kehidupan, tidak ada satu pun manusia yang dapat mengetahui itu semua baik tentang jodoh, kelahiran, maupun kematian.
***
Bersambung
Jangan lupa berikan likenya ya... dan jadikan favorit
__ADS_1