Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 89 Tak Disangka


__ADS_3

Di sebuah kamar dengan nuansa warna merah muda, tampak Naya yang terlihat begitu serius menelepon seseorang.


“Baiklah, terima kasih atas infonya,” ucap Naya pada orang yang sedang bertelepon dengannya.


“Kalau begitu apa yang harus kami lakukan, Nona?” tanya si penelepon.


“Tidak ada. Untuk kali ini kamu dan teman-temanmu tidak perlu melakukan apa-apa. Tugas kalian hanya terus mengawasi dia. Pastikan kalian mendapatkan informasi yang lebih banyak lagi tentang wanita itu dan aku tidak ingin mendengar kalau ada satu pun informasi penting yang terlewat tentangnya, mengerti?!” tanya Naya.


“Baiklah, Nona, kami mengerti,” sahut si penelepon.


Naya langsung menutup teleponnya saat memastikan orang suruhannya itu sudah memahami semua perintah yang ia berikan kepada mereka.


“Rena, aku ingin tahu wanita seperti apa kamu itu? Sampai-sampai Alan menolakku hanya karena dirimu? Aku tidak akan menerima kekalahanku begitu saja. Lihat saja, suatu hari nanti aku pasti akan membuat perhitungan denganmu hingga kamu menyesal pernah dekat dengan Alan,”


Di depan cermin Naya mengatakan itu semua, sorot matanya dipenuhi dengan rasa marah dan benci pada sosok Rena yang belum dikenalinya. Ia kembali teringat informasi terakhir yang ia dapatkan saat menginjakkan kakinya di rumah Alan.


Flashback on


Malam itu setelah siangnya mendapat kabar dari Felisa tentang berita kecelakaan Alan, Naya sama sekali tak menghilangkan kesempatan itu untuk menemui laki-laki yang selama ini teramat disukainya. Laki-laki yang telah hampir 10 tahun menjadi obsesinya. Ia berdandan dengan sangat cantik bak seorang model papan atas. Tubuhnya yang tinggi dengan bentuk badannya yang ramping semakin mendukung penampilannya.


Felisa membukakan pintu untuk Naya karena saat itu Bi Siti, pembantu di rumah itu, masih belum kembali bekerja. Sepertinya ia masih betah berada di kampung halamannya.


“Bagaimana keadaan Alan?” ucap Naya saat pertama kali melihat Felisa membukakan pintu untuknya.


“Masuklah, Kakak baik-baik saja. Sekarang Kak Alan sedang berada di kamarnya bersama Mama,” sahut Felisa yang kembali duduk di ruang tengah menikmati tontonan drama korea kesukaannya.


“Jadi, Tante Lana sudah ada disini. Kalau begitu aku ke atas dulu ya?” pinta Naya.


“Iya, silakan,” jawab Felisa dengan nada malas.


Setelah mendengar jawaban dari Felisa, Naya langsung mengambil kesempatannya itu untuk bertemu dengan Alan di kamarnya yang berada di lantai atas. Dari kejauhan tempat yang kini dihuni oleh Alan, terdengar percakapan antara Alan dan ibunya.


“Alan, Mamah senang kamu telah menemukan wanita pilihanmu. Mamah berharap rencana lamaranmu pada Rena bisa berjalan lancar dan hasilnya sesuai dengan keinginan kita,” ucap Mama Elana.

__ADS_1


“Terima kasih atas dukungan Mama pada Alan selama ini. Alan benar-benar sayang sama Mama,” ucap Alan.


“Mama juga sayang sama kamu, Alan. Apa pun yang membuatmu bahagia akan selalu Mama dukung,” sahut Mama Elana.


Naya yang sedari tadi berupaya menyimak percakapan antara ibu dan anak itu terlihat tidak senang. Dalam hatinya ia berujar, “Oh, jadi wanita itu bernama Rena dan Alan ternyata punya keinginan untuk melamarnya? Tidak, aku tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Aku pastikan rencana lamaran Alan pada Rena tidak akan pernah berjalan dengan lancar."


Flashback off


“Lihat saja Alan, apa yang akan aku perbuat agar semua yang kamu rencanakan untuk Rena tidak berjalan sesuai harapanmu,” ucap Naya.


***


Hana, Nafa, dan Adhel terlihat gusar saat mengetahui orang tua mereka yang diwakili oleh para ibu memasuki sebuah ruangan. Ruangan tersebut dikhususkan untuk tempat konsultasi antara wali kelas dengan wali murid dari siswa yang bermasalah.


Di ruangan itu, tampak empat orang wanita yang usianya hampir sama sedang duduk berhadap-hadapan. Salah satu dari mereka adalah Novi, wali kelas dari ketiga anak bermasalah tersebut.


Seketika suara tawa tampak memecah keheningan yang sempat terjadi di ruangan tersebut, wajah-wajah tegang yang semula tergambar dari raut wajah keempat wanita itu kini berubah menjadi ceria. Keempat wanita itu tak lain adalah Novi selaku wali kelas. Lalu Rena, Dina, dan Lala yang ternyata wali murid dari ketiga anak bermasalah tadi.


“Hahaha, aku kira anak aku ada masalah ama anaknya siapa? Gak tau nya....,” tawa Dina terdengar renyah saat melihat ketiga sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya ada di hadapannya.


“Aku juga enggak nyangka, La. Padahal kita masih saudara, tapi bisa saling gak kenal,” sahut Rena.


“Iya, aku juga belum lama ini baru tahu kalau kamu adiknya Reno, suami adik iparku, Nita,” jelas Lala.


“Pantas saja anak kalian berdua enggak saling kenal. Orang tuanya aja baru tahu bersaudara akhir-akhir ini,” timpal Dina.


“Betul sekali kamu, Din. Itu karena Rena jarang sekali ikut kumpul dengan keluarga kakaknya Reno” sahut Lala.


“Ehem... Ibu-ibu, udah ya, reuninya kita tunda dulu. Sekarang kita bahas masalah anak-anak kalian dulu,” ucap Novi.


“Ya ampun, Bu Nov serius banget. Memang kapan lagi kita bisa reuni coba?” tanya Dina.


“Lho, emang kamu enggak tau? Sebentar lagi kan akan ada acara reuni akbar untuk angkatan kita,” ucap Novi.

__ADS_1


“Enggak,” jawab Dina.


“Aku juga enggak,” sahut Lala.


“Aku juga baru tahu tadi waktu Kak Abi cerita,” ucap Rena.


Mendengar penuturan teman-temannya, Novi pun akhirnya menyampaikan semua hal yang dia tahu seputar acara reuni yang akan dilaksanakan Kampus Pelangi. Kebetulan belakangan ini Iyus, Faizal, dan Aisyah memang menghubunginya untuk membantu mereka meyakinkan Rena agar bisa ikut ke acara tersebut, walaupun Novi belum tahu persis maksud dari ketiganya untuk membujuk Rena ikut dalam acara itu.


“Rena, kamu ikut kan?” tanya Novi.


“Enggak tau, aku gak tega ninggalin kedua anakku,” jawab Rena.


“Kalau gitu ajak aja, Na,” seru Lala.


“Iya, aku juga bakal ajak kedua anakku Nafa dan Nando ke acara itu,” sahut Dina.


“Oh ya? Baiklah, aku akan membicarakannya dulu dengan adik dan anak-anakku,” jawab Rena.


Akhirnya arah pembicaraan keempat wanita itu justru melenceng dari arah pembicaraan yang seharusnya. Dari pembicaraan mereka, Rena baru menyadari bahwa ternyata banyak informasi yang terlewat olehnya. Dia baru tahu bahwa setelah dua tahun Dina menikah, ia memutuskan untuk kembali berkuliah di Kampus Pelangi.


Begitu pula dengan Lala, setelah dia berhasil mengobati luka di hatinya dan menyelesaikan segala permasalahannya dengan Aisyah, ia melanjutkan kembali kuliahnya. Sedangkan, Novi karena kakaknya tiba-tiba dipindahkan ke Bogor, maka Novi yang memang saat itu mengikuti sang Kakak ikut pindah ke Bogor juga. Lalu ia memilih melanjutkan kuliah yang sempat tertunda di Kampus Pelangi.


***


Bersambung


Hai, para pembaca setiaku, mohon maaf ya.. jika beberapa hari ini author up gak teratur, maklum kerjaan author di dunia nyata bener-bener nguras tenaga banget.. sampai-sampai kalau sampai rumah suka langsung ketiduran. Sementara pekerjaan author juga lagi penuh dan gak bisa nyuri-nyuri waktu tapi author usahakan tetap bisa up.


Sekali lagi author minta maaf dan terima kasih bagi yang telah setia membaca cerita ini 😉 🙏🙏


Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️

__ADS_1


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


__ADS_2