
Felisa terus melajukan mobilnya untuk menjemput sang Mama yang kini tengah menantikan kedatangan putrinya itu di depan pintu masuk Perumahan Kemilau Cahaya. Sambil terus melajukan mobil, ia terus memutar otaknya agar bisa mencari cara supaya Alan dan Rena bisa berdua lebih lama lagi tanpa diganggu sang Mama.
Apa yaang harus aku lakukan sama Mama ya? Masa iya, aku langsung bawa Mama ke rumah. Bisa-bisa semua rencana jadi gagal. (ucap Felisa dalam hatinya).
Namun, sebelum sempat menemukan cara menghadapi sang Mama, mobil yang dikemudikan Felisa lebih dahulu sampai di tempat tujuan, tempat Mama Elana menantikan kedatangannya.
“Mama,” sapa Felisa memeluk erat Mamahnya
“Sayang.. bagaimana kabarmu, Nak?” tanya sang Mama membalas pelukan erat putri bungsunya itu.
“Alhamdulillah, baik. Mama dan Papa sendiri bagaimana kabarnya?” tanya Felisa.
“Alhamdulillah, Mama dan Papa baik-baik saja. Tapi mungkin untuk beberapa hari ini Papamu belum bisa kemari karena masih ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikannya lebih dulu. Lalu, kakakmu bagaimana sekarang keadaannya?” tanya Mama.
“Alhamdulillah, sudah lebih baik. Meskipun tangan Kakak masih harus digips selama 7 hari ke depan,” sahut Felisa.
Mama Elana dan Felisa pun segera masuk ke mobil, setelah sebelumnya Mama berpamitan terlebih dahulu pada supir yang mengantarnya dari rumah.
“Kenapa Kakakmu bisa sampai kecelakaan seperti itu Feli?” tanya Mama Elana.
“Kakak bilang sih waktu nyetir mobil, tiba-tiba ada anak kecil lewat dan hampir tertabrak mobil kakak. Itulah sebabnya, Kakak membelokkan kemudinya ke kiri dan menabrak pohon besar yang ada di pinggir jalan tersebut,” ucap Felisa.
“Tapi benar kan hanya tangan kanannya saja yang terluka, bagian lainnya tidak?” tanya Mama Elana.
“Iya, Ma, benar. Aku dan Kak Abi sudah bawa Kakak ke rumah sakit kok untuk diperiksa secara mnyeluruh,” jawab Felisa.
“Kamu sama Abi?” tanya Mama Elana dengan kening berkerut.
“Iya, aku sama Kak Abi. Kebetulan pas Kakak kecelakaan Kak Abi sedang mencari Kak Alan,” jawab Felisa kikuk karena Felisa tahu bahwa selama ini Mamanya mengetahui kalau Felisa menyimpan rasa pada Abi, meskipun di mata Mamanya cintanya itu hanya cinta monyet saja.
Felisa memang menyukai Abi sejak duduk di kelas 6 SD, waktu pertama kali Kakaknya mengajaknya bermain ke rumah mereka. Awalnya memang hanya perasaan suka biasa layaknya ABG yang baru bertemu dengan laki-laki ganteng yang mampu menarik hatinya. Namun, lama kelamaan seiring dengan bertambahnya usia perasaan itu malah berkembang semakin jauh. Terutama saat Abi menolongnya dari serangan para penjambret.
Aksi heroik yang dilakukan Abi pada gadis yang saat itu baru memasuki tahun pertama kuliahnya, telah mampu mencuri hati gadis tersebut yang hingga sekarang masih belum bisa berpindah. Apalagi ternyata ia satu kampus dengan Abi yang saat itu sudah menjadi dosen di Kampus Pelangi. Hal itu pula lah yang menjadi salah satu alasan Felisa menerima tawaran Aisyah untuk menjadi asisten dosennya di Kampus Pelangi. Semua itu ia lakukan tak lain agar dirinya bisa dekat dengan Abi, berharap agar suatu saat Abi dapat melihat ketulusan cintanya.
Oh, iya, aku punya ide. Gimana kalau Mama aku bawa muter-muter aja. Paling enggak dengan begitu Kak Alan dan Bu Rena kan bisa berdua lebih lama lagi, hehehehe (Pikir Felisa).
Sebuah ide muncul di kepala Felisa saat ia mengemudikan mobil sedan merah pemberian kakaknya itu. Ide untuk mengajak sang Mama keliling kompleks perumahan itu pun dilakukannya.
***
Rena masih menyuapi Alan bubur kacang hijau buatannya, meski pandangannya sesekali tertunduk setiap kali harus bertemu pandang dengan Alan yang sedari tadi memandanginya begitu lekat.
“ Bisa enggak sih Kakak berhenti memandangiku seperti itu,” pinta Rena sinis.
“Memang kenapa? Apa ada yang salah? Kau tidak suka?” goda Alan.
“Iya, aku enggak suka,” jawab Rena ketus tanpa memandang wajah Alan.
Alan hanya tersenyum simpul, entah mengapa baginya tingkah Rena yang seperti itu malah membuatnya semakin gemas.
“Baiklah, aku akan menutup mataku saat kau menyuapi bubur itu,” ucap Alan sembari menutup matanya.
__ADS_1
Rena yang melihat tingkah aneh Alan tersenyum dibuatnya.
“Enggak, seperti itu juga kali, Kak,” sahut Rena gemas.
“Lalu aku harus bagaimana Rena? Mana mungkin aku bisa berhenti melihat wajah bidadari cantik yang ada di hadapanku, jika mataku tidak kututup,” sahut Alan.
“Ih, Kak Alan mah... Bisa enggak sih berhenti ngegombalin Rena terus,” ucap Rena dengan nada merajuk.
“Siapa yang sedang ngegombalin kamu? Aku bicara yang sebenarnya Rena,” jawab Alan.
“Ya sudah, kalau begitu kita sudahi saja makan buburnya,” ucap Rena kesal.
Ia pun meletakkan mangkuk bubur yang tinggal sedikit itu di atas meja.
“Ren... Sayang itu buburnya tinggal sedikit lagi,” ucap Alan.
Yang membuat Rena seketika melirik ke arah mangkuk bubur itu. Memang benar sih apa yang dikatakan Alan, rasanya sayang sekali jika bubur itu tidak dihabiskan. Karena itulah Rena mengambil kembali mangkuk yang berisi bubur itu dan menyuapkan isinya ke mulut Alan hingga habis tak bersisa.
“Akhirnya selesai juga,” ucap Rena penuh kelegaan.
Ia pun kemudian bangkit berdiri menuju wastafel untuk mencuci mangkuk dan gelas bekas Alan.
“Ya Tuhan, akhirnya selesai juga. Kalau kelamaan seperti ini, jantungku bisa meledak dibuatnya” gumam Rena sambil membersihkan gelas dan mangkuk itu.
“Kamu bicara apa Rena?” ucap Alan yang membuat Rena merasa kaget.
Ia sama sekali tidak menyangka, Alan akan mengikutinya sampai ke sana.
“E-enggak, aku enggak ngomong apa-apa. Kak Alan salah dengar kali,” sahut Rena.
“Sudah dong, Kak Alan. Itu hanya perasaan kakak saja aku enggak pernah ngomong kaya gitu,” ucap Rena bohong.
“Benar kamu enggak ngomong kaya gitu? Kalau kamu bohong, aku cium kamu,” ucap Alan tanpa sadar dan langsung membekap mulutnya sendiri.
Rena memandanginya dengan tatapan tatapan tajam.
Dasar otak mesum (Pikir Rena)
Ya ampun, Alan. Bicara apa kamu? Kenapa ucapan kamu jadi ikut ngeres kaya gitu? Lihat sepertinya bidadarimu ngambek lagi (ucap Alan dalam hati)
Rena pun mengambil tas selempang yang dibawanya dan hendak keluar dari rumah itu.
“Kak, tugasku sudah selesai. Aku pamit pulang dulu. Sampaikan itu pada Felisa,” ucap Rena berlalu meninggalkan Alan.
“Rena, tunggu. Kamu belum memakan buburnya,” ucap Alan berusaha menahan kepergian Rena.
“Tidak, pelu. Lagipula aku sudah di sini terlalu lama,” sahut Rena.
“Setidaknya tunggulah sampai Felisa kembali,” pinta Alan.
Namun, perkataan Alan itu sama sekali tidak didengar oleh Rena. Ia terus berjalan hingga sampai di pintu depan rumah Alan. Ia pun berusaha membuka pintu depan rumah itu, tapi sayangnya sia-sia karena pintu rumah itu sudah dikunci oleh Felisa dari luar.
__ADS_1
Ya Tuhan, apa Felisa mengunci pintu rumah ini dari luar? (ucap Rena dalam hati).
Alan yang sedari tadi mengikuti Rena dari belakang merasa lega karena melihat Rena yang tidak berhasil keluar.
Kau benar-benar pintar adikku, kau mengunci pintu depan rumah ini. Setidaknya itu bisa membuatku bicara sedikit lebih lama dengan Rena (Pikir Alan).
Rena memandangi Alan.
“Kak Alan jawab yang jujur. Apa ini semua rencana Kakak dengan Felisa?” tanya Rena.
“Tidak, aku sama sekali tidak tahu kalau kau mengenal Felisa,” jawab Alan tanpa memandang Rena.
“Benarkah? Lalu Kak Alan tau nomor ponselku dulu dari siapa?” tanya Rena yang sudah mulai curiga.
“Baiklah, aku akan jujur kalau memang aku dan Felisa lah yang merencanakan agar kau bisa kemari. Tapi, percayalah untuk masalah pintu ini aku sama sekali tidak tahu menahu,” ucap Alan memandang wajah Rena.
Kali ini Rena melihat kejujuran di mata Alan.
“Kalau begitu kenapa Kakak merencanakan semua ini?” tanya Rena.
“Itu karena aku tidak ingin jauh darimu Rena. Kau boleh marah padaku, tapi tolong jangan pernah menjauh dariku lagi,” ucap Alan.
Rena hanya diam mendengar perkataan Alan.
***
Mobil Felisa akhirnya sampai di halaman depan rumah Alan. Diikuti Mama dan Felisa yang turun dari dalam mobil itu.
“Feli, kenapa kamu ini sepertinya mengajak Mama muter-muter saja sedari tadi?” keluh Mama Elana yang merasa dipermainkan oleh putri bungsunya.
“Ah, enggak Mah. Itu memang jalannya. Mama jangan berpikir seperti itu dong sama Feli,” sahut Felisa sambil mengeluarkan kunci yang ada di dalam tas selempangnya.
“Feli, apa yang sebenarnya kamu dan Kakakmu rencanakan? Kenapa kamu mengunci pintu rumah itu? Bukankah ada Kakakmu di dalam?” tanya sang Mama menatap putrinya dengan pandangan curiga.
Felisa yang mendapat tatapan seperti itu dari sang Mama hanya bisa cengar-cengir. Hal itu menandakan bahwa dugaan sang Mama itu tidaklah salah. Felisa dan Kakaknya memang sedang merencanakan sesuatu yang belum diketahui oleh sang Mama.
“Hehehe.. Mama nih pinter banget ngasih pertanyaannya. Nanti Mama juga akan tahu sendiri lah alasannya,” ucap Felisa seraya meninggalkan sang Mama yang masih dipenuhi dengan sejuta tanda tanya.
Namun Felisa, tampak tak menghiraukan itu. Ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu rumahnya. Lalu ia memasukan kunci itu ke lubang pintunya. Sekali ceklek pintu itu sudah tidak terkunci lagi hingga Felisa pun bisa mendorong dan membuka pintu itu dan betapa terkejutnya ia dan sang Mama saat melihat sudah ada Alan dan Rena yang sedang berdiri di depan pintu itu.
***
Bersambung
Bagaimana ya reaksi Mama Elana saat bertemu dengan Rena? 🤔🤔
Kita tunggu saja di part selanjutnya...😉😁😁
Jangan lupa baca dan berikan dukungan terus pada dengan melalui like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
__ADS_1
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘
Terima kasih 🙏🙏🙏