
Pak Janwar berhasil memikat Rena dan teman- temannya. Gayanya yang khas dan berbeda dari cara dosen lainnya mengisi materi perkuliahan, membuat dirinya menjadi pusat perhatian di kelas tersebut.
Tak seorang pun mahasiswa yang ada di ruangan itu mengalihkan perhatian mereka dari dosen tampan itu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan mampu menghipnotis siapa pun yang mendengarnya. Kata-kata yang memberikan spirit motivasi untuk selalu menulis begitu menyentuh kalbu.
Tanpa terasa perkuliahan Pak Janwar sudah hampir selesai. Sebelum menutup perkuliahan tersebut, Pak Janwar memberikan tugas yang cukup menantang kepada mahasiswanya.
"Oke, Bapak rasa kalian sudah cukup pandai, tanpa Bapak harus jelaskan terlalu banyak. Sekarang buatlah karya kalian! Tuliskan sebuah karangan deskripsi tentang orang-orang yang profesinya
dianggap rendah di sekitar kalian!"
"Contohnya Pak?" tanya Mauri sambil mengangkat tangannya.
"Contohnya tukang misro, tukang cireng, gorengan dan banyak lagi" sahut Pak Janwar
"Aduh, Pak, kenapa nyebutin makanan semua sih Pak? Aku kan jadi lapar," sahut Mauri
"Huh, dasar Nduuut! Dengernya makanan doang gak denger apa ada tambahan kata tukang," timpal
Faizal menekan kata terakhir
"Apa sih kutilang, nyambung aja!" omel Mauri pada Faizal.
"Ehem," Deheman Pak Janwar pun menghentikan pertikaian antara Faizal dan Mauri.
"Selain profesi pedagang apa lagi, Pak?" tanya Aisyah sambil mengangkat tangannya.
"Banyak seperti pengemis, pengamen, tukang parkir dan profesi lainnya yang sekiranya dipandang
rendah," jawab Pak Janwar.
"Baik, terima kasih, Pak, " sahut Aisyah.
Pak Janwar kembali melanjutkan penjelasan akan tugas yang diberikannya hingga seluruh mahasiswa dapat benar-benar memahaminya.
"Agar kalian bisa menggambarkan profesi mereka dengan baik. Maka, sebelum menulis, kalian harus melakukan observasi dan wawancara dengan mereka. Barulah itu yang disebut karangan nyata
bukan khayalan belaka sehingga tulisan kalian pun bisa dipertanggungjawabkan," jelas Pak Janwar.
"Baik, Pak," jawab semuamahasiswa serempak.
Perkuliahan pun selesai, semua mahasiswa membubarkan diri, termasuk Rena dan keempat sahabatnya.
Dari sudut yang lain, di kursi baris kedua, tampak dua orang perempuan tengah memperhatikan Rena dan teman-temannya, saat hendak melangkah keluar. Mereka tak lain adalah Jessy dan Melinda.
"Mel, itu perempuan yang dulu kita lihat sama Arka, bukan?" tanya Jessy.
"Yang mana?" tanya Melinda kembali sambil memperhatikan beberapa mahasiswa yang hendak keluar meninggalkan ruangan itu.
"Tuh, yang pakai baju dan bandana oranye," sahut Jessy seraya menunjuk ke arah Rena.
"Oh iya, betul. Jadi, dia anak Bahasa Indonesia." sahut Melinda.
"Iya, sepertinya adik kelas, Mel," sahut Jessy.
Melinda pun menjawab dengan anggukan.
***
"Nov, kira-kira kamu akan mewawancarai siapa?" tanya Rena
__ADS_1
"Gak tau juga belum kepikiran, Na, " jawab Novi.
Saat tengah terjadi perbincangan di antara mereka, tiba-tiba Novi melihat Arka. Sosok yang beberapa minggu ini tak dilihatnya.
"Ehem, ehem, ada angin apa, ya?" sahut Novi menolehkan pandangan arah Rena. Namun, karena deheman Novi cukup lantang, yang lain pun ikut menoleh ke arahnya.
"Ada apa, Nov?" tanya Dina.
"Iya, ada apa?" tanya Rena kemudian saat Novi tak menjawab pertanyaan Dina.
Novi menunjuk ke arah Arka dengan isyarat matanya. Rena, Dina, Aisyah, dan Lala pun mengikuti arah yang ditunjuk oleh isyarat mata Novi.
Deg
Jantung Rena saat itu juga berdebar tak karuan. Apalagi ketika langkah Arka kian mendekat.
"Kak Arka maksud kamu, Nov?" tanya Lala.
Novi menganggukkan kepalanya melihat ke arah Arka.
"Ada apa memang dengan dia?" tanya Dina.
"Dia itu gebetannya Rena," bisik Novi pelan.
"Aaa, serius?" tanya Dina setengah berteriak tak percaya, pasalnya selama mereka berteman dia tak pernah melihat temannya itu menyukai seorang pria. Bahkan, kalau pun mereka berpapasan
dengan laki-laki yang super duper ganteng, menurut Dina, Rena sama sekali tak bereaksi, termasuk saat bertemu Alan, Dewa, atau pun Abi.
Rena hanya memasang ekspresi wajah yang datar dan dingin. Sama sekali tak ada teriakan histeris seperti yang sering dia, Lala, Novi atau pun Aisyah lakukan saat pertama kali melihat laki-laki ganteng.
"Itu bukannya Kak Arka, ya?" tanya Lala.
"Bukannya dia itu cowoknya Kak Jessy, ya, Ais?" tanya Lala kepada Aisyah.
Deg,
Pertanyaan Lala itu seakan pisau yang menghujam tepat di jantung Rena, rasanya sakit sekali mendengar pertanyaan itu.
"Gak tau juga, tapi memang aku sering melihat Kak Arka ngobrol sama Kak Jessy," jawab Aisyah.
"Arka!" panggilan seseorang di belakang Rena dan teman-temannya, membuat mereka menoleh ke arah sumber suara.
Teriakan itu berasal dari Jessy. Ia berteriak kembali memanggil Arka seolah sengaja ingin didengar oleh Rena.
Perempuan ini bukannya perempuan perkasa yang dulu bersama Kak Abi, menampilkan kemampuan bela diri taekwondonya (pikir Rena)
"Dia kan yang waktu itu menampilkan atraksi taekwondo sama Kak Abi, kan?" tanya Dina kepada Lala dengan suara pelan.
"Iya," jawab Lala.
Tak lama Arka pun sampai, ia melewati Rena dan teman-temannya sambil melemparkan senyum tipis ke arah Rena.
"Na, dia senyum, lho," goda Novi.
Rena hanya mengangguk dan menoleh sebentar ke arah Arka yang sedang asyik mengobrol dengan Jessy dan temannya Merlinda. Jessy pun melihat itu, ia sesekali mengamati perubahan ekspresi Rena.
Sekarang kamu lihat, Arka itu milik siapa (batin Jessy)
Ya ampun..., seperti inikah rasa sakit karena patah hati? (batin Rena)
__ADS_1
"Rena, yuk!" ajak Lala.
Mereka berlima berlalu pergi meninggalkan ruangan tersebut. Dengan Rena yang masih menyimpan rasa sakit di dadanya.
****
Seminggu kemudian
"Na, gimana udah jadi tulisannya?" tanya Novi menghampiri Rena yang baru saja masuk kelas.
"Udah, dong!" jawab Rena sambil memamerkan beberapa lembar kertas yang baru saja diprint-nya itu.
"Boleh lihat," pinta Novi.
"NGGAK," jawab Rena penuh penekanan
"Huh, dasar! Padahal kemarin-kemarin, ngerengek ke aku karena bingung nyari narasumber. Sekarang udah jadi malah pelit," sahut Novi cemberut yang membuat Rena terkekeh karenanya.
"Terus jadinya siapa narasumbernya? Apa si Zack, pengamen itu?" tanya Novi sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"OGAH! Yang ada dia bakal nempel ke aku terus," sahut Rena.
"Bukannya dia emang suka nempel sama kamu terus ya?" goda Novi.
"Makanya aku ogah wawancara sama dia, yang ada dia bakal nyangka aku lagi PDKT sama dia," sahut Rena.
"Hahaha... Siapa tau dia emang jodoh kamu?" goda Novi lagi.
"Suka asal deh kalo ngomong," sahut Rena.
"Tapi kan emang gak ada yang tau jodoh kita, Rena,"
"Iya, sih.. tapi jangan doain juga dong masa sama pengamen sih!" sahut Rena cemberut.
"Jadinya ama siapa?" tanya Novi
"Ama seorang dokter yang tampan, keren, baik hati, dan tidak sombong," sahut Rena.
"Apa?! Emang itu pekerjaan yang suka direndahkan, ya?" tanya Novi.
"Maksudnya?" tanya Rena bingung.
"Iya kan, Pak Janwar bilang wawancaranya sama yang memiliki profesi yang dipandang rendah," jawab Novi.
Rena menepuk jidatnya.
"Yee, dasar. Jaka Sembung nari tralala ga nyambung, Lola!!!" sahut Rena.
"Apaan sih Lola?" sahut Novi.
"Iya, Lola, loadingmu lama, haha.." sahut Rena tertawa melihat Novi memasang muka cemberutnya.
****
Bersambung
Terima kasih buat semua yang sudah
mampir ke karyaku. Author sangat menghargai itu terutama bagi yang sudah memberikan
__ADS_1
like, vote, rate, dan komennya. Bagi yang belum author tunggu ya..