
Setelah Maya pergi, laki-laki itu pun membalikkan kursinya menghadap Rena. Betapa terkejutnya Rena saat melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya. Begitu pula dengan laki-laki itu. Mata mereka pun saling bertemu dan bertatapan satu dengan lainnya.
“Bu Rena,” ucap laki-laki itu dengan nada penuh keterkejutan.
“Pak Dewa,” sahut Rena yang tak kalah terkejutnya dengan Dewa.
“Saya sama sekali tidak menduga kalau Ibu yang melamar ke sekolah ini,” sahut Dewa memperlihatkan ekspresi terkejut sekaligus senangnya.
“ Saya juga tak menyangka kalau Pak Dewa juga mengajar di sekolah ini," ucap Rena masih dengan nada terkejut.
“Katakan alasannya pada saya. Mengapa Ibu bisa sampai melamar kemari? Bukankah Ibu sudah mengajar di SMP Pelita Jiwa dan setahu saya aturan di SMP itu tidak memperbolehkan guru-gurunya mengajar di tempat lain? Apa aturannya sekarang sudah berubah?” sahut Dewa dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Dewa memang tahu banyak tentang aturan yang berlaku di SMP Pelita Jiwa karena memang sebelum ia mengajar di SMP Cinta Kasih, ia juga pernah mengajar di tempat yang sama dengan tempat Rena dulu mengajar. Selain itu, Dewa juga merupakan kakak kelas Rena yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Ketua BEM Fakultas di tempat kuliah Rena (Masih ingat, kan?).
“Aturannya masih tetap sama Pak Dewa. Hanya, sekarang saya sudah berhenti dari tempat itu,” ucap Rena dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca mengingat perlakuan tidak adil yang ia terima dari tempatnya mengabdi selama hampir kurang lebih 11 tahun lamanya.
“Bagaimana bisa? Ibu kan legend di sana?” sahut Dewa mencoba menatap mata Rena untuk mencari kejujuran di matanya yang indah itu.
Setahu Dewa, Rena adalah guru yang sangat kuat. Guru yang mampu bertahan lama ketika guru-guru lain hanya mampu bertahan 1 hingga 3 tahun di sana. Hal itu karena adanya aturan kepegawaian yang sangat ketat di tempat itu. Dewa sendiri hanya mengajar 3 tahun di sekolah tersebut.
“Bisa, Pak. Itu sebabnya saya melamar di sini,” jawab Rena.
“Iya, maksud saya bagaimana bisa karena selama ini yang saya tahu Ibu sangat setia dan sangat senang bekerja di tempat itu,” sahut Dewa masih separuh tidak percaya dengan apa yang barusan didengarnya.
Rena pun menghela nafas panjang, sebelum akhirnya melanjutkan perkataannya.
“Iya, mungkin Bapak benar selama ini saya sangat setia dan senang sekali bekerja di sana. Mungkin, saya juga tidak akan minta berhenti dari tempat itu andai saja saya tidak diminta untuk berhenti,” sahut Rena dengan nada yang mulai emosi dan tangan yang sudah mengepal menahan amarahnya.
“Apa? Jadi maksud Ibu, secara tidak langsung Ibu dipecat dari tempat itu?” tanya Dewa tak percaya.
“Bagaimana bisa? Bukan kah selama ini Ibu selalu mendapatkan predikat sebagai guru berprestasi di sekolah itu? Murid-murid juga banyak yang menyukai Ibu," lanjut Dewa menyebutkan alasan ketidak percayaannya.
__ADS_1
Rena menanggapi pernyataan Dewa dengan senyum miris karena memang apa yang disampaikan Dewa semuanya benar. Setiap tahun ia sering mendapatkan penghargaan sebagai guru terbaik di sekolah itu atas dedikasi kerjanya selama ini. Namun, karena masalah pribadi yang sebenarnya bukan sepenuhnya kesalahannya, semuanya hancur sudah. Prestasinya sama sekali tak berarti di mata yayasan. Hal tersebut tidak pernah menjadi bahan pertimbangan bagi seorang Bambang, pemilik yayasan.
“Yang Anda katakan benar, Pak. Tapi Anda sendiri tahu kan bagaimana Pak Bambang dan bagaimana pola pikirnya selama ini? Prestasi yang kita miliki tidak ada apa-apanya di matanya,” tanya Rena balik dengan penuh kegeraman.
Iya, apa yang dikatakan Rena memang tak bisa dipungkiri. Dewa tahu benar seperti apa sosok pria bernama Bambang itu. Laki-laki yang dulu pernah menjadi atasannya dan juga Rena. Sosok arogan, keras kepala, dan selalu merasa dirinya paling benar.
Masih terekam dalam ingatannya bagaimana Dewa merasa dipermalukan hanya karena sebuah kesalahan yang dianggapnya sepele. Ia dibentak dan ditegur habis-habisan oleh Bambang bahkan sampai diberi SP 1 (Surat Peringatan). Masalahnya tak lain hanya karena Dewa tidak memakai baju seragamnya. Bajunya itu belum sempat ia gosok. Itu pun sebelumnya Dewa telah meminta izin pada Pak Dimas yang kala itu menjadi kepala sekolahnya.
Flashback on
“Hei, kamu kemari!” teriak Bambang begitu lantang memanggil Dewa, membuat Dewa dan para siswa yang berada di tempat itu ikut menoleh ke arahnya. Dewa pun menghampiri laki-laki yang berbadan tinggi besar itu.
“Iya, Pak, ada apa?” sahut Dewa seraya menundukkan pandangannya tak berani menatap laki-laki yang sekarang sedang berkacak pinggang dan menatapnya dengan sorot mata yang begitu tajam seperti seekor singa yang hendak menerkam mangsanya.
“Kemana baju seragammu, hah? Kamu itu guru yang tidak tahu malu ya..! Tidak bisa mengajari murid-muridmu dengan benar! Kalau gurunya saja sepertimu yang suka seenaknya tidak memakai seragam? Bagaimana dengan murid-muridnya?” bentak Bambang sambil menunjuk-nunjuk muka Dewa di depan murid-muridnya.
Sungguh, perkataan Pak Bambang tadi itu benar-benar membuat Dewa merasa sangat malu.
“Maaf, Pak, saya sebelumnya sudah meminta izin pada Pak Dimas bahwa hari ini saya tidak bisa mengenakan seragam saya, karena...,” ucap Dewa yang terpotong oleh Bambang.
“Maaf, Pak, tapi saya tidak memakai seragam karena seragam saya belum sempat saya gosok,” ucap Dewa berusaha membela dirinya. Namun, Bambang bukannya memaklumi alasan Dewa, ia malah memberikan senyuman penuh ejekan kepada Dewa.
“Memang ke mana istrimu?” tanya Bambang.
“ Maaf, Pak, saya belum menikah,” jawab Dewa.
“Pantas, makanya jangan jadi jomblo! Itu sebabnya saya tidak suka ada jomblo sepertimu di sekolah ini. Jadi, nanti lekaslah menikah atau kamu boleh keluar dari sekolah ini,” sahut Bambang dengan nada yang cukup tinggi dan menusuk membuat semua murid yang ada di tempat itu ikut mendengarkan perkataannya.
Sebagian dari mereka ada yang merasa prihatin mendengar perkataan tersebut. Sedang, sebagian lainnya ada yang senyum-senyum penuh ejekan karena memang selama ini Dewa termasuk sosok guru yang disiplin dan tak segan menghukum mereka yang melakukan pelanggaran.
Bambang pun pergi meninggalkan Dewa dengan rasa malu yang luar biasa. Namun, ternyata masalah tidak hanya sampai di situ. Tak lama setelah kejadian itu, Dewa mendapat surat peringatan dari kepala sekolah atas perintah langsung dari Pak Bambang. Hal tersebut membuat Dewa merasa diperlakukan tidak adil, karenanya Dewa pun mengundurkan diri dari tempat itu.
__ADS_1
Flasback off
“Bolehkah saya tahu alasan Pak Bambang meminta Ibu berhenti?” tanya Dewa sedikit ragu karena ia khawatir menyinggung perasaan Rena. Namun, ia sungguh merasa penasaran terlebih karena itu menyangkut Rena, wanita yang pernah disukainya itu.
Sama seperti Dewa, Rena pun tampak ragu menceritakan masalahnya. Mengingat masalahnya adalah masalah yang bersifat sangat pribadi. Ia tak ingin Dewa mengetahui masalah pribadinya itu.
“Maaf, untuk yang satu itu saya tidak bisa menceritakannya, Pak” sahut Rena.
“Baiklah, saya tidak akan memaksa. Lalu, bagaimana dengan suami Ibu, Pak Rayhan, apakah dia mengizinkannya?” tanya Dewa karena yang Dewa tahu Rayhan adalah pribadi yang otoriter yang tidak akan mudah mengizinkan Rena untuk bekerja di sembarang tempat.
Mendengar nama mantan suaminya disebut, Rena tak bisa lagi menutupi semua masalah yang telah terjadi antara dia dan Rayhan pada Dewa.
“Saya dan Rayhan sudah berpisah, Pak, dan sesungguhnya itulah alasan kenapa saya diminta berhenti dari tempat itu. Karena saya tak bisa mempertahankan rumah tangga saya. Menurut Pak Bambang, jika perceraian itu benar-benar terjadi, maka salah satu di antara kami harus berhenti dari tempat itu, dan menurut hematnya dalam hal ini sebaiknya saya lah sebagai perempuan yang harus berhenti,” sahut Rena dengan nada penuh kegetiran.
Mendengar cerita Rena, Dewa semakin merasa tidak suka pada sosok laki-laki yang bernama Bambang itu. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa sebuah perceraian yang mungkin merupakan musibah terbesar yang dialami sebagian besar kaum wanita bisa dijadikan sebuah alasan untuk sebuah pemecatan. Sungguh pemikiran yang teramat sangat naif di matanya.
“Jadi, kapan tesnya akan dimulai, Pak? " tanya Rena memecah keheningan.
“Saya rasa untuk Ibu, kita tidak perlu melakukan tes lagi,” ucap Dewa sambil membuka map merah yang sebelumnya diberikan Maya kepadanya.
“Tapi bagaimana bisa Pak? Bapak kan belum tahu cara saya mengajar? Apakah sesuai dengan kriteria yang diinginkan sekolah ini atau tidak?” tanya Rena.
Dewa tak langsung menjawab pertanyaan Rena, ia hanya tersenyum menanggapinya. Ia masih terus sibuk mengisi lembaran-lembaran kertas yang ada di atas mejanya.
“Kata siapa saya tidak tahu bagaimana cara Ibu mengajar?” tanya Dewa sambil menatap wajah Rena dengan seksama, membuat Rena pun langsung menundukkan pandangannya.
“Mungkin Ibu tidak sadar, kalau selama ini saya selalu memperhatikan cara Ibu mengajar,” ucap Dewa.
Ucapan Dewa membuat Rena teringat pada kenangan sebelas tahun silam, tentang masalah yang terjadi antara dirinya, Dewa, dan Rayhan.
***
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih masih setia dengan cerita author ini dan jangan lupa bagi yang sudah mampir tinggalkan jejak kalian dengan memberi like, vote, rate 5, dan komennya ya.. 💗💗💗