Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 59 Permen Cinta


__ADS_3

Tetesan embun di pagi hari menempel pada daun-daun hijau yang ada di sekitar Taman Kemilau Cahaya, menambah suasana asri saat berada di sana. Sekumpulan anak-anak tanpa mengenal lelah berlarian ke sana ke mari. Ada pula di antara mereka yang asyik bermain serodotan, ayunan, dan gelembung sabun.


Begitulah pemandangan yang tergambar pada setiap minggu pagi di Taman Kemilau Cahaya. Taman yang sengaja dibuat oleh pemilik Perumahan Kemilau Cahaya sebagai sarana untuk tempat berkumpul keluarga, teman, maupun tetangga yang ada di sekitar perumahan tersebut.


Tampak pula Rena beserta adik dan kedua anaknya di taman tersebut. Sebagaimana anak-anak lainnya, Hana dan Haikal pun terlihat asyik bermain perosotan di taman itu.


“Enak ya, Kak, suasana di sini? Lumayanlah buat tempat liburan gratis anak-anak,” sahut Reni.


“Iya, kamu benar. Hana dan Haikal juga terlihat senang sekali bermain di tempat ini,” jawab Rena sambil memandangi ke dua buah hatinya. Sedangkan Reni, terlihat begitu asyik menikmati kentang goreng dan jus jeruk hangat yang tadi dibawa oleh Rena untuk bekal mereka berempat.


“Ren, jangan dihabiskan minumannya! Nanti makan nasi goreng minumnya pake apa?” sahut Rena saat melihat Reni yang terus menerus menyedot jus jeruk hangat yang dibawanya.


“Ups, kebablasan Kak, hehe,” sahut Reni nyengir.


“Tinggal segini,” sahut Reni sembari memperlihatkan jus jeruk hangat yang sudah sangat sedikit itu.


“Kamu ini... Beli lagi sana!” seru Rena seraya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang adik.


“Siap, Kak,” sahut Reni dengan gaya hormat.


Setelah itu, Reni pun bangkit dan berjalan keluar dari taman menuju tempat pembelian makanan dan minuman yang berada di luar taman tersebut, meninggalkan Rena sendirian.


Melihat sang ibu kesepian, duduk sendiri di taman itu, Hana dan Haikal pun memghampiri Rena.


“Mah, kita ke sana yuk!” ajak Hana dan Haikal sambil menunjuk salah satu bagian taman yang saat itu tampak terlihat begitu ramai dikelilingi oleh para pengunjung.


Di bagian taman itulah para pengunjung taman dapat bebas bermain sepeda, skate board, atau pun sepatu roda dengan sepuas hati. Di tempat itu pula tersedia papan lintasan atau halang rintang dengan berbagai macam bentuk, layaknya halang rintang yang ada di program “Ninja Wariorr”.


Rena pun mengikuti langkah dua makhluk kecil yang menggiringnya ke tempat tersebut. Di tempat yang menyerupai lapangan itu sekarang sedang berlangsung atraksi sepeda dan permainan skate board yang sedang diperagakan oleh beberapa anak muda yang berada di tempat itu.


Sorak sorai menggema mana kala, seorang pemuda berhasil memutar sepedanya ke atas hanya dengan bertumpu pada salah satu ban sepeda itu. Pemuda lain yang tampak tak mau kalah juga melakukan hal serupa, kali ini ia menambahkan atraksi tersebut dengan atraksi yang lebih nekat dan cukup berbahaya. Ia meluncurkan sepedanya ke atas, lalu melepaskan kedua tangannnya dari stang sepeda tersebut.


Pertunjukan masih belum usai sampai di situ, kali ini kumpulan anak muda yang


bermain skate boardlah yang berhasil menarik perhatian para pengunjung taman. Mereka memainkan papan skate board dengan sangat lihai dan cekatan. Menerobos rintangan demi rintangan yang ada. Bahkan, beberapa di antara mereka tampak melayang di udara saat sedang mengayunkan papan skate boardnya.


Semua perhatian para pengunjung tampak terpusat pada dua atraksi yang ditampilkan di lapangan tersebut. Namun, hal itu tidak terjadi pada laki-laki berparas tampan nan menawan yang perhatiannya sedari tadi justru tertuju pada Rena. Wanita yang namanya selalu ada dalam hatinya.


Sebenarnya Alan ingin sekali mendekati Rena, namun keraguan masih menyelimuti dirinya. Ia bingung harus memulai segalanya dari mana.

__ADS_1


“Ayolah, Alan ini kesempatanmu. Kapan lagi?” gumam Alan menyemangati dirinya sendiri.


Alan pun melangkahkan kakinya menuju tempat di mana Rena dan kedua anaknya berdiri. Rena sendiri tampak tak menyadari kehadiran Alan yang sekarang berada tepat di belakangnya. Ingin sekali Alan menyentuh pundak Rena dan menyapa perempuan itu. Namun, jiwa pengecutnya selalu muncul dan membuatnya ragu untuk melakukan hal itu.


Ya Tuhan, kenapa setiap bertemu dia aku selalu merasa nervous seperti ini. Ayolah Alan jangan jadi pengecut! Sapa dia! (gumam Alan dalam hatinya).


Di tengah kebimbangan Alan. Rena justru masih terlihat begitu antusias memperhatikan atraksi demi atraksi yang ada di depannya. Meski, tiba-tiba saja, saat Alan mendekat, ia merasa jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


Kenapa dengan jantungku? Kenapa aku merasa debarannya sekarang menjadi lebih cepat dari biasanya, ya? (pikir Rena).


Cukup lama juga Rena masih berdiri di tempat itu. Sekali pun hembusan angin di sekitar taman itu tampak bertiup semakin kencang, menggoyangkan daun-daun dan ranting-ranting pohon yang seolah ingin berlari menyapa para pengunjung. Diikuti oleh butiran debu yang berserakan mengelilingi tempat atraksi itu, terbawa oleh arus angin dan hinggap di beberapa pasang mata yang tak siap dengan keberadaannya.


“Ya Tuhan, mataku,” gumam Rena sambil berusaha mengusir debu yang hinggap di matanya.


Namun, upayanya mengusir debu tampaknya sia-sia. Ia masih saja merasa sulit membuka kedua matanya hingga tanpa sadar, saat Rena berbalik, tubuhnya menabrak Alan. Mereka berdua pun terjatuh bersamaan dengan posisi yang kurang enak dipandang mata karena saat terjatuh, tubuh Rena tepat berada di atas Alan, sedangkan Alan sendiri secara spontan langsung memeluk Rena agar kepala Rena tidak sampai terjatuh dan mengenai lantai aspal lapangan atraksi itu.


Kecanggungan tercipta di antara keduanya. Meski, Rena masih belum bisa membuka kedua matanya. Namun, dari aroma yang diciumnya, Rena dapat menebak bahwa orang yang ditabraknya itu adalah seorang laki-laki.


“Ma-maaf, saya tidak sengaja,” sahut Rena berusaha bangkit dan melepas pelukan Alan.


“Oh, i-iya, aku juga minta maaf,” sahut Alan.


Suara itu.. aroma tubuh itu.. (pikir Rena)


“Kak Alan?” tanya Rena ragu antara percaya dan tak percaya dengan nama yang baru saja ia dengar.


“Kamu enggak apa-apa kan?” tanya Alan penuh ke khawatiran saat melihat mata Rena yang masih tertutup.


Mendengar ucapan Alan, Rena kembali berusaha membuka matanya. Namun, sesuatu yang masih menempel di matanya menyulitkan ia untuk membuka kedua kelopak matanya itu dengan sempurna. Alan yang melihat kejadian itu langsung membantu Rena dengan memberikan sentuhan-sentuhan lembut kepada kedua kelopak mata itu sambil sesekali meniupnya agar debu yang menempel di sana bisa segera menghilang.


Reni yang sedari tadi mencari keberadaan kakak dan kedua keponakannya itu dibuat terkejut dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya. Ia melihat Alan dan Kakaknya jatuh secara bersamaan. Mereka tampak terlihat begitu mesra saat itu. Lalu kini, ia melihat laki-laki yang belum lama ini ditemuinya itu tampak begitu peduli pada keadaan sang Kakak.


Perlahan Reni mendekati Alan dan Kakak perempuannya yang kini sudah mulai bisa membuka matanya dengan sempurna.


“Ehem,” deheman Reni membuat perhatian dua insan manusia tertuju padanya.


“Kamu?” tanya Alan saat melihat Reni yang tengah berdiri di hadapannya.


Reni tidak menjawab, ia hanya memamerkan senyum manisnya di hadapan Alan. Lalu melemparkan pandangannya pada sang kakak dengan pandangan penuh tanya.

__ADS_1


“Reni, kenalkan dia teman Kakak, Kak Alan,” sahut Rena yang tampak kikuk memperkenalkan Alan pada adiknya.


“Oh, jadi Kak Alan atau Mas yang kemarin di ‘Jaya Mart’ itu ternyata sudah kenal sama Kakak ya?” tanya Reni dengan tatapan menggoda.


“Ah, aku ingat, jadi kamu kasir yang kemarin di ‘Jaya Mart’ itu ya? Pantas aku seperti pernah melihatmu sebelumnya,” sahut Alan.


“Iya, Kak Alan benar sekali. Aku memang kasir yang kemarin yang kakak temui di ‘Jaya Mart’ dan kakak titipkan permen cin.., Aw...” sahut Reni belum selesai, namun sudah mendapat injakan kaki dari Rena.


“Aduh, Reni... Maaf, Kakak enggak sengaja,” sahut Rena pura-pura.


Jadi, permen yang kemarin itu dari Kak Alan rupanya.. (pikir Rena)


“Ih, Kakak sengaja kan?” bisik Reni yang berjongkok memegang kakinya yang sakit.


“Makanya jangan asal bicara!” jawab Rena pelan.


“Tadi kamu bilang apa permen cin?” tanya Alan.


“Bukan Kak Alan, Kak Alan salah dengar. Reni itu tadi bilangnya permen mint, ya.. strawbery mint, permen yang kemarin kakak titipkan pada Reni untukku,” sahut Rena.


“Oh, itu... Jadi, ternyata kamu kakaknya Reni?” tanya Alan.


“Iya, dan terima kasih atas permennya, Kak,” jawab Rena.


“Sama-sama, sungguh aku tidak menyangka bahwa permen yang kuberikan itu untukmu. Tadinya aku pikir ada orang lain yang juga sangat menyukai permen itu selain aku dan kamu,” sahut Alan.


“Memang sejak kapan kakak jadi suka dengan permen itu?” tanya Rena.


“Sejak.... pertama kali kau memberikan permen itu kepadaku,” jawab Alan lembut yang membuat Reni yang ikut mendengarkannya terbatuk-batuk.


“Uhuk..uhuk...”


Sungguh tidak disangka kalau permen yang kemarin itu ternyata benar-benar permen cinta ya.. (pikir Reni geli)


Apa pun itu? Dalam kamus cinta, hal-hal sekecil apa pun bisa jadi perlambang cinta.


***


Bersambung

__ADS_1


Tuh, sudah author pertemukan..😁😁


Jadi, jangan lupa selalu baca karya author dan tinggalkan jejakmu dengan memberikan rate 5, like, vote, komen, dan favorit ya... ❤️❤️❤️😘😘😘


__ADS_2