Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 85 Pulang


__ADS_3

Mama Elana, Felisa, dan Rena kembali menikmati bubur kacang hijau yang dibuat oleh Felisa dan Rena. Sedangkan, Alan hanya memperhatikan ketiga wanita yang disayanginya itu sambil sesekali meneguk teh manis hangat yang dibuatkan Felisa untuknya. Tak lama, terdengar suara ponsel milik Felisa berdering. Felisa pun melihat nama yang tertera di layar ponselnya.


Kak Naya? Ada apa dia menelepon? (ucap Felisa dalam hati)


“Mah, Feli izin angkat telepon di sana dulu ya?” ucap Felisa beranjak dari tempat duduknya.


“Iya, angkat saja,” sahut Mama.


Sebenarnya Mama dan Alan merasa aneh dengan tingkah Felisa yang tak biasa. Ia mengangkat telepon menjauh dari mereka. Sesuatu yang tak pernah dilakukan Felisa sebelumnya.


Sebenarnya Felisa mengangkat telepon dari siapa? Kenapa dia seolah tak ingin kita mendengarkannya (ucap Alan dalam hati)


Dapat telepon dari siapa ya? Kenapa Feli menjauh? Apa jangan-jangan dari laki-laki yang suka sama dia lagi (Pikir Mama Elana)


Felisa berjalan menuju ruang tengah. Setelah yakin bahwa percakapannya tidak akan bisa didengar barulah ia mengangkat telepon itu.


“Iya, halo Kak Nay,” sahut Felisa.


“Kenapa lama sekali kamu mengangkatnya?” tanya Naya kesal.


“Maaf, tadi aku lagi makan bubur kacang hijau, Kak,” jawab Felisa.


Uh, baru telat angkat telepon aja galak banget! Untung, Kak Alan enggak suka sama dia! (batin Felisa)


“Ya sudah, sekarang katakan di mana kakakmu? Kenapa dari tadi aku meneleponnya tapi ponselnya sama sekali tidak pernah aktif ?” tanya Naya.


“Oh, itu karena ponsel kakak rusak akibat jatuh saat Kak Alan kecelakaan kemarin,” jawab Felisa.


“Apa?! Kecelakaan? Kecelakaan bagaimana? Lalu bagaimana kondisi Alan sekarang?” tanya Naya yang kaget sekaligus panik.


“Iya, waktu hujan kemarin mobil Kak Alan menabrak pohon besar. Tapi, untung keadaannya baik-baik saja hanya tangan kanannya saja yang mengalami cidera yang cukup parah hingga sekarang harus digips dulu,” jawab Felisa.


“Syukurlah, kalau begitu aku akan ke sana menjenguk kakakmu,” ucap Naya yang seketika membuat Felisa sedikit panik.


“Eh, tunggu, Kak! Jangan sekarang!” sahut Felisa.


“Kenapa?” tanya Naya.


“Karena sekarang kakak sedang tidak ada di rumah,” jawab Felisa bohong.


“Kok bisa? Bukannya kakakmu lagi sakit?” tanya Naya curiga.


“Iya, tapi sekarang dia sedang pergi bersama Mama untuk memeriksakan dirinya kembali ke dokter,” jawab Felisa.


“Oh, jadi Tante Lana ada di sini?” tanya Naya.

__ADS_1


“Iya, Mama ada di sini untuk merawat Kakak,” jawab Felisa.


“Ya sudah, mungkin nanti malam saja aku ke sana. Dan tolong sampaikan pada Alan bahwa pesta penyambutan ayahku yang rencananya akan dilaksanakan malam ini di batalkan karena ayahku harus kembali ke London hari ini juga,” ucap Naya.


“Baiklah, Kak Nay. Nanti akan aku sampaikan,” sahut Felisa.


“Kalau begitu terima kasih, bye,” ucap Naya menutup teleponnya.


“Sama-sama,” sahut Felisa mengakhiri percakapannya dengan Naya.


“Huh, untung gak jadi ke sini sekarang. Kalau sampai ke sini bisa jadi masalah,” gumam Felisa.


“Masalah apa Feli? Memang siapa tadi yang menelepon?” tanya Alan yang tiba-tiba muncul di belakang Felisa.


“Kak Naya, Kak,” jawab Felisa.


“Naya? Memang dia bilang apa aja?” tanya Alan mengerutkan dahinya.


Felisa pun menceritakan semua yang dibicarakannya dengan Naya pada Alan. Mulai dari kabar kalau dia tidak jadi mengadakan pesta penyambutan untuk ayahnya karena Om Surya sudah kembali ke London sampai keinginan Naya untuk datang ke rumah Alan.


“Baguslah, kamu bilang seperti itu karena kakak juga tidak suka kalau sampai dia kemari dan bertemu dengan Rena di sini,” ucap Alan lega.


“Kalau gitu sekarang kita kembali ke sana yuk, Kak. Nanti, bisa-bisa Kak Rena pulang duluan lagi,” ajak Felisa.


“Enak sekali bubur ini, sepertinya Feli harus sering belajar dari kamu Rena agar Mama bisa menikmati bubur yang enak seperti ini setiap hari,” puji Mama Lana.


“Makasih atas pujiannya, tapi Rena rasa itu terlalu berlebihan, Mah,” sahut Rena canggung.


“Tidak, kok. Bubur buatan kamu dan Felisa memang sangat enak,” timpal Alan yang baru saja datang.


Felisa kembali duduk di samping Mamahnya, sedangkan Alan kali ini berpindah tempat duduk. Kali ini ia duduk persis di samping Rena membuat Rena menjadi gugup dan kurang nyaman karenanya. Apalagi saat Alan tiba-tiba menyentuh bibir Rena dengan jemari tangannya, rasanya jantung Rena hampir meledak dibuatnya.


“Maaf, ada bekas bubur yang menempel di bibirmu” ucap Alan.


“Oh, enggak usah Kak, biar aku aja,” sahut Rena mencoba menghindar.


Rena segera mengeluarkan tisu dari dalam tasnya dan membersihkan bekas bubur di mulutnya itu dengan tangannya sendiri.


Kenapa sih Kak Alan gak tau malu banget? Enggak liat apa di situ ada Mamahnya dan Feli (gerutu Rena dalam hati).


“Alan, kamu jangan duduk di situ dong, Nak! Kamu enggak liat muka Rena sampai pucat kaya gitu gara-gara kamu ada di situ,” ujar Mama Lana yang membuat Rena hanya bisa terdiam. Sedangkan, Felisa justru tersenyum memperhatikan tingkah kakak dan ibu gurunya itu.


Alan yang melihat wajah Rena yang memang terlihat pucat, ikut tersenyum. Kemudian, ia pun kembali memilih duduk di samping adiknya Felisa.


“Yah, Kak.. baru duduk dekat Kakak saja, Bu Rena udah kaya gitu. Gimana kalau kakak minta dia duduk di atas pangkuan kakak. Bisa-bisa dia malah pingsan,” goda Felisa setengah berbisik.

__ADS_1


“Kamu nih Feli, lihat saja kalau hubungan kami sudah benar-benar resmi dia tidak akan berani menolak kakak,” ucap Alan.


“Cih, Pede sekali. Kalau diterima lamarannya kalau enggak?” tanya Felisa.


“Feli, Alan, apa yang sedang kalian bicarakan? Tidak baik bisik-bisik saat sedang ada orang lain di sini,” ujar Mama Elana.


“Iya, Mah, maaf,” sahut Felisa dan Alan hampir bersamaan.


Rena sendiri tidak terlalu memperhatikan kelakuan dua kakak beradik itu. Ia tampak sibuk dengan dirinya sendiri. Perasaan gelisah sudah mulai dirasakannya. Diliriknya jam yang berada di tangan kirinya. Sudah pukul 01.00 siang. Artinya, sudah sekitar 3 jam Rena berada di rumah Alan.


“Emm, Mah. Sepertinya Rena pulang dulu, yah? Hari sudah siang. Anak-anak dan adik Rena pasti sudah menunggu di rumah,” ucap Rena.


“Kamu sudah punya anak Rena?” tanya Mama Elana yang baru tahu kalau Rena sudah memiliki anak.


“Iya, Mah, Rena sudah punya dua anak. Laki-laki dan perempuan, namanya Haikal dan Hana,” jawab Rena.


“Wah, senang sekali. Kalau begitu kapan-kapan ajak mereka kemari,” sahut Mama Lana.


“Baik, Mah. Insyaallah kalau Rena main ke sini lagi, Rena ajak anak-anak Rena kemari,” sahut Rena.


“Feli, tolong antar Kak Rena, yah,” pinta Mama Lana.


“Iya, Mah,” sahut Felisa.


Felisa segera mengambil mobilnya untuk mengantar Rena pulang. Setelah itu, Rena pun berpamitan pada Mama Elana dan juga Alan.


“Mah, Rena pamit. Kak, aku pulang,” ucap Rena.


“Baiklah, hati-hati,” jawab Mama Elana dan Alan hampir bersamaan.


Rena pun masuk ke dalam mobil Felisa. Lalu, mobil itu pun melaju meninggalkan rumah Alan menuju rumah Rena.


Sekarang aku biarkan kamu pulang ke sana. Tapi, kelak rumah inilah yang akan jadi tempatmu untuk pulang. (ucap Alan dalam hati).


***


Bersambung


Baca dan berikan dukungan terus pada author ya.. dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2