Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 66 Pemilik Hati


__ADS_3

Sesampainya di kantin, Maya dan Rena memesan segelas kopi dan teh manis hangat untuk menemani obrolan mereka.


“Bu, sebelumnya maaf jika saya sudah mengganggu waktu Ibu,” ucap Maya.


“Santai saja, tidak perlu terlalu sungkan, Bu Maya,” sahut Rena.


“Bu Renata, sudah lama kenal Pak Dewa?” tanya Maya.


Oh, jadi Maya mengajakku kemari untuk bicara tentang Pak Dewa. Ada apa ya? (ucap Rena dalam hatinya)


“Iya, saya sudah mengenalnya cukup lama karena kebetulan kami pernah satu fakultas. Dia itu kakak kelas saya waktu kuliah dulu. Selain itu, kami juga pernah mengajar di tempat yang sama sewaktu saya belum mengajar di tempat ini,” jawab Rena.


“Oh, pantas kalian terlihat sangat akrab,” sahut Maya.


“Bu, ini kopi dan teh manis pesanannya,” ucap seorang pelayan kantin sembari menyimpan kopi dan teh manis hangat di atas meja yang ada di depan Maya dan Rena.


“Makasih, Mang,” sahut Maya.


“Sama-sama,” sahut pelayan kantin itu.


“Memang kami terlihat akrab, ya?” tanya Renata.


“Iya, karena setahu aku Pak Dewa itu orangnya cukup sombong. Dia tidak mudah akrab dengan sembarang orang,” sahut Maya.


“Awalnya saya pun berpikir demikian, tapi setelah mengenalnya lebih jauh, ternyata itu semua tidak benar. Pak Dewa justru orang yang ramah, tegas, dan bersahaja,” jelas Rena.


“Mungkin, Ibu memang benar. Saya memang belum mengenalnya terlalu jauh karena saya sendiri masih baru di sini,” ucap Maya.


“Oh ya, benarkah? Baru berapa lama Ibu di sini?” tanya Rena sambil menyesap teh manis hangat miliknya.


“Baru sekitar 1 tahun lebih, tapi Bu---,” ucap Maya terpotong.


“Tapi apa, Bu Maya?” tanya Rena.


“Apa Ibu juga sudah tau kalau Pak Dewa itu sudah menikah?” tanya Maya yang membuat Rena tersedak karena kaget.


“Uhuk..uhuk.. uhuk,” sahut Rena.


Ya Tuhan, aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Berpikir kalau Pak Dewa sudah menikah. Apa jangan-jangan Bu Maya ini istrinya? Dan dia tidak suka kalau aku terlalu akrab dengan suaminya? Apa itu hal penting yang tadi ia maksudkan ingin dibicarakannya denganku? (Pikir Rena)


“Bu Rena, tidak apa-apa?” tanya Maya yang cukup panik melihat Rena terbatuk-batuk karena tersedak.


“Tidak apa-apa, Bu. Maaf, saya tidak tahu,” jawab Renata.


“Maksud Ibu? Bu Rena tidak tahu kalau Pak Dewa itu sudah menikah?” tanya Maya.

__ADS_1


“Iya, itu maksud saya. Apa Bu Maya ini istrinya?” tanya Rena ragu.


Maya menanggapi perkataan Rena dengan senyuman.


“Bukan, Bu. Saya sama seperti Ibu. Wanita yang sudah tidak bersuami lagi,” jawab Maya.


“Maksudnya Bu Maya juga jan--,” ucap Rena menggantung.


“Iya, Bu. Status saya sama seperti Ibu. Bedanya saya tidak memiliki anak dari pernikahan saya yang terdahulu,” sahut Maya sedih.


“Oh, maaf,” sahut Rena.


“Itu sebabnya saya ingin menyampaikan hal penting ini sama Ibu,” sahut Maya sambil menyesap kopinya.


“Hal penting apa yang Ibu maksud?” tanya Rena.


“Ibu jangan terlalu akrab dengan Pak Dewa karena istrinya Pak Dewa itu orangnya sangat pencemburu. Selain itu, dia juga bisa berbuat kasar kepada Ibu,” ucap Maya.


“Apa benar sampai seperti itu, Bu?" tanya Rena sedikit tidak percaya dengan ucapan Maya.


“Benar, Bu. Saya berbicara seperti itu karena saya sendiri pernah mengalaminya. Saya pernah ditampar olehnya karena sebuah kesalahpahaman,” ucap Maya sedih saat mengingat kejadian itu.


"Astaga... Sabar ya, Bu," ucap Rena tulus. Meskipun dalam hatinya, ia masih belum sepenuhnya bisa percaya dengan apa yang didengarnya dari Maya.


“Selain itu, istrinya Pak Dewa juga mengajar di tempat yang sama dengan Ibu,” ucap Maya.


“Iya, dia guru Biologi di sana, sama seperti kakaknya Pak Arka,” jawab Maya.


Jadi, istrinya Pak Dewa itu adiknya Kak Arka. Itu artinya, Pak Dewa itu adik iparnya Kak Arka (ucap Rena dalam hati).


"Oh," sahut Rena.


“Baik, Bu. Saya rasa sudah cukup apa yang ingin saya sampaikan kepada Ibu. Sepuluh menit lagi mau bel, sebaiknya kita kembali ke sana,” sahut Maya sambil melirik jam yang ada di tangan kirinya.


“Baiklah, kalau begitu terima kasih atas informasi yang telah Ibu berikan kepada saya. Lalu, kalau boleh tahu nama istrinya Pak Dewa itu siapa ya?” tanya Rena.


“Bu Yuna, lengkapnya Ayuna Prayudha,” jawab Maya.


Setelah menghabiskan sisa kopi dan teh manis yang mereka pesan, Maya pun kembali ke tempat kerjanya, sedangkan Rena menemui Novi terlebih dahulu untuk menitipkan kedua buah hatinya, Hana dan Haikal. Setelah itu, barulah Rena melangkahkan kakinya menuju gedung SMP Cinta Kasih.


***


Saat ini Alan hendak mematikan laptop yang belum lama dinyalakannya untuk membuat dan mengirimkan laporan data-data mahasiswa yang akan mengikuti perlombaan karya ilmiah kepada Abi. Namun, kemudian ia membatalkan niatnya itu saat pandangan matanya tertuju pada sebuah flashdisk yang dari kemarin diletakkannya di atas meja kerjanya. Flashdisk yang selama belasan tahun lamanya tidak pernah dibukanya itu dan selama ini hanya disimpannya di dalam laci meja kerjanya.


Dipandanginya sebentar flashdisk tersebut, sebelum Alan memasukan flashdisk itu ke dalam laptop miliknya. Beberapa deret file picture mengisi flashdisk tersebut. Ia pun kemudian membuka file picture tersebut. Senyumnya mengembang saat isi file tersebut satu per satu berhasil dibukanya.

__ADS_1


Foto-foto Rena tampak di layar laptop miliknya dengan berbagai pose. Foto-foto yang diambilnya secara diam-diam saat pelaksanaan orientasi mahasiswa dan kegiatan-kegiatan lainnya. Ada foto saat Rena berperan sebagai Miss Argentina, lalu saat Rena dan teman-temannya menonton pertunjukan ekskul, pertandingan sepak bola tim Iyus melawan tim Dewa, pelaksanaan outbond di Gunung XX, serta foto-foto Rena lainnya dalam berbagai event yang dilaksanakan oleh pihak prodi maupun fakultas. Alan memang tak pernah melewatkan kesempatan itu untuk mencuri gambar gadis pujaannya itu.


Entah seberapa dalam perasaan Alan terhadap Rena karena hingga saat ini pun rasa itu belum sepenuhnya hilang, malah semakin bertambah ketika takdir mempertemukannya kembali dengan Rena. Setelah belasan tahun lamanya ia tidak pernah bertemu dengan gadis yang menjadi pemilik hatinya, setelah pernikahan yang terjadi antara dirinya dan Dewi. Namun, tetap saja hal itu tetap tak mampu mengubah kepemilikan hatinya untuk wanita yang bernama Renata.


Bila ada yang lebih dalam dari dalamnya samudera.


Maka hati yang tertuju padamulah jawabannya.


Dan bila ada yang lebih tinggi dari jarak bumi dan langit angkasa.


Maka cintaku padamulah jawabannya.


Suara dering ponsel Alan menyadarkan dia dari lamunannya. Sebuah nama yang tak asing baginya tertera di layar ponsel tersebut.


“Halo, Assalamualaikum, Pak Bos,” sahut si penelepon yang tak lain adalah Faizal.


“Waalaikumsalam, Pak Kepsek, ada apa pagi-pagi begini sudah menelepon?” tanya Alan.


“Harusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu, Lan. Ada apa denganmu pagi ini? Bukannya kemarin kamu bilang akan ke sekolah pagi ini?” tanya Faizal.


“Oh ya, aku lupa memberi tahumu. Tadi, saat aku mau berangkat Abi meneleponku. Dia memintaku untuk segera mengirimkan laporan data-data mahasiswa jurusanku yang akan bertanding di perlombaan karya ilmiah besok. Jadi aku tidak bisa datang pagi ini, mungkin nanti agak siang aku ke sekolah,” jawab Alan.


“Tapi benar kan, kalau kau akan datang ke sekolah hari ini?” tanya Faizal.


“Tentu saja, aku tak akan melewatkan kesempatan itu. Bukannya kau sendiri yang bilang kepadaku bahwa aku tidak boleh melewatkan kembali kesempatan yang telah diberikan Tuhan kepadaku,” sahut Alan.


“Oke, aku suka gayamu. Kalau begitu aku tunggu kehadiranmu hari ini di sekolah, Pak Boss. Jangan sampai kau tidak datang!” tegas Faizal.


“Hei, sejak kapan ada seorang bos yang mendapat perintah dari anak buahnya?” ledek Alan.


“Hehehe, becanda Pak Boss. Lagi pula hari ini aku sudah cukup kecewa denganmu. Karena sebelumnya kau bilang akan datang pagi. Itulah sebabnya aku ingin meminta kau saja yang memberikan sambutan upacara agar para siswa dan guru-guru lebih mengenalmu baik sebagai ketua maupun pemilik yayasan ini,” sahut Faizal.


“Tidak usah Faiz, aku lebih suka seperti ini berdiri di belakang layar saja,” sahut Alan.


“Baiklah, kalau begitu. Aku tutup telepon ini dulu, Assaamualaikum,” sahut Faizal.


"Waalaikumsalam,” sahut Alan.


Bersamaan dengan ditutupnya telepon oleh Faizal, Alan pun ikut menutup sambungan telepon dari sahabatnya itu. Dalam hatinya, ia bertekad untuk berjuang mendapatkan hati Rena. Meski mungkin kali ini akan lebih sulit untuk mendapatkannya karena pemilik hatinya itu justru memilih menutup pintu hatinya untuk selama-lamanya.


***


Bersambung


Jangan lupa likenya...

__ADS_1


💐💐💐


Setelah menantikan keromantisan kisah ini.. Baca juga kisah author yang tidak kalah seru, romantis, dan lucu dalam "Mengaku Tunangan CEO"


__ADS_2