
Alan tampak mengembangkan senyumnya saat melihat sebuah video yang diputar di layar ponselnya. Video itu adalah video kebersamaan dirinya dengan Hana dan Haikal, buah hati dari Rena, wanita yang pernah memiliki tempat teristimewa di hatinya. Ia begitu menikmati tayangan demi tayangan yang ada dalam video itu hingga tak sadar dengan keberadaan sang Mama yang diam-diam memperhatikan tingkah putra sulungnya itu.
“Ehem, pantas dari tadi rumah ini terlihat begitu sepi, ternyata para penghuninya sedang asyik dengan kesibukannya masing-masing ya..Padahal Mama sudah jauh-jauh datang ke sini,” sahut Mama Alan yang membuat Alan mengalihkan perhatiannya kepada Mamanya.
“Maaf, Mah, Alan nggak bermaksud nyuekin Mama tadi. Alan memang sedang banyak kerjaan akhir-akhir ini,” sahut Alan.
“O, gitu. Terus yang tadi Mama liat apa ya? Apa nonton video itu juga salah satu kerjaan kamu?” sahut Mama Alan memicingkan matanya ke arah ponsel Alan.
“Oh, ini.. iya, tadi Alan lagi jenuh aja sama kerjaan Alan. Jadi, untuk menghilangkannya Alan menonton video ini,” sahut Alan menatap ponselnya.
“ Boleh Mama lihat?” sahut sang Mama meminta ponsel Alan.
Alan pun memberikan ponselnya pada sang Mama dan menunjukkan video yang baru saja dilihatnya. Mama pun memperhatikan tayangan video yang ada dalam ponsel itu. Video yang direkam Alan saat sedang asyik bermain dengan anak-anak Rena di sebuah mall beberapa hari yang lalu.
“Kamu terlihat bahagia sekali dengan mereka, Lan,” sahut sang Mama sambil terus memperhatikan rekaman video itu.
“Bahkan kalian tampak seperti keluarga,” lanjut Mama Alan.
“Ah, Mama bisa aja,” sahut Alan.
“Mereka itu anak-anak yang fotonya ada dalam dompetmu, kan?” tanya Mama Alan saat melihat wajah kedua anak itu dengan lebih jelas.
“Iya, Mah,” jawab Alan.
“Senangnya kalau mereka itu benar-benar anak kamu,” sahut Mama Alan.
“Lan, apa jangan-jangan kamu itu suka sama Mamahnya, ya?” tanya Mama Alan yang sontak membuat Alan yang sedang menikmati kopi hangatnya itu jadi tersendak.
“Mamah jangan bicara sembarangan, dia itu istri orang. Lagi pula, sebelumnya Alan sama sekali nggak tau kalau mereka itu adalah anak-anaknya Rena”jawab Alan.
“Rena.. o, jadi mereka itu anak-anaknya Rena. Rena itu teman sekolah kamu sama Nena, ya, Lan?” tanya Mama Alan.
“Bukan teman sekolah, Ma, tapi dulu dia itu adik kelas Alan waktu kuliah,” jawab Alan.
“Adik kelasmu? Apa dulu kamu pernah suka sama dia?” tanya Mama Alan menatap putranya lekat.
Alan pun tersenyum mendengar pertanyaan sang Mama. Ia tahu bahwa ia tidak bisa menyembunyikan apa pun dari Mamanya.
“Iya, jujur Alan akui kalau Alan memang pernah suka sama dia. Apa itu cukup menghilangkan rasa penasaran Mama?” tanya Alan.
“Apa dia juga yang dulu menyebabkan kamu sempat menolak tawaran untuk menikah dengan Dewi?” tanya Mama Alan.
“Iya, Mama benar,” sahut Alan dengan nada lirih.
Mendengar jawaban putranya, ada sedikit rasa bersalah dan penyesalan yang mengganjal hati Elana.
Andai saja waktu itu aku dan Kevin tak memaksanya untuk menikah dengan Dewi. Mungkin, Alan kini sudah bersama dengan wanita itu. Hidupnya kini mungkin sudah bahagia dengan wanita yang dicintainya bersama anak-anak mereka tentunya. (pikir Elana)
“Oh, Mama di sini rupanya,” sahutan seorang perempuan muda mengembalikan Elana dari lamunannya.
Perempuan itu adalah Felisa, adik Alan, sekaligus putri bungsu dari Elana dan Kevin.
“Kamu dari mana saja Feli? Mama kemari kamu malah pergi,” sahut Elana.
“Iya, maaf, Feli kan nggak tau kalau Mama mau kemari. Lagian Mama nggak bilang sih sama Feli kalau Mama mau ke sini,” sahut Feli.
“Iya, karena tadi rencananya Mama ingin memberikan kejutan buat kalian. Tapi yang ada, Mama malah kecewa karena putri bungsu Mama tidak ada di rumah,” sahut Mama yang berdiri menghampiri Felisa dan memegang hidung mancung putrinya itu.
__ADS_1
“Ah, Mama nih kebiasaan,” keluh Felisa memegangi hidungnya yang tadi dipegang Mamahnya gemas.
“Oh, ya, Mah, Feli beli baju buat Mama. Mama coba nih,” sahut Felisa sambil menyodorkan sebuah paper bag kepada Mamahnya.
“Loh, tadi kamu bilang kamu nggak tau kalau Mama mau kemari. Kok bisa kamu belikan ini untuk Mama?” tanya Mama Alan heran.
“Iya, tadi kan sebelum pulang, Mba Siti telepon dan bilang kalau Mama datang kemari,” jawab Felisa.
“O, begitu. Ya, sudah Mama mau mencoba bajunya dulu, temani Mama,” sahut Mama yang berlalu pergi meninggalkan ruang kerja Alan ditemani putrinya Felisa.
Alan hanya tersenyum menyaksikan interaksi Mama dan adik bungsunya itu hingga suara dering ponsel mengalihkan perhatiannya.
“Halo, Faiz, ada apa nih? Tumben kamu telepon di jam-jam segini? Apa ada masalah?” tanya Alan saat menyadari bahwa yang menelepon itu adalah Faizal.
“Iya, aku memiliki sedikit masalah nih,” sahut Faizal.
“Masalah apa?” tanya Alan.
“Kamu kan tahu sejak istriku melahirkan anak kedua kami, dia memutuskan untuk berhenti mengajar,” sahut Faizal.
“Lalu?” tanya Alan.
“Iya itu artinya aku memerlukan guru baru untuk menggantikannya mengajar, Lan,” sahut Faizal.
“Ya, sudah, cari saja, gitu aja kok repot,” sahut Alan.
“Aku sudah mencarinya, Lan,” sahut Faizal.
“Terus?” tanya Alan yang tampak kurang tertarik dengan arah pembicaraan Faizal.
“Sekarang aku sudah mendapatkan calon penggantinya, Lan,” sahut Faizal.
“Aku membutuhkan pertimbanganmu,” sahut Faizal.
“Hei, tumben kamu membutuhkan pertimbanganku. Sejak kapan? Bukannya kamu selalu memutuskannya sendiri?” tanya Alan heran.
“Sejak hari ini, karena biar bagaimana pun kamu kan yang punya sekolahan, jadi aku ingin tau pertimbanganmu tentang calon guru baru kita ,” sahut Faizal.
“Oke, baiklah. Katakan padaku bagaimana penilaianmu terhadap guru baru itu?” sahut Alan.
“Dia cerdas, sopan, punya pengalaman, dan.. juga cantik,” sahut Faizal.
“Hei, hati-hati bicaramu kalau Mauri dengar kamu memuji wanita lain bisa habis kamu,” sahut Alan.
“Iya, tapi memang begitulah kenyataannya,” sahut Faizal.
“Kalau begitu terima saja, memang apa susahnya?” tanya Alan.
“Memang kamu tidak mau tahu siapa dia?” tanya Faizal.
“Memang siapa dia? Apa dia penting buatku?” tanya Alan.
“Mungkin, karena dia adalah seseorang yang kamu kenal dan sepertinya di masa lalu dia juga cukup spesial buat kamu,” sahut Faizal.
“Oh, ya? Kalau begitu cepat katakan siapa dia? Jangan membuatku penasaran!” sahut Alan.
“Renata,” sahut Faizal.
__ADS_1
Degh
Mendengar nama ‘Renata’ disebutkan nafas Alan seolah tercekat di tenggorokan.
“Apa siapa? Bisa kamu ulang!” tanya Alan kembali memastikan bahwa apa yang didengarnya itu tidaklah keliru.
“Renata, apa kamu dengar Alan? Atau aku harus mengulanginya lagi untukmu?” goda Faizal.
“Maksudmu Renata yang mana? Apa Renata adik kelas kita?” tanya Alan.
“Iya, tentu saja Alan, memang berapa banyak Renata yang kita kenal? Apalagi yang membuat sahabatku diam-diam mengambil fotonya,” goda Faizal.
“Apa maksudmu, Faiz?” tanya Alan.
“Hei, apa kamu lupa? Aku kan pernah memergokimu menyimpan foto-fotonya di laptopmu?” tanya Faizal.
“Iya, aku baru ingat,” sahut Alan.
Alan baru mengingat kembali kejadian hari itu, saat dirinya tertangkap basah oleh Faizal yang saat itu meminjam laptopnya untuk menyelesaikan tugas skripsi miliknya. Saat itu Faizal, yang sedang ingin mencari gambar-gambar referensi yang mendukung tugasnya, tanpa sengaja memasuki galeri foto yang tersimpan di laptop Alan. Di sanalah, ia menemukan banyak sekali foto-foto Renata yang tersimpan di galeri itu.
“Lan, apa saat ini kamu masih menyimpan foto-fotonya?” sahut Faizal.
“Apa maksudmu? Yang benar saja, masa aku masih menyimpan foto-foto istri orang lain,” sahut Alan yang tidak terima.
“Hei, dari mana kamu tahu kalau dia sudah menikah?” tanya Faizal.
“Iya, karena beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan dia bersama anak-anaknya di Mall Nuansa ,” jawab Alan.
“Apa kamu juga bertemu dengan suaminya?” tanya Faizal.
“Tidak,” jawab Alan.
“Apa kamu tahu Alan, kalau Rena itu sekarang sudah berpisah dari suaminya?” sahut Faizal.
“Apa?” sahut Alan kaget.
“Dia sudah berpisah dari suaminya, Lan. Sekarang dia janda, loh,” sahut terkekeh menggoda Alan.
“Apa coba maksud kamu?” tanya Alan.
“Alah, jangan pura-pura, aku tahu dari dulu kamu suka sama dia, hanya saja kalian belum berjodoh waktu itu,” sahut Faizal.
“Terus?”tanya Alan.
“Sekarang kejar dia, jangan sampai dia diambil orang lagi. Ingat, di sini ada Iyus,” sahut Faizal memperingatkan.
“Iya, kamu cegah dia, jangan sampai dia lebih dulu mendapatkannya,” sahut Alan.
“Nah, kan, akhirnya mengaku juga. Ya, sudah, aku tutup teleponnya dulu,” sahut Faizal.
“Oke, terima kasih atas infonya,” sahut Alan.
“Sama-sama, sering-sering mampir ke sekolah, ya!” sahut Faizal sebelum menutup teleponnya.
Setelah pembicaraannya dengan Faizal berakhir, Alan pun membuka laci meja kerjanya. Lalu, ia mengambil flashsdisk yang telah lama disimpannya di dalam laci itu. Dipandanginya flashdisk itu, sebelum ia memasukannya ke dalam laptopnya.
***
__ADS_1
Bersambung
Terima kasih telah setia membaca dan memberikan like pada karya ini