
Felisa yang mendapat tatapan seperti itu dari sang Mama hanya bisa cengar-cengir. Hal itu menandakan bahwa dugaan sang Mama itu tidaklah salah. Felisa dan Kakaknya memang sedang merencanakan sesuatu yang belum diketahui oleh sang Mama.
“Hehehe.. Mama nih pinter banget ngasih pertanyaannya. Nanti Mama juga akan tahu sendiri lah alasannya,” ucap Felisa seraya meninggalkan sang Mama yang masih dipenuhi dengan sejuta tanda tanya.
Namun Felisa, tampak tak menghiraukan itu. Ia terus berjalan hingga sampai di depan pintu rumahnya. Lalu ia memasukan kunci itu ke lubang pintunya. Sekali ceklek pintu itu sudah tidak terkunci lagi hingga Felisa pun bisa mendorong dan membuka pintu itu dan betapa terkejutnya ia dan sang Mama saat melihat sudah ada Alan dan Rena yang sedang berdiri di depan pintu itu.
Astaga, ada apa ini? Kenapa Alan ada di dalam rumah ini berdua dengan seorang wanita? Siapa wanita ini? (ucap Mama Elana dalam hatinya)
“Kak Alan, Bu Rena ada apa?” tanya Felisa bingung.
Mendengar adanya sahutan seseorang dari belakang, Rena membalikkan badannya. Sama seperti Felisa, Rena pun nampak terkejut melihat kehadiran Felisa dan Mama Elana di belakangnya.
Oh, namanya Rena. Cantik juga wanita ini. Ada hubugan apa dia dengan Alan? Sepertinya ada sedikit masalah di antara mereka ?(batin Mama Elana)
“Feli, syukurlah, kamu sudah pulang. Bu Rena mau pamit pulang dulu ya,” sahut Rena.
“Kok buru-buru sekali, saya baru aja datang,” ucap Mama Elana ramah sambil terus memperhatikan wajah putranya dan Rena.
“Maaf, Mama Feli, soalnya saya sudah dari tadi di sini,” sahut Rena.
“Sebentar saja, saya mohon. Saya ingin sekali bisa mengobrol dengan Ibu,” pinta Mama Elana.
Ayolah, Bu Rena, saya tidak akan membiarkanmu sebelum saya tahu kenapa kamu bisa sampai di sini? (pikir Mama Elana)
“Emmm, baiklah,” jawab Rena yang tak kuasa menolak permintaan Mama Elana.
“Sebentar ya, Bu Rena. Saya mau menyimpan ini dulu,” ucap Mama Elana sembari menunjukkan beberapa kantong plastik yang dibawanya.
“Iya, Bu.” Ucap Rena sembari mendudukkan dirinya di kursi tamu.
“Feli, Alan, ikut Mama sebentar!” ajak Mama Elana.
***
Alan dan Felisa pun mengikuti Mamanya hingga sampai ke dapur. Setelah sampai di dapur, sang Mama menatap kedua wajah anaknya itu secara bergantian.
“Ada apa ini Feli? Kenapa Bu Rena bisa berdua dengan kakakmu di dalam rumah dan kenapa kau mengunci mereka dari luar?” tanya sang Mama pada Felisa.
“Emm.. itu karena Feli ingin bantuin Kak Alan supaya bisa baikan sama Bu Rena,” jawab Felisa sedikit tertunduk.
“Tunggu, baikan sama Bu Rena? Emang apa hubungan kakakmu dengan Bu Rena?” tanya Mama Elana memandang wajah kedua anaknya itu.
“Belum ada hubungan apa-apa sih Mah, tapi kalau Mama enggak keberatan. Alan ingin menjadikan Rena sebagai istri Alan,” jawab Alan.
“Apa?! Serius kamu, Lan?” tanya Mama Elana membelalakkan matanya karena kaget.
“Iya, Mah,” jawab Alan.
“Astaga... Syukurlah, Sayang... Mama senang sekali mendengar itu. Tentu saja Mama tidak keberatan karena memang itu yang selama ini Mama inginkan,” ucap Mama Elana dengan nada riang dan menangkup kedua telapak tangannya di wajah putranya.
__ADS_1
“Cie... asyik nih yang udah dapat restu,” goda Felisa yang membuat pipi Alan merona.
“Tapi kenapa kamu memanggilnya Bu Rena, Sayang?” tanya Mama Elana pada Felisa.
"Ya.. itu karena Bu Rena dulu guru SMP Feli, Mah,” jawab Felisa.
“Oh, pantas saja Mama seperti sudah pernah bertemu dengannya,” sahut Mama Elana.
“Ya sudah, Mah. Sekarang kita ke depan dulu! Kasihan kalau Rena ditinggal sendirian terlalu lama,” ucap Alan.
“Kamu benar Sayang, jangan sampai calon menantu Mama menunggu lebih lama lagi. Bisa-bisa dia minta pulang sebelum Mama bertanya lebih banyak ke dia,” ucap Mama Elana penuh semangat.
“Aduh, Kakak.... Bu Rena sudah sampai dipanggil calon menantu segala sama Mama,” goda Felisa setengah berteriak.
“Huss, diam!!” ucap Alan dan Mama Elana hampir bersamaan.
***
Mama Elana, Alan, dan Felisa menghampiri Rena yang sedari tadi menunggu mereka di ruang tamu.
“Maaf, Sayang, kalau tadi menunggu terlalu lama,” ucap Mama Elana yang membuat Rena terkesiap mendengar panggilan “sayang” yang ditujukan Mama Elana kepadanya.
“Enggak apa-apa kok, Mama Feli,” ucap Rena yang mendadak menjadi kikuk.
“Jangan panggil ‘Mama Feli’, karena Mama kan juga ibunya Alan. Jadi, cukup panggil ‘Mama’ saja,” ujar Mama Elana yang membuat Rena semakin bingung dibuatnya.
“Jangan bingung Bu Rena! Mama memang biasa dipanggil seperti itu kok, sama orang-orang yang dekat dengan aku dan Kak Alan,” ucap Felisa yang paham kalau Rena masih bingung dengan permintaan Mamahnya yang tidak biasa itu.
“Benar sekali, Rena,” sahut Mama Elana menimpali perkataan Felisa.
“Jadi, Felisa sudah tahu kalau Ibu ini temannya kakak kamu juga?” tanya Rena dengan nada yang tak biasa.
“I-iya,” jawab Felisa dengan nada tanpa dosa.
Padahal Felisa tahu maksud Rena mengatakan itu, tentunya Rena sudah bisa menerka kalau Felisa turut andil dalam rencana pertemuannya dengan Alan saat ini.
Dasar, adik dan kakak sama saja! Sama-sama pintar bersandiwara (ucap Rena dalam hati).
“Berati dari awal Felisa sudah ikut dalam rencana ini ya?” tanya Rena menatap Felisa yang sudah tidak bisa mengelak dari pertanyaan yang diajukan Rena itu.
“Maksud Rena apa?” tanya Mama Elana pura-pura bingung.
“Enggak ada apa-apa kok, Mah. Ini cuma urusan aku sama kedua anak Mama ini,” sahut Rena.
“Kalau begitu Mama di sini minta maaf atas kesalahan kedua anak Mama, ya?” pinta Mama Elana.
“Tidak perlu, Mah. Aku sudah maafin mereka kok, asal jangan diulangi lagi,” sahut Rena sambil memandangi wajah Felisa dan Alan yang tampak senang dengan jawaban Rena.
Setelah itu perbincangan hangat pun terjalin di antara mereka berempat. Mulai dari perbincangan mengenai pekerjaan Rena hingga hubungan antara Rena, Alan, dan Felisa. Tidak lupa, di tengah-tengah perbincangan tersebut, Felisa menyajikan bubur kacang hijau yang tadi sempat dibuat oleh Rena untuk keempatnya.
__ADS_1
“Wah, ini bubur kacang hijau buatan kamu, Rena?” tanya Mama Elana.
“Bukan Mah, ini buatan Felisa,” jawab Rena.
“Tapi dibantu sama Bu Rena,” sahut Felisa menimpali.
“Oh ya, jarang-jarang nih Mama bisa menikmati bubur buatan Feli,” ucap Mama Elana.
Mama Elana mulai mencicipi bubur itu.
“Emm.. Enak sekali,” puji Mama Elana.
“Tentu dong, siapa dulu gurunya?” sahut Felisa melirik ke arah Rena yang tertunduk malu mendengar pujian untuk dirinya.
“Rena tahu tidak? Bubur kacang hijau ini makanan kesukaan Mama dan Alan loh,” jelas Mama Elana.
“Oh ya? Rena baru tahu, Mah,” sahut Rena.
“Alan kamu tidak mencicipi bubur ini?” tanya Mama Elana.
“Sudah, Mah. Baru saja tadi Rena menyuapi aku,” jawab Alan yang membuat Rena dan Felisa hampir tersedak, “Ehem, ehem.”
“Kamu enggak apa-apa, Rena?” tanya Alan panik.
“Iya, enggak apa-apa,” jawab Rena.
“Makasih ya, Ren. Maaf, belum apa-apa Alan sudah banyak merepotkan kamu,” sahut Mama Elana.
“Gak apa-pa kok, Mah. Kasihan kan tangannya Kak Alan lagi seperti itu,” jawab Rena.
Mama Elana, Felisa, dan Rena kembali menikmati bubur kacang hijau yang dibuat oleh Felisa dan Rena. Sedangkan, Alan hanya memperhatikan ketiga wanita yang disayanginya itu sambil sesekali meneguk teh manis hangat yang dibuatkan Felisa untuknya. Tak lama, terdengar suara ponsel milik Felisa berdering. Felisa pun melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Kak Naya? Ada apa dia menelepon? (ucap Felisa dalam hati)
***
Bersambung
Ada apa ya? Kenapa Naya menelepon Felisa? Kira-kira apakah Naya akan bertemu dengan Rena? 🤔🤔🤔
Kita tunggu saja di part selanjutnya...😉😁😁
Jangan lupa baca dan berikan dukungan terus pada dengan melalui like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘
Terima kasih 🙏🙏🙏
__ADS_1