Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 22 Dia Telah Pergi 2


__ADS_3

Setelah mendengar kabar duka dari sosok yang pernah disayanginya itu, Alan bersama sang Mama, menemani keluarga Nena untuk mengantarkan jenazah Nena ke tempat peristirahatan terakhirnya.


Sore itu, cuaca nampak tak bersahabat. Awan hitam mulai menutupi langit yang biru. Seolah bumi siap


menyambut datangnya hujan. Itulah sebabnya pemakaman Nena lebih dipercepat dari yang seharusnya.


Tante Rosi tak henti-hentinya menangisi kepergian Nena. Meski, sang suami berkali-kali menasihatinya agar tak larut dalam kesedihan.


"Sudah Bunda, sudah, biarkan Nena tenang di sana," ucap Ayah Nena, Om Rahmat.


"Tapi Ayah, Bunda masih sangat sulit untuk bisa menerima ini semua. Kenapa Nena harus pergi meninggalkan Bunda seperti ini?" sahut Tante Rosi yang tak henti menangis.


"Bunda! Bunda, harus ikhlas menerima kepergian Nena. Biarkan dia tenang di alam sana," ucap Ayah Nena menenangkan istrinya.


"Tapi Nena anak kita satu-satunya, Yah," sahut Tante Rosi.


"Benar Tante, Nena pasti akan sedih melihat Bundanya seperti ini. Tante kan tau, Nena paling tidak tahan kalau melihat Bundanya menangis. Lagipula ini sudah kehendak Tuhan, Tante.


Tante menangis seperti apa pun tak akan mungkin mengembalikan Nena. Dia sudah pergi, Tante, dan tak akan bisa kembali lagi, " sahut Alan.


Perkataan Alan membuat Tante Rosi terdiam, saat ini antara nalar dan hatinya tidak bisa bersinergi dengan baik. Di satu sisi, nalarnya membenarkan apa yang dikatakan Alan dan suaminya. Namun,


di sisi lain hatinya menjerit, ia masih tidak bisa menerima semua ini. Kepergian putri semata wayangnya begitu mendadak, tanpa kata, tanpa pelukan.


Flashback off


Abi, Alan, dan Faizal pun kini telah sampai di pemakaman. Mereka duduk di sekitar pusara dengan batu nisan yang bertuliskan 'Serena Wijaya binti Rahmat Wijaya'.


Diletakkannya setangkai bunga mawar putih di atas pusara itu oleh Abi. Ia memandangi batu nisan itu lekat-lekat, matanya mulai berkaca-kaca. Kenangan demi kenangan akan kebersamaan dengan


sosok yang kini terbalut kain kafan di bawah pusara itu melintas dalam ingatannya. Setetes air mata jatuh di kedua sudut matanya.


Alan yang berada di dekat Abi menyaksikan pemandangan memilukan itu. Ia pun menepuk pundak teman seperjuangannya, seolah ingin mengisyaratkan agar temannya itu bangkit dan


menyudahi kesedihannya. Seolah mengerti dengan isyarat Alan, Abi pun menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi putihnya.


"Nena, maaf, aku baru bisamenemui mu hari ini. Dan sampai hari ini pun aku masih belum bisa menemukan kata-kata romantis untuk mengungkapkan segala rasa sayangku kepadamu. Aku memang tak pandai berkata-kata. Namun, kau tahu aku benar-benar sangat menyayangimu. Aku benar-benar terpukul ketika kutahu kau sudah tidak lagi di sisiku," ucap Abi dengan penuh kegetiran.

__ADS_1


Abi menarik nafasnya panjang, berusaha menetralkan perasaannya, agar air mata tak lagi menetes di pipinya.


"Nena, mungkin ini sudah takdir kita. Tuhan lebih menyayangimu dibanding diriku. Aku berharap engkau mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya," ucap Abi.


Setelah kalimat terakhir itu terucap dari mulut Abi, ia pun mengangkat kedua telapak tangannya, berdoa untuk kekasih yang kini telah berada di sisi-Nya. Alan dan Faizal pun mengikuti gerakan Abi.


Mereka melakukan doa bersama untuk Nena.


Setelah lantunan doa selesai dibacakan, ketiganya bangkit dari tempat tersebut. Mereka hendak melanjutkan perjalanan mereka ke rumah kedua orang tua Nena. Namun, di tengah perjalanan,


langkah ketiganya terhenti, saat mereka melihat dua sosok yang ingin mereka temui sedang berjalan ke arah mereka.


Dua sosok itu tak lain adalah Om Rahmat dan Tante Rosi. Mereka adalah orang tua Nena.


"Om, Tante," sapa Alan saat mereka berpapasan. Kedua sosok itu pun turut berhenti di hadapan Alan,


Abi, dan Faizal.


"Alan, apa kamu dan teman-temanmu baru dari makam Nena?" sapa Om Rahmat ramah


"Benar, Om, saya dan Faizal dari makam Nena mengantar Abi," ucap Alan.


"Kamu sudah sehat rupanya," ucap Tante Rosi dingin setelah memperhatikan Abi dari ujung


rambut hingga ujung kaki. Lalu mengedarkan pandangannya ke segala arah seolah tak ingin melihat muka Abi.


Melihat sikap Tante Rosi yang begitu dingin kepadanya, hati Abi terasa sangat sakit. Betapa tidak, Tante Rosi adalah ibu yang sangat dicintai kekasihnya. Begitu pula sebaliknya, ia tahu


Tante Rosi adalah ibu yang sangat mencintai putrinya. Namun, meski hatinya terasa sakit ia tetap berusaha untuk menahan perasaan itu.


"Alhamdulillah sudah, Tante," jawab Abi.


"Baguslah," sahut Om Rahmat sambil menepuk bahu Abi pelan.


Kemudian mereka berdua meninggalkan Abi, Alan, dan Faizal. Namun, langkah keduanya terhenti saat Abi tiba-tiba memanggil Tante Rosi.


"Tante," panggil Abi.

__ADS_1


Namun, Tante Rosi tetap diam tak menyahuti perkataan Abi. Ia bahkan tak membalikkan badannya. Ia masih merasa marah, jengkel, dan kesal pada Abi.


"Tante, bolehkah aku memeluk Tante?" pinta Abi. Mendengar permintaan Abi, Tante Rosi pun membalikkan badannya menghadap ke arah Abi.


"Untuk apa?" tanya Tante Rosi ketus


"Kamu hanya orang asing! Kamu hanya laki-laki yang pernah dekat dengan anak saya, dan setelah anak saya tiada, itu artinya kita sudah tidak ada hubungan lagi" Ucap Tante Rosi penuh emosi dan penekanan di setiap katanya dan setelah selesai mengucapkan kata-katanya kepada Abi, ia pun mengalihkan pandangan ke tempat lain seolah tak


ingin melihat Abi lebih lama lagi.


"Tante, aku tahu Tante bicara seperti itu karena marah kepadaku. Tante kecewa kepadaku karena aku tak mampu melindungi Nena, putri kesayangan Tante," ucap Abi.


"Iya, itu benar! Saya sangat kecewa sama kamu! Kamu tak mampu menjaga Nena dengan baik. Padahal saya sudah bilang sama kamu, waktu kamu akan mengajaknya pergi, tolong jaga Nena dengan baik!!" teriak Tante Rosi penuh emosi sambil menatap Abi dengan tatapan penuh kemarahan.


"Bunda, cukup! Berapa kali Ayah bilang ini semua sudah takdir. Mengapa Bunda terus menerus menyalahkan Abi? Abi maafkan Tante Rosi, ya," sahut Om Rahmat.


Abi tak menjawab apa pun. Tiba-tiba saja ia memeluk erat Tante Rosi dari belakang. Saat itu Tante Rosi hendak berlalu pergi meninggalkannya dalam kemarahan.


"Tante, sekali lagi maafkan Abi, Abi mohon. Nena selalu bilang kalau Tante marah, Nena akan memeluk Tante dengan erat dan tidak akan melepaskan pelukannya dari Tante sampai Tante memaafkannya," ucap Abi.


Ucapan dan pelukan Abi seketika itu meluluhkan amarah yang ada dalam diri Tante Rosi. Ia teringat akan putri semata wayangnya. Putrinya itu memang selalu melakukan apa yang sekarang dilakukan Abi. Setiap kali, ia marah pada putrinya, Nena akan memeluk dirinya dengan erat sampai ia mau memaafkan semua kesalahan putrinya.


Air mata kini mengalir di wajah cantik wanita paruh baya itu. Om Rahmat membiarkan istrinya. Ia tak berkata apa pun karena ia tahu kemarahan istrinya sekarang sudah mulai mereda. Abi telah berhasil menyentuh sisi jiwa istrinya yang rapuh.


"Baiklah, aku memaafkan kamu Abi, Tante memaafkanmu," ucap Tante Rosi pelan, namun masih bisa didengar.


Mendengar perkataan Tante Rosi, semua yang ada di tempat itu merasa senang. Ada kelegaan yang selama ini mengganjal di hati mereka. Suasana haru melingkupi tempat itu. Tanpa sadar, mata Abi, Alan, dan Faizal pun ikut terlihat sembab.


Abi melepaskan pelukannya dari Tante Rosi. Setelah itu, Tante Rosi membalikkan badannya, melihat ke belakang.


"Hei! Kalian itu laki-laki! Cepat hapus air mata kalian itu!" tegur Tante Rosi pada empat orang laki- laki


dibelakangnyadibelakangnya, Abi, Alan, Faizal, dan suaminya.


Suasana saat itu pun mulai berubah. Suasana yang tadinya menegangkan, kini berganti menjadi suasana yang hangat dan penuh canda ria.


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote, dan komennya ya...


__ADS_2