
Renata pov
Hari ini adalah hari dimulainya perlombaan karya tulis ilmiah. Semua peserta diwajibkan hadir untuk mempresentasikan karya ilmiah yang dibuatnya di kampus XX. Itu berarti selain Aisyah dan Adinda, aku pun wajib untuk datang ke perlombaan tersebut. Namun, sungguh sial bagiku, bus yang aku tumpangi justru mogok di tengah jalan. Hal itu tentu saja membuat perjalananku terhambat. Padahal, aku sudah berangkat pagi-pagi sekali dan menyiapkan segalanya dengan sangat matang.
"Ya, Tuhan, kenapa ini selalu terjadi padaku? Kenapa aku harus selalu terlambat, di saat yang tidak tepat, sih" ucapku dalam hati.
Aku benar-benar panik hari ini. Belum lagi ponselku terus menerus berdering. Dari siapa lagi, kalau bukan dari sahabatku tersayang 'Miss Perfect' Aisyah.
"Halo, Aisyah Humaira," jawabku
"Rena, posisi kamu sekarang di mana?" tanya Aisyah dengan nada panik.
"Masih di tempat yang sama saat pertama kali kamu meneleponku," jawabku.
"Apa?? Tapi, ini sudah ketujuh kalinya aku menelepon kamu, loh," ucap Aisyah dengan nada marah.
"Iya, aku tahu, dan aku juga sudah sangat bosan menerima telepon dari kamu yang selalu marah- marah enggak jelas. Memang kamu pikir aku enggak panik apa?" ucapku.
"Iya, aku tahu tapi masalahnya sebentar lagi kita akan berangkat ke kampus XX untuk registrasi peserta dan sekarang kami sudah berada di halte depan kampus menunggu kamu. Memang apa sih yang dilakukan supir bus itu?" tanya Aisyah kesal.
"Memijat bus nya," jawabku
"Apa?" tanya Aisyah kaget.
"Ya, memperbaiki busnya lah! Lagian pertanyaan kamu ada-ada saja. Sekarang berhentilah meneleponku terus, telepon kamu itu membuatku semakin panik, tau enggak? Dan kamu sendiri tahu kan bagaimana aku kalau sedang panik? Aku akan ...," ucapku yang dipotong langsun oleh Aisyah.
"Kentut terus menerus," jawab Aisyah geli.
"Nah, itu pinter. Sekarang sudahlah, tutup telepon kamu, dan nanti biar aku yang akan memberimu kabar kalau posisiku sudah dekat dan satu lagi jika dalam dua puluh menit aku belum sampai kalian berangkatlah lebih dulu ke kampus XX, biar nanti aku yang menyusul ke sana," ucapku.
"Oke, tapi..," ucap Aisyah menggantung
"Tapi apalagi?" tanyaku geram.
"Memang kamu bener enggak bisa naik yang lain?" sahut Aisyah.
"Ya ampun, Aisyah... Sudah berapa kali aku bilang, kalau aku bisa, pasti sudah aku lakukan, tapi masalahnya tidak ada bus lain yang lewat selain bus ini dan kalau naik kendaraan yang lain perjalanannya bisa menjadi lebih lama lagi." jawabku yang mulai kesal menghadapi sikap Aisyah.
__ADS_1
"Iya, iya, aku ngerti, sekarang aku tutup teleponku dulu, hati-hati, ya!" ucap Aisyah.
"Oke, makasih," jawabku mengakhiri percakapan kami.
Tak lama berselang bus yang aku tumpangi pun berhasil diperbaiki. Dengan begitu aku dan penumpang lainnya dapat kembali melanjutkan perjalanan kami yang sempat tertunda selama beberapa jam.
Setelah 30 menit, bus yang aku tumpangi pun sampai di depan halte yang terletak di depan jalan menuju kampusku. Itu berarti Aisyah dan Adinda sudah pergi menuju kampus XX, meninggalkanku sendirian.
Dengan lemas, aku pun turun dari bus tadi. Namun, saat aku turun dari bus, tiba-tiba seseorang menarik tubuhku dan membawaku menuju motor yang dikendarainya. Ia pun memakaikan sebuah helm ke kepalaku.
"Ayo, cepatlah!" sahut si pengendara motor yang ternyata Kak Alan. Ia membuka kaca helmnya sebentar agar aku dapat mengenalinya. Kemudian, ia pun mengajakku untuk naik ke atas motornya.
Saat itu, aku hanya bisa menurutinya dan tak mampu menolak ajakannya karena aku sadar aku sudah sangat terlambat. Aku pun duduk di atas motor gedenya dengan cara duduk menghadap ke samping.
"Aduh, Rena, kalau kamu duduk seperti itu kamu bisa jatuh. Sekarang duduk yang benar," perintah Kak Alan. Aku pun menurutinya dan memindahkan posisi tubuhku tepat di belakangnya.
"Pegangan yang kencang, karena mungkin aku akan sedikit ngebut!" Perintah Kak Alan. Aku pun melingkarkan tanganku ke pinggang Alan dan memeluknya erat. Setelah itu, Kak Alan segera melajukan motornya dengan cepat, bahkan sangat cepat Sesaat jantungku berdetak lebih kencang saat merasakan tubuh Kak Alan yang begitu dekat.
Kami pun sampai di depan kampus XX, Kak Alan menarik tanganku dan menggenggamnya dengan sangat kuat.
"Kamu itu kebiasaan ya, selalu saja terlambat," omel Kak Alan dan aku tak berani menjawab omelannya itu.
****
Presentasi setiap kelompok tela sselesai. Kami hanya tinggal menunggu hasil perlombaan. Semua peserta dan pendamping diminta berkumpul di sebuah aula untuk mengetahui hasil perlombaan.
Dadaku berdebar kencang menunggu hasil akhir perlombaan dibacakan. Aku, Aisyah, dan Adinda duduk berdekatan, kami saling menggenggam tangan satu sama lain.
"Pemenang ketiga berasal dari Fakultas Ekonomi, Kampus XX," sahut MC membacakan pengumuman pemenang yang diiringi sorak sorai penonton.
Setelah pemenang ketiga dan kedua dibacakan, kini tibalah saatnya untuk mengetahui pemenang pertama dalam perlombaan ini.
"Pemenang pertama lomba karya ilmiah tahun ini berasal dari Program Studi Bahasa Indonesia, FKIP, Universitas Pelangi," sahut MC yang langsung mendapat sambutan tepuk tangan yang meriah dari para penonton, serta teriakan histeris dari mulut Adinda yang begitu kegirangan saat kami diumumkan menjadi juara pertamanya. Aku, Aisyah, dan Adinda saling berpelukan secara bergantian satu dengan yang lain. Di sisi kanan kami, tampak Kak Alan yang saat itu menggantikan Pak Riswandi mendampingi kami, ia ikut tersenyum bahagia menyaksikan kemenangan kami.
"Aku tidak ikut dipeluk nih," ucap Kak Alan kepadaku membuatku sedikit salah tingkah.
****
__ADS_1
Setelah selesai mengikuti acara perlombaan, aku, Aisyah, Adinda, dan Kak Alan singgah di salah satu mall untuk makan siang bersama merayakan kemenangan kami.
"Hari ini biar aku yang traktir kalian," ucap Adinda.
"Yeaay... Makasih, Dinda," sahutku dan Aisyah bersamaan.
"Aduh, Din, enggak usah," sahut Kak Alan.
"Cukup! Dinda sekarang lagi seneng dan Dinda enggak mau Kak Alan nolak lagi," ucap Dinda.
Setelah itu, pelayan pun datang dan kami semua memesan makanan kesukaan kami. Tak lama berselang, makanan yang kami pesan pun datang. Kami dengan gembira menyambut makanan yang disajikan di meja kami.
"Kak Alan, makan ya! Tenang, ini bukan sogokan, Dinda enggak akan maksa Kak Alan untuk jadi pacar Dinda, kok! Dinda juga tahu Kak Alan sudah menyukai seseorang," sahut Dinda sambil menatap ke arahku. Entah, apa maksud dari tatapannya itu.
Kak Alan menyukai seseorang? Siapa dia? Ah, sudah pasti wanita yang beruntung itu adalah Dewi. (pikirku)
"Ais, temenin aku yuk, ke kamar mandi!" pinta Dinda pada Aisyah yang baru saja selesai menikmati makanannya.
"Oh ya, hayu! Kebetulan aku juga mau ke kamar mandi," jawab Aisyah.
"Kak Alan, Rena, aku dan Ais ke kamar mandi dulu ya," pamit Adinda.
"Oke," sahutku.
Mereka berdua pun pergi meninggalkan aku dan Kak Alan di sini. Ada rasa canggung saat aku hanya berdua dengan Kak Alan.
"Rena," sahut Kak Alan
"Iya," jawabku.
"Rena, sebenarnya sudah lama aku ingin mengatakan ini sama kamu. Kalau sepertinya... aku benar-benar menyukaimu. Aku jatuh cinta sama kamu," ucap Kak Alan.
Perkataan Kak Alan sungguh membuatku kaget. Aku sama sekali tak menyangka kalau hari ini Kak Alan akan mengungkapkan perasaannya terhadapku. Sedangkan, aku sendiri masih belum tahu harus menjawab apa karena aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku atau perasaannya terhadapku.
"Maaf, Kak Alan, mungkin Kak Alan salah mengartikan perasaan Kak Alan terhadapku dan aku juga bingung harus menjawab apa," ucapku jujur.
"Baiklah, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkan jawabanmu baik-baik. Aku akan menunggu sampai kamu memiliki jawabannya," ucap Kak Alan dengan nada yang dipenuhi rasa kecewa.
__ADS_1
***
Bersambung