Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 36 Retak


__ADS_3

Rena benar-benar merasa sedih. Sejak masalah yang terjadi antara Aisyah dan Lala, persahabatan mereka jadi tak seindah dulu. Persahabatan itu kini mulai retak. Mereka sudah tidak pernah kembali lagi jalan bersama. Kini, Rena hanya ditemani Novi dan Dina.


"Novi, mana ya? Tumben jam segini belum datang," gumam Rena sambil melirik jam yang dipasang di


pergelangan tangan kirinya.


Kemudian, Rena pun bangkit dari kursi taman yang baru ia duduki. Ia berjalan menuju gedung perkuliahan dengan langkah gontai tanpa semangat. Ia  membawa beberapa tumpuk buku yang cukup tebal. Baru beberapa langkah ia memasuki gedung fakultas tersebut, sebuah insiden kecil terjadi padanya.


Tumpukan buku yang tadi dibawa Rena dengan


sangat hati-hati, tiba-tiba jatuh berantakan. Mungkin langkah Rena terlalu lemah karena badannya saat ini terasa begitu lelah. Kelelahan itu juga yang


membuat langkahnya menjadi gontai tak berarah.


Rena mencoba memunguti tumpukan buku yang tadi berantakan dan menyusunnya kembali. Cukup lama sudah Rena menyusun tumpukan buku itu hingga kembali seperti sedia. Namun, saat aku bangkit kepalaku terbentur kepala seseorang.


Buk!


"Aww" pekik Rena menahan sakit


"Kak Alan?" sahut Rena


Rena sungguh terkejut melihat keberadaan Alan di sana. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya.


Aduh, kenapa harus bertemu Kak Alan sih? Padahal aku sudah bersusah payah agar aku bisa menjauh dan melupakannya. (ucap Rena dalam hati)


"Rena, kamu tidak apa-apa?" tanya Alan dengan suara lembut seperti biasanya.


Lalu, ia mencoba memegang bagian kepala Rena yang terasa sakit, namun Rena segera menjauhkan kepalanya dari tangan Alan.


"Maaf," ucapnya lirih.


"Gak apa-apa Kak," jawab Rena.


Rena segera bangkit dan berjalan menjauhi Alan.


"Rena, tunggu! Kenapa aku merasa akhir-akhir ini kamu selalu menghindar dariku? Apakah karena ungkapan perasaanku waktu itu?" tanya Alan yang membuat Rena terpaku. Ia  pun tak mampu lagi melanjutkan langkah kakinya.


Setelah Alan menyatakan perasaannya. Rena memang selalu berusaha menghindarinya karena ia bingung jawaban apa yang harus ia berikan kepada Alan. Itulah sebabnya  hingga saat ini ia belum memberikan jawaban apa pun pada Alan. Apalagi setelah itu, Rena malah berjanji pada Dewi untuk menjauh dari Alan dan melupakan dirinya.


"Kak Alan," sahut seorang perempuan dengan suara manjanya. Suara yang tidak asing di telinga Rena.


Benar saja, saat Rena membalikkan badannya, ia melihat Dewi sedang merangkul lengan Alan di depan matanya. Ia bertingkah begitu manja pada Alan. Sungguh, hati Rena terasa sakit melihat


mereka bersama.


“Dewi, bisakah kau meninggalkan aku dan Rena berdua saja? Ada yang ingin aku bicarakan dengannya,” pinta Alan.


“Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, Kak,” ucap Dewi yang kemudian berlalu meninggalkan Rena dan Alan.


Kini, hanya ada Alan dan Rena berdua di tempat itu. Sesaat keheningan melanda di antara keduanya hingga suara Rena yang pelan, namun masih bisa terdengar memecah keheningan itu.


“Maaf,” ucapnya lirih.


“Jadi itu jawabanmu? Baiklah, tidak masalah,” ucap Alan yang kemudian berlalu meninggalkan Rena. Tampak di wajahnya, raut wajah kecewa atas jawaban yang diberikan oleh Rena.


***


Siang itu, hujan deras mengguyur Kampus Pelangi menahan beberapa mahasiswa yang berniat pergi meninggalkan jejaknya di kampus tersebut, termasuk Dina dan Rena. Mereka terpaksa harus


menahan diri mereka di sana karena di antara mereka berdua, tak ada satu pun yang membawa atribut perang untuk melawan hantaman butiran air hujan yang siap membasahi sekujur tubuh mereka.


"Na, sejak kapan ayahnya Novi sakit?" tanya Dina.


"Yang aku tahu sudah cukup lama, Din. Hanya sepertinya sekarang kondisi ayahnya cukup parah, makanya Novi sampai tidak masuk," jawab Rena.


"Sebenarnya aku ingin sekali melihat kondisi ayahnya, tapi apalah daya, hujannya deras banget," sahut Dina.


"Sama Din, aku juga ingin sekali melihat kondisi ayahnya. Tapi, ya sudah, mau bagaimana lagi, kita doakan saja mudah-mudahan kondisi ayahnya lekas membaik," ucap Rena


"Iya, mudah-mudahan kondisi ayahnya lekas membaik ya, Na,," sahut Dina yang diamini oleh Rena.


Rena dan Dina masih duduk di kursi panjang yang berada tepat di depan gedung fakultasnya. Mereka masih menunggu hujan yang tak kunjung reda. Lalu, tampak lah Alan yang baru saja keluar dari gedung itu, di belakangnya ada Dewi yang sepertinya memang mengikuti Alan sedari tadi.

__ADS_1


"Kak Alan, tunggu! Pakai payung ini," ucap Dewi sambil mengeluarkan payung dari dalam tasnya.


Alan pun mengikuti keinginan Dewi, ia mengambil payung itu dan kemudian membukanya.


"Ayo," ucap Alan mengajak Dewi memakai payung bersamanya.


Dewi dengan senang hati mengikuti Alan, digenggamnya tangan Alan dengan sangat erat. Tak henti wajahnya memamerkan senyum manis pada laki-laki yang teramat dicintainya itu.


"Wah, romantis sekali. Sepertinya mereka sudah benar-benar jadian ya?" tanya Dina yang membuat sesuatu dalam diri Rena terasa begitu sakit.


Ayolah, Rena, mengapa kamu harus merasa sakit, bukankah kamu sudah bertekad untuk melupakan dan menjauh darinya. Bukankah itu yang kamu inginkan sebagaimana janjimukepada Dewi. Mungkin benar perkataannya padamu waktu itu memang suatu kesalahan, sebenarnya mungkin memang Dewi lah wanita yang ia cintai selama ini.(pikir Rena)


"Na, mereka cocok sekali ya? Yang laki-lakinya tampan dan yang wanitanya cantik," puji Dina


"Iya," jawab Rena singkat.


Saat Alan dan Dewi hendak melangkahkan


kaki meninggalkan gedung itu. Pandangan Alan tanpa sengaja bertemu dengan Rena. Pandangan matanya tampak sendu menatap Rena.


Rena, maaf, aku tak bisa lagi berjuang untuk mendapatkan dirimu  (batin Alan).


Alan dan Dewi pun melangkah menjauh meninggalkan kampus itu, meninggalkan jejak kepedihan yang bersemayam dalam


kalbu Rena.


Tak lama, setelah kepergian Alan, seorang laki-laki bertubuh tinggi, berkulit putih dengan paras yang cukup rupawan menghampiri Rena dan Dina yang masih sibuk berbincang-bincang di tempat


itu.


"Dina," panggil laki-laki itu yang membuat Dina menoleh ke arahnya.


"Kak Bagas," sahut Dina saat bertemu pandang dengan laki-laki yang menyapanya itu.


"Kok bisa kemari?" tanya Dina.


"Kebetulan aku lewat sini, mau jemput kamu," jawab Bagas.


"Tapi di luar masih hujan Kak," sahut Dina.


"Oh iya, maaf aku sampai lupa, Na. Kenalkan, ini Kak Bagas dan Kak Bagas ini sahabatku Rena," ucap  Dina


"Kak Bagas itu cowok kamu bukan?" tanya Rena berbisik di telinga Dina.


"Iya," jawab Dina.


"Ayo, Din, gak apa-apa, kebetulan aku bawa jas hujan," ucap Bagas.


"Tapi Rena," sahut Dina menggantung.


"Udah, enggak apa-apa, kamu duluan aja," sahut Rena.


Setelah mendengar jawaban Rena, Dina pun memilih ikut bersama Bagas, meninggalkan Rena sendirian di kampus itu.


Hujan masih juga belum mau berhenti. Seakan begitu rindu pada bumi yang sudah lama tak disapanya. Dalam kesendirian Rena, seseorang yang suaranya tak asing di telinga Rena memanggil namanya.


"Rena," sahut seseorang yang membuat Rena menoleh ke arah suara itu. Ternyata, Alan kembali lagi ke tempat itu. Di tangannya sudah ada dua buah payung.


"Ambillah," menyodorkan salah satu payung kepada Rena. Rena yang memang sedang membutuhkan payung itu, tanpa sungkan mengambilnya.


"Makasih, Kak, seharusnya Kakak nggak perlu repot-repot seperti ini," sahut Rena.


"Nggak apa-apa kok, aku kasihan sama kamu. Kalau menunggu hujan seperti ini bisa-bisa kamu sampai malam di sini. O, ya, temanmu yang tadi mana?" tanya Alan menanyakan Dina.


"Sudah pulang Kak, sama pacarnya," sahut Rena


"O, kamu sendiri pacarmu nggak jemput?" tanya Alan tanpa memandang Rena.


"O, itu, aku belum punya pacar Kak," jawab Rena bingung.


"Jadi? Bagaimana tanggapan kamu?" tanya Alan


"Maksud Kakak?" tanya Rena bingung

__ADS_1


"Sudahlah, itu sudah tidak penting," sahut Alan


Rena pun akhirnya mengerti arah pembicaraan Alan.


Iya, benar, itu sudah tidak penting (batin Rena sedih)


"Kak, aku pulang dulu, ya," sahut Rena sambil membuka payung yang tadi diberikan Alan. Namun,


saat Rena hendak melangkah pergi, tiba-tiba suara Alan menahan langkah kakinya


lagi.


"Rena tunggu," sahut Alan, ia pun membuka jaket yang dipakainya itu dan memakaikannya pada Rena.


"Kak," sahut Rena bingung dengan jaket yang dipakaikan Alan kepadanya.


"Pakailah, agar kamu tidak masuk angin karena angin di luar sana sangat kencang dan kurasa baju yang kamu kenakan tidak cukup untuk melindungi tubuhmu," sahut Alan membuat Rena tak


bisa membantahnya.


Ya ampun, Kak Alan kenapa kamu masih begitu memperhatikakun. (pikir Rena).


Rena pun memakai jaket itu dan segera melangkah menjauh meninggalkan Alan.


****


Saat itu malam mulai larut, cuaca dingin masih terasa akibat hujan deras yang mengguyur bumi dari tadi siang hingga malam ini. Rena termenung sendirian di kamarnya. Jaket yang diberikan


Alan tadi pun kembali dikenakannya untuk mengusir rasa dingin yang menyelinap masuk ke dalam tubuhnya. Membuat, kerinduan kepada pemiliknya hinggap di hati Rena, lamun lekas dibuangnya jauh-jauh saat tersadar bahwa perasaannya pada Alan hanyalah perasaan yang sia-sia.


Rena pun mengambil ponselnya, mencoba mengalihkan pikirannya agar tak kembali memikirkan laki-laki yang tadi sore ditemuinya. Ia bermaksud menghubungi sahabat yang sedari pagi tak dijumpainya. Namun, belum sempat ia menekan nomor itu, tiba-tiba ponsel yang ada di tangan Rena berdering. Nama yang tertera dalam ponsel itu sungguh tidak asing baginya.


"Iya, halo Din! Tumben malem-malem telepon, kenapa kangen," sahut Rena


Namun, Dina belum mengeluarkan sepatah kata pun, hanya isak tangis yang Rena dengar dari seberang telepon sana.


"Din, kamu nangis?" tanya Rena yang sebenarnya terdengar konyol.


"Rena, kami sudah ketahuan," sahut Dina


"Maksud kamu? Orang tuamu sudah tahu hubunganmu dengan Kak Bagas?" tanya Rena


"Iya, Na, mereka tahu dan tadi mereka sempat marah sekali sama aku dan Kak Bagas. Lalu..," ucap Dina menggantung


"Lalu apa?" tanya Rena penasaran.


"Mereka ingin kami putus, kecuali kalau aku mau berhenti dari kuliahku dan menikah dengan Kak


Bagas," sahut Dina


"Apa? Menikah? Gak salah? Itu kan sama aja nyuruh kamu nikah muda, Din," sahut Rena kaget.


"Iya, begitulah Rena," jawab Dina.


"Lalu Kak Bagas?" tanya Rena.


"Itu dia, dia ingin tau dulu pendapatku, kalau aku bersedia menikah muda dengannya, maka dia akan siap untuk melamarku segera. Tapi, mungkin untuk sementara waktu aku harus berhenti kuliah


dulu karena sekarang ini dia masih merintis usahanya dan memerlukan banyak modal," sahut Dina.


"Lalu pendapatmu sendiri?" tanya Rena


"Itu dia Rena aku bingung. Di satu sisi aku sangat menyayangi Kak Bagas dan tidak mau kehilangan dia. Namun, di sisi yang lain aku juga belum siap untuk menikah muda apalagi jika harus berhenti kuliah. Jadi, aku harus bagaimana Rena?" tanya Dina.


"Entahlah, Din. Aku juga tak bisa memberi masukan apa pun sama kamu karena ini semua berkaitan dengan hati dan masa depanmu. Aku takut salah memberi pendapat. Sekarang kamu tenangkan


dirimu, jangan menangis terus, itu akan membuat pikiranmu semakin kacau dan kamu tidak akan bisa berpikir dengan jernih," sahutku


Maaf, Din, hanya itu saran yang bisa aku berikan karena aku tak menyangka kalau kau akan mendapat masalah sebesar ini. (pikir Rena)


Menikah muda itu banyak risikonya dan bagi sebagian perempuan itu merupakan keputusan yang sangat sulit.


***

__ADS_1


l


__ADS_2