
"Apakah sekarang kamu menyesal pernah mendekati Alan, Rena? Itulah hal yang pantas kamu dapatkan jika berurusan dengan seorang Naya Atmaja. Jadi, jangan pernah berusaha untuk merebut apa yang ingin didapatkan oleh Naya. Kamu harus tahu itu Rena, hahahaha,” gumam Naya yang disertai tawa renyah di depan sebuah cermin.
Naya merasa senang karena baru saja mendapatkan kabar bahwa kelima penjahat sewaannya itu telah berhasil menculik Rena dan telah siap untuk melakukan aksinya. Ia pun semakin menikmati ketika mendapatkan kiriman video dari salah satu dari kelima orang sewaannya. Dalam video itu tergambar wajah ketakutan Rena saat dirinya akan disiram air keras oleh salah satu dari kelima penjahat itu.
“Kita lihat saja Rena. Apakah setelah Alan melihat wajahmu yang hancur, ia masih tetap akan melanjutkan niatnya untuk menikahimu? Karena walau bagaimana pun juga Alan tetap seorang laki-laki dan dia tidak akan sudi untuk menikah dengan wanita buruk rupa,” ucapnya sambil memoleskan krim wajah di kulitnya yang putih dan mulus.
Ponselnya berdering, raut wajah bahagia yang sebelumnya terlihat jelas di wajah Naya, kini sirna seketika saat sebuah panggilan masuk memberi kabar yang sebelumnya tidak pernah disangka Naya. Rona bahagia di wajah itu pun kini berubah menjadi rona wajah yang penuh dengan kemurkaan.
“Apa?!! Kenapa bisa begitu? Kalian ini benar-benar bodoh! Mengurus satu orang perempuan saja tidak bisa dan sekarang kalian justru malah melukai Alan. Awas saja, kalau sampai terjadi apa-apa pada Alan, aku tidak akan memberi kalian uang sepeser pun!” maki Naya.
“Hey, Nona, gara-gara tugasmu itu teman-temanku terluka parah dan sekarang dibawa ke kantor polisi. Salah satu di antaranya sekarang bahkan sedang berjuang antara hidup dan mati. Beruntung aku bisa meloloskan diri. Setidaknya kau berilah sebagian upah kami agar aku dapat membantu keluarga teman-temanku,” ucap si penelepon.
“Apa?! Kamu masih berani mengadakan tawan menawar denganku? Dengar ya, kalian itu bukan hanya gagal tetapi membuat semua rencanaku berantakan. Jadi, jangankan sebagian bahkan sepeser pun aku tidak akan memberikannya! Dan jangan coba-coba mencari masalah denganku karena aku bisa saja menyewa pembunuh lainnya untuk menghabisi kamu atau bahkan keluarga teman-temanmu. Camkan itu!!” bentak Naya.
Telepon antara Naya dengan salah satu dari komplotan penjahat itu pun terputus.
“Shit!! Dasar perempuan sakit jiwa!” umpat penjahat itu.
***
Setibanya Alan di rumah sakit ia langsung mendapatkan penanganan khusus dari para dokter dan perawat. Kondisinya cukup memperihatinkan karena Alan kehilangan banyak darah. Beruntung Alan masih sadarkan diri sehingga nyawanya masih bisa diselamatkan.
Perasaan Abi saat ini benar-benar campur aduk. Ada rasa khawatir, sedih, marah, dan kecewa pada diri sendiri yang lagi-lagi tak mampu melindungi apa yang diamanahkan kepadanya. Ia teringat akan janjinya kepada Felisa untuk menjaga kakaknya dengan segenap jiwa dan raga. Namun, karena kelalaiannya ia harus menyaksikan sahabatnya itu bertaruh nyawa di salah satu ruangan yang ada di rumah sakit. Ia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Felisa saat mengetahui hal ini. Itulah sebabnya ia meminta Faiz lah yang menghubungi gadis itu secara langsung.
Mungkin Felisa akan marah kepadanya, akan kecewa dengannnya. Namun, itu semua adalah harga yang pantas untuk ia terima.
“Abi, tenanglah! Kita doakan saja supaya Alan baik-baik saja dan tidak terjadi hal buruk pada dirinya,” ucap Arka mencoba menenangkan sahabatnya itu.
“Entahlah, Arka. Aku benar-benar khawatir saat ini. Kau lihat sendiri Alan terlihat sangat pucat saat kita membawanya kemari. Begitu banyak darah yang mengalir di tubuhnya dan itu sungguh membuatku merasa gagal melindunginya,” jawab Abi.
__ADS_1
“Aku merasakan kekhawatiran yang sama, tetapi untuk saat ini kita hanya bisa berdoa semoga semuanya baik-baik saja,” ucap Arka.
Sementara di sisi lain, wajah Rena terlihat pucat. Ia seperti kehilangan separuh nyawanya. Diam dan tak berbicara sepatah kata pun. Hanya air mata yang terus menetes di pipinya. Jessi yang memperhatikan itu merasa sedih dan prihatin akan keadaan teman seprofesinya itu.
Aku tidak menyangka cinta kalian berdua begitu dalam. Rasanya aku benar-benar malu pernah merasa cemburu kepadamu. Mungkin itu sebabnya Tuhan membuatku berada di sini untuk menyaksikan semua yang tidak pernah kulihat sebelumnya (ucap Jessi dalam hati)
Salah satu perawat keluar dari ruangan itu, dengan wajah panik dan tampak terburu-buru.
“Suster, maaf, bagaimana kondisi teman saya?” tanya Abi pada perawat itu.
“Maaf, tuan saya belum bisa menceritakannya sekarang saya sedang terburu-buru karena pasien membutuhkan banyak darah saat ini,” sahut perawat itu yang tidak sedikit pun menghentikan langkah kakinya saat berbicara dengan Abi.
Sedangkan Abi, saat mendengar jawaban itu wajahnya malah semakin tampak gusar. Ia sama sekali tak bisa duduk tenang saat ini. Ia terus menerus berdoa agar nyawa sahabat yang sudah dianggapnya saudara itu bisa tertolong.
Begitu pula dengan Rena, dalam kebisuannya batinnya terus berdoa agar laki-laki yang belum lama ini melamarnya secara terang-terangan di muka umum bisa terselamatkan.
Ya Tuhan, aku tahu aku hanyalah hamba Mu yang penuh dosa. Ampunilah dosa-dosaku jika ini teguran darimu untukku. Lindungilah dan selamatkanlah nyawa Kak Alan. Dia adalah laki-laki yang baik. Laki-laki yang penuh kasih dan sayang. Anugerah terindah yang kau hadirkan untukku. Ampuni aku jika dulu dengan sombongnya, aku mengatakan aku tak membutuhkan laki-laki lagi dalam hidupku, setelah kegagalan pernikahan yang aku alami. Aku membutuhkannya Tuhan, sangat membutuhkannya. (batin Rena).
“Rena, jangan menangis terus nanti kamu sakit,” pinta Jessi.
Rena hanya mengangguk, namun meskipun begitu tetap saja ia tak bisa membendung air matanya yang memang terasa sulit untuk di tahan.
Tak lama Felisa, Mama Lana, Papa Kevin, Faisal, dan Dewa datang ke rumah sakit. Mereka ingin mengetahui kondisi Alan.
“Bagaimana kondisi Alan?” tanya Papa Kevin.
“Dokter masih menangani Alan, Om,” jawab Abi.
“Bagaimana bisa terjadi seperti ini Abi? Bukankah kalian hanya mengadakan acara reuni?” tanya Mama Lana.
__ADS_1
Abi tak langsung menjawab. Ia menatap Rena, seolah menunggu persetujuan dari wanita itu untuk menceritakan semua kejadian yang sebenarnya telah terjadi. Ia khawatir Mama Lana akan menyalahkan Rena atas musibah yang terjadi saat ini. Apalagi Abi juga pernah berada di kondisi yang sama. Kondisi yang begitu menyakitkan, kondisi yang membuatnya semakin terpuruk yaitu saat Bunda Rosi, bunda dari Nena, kekasihnya itu malah menyalahkannya atas musibah yang pernah menimpa dirinya dan juga Nena.
Kediaman Abi yang cukup lama, memicu Mama Lana untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Ia menangkap arah pandang Abi yang tertuju pada Rena.
“Apa ini ada kaitannya dengan kamu, Rena?” tanya Mama Lana curiga.
Rena menangkap arah pandang Abi dan Mama Lana. Ia tahu Abi mungkin tidak sanggup menceritakan kejadian yang sebenarnya, mungkin Abi khawatir setelah Mama Lana mengetahui ini semua, Rena akan dipersalahkan atas musibah yang menimpa anak laki-laki sulungnya itu. Melihat Abi yang masih saja diam dan tak berani menjawab, mendorong Rena untuk mulai membuka suaranya.
“Kak Alan seperti ini karena berusaha melindungi aku, Mah. Harusnya aku yang ditusuk oleh laki-laki itu,” jawab Rena lirih.
“Apa?!!” tanya Mama Lana seakan tidak percaya.
“Bagaimana bisa? Memang apa yang terjadi denganmu?” bentak Mama Lana.
Ada kemarahan di sorot mata wanita itu. Ia tampak kesal dengan wanita yang akan dijadikan menantu yang begitu dicintai oleh putranya itu. Pandangan matanya terus menatap tajam ke arah Rena, menunggu penjelasan yang keluar dari mulut Rena.
***
Bersambung
Bagaimana sikap Mama Alan selanjutnya pada Rena? 🤔🤔
Tunggu kelanjutannya. Insyaallah, hari ini akan up dua kali.
Jadi, jangan lupa kasih tanda favoritnya ya. .
Tinggalkan juga jejakmu dengan like, komen, dan votenya.😘😘
Terima kasih, salam sayang buat semua dan semoga sehat selalu.🙏🙏
__ADS_1
Selamat menjalankan ibadah Puasa Arafah juga ya.. 😊😊