
Sejuknya udara sore memberikan kenyamanan tersendiri bagi mereka yang tengah berkumpul di taman belakang rumah milik Alan.
“Julian mana? Gak ikut kemari ?” tanya Iyus.
“Tadi dia bilang untuk hari ini dia nggak bisa ikut kumpul karena katanya dia harus mengantar istrinya dulu ke rumah sakit,” sahut Alan.
“Aisyah sakit?” tanya Faizal.
“Kurang tau juga, aku hanya tau dari Feli kalau sejak hamil Ais memang sering tidak masuk. Sepertinya kondisi kehamilannya memang sedikit bermasalah,” jawab Alan.
“Aku juga dengar begitu dari Julian. Dia bilang Ais sulit sekali menerima asupan makanan karena setiap kali makan dia sering kali memuntahkan makanannya,” sahut Abi.
“Kasihan sekali, mudah-mudahan kali ini Ibu dan calon bayinya baik-baik saja. Kasihan Ais dan Kevin beberapa kali mereka harus kehilangan calon bayi mereka,” sahut Arka.
“Benar, aku juga tidak tega waktu Ais melihat bayiku dan Mauri, matanya selalu tampak berkaca-kaca,” sahut Faizal.
“Kalau begitu kita doakan saja agar semuanya baik-baik saja,” sahut Alan.
“Tentu itu pasti,” sahut Faizal dan yang lainnya.
“Kalau begitu, apa rencana kita untuk acara reuni nanti, apa kalian punya ide?” tanya Abi.
“Bagaimana kalau reuninya out door saja?” saran Arka.
“Maksud kamu di luar, Ar ?” tanya Alan.
“Iya, di luar bukan di kampus,” sahut Arka.
“Aku setuju dengan ide Arka sepertinya itu menarik,” sahut Dewa.
“Menurutmu bagaimana Faiz?” tanya Abi.
“Aku sih setuju saja,” jawab Faizal.
“Yang lain?” tanya Abi.
“”Aku juga setuju dengan ide Arka sepertinya reuni diluar lebih menarik,” sahut Alan.
“Sama aku juga setuju, tapi tentunya tempat yang akan kita pilih haruslah tempat yang memiliki kenangan dengan kampus kita,” sahut Iyus.
“Iya, itu benar . Kita harus memilih sebuah tempat yang memiliki kesan mendalam bagi seluruh alumni mahasiswa di kampus kita,” sahut Alan.
“Bagaimana kalau acaranya kita laksanakan di Gunung XX saja ?” sahut Abi.
“Wah, ide bagus tuh, Bi,” sahut Iyus.
“Aku juga setuju,” sahut Arka.
“Ya, aku juga,” sahut Faizal.
“Aku juga,” sahut Dewa.
“Kamu Lan?” tanya Abi.
“Tentu, aku juga sangat setuju dengan tempat itu,” sahut Alan.
__ADS_1
Jelas, aku sangat setuju sekali dengan ide kamu itu Abi karena sedikit banyak tempat itu memiliki kenangan indah tersendiri buatku (batin Alan)
Alan mengingat kenangannya dengan Rena di tempat itu. Kenangan yang hingga sekarang sulit untuk dilupakannya.
***
“Ca, ternyata Pak Dewa itu teman kakakmu juga, ya?” tanya Laela.
“Masa? Tau dari mana?” tanya Felisa.
“Lah, emang kamu enggak liat tadi dia kemari?” tanya Laela.
“Emang iya? Aku enggak liat tuh,” sahut Felisa.
“Iya, tadi dia kemari waktu kamu memanggil Kak Alan di kamarnya,” sahut Sarah.
“O... tapi aku benar-benar baru tahu kalau Pak Dewa teman kakakku juga karena dia jarang main kemari,” sahut Felisa.
“Pantes,” sahut Laela.
“Terus mereka kemari mau pada ngapain, Ca?” tanya Riska.
“Meneketehe,” sahut Felisa sembari mengangkat kedua bahunya.
“Mba Feli,” sahut seseorang dari belakang yang tak lain adalah Bi Siti.
“Iya, Bi, ada apa?” tanya Felisa.
“Mas Alan tadi minta tolong untuk diambilkan map merah di meja kerjanya,” sahut Bi Siti.
“Ya udah, ambil aja, Bi! " sahut Felisa.
“Ya udah, biar Feli aja nanti yang ambil ke kamarnya Kak Alan," sahut Felisa seraya berdiri meninggalkan teman-temannya.
“Guys, aku ke Kak Alan dulu, ya,” sahut Felisa.
“Yoi,” sahut Bae.
***
Felisa kemudian masuk ke ruang kerja Alan. Ia pun mengambil map merah yang ada di meja kerja Alan sesuai dengan perintah kakaknya lewat Bi Siti. Sepintas ia melihat sebuah flashdisk tergeletak begitu saja di atas meja.
“Kakak.. kakak, ceroboh sekali, menaruh flash disk saja sembarangan seperti ini,” sahut Felisa yang langsung mengantongi flashdisk tersebut.
“Tapi, tunggu, nanti kalau Kak Alan mencari flashdisk ini dan tidak menemukannya di tempat semula, bisa-bisa dia malah marah lagi sama aku. Ya udah, aku balikin lagi aja flashdisk ini ke tempat semula,” sahut Felisa mengeluarkan kembali flashdisk yang sudah dikantonginya dan meletakkan flash**disk kembali ke tempat di mana ia mengambil flashdisk tersebut.
Setelah memastikan, memang hanya ada satu map merah di meja kerja Alan, Felisa pun segera melangkah keluar dari ruang kerja Alan menuju taman belakang tempat di mana Alan dan teman-temannya berkumpul.
***
“Kakak,” sahut Felisa seraya berjalan mendekat ke arah Alan.
Seperti biasa, Felisa selalu tampak ceria. Senyum di bibirnya pun tak pernah hilang dari wajah manisnya, menularkan perasaan nyaman dan bahagia bagi siapa pun yang melihatnya.
“Ini Kak, map yang Kak Alan minta,” sahut Felisa menyodorkan map merah yang ada di tangannya kepada Alan.
__ADS_1
“Kamu Felisa kan?” tanya Dewa saat melihat Felisa yang sudah berada dekat dengannya.
“Eh, Pak Dewa, apa kabar ? Ternyata benar ya kata teman-teman Bapak ada di sini,” sahut Felisa.
“Alhamdulillah, kabar Bapak baik. Kamu sendiri?” tanya Dewa.
“Alhamdulillah kabarku juga baik,” jawab Felisa.
“Kalian sudah saling mengenal?” tanya Alan.
“Iya, dia murid SMP ku dulu,” jawab Dewa.
“Iya, Kak, Pak Dewa ini dulu salah satu guru favoritku di SMP,” sahut Felisa.
“Tumben kamu ingat sama Felisa, Wa. Bukannya tadi kamu sepertinya tidak ingat sama teman-temannya,” sahut Faizal.
“Ya, kan Felisa itu beda. Dia itu dulu murid paling cantik di sekolahku, paling pintar pula. Bisa dibilang murid idaman lah,” sahut Dewa.
“Ah, Bapak bisa aja, Feli jadi malu nih,” sahut Felisa dengan mimik wajah yang merah merona.
“Bahkan sempat ada dua anak laki-laki yang berkelahi memperebutkan dia,” sahut Dewa.
“Bapak! Masih ingat aja,” sahut Felisa.
“Benarkah?” tanya Alan yang tersenyum mendengar cerita Dewa tentang adiknya.
“Iya, benar,” jawab Dewa.
“Wah, cantikku ini ternyata cukup populer juga ya. Sebelas dua belas lah sama Kakaknya,” sahut Iyus.
“Kak Iyus... selalu deh,” sahut Felisa yang memang sering sekali mendengar Iyus menggodanya.
“Ya udah, Kak. Feli permisi dulu.. Kelamaan di sini bisa-bisa Feli melayang dan nggak balik-balik lagi-lagi,” sahut Felisa seraya berlalu pergi meninggalkan Alan dan teman-temannya.
“Feli, makin cantik aja, ya?” tanya Iyus melirik ke arah Abi yang sedari tadi hanya diam saja memperhatikan tingkah Felisa.
“Abi, mana mau jawab,Yus,” sahut Faizal yang memahami watak teman di sampingnya itu.
“Iya, nih payah. Enggak ngerti barang bagus,” sahut Iyus.
“Maksud kamu, adik aku barang gitu ?” tanya Alan.
“Eits, bukan begitu Lan. Jangan sensi gitu dong! Maksud aku, si Abi tuh payah banget. Masa cewek cantik kaya adik kamu Felisa dicuekin aja,” sahut Iyus gemes dengan sikap teman di sampingnya itu.
“Dia enggak sejelalatan kamu kali,Yus,” sahut Arka yang sejak tadi diam.
“Sudah, sudah kita mau lanjutin lagi enggak mengenai pembahasan acara reuni nanti?” tanya Abi menyela pembicaraan teman-temannya.
“Yah.. dia ngeles,” sahut Iyus yang ditanggapi senyuman oleh Alan.
Mereka berenam pun melanjutkan pembahasan mereka mengenai berbagai hal yang perlu disiapkan menjelang acara reuni akbar kampus mereka. Mulai dari jumlah mahasiswa yang akan ikut serta dalam acara reuni tersebut, biaya atau anggaran yang diperlukan, sampai ke daftar acara yang akan mengisi kegiatan tersebut.
***
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, dan votenya. Author sangat berterima kasih untuk itu 😘😘😘😘
Semoga sehat selalu..❤️❤️❤️