
Selesai Alan menyanyikan lagu tersebut, lampu di tempat itu pun kembali terang benderang dan di saat itulah Alan menghampiri Rena dan bersimpuh di hadapan wanita yang sangat dicintainya itu sambil mengeluarkan sebuah kotak yang berisi cincin putih yang indah.
“Rena, sebagaimana yang kau dengar dalam lirik lagu tadi bahwa selama ini aku memendam rasa cintaku kepadamu. Aku sayang padamu, Rena. Izinkan aku membuktikan kesungguhan hati ini dengan menjadikanmu pendamping hidupku. Maukah kau menerima lamaranku dan menjadikanku pasangan hidupmu?” pinta Alan.
Rena hanya terpaku mendengar penuturan dari pria yang kini tengah bersimpuh di hadapannya itu. Air mata haru menetes membasahi pipinya, tanpa bisa ia bendung. Karena biar bagaimana pun ia tak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang ada dalam hatinya. Namun, untuk menjawab semua pertanyaan Alan, rasanya untuk saat ini ia masih ragu.
Rena menggigit bibir bawahnya, ia masih bingung harus menjawab apa. Di satu sisi, ia tak bisa memungkiri bahwa ada rasa sayang yang tak terbantah pada pria yang kini tengah bersimpuh di hadapannya. Namun, luka dan rasa takut yang masih ia rasakan membuat dirinya merasa enggan untuk melangkah ke pelaminan. Sebelum, ia memastikan bahwa pria ini benar-benar memiliki kesungguhan kepadanya.
“Ka-kalau begitu berikan aku bukti atas kesungguhanmu,” Kalimat itulah yang akhirnya keluar dari bibir Rena.
“Buktikan apa yang kau inginkan?” tanya Alan.
“Aku minta sekarang juga kau dan orang tuamu menemui kedua orang tuaku untuk memintaku secara khusus kepada mereka dan itu tidak boleh lewat dari hari ini," tantang Rena.
Rena sengaja memberi tantangan itu agar Alan menyerah karena tidak mungkin baginya untuk secepat itu melakukan proses lamaran sebagaimana yang diminta oleh Rena.
Tentunya kalau Alan ingin melakukan itu, ia harus segera meninggalkan acara ini, menemui ayah ibunya serta kemudian kedua orang tua Rena. Namun, reaksi yang sama sekali tidak diduga oleh Rena, justru diperlihatkan Alan. Senyumnya mengembang, seolah permintaan Rena itu sangat mudah untuk dilakukannya.
“Ternyata benar kau akan meminta hal itu,” ucap Alan.
“Maksud Kak Alan?” tanya Rena bingung.
Alan tidak menjawab. Ia begitu menikmati kebingungan Rena. Lalu, ia memberi kode pada seseorang dengan jari telunjuknya. Seketika lampu ruangan itu kembali padam. Hanya sebuah cahaya yang berasal dari sebuah proyektor yang memperlihatkan rekaman video yang disajikan untuk para tamu yang hadir di aula itu. Mata Rena membulat, mulutnya sedikit terbuka saat melihat isi rekaman video tersebut.
“Kak Alan,” teriak Rena tak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Kenapa Rena? Bukan kah ini yang kamu minta,” ucap Alan sambil mengedipkan sebelah matanya.
Meski ruangan gelap, namun cahaya yang berasal dari rekaman video itu memantul ke arah Rena dan Alan sehingga teman-temannya masih bisa menyaksikan interaksi kedua insan yang berada di hadapan mereka.
“Ciee.. sepertinya Rena, tidak akan bisa mengelak lagi,” sahut Dina yang berada tak jauh dari mereka.
“Hebat, kamu Lan. Rencanamu kali ini sangat sempurna,” ucap Arka menimpali.
“Terima.. terima.. terima...,” teriak Iyus yang lalu diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Hana dan Haikal yang berada di dekat Rena hanya bengong menyaksikan pemandangan itu.
Apalagi melihat Ibunya yang sama sekali tak bisa berkata-kata lagi.
“Kok, ada video Kakek dan Nenek di situ, Kak?” tanya Haikal.
“Iya, Kakak juga bingung. Kapan Om Alan ke rumah Kakek dan Nenek ya?” tanya Hana pada dirinya sendiri.
Flashback On
Hari itu Alan memikirkan kata-kata dari Faizal tentang upaya untuk mencari informasi mengenai perasaan Rena pada Reni, adiknya. Alan memeriksa ponselnya. Ia ingat Reni pernah memberinya nomor ponsel miliknya. Alan menekan nomor ponsel tersebut, menunggu si pemilik nomor mengangkat panggilannya.
“Iya, halo,” ucap Reni.
“Halo, Assalamualaikum, Reni,” sapa Alan.
__ADS_1
“Waalaikumsalam, iya, Kak Alan, ada apa? Tumben nelepon Reni biasanya juga yang ditelepon Kak Rena,” tanya Reni tanpa basa basi.
“Menurutmu kira-kira apa maksudku meneleponmu?” tanya Alan balik.
“Emmm... (berpikir sejenak), sepertinya Kak Alan ingin mengorek informasi tentang Kak Rena sama Reni deh. Benar enggak tebakan Reni?” ucap Reni.
“Benar sekali, Reni. Kamu memang pintar,,” puji Alan.
“Tentu, dong.. adik siapa dulu? Oh ya, emang informasi apa yang Kak Alan ingin ketahui dari Kak Rena?” tanya Reni.
“Menurutmu bagaimana perasaan kakakmu terhadapku?” tanya Alan.
“Kenapa Kak Alan, lagi galau ya? Bukannya biasanya Kak Alan suka kepedean sendiri,” ledek Reni.
“Reni, aku serius,” ucap Alan.
“Oke.. oke.. dengar ya Kak Alan, kalau menurut Reni sebenarnya Kak Na tuh suka sama Kak Alan, tapi sepertinya Kak Na itu masih sulit untuk membuka hatinya dari laki-laki mana pun. Luka dan rasa kecewa yang pernah dirasakan Kak Na membuat ia tak bisa dengan gampang percaya pada kaum laki-laki,” ujar Reni.
“Lalu menurutmu kalau aku melamar kakakmu sekarang ini, apa dia akan menerimanya?” tanya Alan.
“Sepertinya Kak Na akan menolak dengan berbagai alasan,” jawab Reni.
“Jadi seperti itu ya,” sahut Alan kecewa.
“Tapi Kak Alan tak perlu khawatir tentang itu, ” ucap Reni.
“Maksud kamu?” tanya Alan.
“Caranya?” tanya Alan.
“Kak Alan harus datang ke rumah orang tuaku untuk melamar Kak Na,” jawab Reni.
“Datang ke rumah orang tuamu?” tanya Alan kaget.
“Iya, Kak Alan harus datang ke rumah orang tuaku bersama ibunya Kak Alan untuk meminta Kak Na pada ayah dan ibu,” jawab Reni.
“Tapi bagaimana kalau Kakakmu marah?” tanya Alan.
“Kak Na tidak perlu tahu dulu tentang hal ini. Biarkan ini jadi kejutan buat Kak Na. Lagi pula Reni yakin Kak Na tidak akan marah karena Reni tahu Kak Na sangat menyayangi dan menghargai pendapat ayah dan ibu,” jawab Reni meyakinkan Alan.
Alan pun akhirnya setuju dengan usulan Reni. Lalu, ia segera menghubungi orang tuanya untuk melamar Rena untuk dirinya pada orang tua Rena.
***
“Kamu yakin akan melamar Rena dengan cara seperti ini?” tanya Mama Lana.
“Iya, Mah,” jawab Alan singkat karena terus terang saat ini ia benar-benar merasa grogi karena akan bertemu dengan kedua orang tua Rena secara langsung.
“Baru kali ini Papa tahu, kita akan melamar wanita tanpa diketahui mempelai wanitanya,” ujar Papa Kevin heran.
“Iya, mungkin lebih tepatnya bukan melamar Pa, tapi meminta restu karena dengan begitu akan mudah bagi Alan untuk melaksanakan rencana selanjutnya,” jawab Alan.
__ADS_1
“Emang apa rencanamu selanjutnya?” tanya Papa Kevin.
Alan pun menceritakan rencana yang sudah dibuatnya pada Papanya.
“Hebat, kamu Lan. Ini baru anak Papa,” ucap Papa Kevin bangga.
“Makasih, Pa,” jawab Alan.
Mobil mereka terus melaju hingga sampai ke kediaman orang tua Rena. Sebelumnya, orang tua Rena juga sudah mendapatkan kabar mengenai masalah ini dari putrinya Reni. Mereka merasa sangat bahagia kalau memang Rena sudah menemukan seseorang yang bersungguh-sungguh ingin menikahinya.
Flashback off
Sebelum Rena menjawab, perhatiannya kembali terarah pada video yang masih diputar Alan. Di dalam video tersebut ada tampilan yang berisi pendapat orang tuanya mengenai lamaran yang ditujukan Alan kepadanya.
Rena, Sayang... Sungguh hari ini adalah hari yang selama ini Mama nantikan. Hari dimana ada laki-laki yang kembali meminangmu. Setelah Mama melihat banyak kepedihan yang harus kamu rasakan. Mama tahu Rena bahwa kamu selama ini menyimpan banyak luka, meski kamu berusaha menutupi semuanya dari Mama, tapi Mama masih bisa merasakannya. Sungguh Mama menyesal karena dulu pernah memaksamu untuk segera menikah karena khawatir kamu akan menjadi perawan tua. Itulah sebabnya, hari ini Mama tidak akan memaksamu lagi, Mama serahkan jawaban atas lamaran ini sepenuhnya kepadamu sayang. Namun, satu pesan Mama, jadikan masa lalu sebagai guru bagimu, dan jangan pernah menjadikannya sebagai batu yang menjadi penghalang kebahagiaan untukmu dan anak-anak di masa depanmu” (ucap Mama Rena)
Rena, kalau kamu ingin tahu jawaban Ayah perihal lamaran yang datang kepadamu, maka sejujurnya Ayah menjawab Ayah menerimanya. Namun, semuanya Ayah serahkan kembali keputusannya kepada kamu. Ayah berharap kamu bisa bijak dalam memutuskan masalah ini, jangan pernah berpikir bahwa semua laki-laki itu sama, kamu harus lihat Ayah dan Kak Reno. Ayah yakin pria yang kini berada di hadapanmu benar-benar tulus kepadamu (ucap Ayah Rena)
Lagi-lagi semua yang dilihat dan didengar oleh Rena, membuatnya tak bisa berkata apa-apa lagi. Sedangkan Alan, masih setia menunggu jawaban dari Rena.
“Kak.. aku... bersedia,” jawab Rena lirih.
Senyum mengembang di wajah Alan.
“Bisa kamu mengulanginya lagi,” pinta Alan.
“Maaf, enggak ada siaran ulang,” jawab Rena yang sudah tidak bisa lagi menahan malu akibat lamaran dadakan yang dibuat Alan.
Alan tersenyum bahagia. Ingin rasanya ia segera meraih dan memeluk tubuh wanita yang begitu dicintainya itu.
“Eits, Om Alan mau apa? Gak boleh peluk-peluk Mama ya, karena yang boleh memeluk Mama di sini cuma Haikal dan Kakak aja! Iya kan, Mah?” sahut Haikal yang dijawab anggukan oleh Rena yang membuat semua yang menyaksikan acara itu tertawa dibuatnya.
“Kamu pelit sekali, Rena,” gumam Alan yang hanya dijawab senyum oleh Rena.
“Baiklah, tapi izinkan aku memasangkan cincin ini ke jari manismu,” pinta Alan.
Rena pun menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, lalu ia menjulurkan tangannya pada Alan. Alan menerima uluran tangan itu, disentuhnya dengan lembut jemari tangan Rena, sebelum akhirnya Alan memasukan cincin itu ke jari manis dari wanita yang dicintainya itu.
Semua yang hadir di tempat itu bersorak sorai menyaksikan pemandangan dua insan yang ada di hadapan mereka. Ucapan selamat dan doa menyertai kebahagiaan yang ada di dalam hati dan sanubari Rena dan Alan.
***
Bersambung
Author juga mau ucapin selamat buat Alan, akhirnya diterima juga.
Terima kasih semua yang telah membaca cerita receh ini, tunggu dan nantikan cerita selanjutnya 😉 🙏🙏
Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, rate 5, komen, vote, dan tipsnya ya.. 😁😁😁
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
__ADS_1
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘😘