Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 50 CLBK


__ADS_3

Rena dan Dewa melangkah masuk ke ruangan tersebut setelah mendengar sahutan dari si pemilik ruangan. Di sana ia melihat Arka yang sedang duduk berada di depan meja kepala sekolah. Sedangkan, kepala sekolah yang ingin dijumpai Rena tampak sedang sibuk dengan laptopnya. Jika dari arah samping wajah kepala sekolah itu memang tampak tak asing bagi Rena. Lalu, ia pun melirik papan nama yang berada di atas meja kepala sekolah tersebut yang bertuliskan: Muhammad Faizal, M.Pd.


“Maaf, Pak, permisi,” sahut Dewa yang membuat sang kepala sekolah dan Arka menengok ke arahnya secara bersamaan.


Astaga, benar itu Kak Faiz. Wah, kalau begitu dunia ini memang benar-benar sempit, ya... (pikir Rena)


“Oh, Pak Dewa, dan ini...,” sahut Faiz mencoba memperhatikan dengan seksama wajah Rena.


“Bu Rena,” sambung Dewa.


“Rena?” sahut Faiz mengulang nama itu sambil mencoba mengingatnya.


“Benar, Pak, beliau ini juga alumni Kampus Pelangi,” jelas Dewa memamerkan senyum manisnya.


“Alumni Kampus Pelangi, ya?” tanya Faiz seraya memperhatikan penampilan Rena dari atas hingga ke bawah.


“Iya, Pak,” jawab Rena.


“Kamu itu Renata aja, kan?” tanya Faizal setelah ia benar-benar merasa yakin dengan dugaannya. Hal itu membuat Arka ikut menoleh dan memperhatikan Rena, lalu tersenyum ke arahnya.


“Benar, Pak, mungkin seperti itulah Bapak mengenal nama saya,” jawab Rena sembari memamerkan senyum manisnya karena merasa geli dengan tambahan kata ‘aja’ yang merupakan nama pemberian dari Alan.


“Kalau begitu, silakan duduk Bu Rena,” sahut Faizal.


“Baik, Pak, terima kasih,” ucap Rena.


“Kalau begitu saya permisi dulu, Pak. Urusan tadi, nanti kita bicarakan lagi,” sahut Arka sambil beranjak dari tempat duduknya.


Faizal hanya menganggukkan kepalanya sebagai isyarat persetujuannya atas perkataan Arka.


“Permisi, Bu Rena, saya pamit dulu, semoga kita bisa menjadi rekan kerja,” sahut Arka ramah.


“Iya, silakan Pak Arka, terima kasih,” sahut Rena.


“Saya juga pamit dulu, Bu Rena, semoga wawancaranya sukses dan kita bisa bergabung menjadi rekan kerja di sini,” ucap Dewa yang kemudian memberikan map merah yang berisi nilai-nilai tes Rena kepada Faizal.


“Ini Pak,” sahut Dewa.


“Terima kasih,” jawab Faizal.


Setelah Arka dan Dewa beranjak pergi dari ruangan itu Faizal pun mulai mewawancarai Rena.


“Santai saja Bu Rena,” sahut Faizal saat melihat Rena yang tampak gugup.


“Iya, Pak,” jawab Rena.


Sebelum memulai wawancaranya, Faizal pun membaca semua berkas yang diberikan oleh Dewa yang disimpannya dalam map merah. Di dalam map merah tersebut terdapat nilai-nilai dari hasil tes Rena beserta berkas persyaratan lamaran pekerjaan miliknya.


“Jadi, sebelumnya Ibu pernah mengajar di SMP Pelita Jiwa?” tanya Faizal.


“Benar, Pak, sebelumnya saya mengajar di SMP Pelita Jiwa selama kurang lebih sebelas tahun,” jawab Rena.

__ADS_1


“Waw, lama juga ya? Apa Ibu sudah sertifikasi?” tanya Faizal.


“Belum, Pak, karena pihak yayasan tempat saya mengajar dulu tidak memberikan izin untuk itu,” jawab Rena.


“Kok bisa? Apa alasannya?” tanya Faizal yang cukup penasaran dengan jawaban Rena.


“Entahlah Pak, saya juga kurang paham. Hanya yang saya dengar mekanisme untuk sertifikasi yang sekarang yang terlihat lebih ribet dari tahun-tahun sebelumnya yang membuat pihak yayasan tak memberikan izin untuk itu,” jawab Rena.


“Oo, begitu. Lalu kenapa Ibu berhenti dari sekolah itu? Apa Ibu memiliki masalah dengan pihak sekolah atau pihak yayasan?” tanya Faizal.


Rena mulai ragu untuk menjawab pertanyaan Faizal. Pertanyaan yang sesungguhnya sangat enggan untuk dijawabnya. Ia pun mulai menggigit bibir bawahnya, mencoba meyakinkan dirinya untuk menjawab pertanyaan itu.


“Saya tidak memiliki masalah apa pun Pak, baik dengan pihak sekolah maupun dengan yayasan. Mungkin, bisa dikatakan nasib saya yang kurang beruntunglah yang membuat saya terpaksa harus berhenti dari lembaga itu,” sahut Rena dengan nada parau dan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Maksud Ibu dengan nasib yang tidak beruntung itu apa maksudnya?” tanya Faizal yang semakin penasaran terlebih ketika dilihatnya ekspresi Rena yang mulai berubah.


“Di lembaga itu ada aturan bahwa suami istri yang sudah bercerai tidak boleh berada di satu yayasan yang sama karena itu dapat mengurangi kredibilitas sekolah di mata para wali siswanya. Bagi mereka perceraian itu adalah suatu aib, dan seharusnya seorang guru yang baik harus memberikan contoh yang baik pula kepada para siswanya,” sahut Rena dengan nada penuh kegetiran.


Mendengar jawaban Rena, Faizal merasa iba sekaligus tidak percaya jika ada lembaga yang memberikan aturan semacam itu. Menyangkut pautkan masalah personal dengan urusan kelembagaan. Menurutnya, perceraian bukanlah satu bentuk kejahatan atau aib yang dapat menyebabkan kredibilitas sekolah menurun di mata para wali siswanya.


“Maaf, kalau pertanyaan saya tadi mungkin kurang berkenan di hati Ibu dan menurut saya cara pandang mereka itu suatu bentuk kekeliruan. Tapi, biar bagaimana pun setiap lembaga punya hak dalam menyusun peraturannya sendiri. Lalu kira-kira apa Ibu siap mentaati segala peraturan yang ada di lembaga kami?” tanya Faizal.


“Insyaallah, selama itu masih dalam batas kewajaran, saya akan siap,” jawab Rena.


“Baik, lalu konstribusi apa yang bisa Ibu berikan kepada kami?” tanya Faizal.


“Apa pun untuk lembaga ini jika saya bisa melakukannya, akan saya lakukan dengan sebaik mungkin termasuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para siswa sehingga mereka akan merasa nyaman dan senang bersekolah di sini,” sahut Rena.


“Baguslah, kalau begitu, selamat bergabung Bu Rena dengan lembaga kami,” sahut Faizal.


“Iya,” jawab Faizal.


“Alhamdulillah, terima kasih Pak,” sahut Rena tersenyum senang.


“Sama-sama. Kalau begitu sekarang Ibu tinggal ke bagian HRD temui Bu Maya dan urus segala hal yang berkaitan dengan kontrak kerja Ibu di lembaga ini,” sahut Faizal.


“Baik, Pak, sekali lagi terima kasih,” sahut Rena.


“Iya, sama-sama,” sahut Faizal.


“Kalau begitu saya permisi dulu,” sahut Rena beranjak pergi dari ruangan Faizal dengan wajah yang ceria.


Setelah Rena pergi, Faizal pun membaca kembali berkas lamaran Rena.


“Sepertinya ini akan sangat menarik,” sahut Faizal pada dirinya sendiri dengan mengulas senyum di bibirnya.


***


Setelah Rena menyelesaikan segala urusannya yang berkaitan dengan kontrak kerjanya di bagian HRD, ia pun bergegas keluar dari gedung yang letaknya bersebelahan dengan gedung SMP. Namun, sebelum ia melangkah terlalu jauh, suara teriakan seseorang menghentikan langkah kakinya.


“Rena, tunggu!” sahut seseorang yang wajahnya cukup dikenali oleh Rena.

__ADS_1


“Kak Iyus?” tanya Rena.


Ya Tuhan, lagi-lagi alumni Kampus Pelangi ada di sini. Apa ini sekolah Kampus Pelangi, ya? (pikir Rena)


“Ternyata kau masih mengenaliku?” tanya Iyus saat sudah berada dekat dengan Rena.


“Iya tentu, siapa juga yang bisa lupa dengan Kakak Kelas yang gokil dan suka marah-marah kayak Kakak,” sahut Rena mengingat kelakuan Kakak kelas di depannya itu.


“Dan yang paling tampan tentunya,” sahut Iyus.


“Ih, PD sekali Anda,” cibir Rena.


“Hahaha, ternyata benar ya, kamu itu masih seperti dulu jutek tapi menggemaskan,” sahut Iyus yang ditanggapi dingin oleh Rena.


“O,ya, bagaimana hasil wawancaranya diterima?” tanya Iyus.


“Dari mana Kakak tau saya habis wawancara?” tanya Rena.


“Dari Arka dan Dewa,” jawab Iyus singkat.


“Ooo, gitu, terus Kakak sendiri ngajar di sini juga?” tanya Rena.


“Iya,” jawab Iyus.


“ Serius?” tanya Rena.


“Ciyus,” jawab Iyus sok imut.


“Berarti guru-guru di sini kebanyakan dari Kampus Pelangi dong?” tanya Rena.


“Memang. Teman kamu juga ngajar di sini, kok,” sahut Iyus membuat Rena membelalakan matanya karena kaget.


“Siapa?” tanya Rena tak percaya.


“Novi,” jawab Iyus.


“Beneran Kak Yus ?” tanya Rena masih tak percaya dengan ucapan Iyus.


“Bener, tapi dia ngajar di SD. Kalau kamu mau CLBK ke sana aja,” jawab Iyus.


“CLBK ? Maksudnya?” tanya Rena.


“Lupa? CLBK, Ceman Lama Berkumpul Kembali,” sahut Iyus tersenyum membuat Rena ikut tersenyum mengingat kejadian 15 tahun lalu saat dirinya masih bersama Novi dan Rindu.


Novi, Rindu, aku benar-benar merindukan kalian (batin Rena)


Tanpa terasa air mata Rena pun menetes karena perasaan rindunya pada kedua sahabat yang telah lama tidak dijumpainya.


***


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, dan votenya. Author sayang kalian semua..


Semoga sehat selalu...


__ADS_2