
Setelah mendengar pengakuan dari Yuna, Faizal pun meminta Yuna dan Jessi ke kantornya untuk menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya mengenai masalah mereka dengan Rena. Yuna dan Jessi pun menjelaskan semuanya, termasuk informasi yang Jessi dapatkan dari Melinda.
“Jadi, kalian curiga kalau Pak Dewa dan Bu Rena itu ada hubungan?” tanya Faizal memandang Yuna dan Jessi, sambil sesekali melemparkan pandangannya ke arah Alan dan Arka yang sedari tadi ikut menyimak.
“Iya, Pak,” jawab Yuna sedikit takut, terutama saat Faizal menampakkan senyum sinisnya.
“Pak Arka, tolong panggilkan Pak Dewa kemari,” seru Faizal pada Arka.
“Baik, Pak,” Arka pun berlalu meninggalkan ruangan Faizal untuk memanggil Dewa.
Sejenak keheningan melanda ruangan itu, namun keheningan itu tidak terjadi dalam diri Alan. Batinnya bergemuruh, dipenuhi dengan amarah yang sedari tadi coba ditahannya. Tangannya terkepal, hatinya ikut merasa sakit. Betapa tidak, sejujurnya bukan hanya Rena, dirinya pun sangat marah saat mendengar wanita yang dicintainya itu dipanggil dengan wanita penggoda hanya karena kecurigaan yang tak beralasan serta kabar yang belum jelas kebenarannya.
Dewa pun memasuki ruangan itu dengan raut wajah yang dipenuhi berjuta pertanyaan, saat ia melihat istrinya dan Jessi juga berada di ruangan itu.
“Ada apa ini, Pak?” tanya Dewa.
“Duduklah, Pak Dewa,” ucap Faizal saat Dewa terlihat masih berdiri.
“Baik, Pak, terima kasih,” sahut Dewa yang kemudian memilih duduk dekat Yuna dan Faizal.
“Pak Dewa, apa benar tadi Bu Rena dari ruangan Bapak?” tanya Faizal.
“Benar, Pak,” jawab Dewa.
“Berapa lama?” tanya Faizal.
“Hanya sebentar. Dia ke ruangan saya hanya untuk mengambil buku-buku yang akan dibutuhkannya selama ***. Memang ada apa, Pak?” tanya Dewa yang merasa heran dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Faizal.
“Bu Yuna, istri Bapak curiga, kalau Bu Rena tadi ke ruangan Bapak untuk menggoda Bapak,” tutur Faizal.
“Apa?! Astaga, Yuna, kamu benar-benar keterlaluan!” ucap Dewa kaget dan langsung membentak istrinya di depan semua orang yang berada di kantor itu. Ia pun menajamkan matanya kepada istri yang kini berada di sampingnya.
“Ma-maaf, Mas,” ucap Yuna yang hampir menangis mendengar bentakan Dewa.
Faizal pun kemudian menceritakan semua informasi yang diperolehnya dari Yuna dan Jessi mengenai Rena kepada Dewa, termasuk alasan Yuna sampai bisa berpikir kalau Rena ke ruangan Dewa untuk menggodanya. Dewa sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saat mendengar penuturan dari Faizal mengenai Rena. Sebelum akhirnya, ia mengklarifikasi semuanya.
“Saya akui saya memang pernah dekat dengan Bu Renata dan menaruh hati kepadanya. Tapi itu dulu, sebelum dia menikah dengan Pak Rayhan. Adapun alasan saya keluar dari sekolah itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan saya terhadap Bu Rena. Saya keluar karena saya memiliki masalah dengan pemilik yayasan tersebut,” ujar Dewa.
“Adapun dengan masalah Bu Rena, setahu saya dari cerita Bu Rena sendiri, dia keluar karena aturan yang kurang adil dari lembaga tempat dia mengajar dulu. Aturan yang mengharuskan salah satu pihak yang bercerai untuk mengundurkan dari diri lembaga tersebut. Sedangkan, alasan lembaga itu lebih mempertahankan mantan suaminya itu karena mantan suaminya adalah laki-laki yang akan menjadi tulang punggung keluarga, sama sekali bukan karena Bu Rena selingkuh atau sejenisnya. Apalagi saya yakin Bu Rena bukan orang seperti itu,” tegas Dewa.
“Kenapa Mas bisa yakin seperti itu? Memang Mas tahu kehidupan pribadinya Bu Rena?” tanya Yuna yang sedikit kurang suka dengan sikap suaminya yang terkesan membela Renata.
“Saya memang tidak tahu dengan kehidupan pribadinya, tapi dari karakternya saya tahu dia bukanlah perempuan seperti yang dituduhkan oleh istri dan kakak ipar saya. Lagi pula saya rasa kita tidak perlu terlalu ikut campur dengan kehidupan pribadinya,” ucap Dewa penuh penekanan.
“Benar, saya setuju dengan Pak Dewa. Jadi, Bu Yuna, Bu Jessi, saya harap kalian bisa meminta maaf pada Bu Rena karena telah menuduhnya tanpa bukti,” ujar Faizal.
“Baik, Pak,” sahut Yuna dan Jessi hampir bersamaan.
Setelah proses interogasi selesai, Yuna, Jessi, Arka, dan Dewa pun meninggalkan ruangan Faizal.
“Ya Tuhan, kenapa semua masalah itu justru terjadi di hari pertama Rena mengajar di sini?” ucap Alan geram.
__ADS_1
“Maafkan aku, Lan. Aku juga tidak menyangka kalau Rena akan mengalami masalah seperti ini di hari pertamanya mengajar di sini. Aku harap dia akan kuat dan bisa bertahan di tempat ini,” ujar Faizal.
“Kalau aku tidak memandang Arka dan Dewa, sudah aku suruh kamu untuk memecat Yuna hari ini juga karena kata-katanya itu sudah sangat keterlaluan,” ucap Alan geram yang membuat Faizal hanya bisa tersenyum. Ia tidak menyangka kalau sahabatnya itu akan menunjukkan kekuasaannya itu demi wanita yang dicintainya.
“Sudahlah, Alan. Setidaknya Yuna sudah mendapatkan tamparan yang cukup keras dari Rena atas perkataannya yang lancang itu,” ucap Faizal.
“Baiklah, kamu benar. Tapi, tolong aku minta kamu mengawasi mereka berdua. Aku masih belum bisa percaya sepenuhnya dengan dua orang itu. Selain itu, aku harap masalah ini jangan sampai terdengar oleh orang lain, termasuk juga oleh Rena sendiri. Aku tidak ingin dia bersedih karena tahu orang-orang mempergunjingkannya,” tegas Alan.
“Siap, Bos,” ucap Faizal.
***
Teeeet....teeeeeet.... teeeeeet....
Bel tanda berakhirnya kegiatan belajar mengajar di sekolah pun berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar dengan membawa tas mereka. Rena masih tampak layu, pikirannya masih tertuju pada kejadian beberapa jam yang lalu saat dirinya terlibat pertengkaran dengan Yuna.
Enggan rasanya kaki Rena menginjak ruang guru, meski hanya untuk sekedar berpamitan dengan guru-guru yang lain. Ia pun akhirnya memutuskan hanya melewati tempat itu saja.
“Rena,” sapa seseorang yang suaranya sangat dikenal oleh Rena.
“Kak Alan,” sahut Rena pada laki-laki yang menyapanya barusan.
“Senang bisa bertemu kamu di sini,” ucap Alan tersenyum manis.
“Iya, aku memang mengajar di sini. Kak Alan sendiri apa mengajar di sini juga?” tanya Rena.
“Tidak, aku ke sini hanya ingin mengunjungi Faizal saja,” jawab Alan bohong.
“Kenapa? Kok kelihatannya kecewa?” goda Alan.
“Siapa yang kecewa?” bantah Rena.
“Kamu,” sahut Alan.
“Dari mana kecewanya?” sahut Rena.
“Dari muka kamu?” goda Alan lagi.
“Jangan konyol deh! Mana mungkin muka aku bisa bilang, kalau aku kecewa kamu enggak ngajar di sini,” sahut Rena ketus.
“Tuh, tadi kamu sendiri yang bilang, masih enggak mau ngaku?”
“Apaan sih..?” tanya Rena heran.
“Nih, dengar ya,” ucap Alan sembari memutar rekaman yang terdapat dalam ponselnya.
......Aku kecewa kamu enggak ngajar di sini (rekaman suara Rena)
“Dih, bisa banget. Rekaman itu kan hanya separuh ucapanku,” sahut Rena sinis.
“Jadi, bener kamu enggak kecewa?” goda Alan.
__ADS_1
“Enggak,” jawab Rena penuh penekanan.
“Baiklah, hari ini mungkin kamu belum merasa kecewa karena meskipun aku tidak mengajar di sini kamu masih bisa bertemu denganku hari ini,” ucap Alan.
“Maksudnya?” tanya Rena bingung.
“ Tidak ada maksud apa-apa. Oh ya, kamu pulang naik apa? Biar aku antar sekalian,” ajak Alan.
“Tidak usah, aku tidak mau merepotkan Kakak,” tolak Rena.
“Tidak repot,kok. Rumah kita kan searah,” ucap Alan.
“Tapi---,” ucap Rena menggantung.
“Ayolah,” bujuk Alan.
“Baiklah,” sahut Rena.
Rena dan Alan pun keluar dari gedung SMP bersama-sama. Begitu sampai di luar, sudah ada Hana dan Haikal yang sedang menunggu Rena.
“Mamah,” panggil Hana dan Haikal.
“Halo, Sayang,” sahut Rena sembari berjalan mendekati kedua anaknya yang diikuti oleh Alan.
“Halo, Om Alan,” sapa Haikal dan Hana.
“Halo juga,” balas Alan.
“Om, mengajar di sini juga?” tanya Hana.
“Enggak, Om ke sini sengaja mau jemput kalian,” jawab Alan yang mendapat tatapan tajam dari Rena.
“Senang, enggak?” tanya Alan sambil melirik ke arah Rena.
“Senang, Om,” jawab Haikal dan Hana serempak.
“Kalau gitu.. Ayo ikut, Om!” ucap Alan sembari menggendong Haikal.
Haikal pun tampak senang digendong oleh Alan. Begitu pula dengan sang Kakak, Hana, meski tidak digendong Alan, ia tetap merasa senang karena Alan mau menjemput mereka di sekolah barunya.
***
Bersambung
Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.
Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘
__ADS_1
Terima kasih 🙏🙏🙏