Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 17 Kenangan Pilu


__ADS_3

Pekan Orientasi Mahasiswa tingkat fakultas yang ada di Kampus Pelangi sekarang sudah memasuki hari kelima. Cuaca hari ini nampak cerah. Awan putih menghias langit yang biru, diiringi semilir angin yang memberi kesejukan pada setiap insan yang merasakannya.


Di sana, di bawah pohon yang rindang, tempat yang sering disebut DPR oleh para penghuni kampus, tampak Rena yang sedang duduk menunggu teman-temannya yang belum datang.


Rena memiliki rambut hitam yang panjang dan sedikit bergelombang. Rambut itu hari ini dibiarkannya terurai. Perawakannya tidak terlalu tinggi tapi juga tidak terlalu pendek. Kulitnya putih. Wajahnya meski tak terlalu cantik, tapi entah jika semakin sering dilihat wajahnya tampak semakin manis.


"Ke mana mereka jam segini belum ada yang datang?" gumam Rena melirik ke jam yang ada di tangan kirinya.


"Rena, kita ke lapangan, yuk," ajak Aisyah yang tiba-tiba datang menghampiri Rena.


"Aisyah, bikin kaget aja, hayu," Rena pun menerima tawaran Aisyah.


Mereka berdua berjalan menuju lapangan yang letaknya berada di tengah-tengah kampus. Hari itu di lapangan tersebut akan diadakan pertandingan sepak bola.


Tim yang akan bertanding dalam pertandingan sepak bola tersebut ada delapan tim. Tim tersebut dibentuk oleh panitia orientasi. Tim yang terdiri dari beberapa mahasiswa lama dan mahasiswa baru ini beranggotakan 18 orang. Tim tersebut sudah dibentuk sekitar dua hari yang lalu dan nama anggotanya telah ditempel di mading.


Setiap tim berjumlah 18 orang, dengan rincian 11 orang pemain inti termasuk di dalamnya penjaga gawang dan 7 orang lainnya pemain cadangan, anggotanya dipilih panitia dari berbagai program studi yang berbeda. Hal itu dilakukan agar semua mahasiswa bisa saling mengenal dan dekat antar satu dengan lainnya.


Sebelumnya, 8 tim tersebut sudah bertanding. Dari pertandingan tersebut tersisa 4 tim lagi. Keempat tim tersebut masuk ke babak final, 2 tim untuk memperebutkan posisi nomor 3, dan 2 tim lagi untuk memperebutkan posisi 1 dan 2.


Pertandingan pertama adalah pertandingan memperebutkan posisi nomor 3. Tim yang bertanding adalah tim "Maung Ganas" yang dikomandoi oleh Kak Dewa, dan tim "Singo Waras" yang dikomandoi oleh Kak Iyus. Seharusnya tim "Singo Waras" ini dikomandoi oleh Kak Abi. Namun, sehari sebelum pertandingan dimulai, Kak Abi mengalami kecelakaan yang terbilang lumayan parah.


" Sayang ya, Kak Abi gak bisa ikut bertanding," kata Aisyah.


"Benar banget Ais, kalo Kak Abi ikut pasti pertandingan akan lebih seru," sahut Rena.


"Kira-kira gimana keadaan Kak Abi sekarang ya?" tanya Rena.


"Entahlah Rena, yang aku dengar dari temannya Kak Abi, kecelakaan yang menimpa Kak Abi  kemarin lumayan parah, bahkan..." ucap Aisyah menggantung.


"Bahkan apa?" tanya Rena penasaran.


"Kak Nena, pacarnya Kak Abi meninggal dalam kecelakaan maut itu," sahut Aisyah melemah, menandakan keprihatinannya atas musibah yang menimpa Abi.


"Astaga," ucap Rena tak percaya.


Rena tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi apalagi pada usia yang masih muda. Meskipun bukan pacar, hanya teman. Namun, rasa sakit akan kehilangan orang yang kita sayang masih membekas di hati Rena hingga sekarang. Bahkan kenangan pilu itu sampai saat ini masih sulit dilupakan Rena.


Flashback on


Waktu SMA dulu Rena memiliki seorang teman yang cukup dekat dengannya. Ke mana-mana, dia selalu pergi berdua dengannya. Temannya itu bernama Dini.


Pertemanan mereka dimulai saat mereka sama-sama menjadi anak ansol alias anak solar yang ke sekolahnya pulang pergi naik bus. Selain itu, mereka juga sama-sama penyuka film Asia, salah satunya "Meteor Garden" tentunya.

__ADS_1


Pernah suatu ketika mereka bertengkar gara-gara Rena lupa mengembalikan majalah kepunyaan Dini, padahal hari itu dia berjanji akan mengembalikan majalah itu. Akan tetapi Rena benar-benar lupa dan karena itulah dia didiamkan oleh Dini selama beberapa hari.


Dini paling benci sama orang yang tidak bisa menepati janji. Sejak saat itu, Rena pun selalu berusaha mengingat dan menepati akan semua janjinya. Ia pun mulai menjalani hidupnya dengan penuh komitmen.


Suatu hari, ia menerima pesan di ponselnya dari Dini.


Na, lagi di mana? (Dini)


Masih di rumah. Lagi sarapan. (Rena)


Hah, masih di rumah! Jam segini masih sarapan!


Mo datang jam berapa lo ke sekola?! (Dini)


Hehe.. Biasalah siswa teladan. (Rena)


Udah, cepetan! Bus gue udah mo nyampe di tempat lo, nih.. (Dini)


Ya udah duluan aja, gak akan keburu kali.. kecuali kalo gue Gundala yang bisa lari secepat kilat  (Rena)


Oke, gue duluan, jangan kangen lo ya, sama gue! Bye! (Dini)


Gak akan! Gue gak akan kangen sama nenek lampir kaya lo, hehe... (Rena)


Dasar, gak ketemu gue lagi baru tau rasa lo !!😛(Dini)


"Mah, Rena berangkat dulu, ya," ucap Rena sembari mencium punggung tangan Mamahnya.


"Hati-hati ya, Nak, " ucap sang Mamah.


"Iya, Mah. Assalamualaikum..," sahut Rena begitu keluar dari rumahnya.


"Waalaikumsalam," sahut Mamah.


Saat di depan jalan, Rena melihat bus yang sudah melaju kencang di depannya.


"Yah, kayaknya itu deh bus yang dinaikin Dini," gumam Rena.


Tak lama setelah kepergian bus tersebut, Rena melihat bus lain berada di belakangnya. Ia pun menyetop bus tersebut, lalu menaikinya.


Entah kenapa sepanjang perjalanan perasaan Rena sangat tidak enak. Apalagi secara tiba-tiba bus yang ditumpangi Rena berhenti.


"Bang, kenapa berhenti?" ucap seorang ibu, salah satu penumpang yang ada dalam bus.

__ADS_1


"Macet, Bu, katanya di depan ada kecelakaan," jawab Pak kondektur.


Degh!


Mendengar kata 'kecelakaan' jantung Rena berdetak lebih cepat. Firasat buruk menghampirinya. Entah kenapa ia ingin sekali turun dari bus dan melihat kecelakaan itu secara langsung.


"Bang, berhenti di sini, ya," ucap Rena.


'O, iya, Neng, hati-hati turunnya! Pakai kaki dulu ya..." canda Pak Kondektur.


Rena pun lekas turun dari bus itu. Ia setengah berlari, menghampiri tempat terjadinya kecelakaan tersebut. Di sana Rena melihat orang-orang sedang berkerumun.


"Bang, ada kecelakaan apa ya?" tanya Rena pada laki-laki yang baru saja dari tempat kejadian.


"Itu, Neng, tadi ada truk yang menabrak sebuah bus," jawab laki-laki.


Badan Rena langsung lemas mendengar itu. Namun, ia tetap memberanikan diri untuk melihat korbannya langsung.


Saat tiba di tempat kejadian. Ia melihat beberapa orang sedang mengangkat seorang gadis yang memakai seragam yang sama dengannya. Ia pun langsung berlari menghampiri orang-orang itu.


"Permisi, Pak, saya mau lihat korbannya dulu," sahut Rena saat melihat orang-orang itu akan menaikkan korban tersebut ke dalam mobil ambulans.


“Silakan Neng,” sahut seorang Bapak yang sedang membantu menggendong tubuh gadis itu.


Rena mendekat ke arah orang-orang itu agar bisa melihat dengan jelas sosok yang mereka bawa. Air mata Rena tumpah seketika. Firasat menakutkan yang ia rasakan ternyata benar. Ia melihat sosok sahabat yang begitu disayanginya bersimbah darah.


"Dini!!" Rena setengah berteriak. Tangisnya tidak dapat dibendung lagi. Air mata melimpah


ruah seketika mengalir di pipinya yang putih.


"Neng, kenal?" tanya salah satu dari mereka.


"Iya, Pak, hiks hiks... Dia, dia teman sekolah saya. Tolong selamatkan dia, hiks hiks..!" sahut Rena yang terus menangis memandang tubuh Dini yang tampak kaku. Dengan darah yang tidak berhenti mengalir di sekitar kepalanya hingga membasahi seragam sekolah yang dikenakannya.


"Sabar, ya Neng! Sepertinya teman Eneng sudah tidak bisa diselamatkan," ucap salah satu dari laki-laki yang membawa tubuh Dini.


"Apa?! Gak mungkin! Dini, bangun Dini! Dini bangun, Dini, hiks hiks!" teriak Rena sesak, namun tubuh itu tidak menjawab. Hanya pesan terakhir Dini yang berulang kali terngiang di kepalanya.


Dasar! Gak ketemu gue lagi baru tahu rasa lo!! (pesan terakhir Dini)


Pandangan Rena seketika menjadi gelap dan ia pun tak sadarkan diri.


Flashback off.

__ADS_1


****


Bersambung


__ADS_2