
Abi mengantarkan Felisa dan Alan ke rumah sakit untuk memeriksakan kondisi Alan pasca terjadinya kecelakaan. Sesampainya di rumah sakit, Alan pun diperiksa oleh dokter yang sedang berjaga saat itu.
Alan diberikan beberapa pertanyaan oleh dokter tentang berbagai keluhan yang dirasakannya setelah terjadinya kecelakaan. Setelah itu beberapa tes pun dilakukan guna memastikan kondisi Alan baik di luar maupun di dalamnya benar-benar dalam keadaan sehat dan baik-baik saja.
“Syukurlah, ternyata hanya patah tulang saja. Itu pun tidak terlalu parah yang penting selama proses penyembuhan, Kak Alan tidak boleh banyak bergerak. Kalau Kak Alan ingin cepat sembuh tentunya,” ucap Felisa sesaat setelah mendengarkan penjelasan dokter mengenai kondisi Alan.
“Iya, baiklah. Tapi, bagaimana caranya kakakmu ini makan kalau tidak boleh banyak bergerak?” tanya Alan.
“Nanti, Feli yang suapin deh. Atau mau Feli panggilkan Bu guru kesayangannya kakak? ” goda Felisa yang hanya ditanggapi senyuman oleh Alan.
“Ehem,” deheman Abi menghentikan percakapan kakak beradik itu.
“Gimana kalau obrolan kalian dilanjutkan nanti saja? Sekarang hari sudah semakin larut sebaiknya kita pulang,” ajak Abi.
“Oh ya, kau benar hari sudah semakin larut sebaiknya kita pulang saja,” sahut Alan.
Mereka bertiga pun keluar dari rumah sakit menuju halaman parkir, tempat mobil Abi diparkirkan. Kali ini Alan yang duduk di samping Abi, sedangkan Felisa duduk di kursi bagian belakang sendirian.
Dari balik kaca spion, Abi tampak memperhatikan Felisa yang sedari tadi terlihat menguap.
Gadis itu pun sepertinya tidak bisa lagi menahan kantuknya. Ia pun menyenderkan tubuhnya di kursi penumpang dan larut dalam buaian mimpi.
Kasihan sekali sepertinya dia benar-benar kelelahan (ucap Abi dalam hatinya).
“Abi,” panggil Alan.
“Hemm,” jawab Abi.
“Kamu kok tadi bisa datang sama Feli?” tanya Alan yang sedari menahan rasa penasaran melihat adik dan sahabatnya datang bersama-sama.
“Oh, itu. Tadi kebetulan aku sedang mencarimu ke rumah. Tapi, Feli bilang kamu belum pulang dan dia sepertinya sangat mengkhawatirkanmu. Jadi, kutemani saja dia untuk mencarimu,” jelas Abi.
“Oh, seperti itu. Memang ada apa kamu tiba-tiba mencariku?” tanya Alan.
“Aku ingin membicarakan masalah acara reuni kita nanti karena Faiz bilang kamu ingin memasukan acara tambahan di acara reuni itu,” sahut Abi.
“Faiz benar. Aku memang ingin memasukan acara tambahan dalam acara reuni kita nanti. Maaf, aku lupa memberitahumu. Mungkin karena aku terlalu bersemangat untuk hal ini,” jawab Alan.
“Memang kamu ingin mengadakan acara apa?” tanya Abi.
“Aku ingin membuat sebuah persembahan,” jawab Alan.
“Persembahan? Untuk ?” tanya Abi.
“Untuk melamar seseorang,” jawab Alan santai.
“Apa?! Yang benar?” tanya Abi kaget dan tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“Tentu saja benar,” jawab Alan.
__ADS_1
“Oke, kalau begitu siapa wanita yang ingin kamu lamar? Apa wanita itu masih satu kampus dengan kita?” tanya Abi.
“Iya, tentu saja. Tidak mungkin aku melamar seorang wanita di acara reuni kita, jika wanita itu bukan peserta acara tersebut,” ucap Alan.
“Kalau begitu siapa dia? Apa aku mengenalnya?” tanya Abi.
“Entahlah, aku tidak tahu kamu mengenalnya atau tidak. Tapi, yang jelas wanita itu adik kelas kita. Namanya Re-na-ta,” jawab Alan.
“Renata?” tanya Abi.
“Iya, Re-na-ta,” jawab Alan memberi penekanan pada setiap katanya.
“Yang mana ya? Sepertinya nama itu tidak asing,” tanya Abi.
“Memang tidak asing. Coba saja kamu ingat-ingat! Kalau sudah ingat aku yakin kamu pasti mengenalnya,” ucap Alan.
Abi pun mulai mencoba mengingat nama itu. Namun, sebelum ia bisa mengingat nama tersebut, kendaraan yang dikemudikannya sudah sampai di rumah Alan.
“Terima kasih, Bi. Kamu telah mengantarkan kami sampai ke rumah. Maaf, jika hari ini aku dan Feli banyak sekali merepotkanmu,” ucap Alan.
“Sudahlah, kamu tidak perlu merasa sungkan,” sahut Abi.
Sebelum membuka pintu mobil, Alan pun menoleh ke belakang. Ia melihat adiknya sedang tertidur pulas di atas kursi penumpang. Alan pun menghela napasnya panjang.
“Felisa, Feli, sudah sampai,” sahut Alan membangunkan Felisa, namun Felisa masih juga tidak mau bangun.
“Feli, Felisa bangun,” seru Alan.
“Emm, apa sih Kak? Masih ngantuk nih,” sahut Felisa dengan mata yang masih terpejam.
“Ada apa, Lan?” tanya Abi.
“Anak ini susah sekali dibangunkannya,” sahut Alan.
Abi pun keluar dari mobilnya. Lalu, ia menghampiri Alan dan mencoba membangunkan Felisa.
“Feli, bangun sudah sampai,” sahut Abi. Namun, Felisa masih juga belum mau bangun.
“Anak ini susah sekali dibangunkannnya,” keluh Abi.
Abi pun terus memperhatikan Felisa yang masih menikmati tidurnya.
Ternyata kalau tidur sedang seperti ini dia semakin terlihat cantik (pikir Abi).
“Bi, keliatannya Felisa sedang sulit untuk dibangunkan. Bagaimana kalau kamu bantu aku menggendongnya saja,” pinta Alan.
“Baiklah,” jawab Abi.
Meskipun, ragu Abi mengikuti keinginan Alan. Dengan hati-hati, ia menggendong Felisa menuju kamarnya yang terletak di lantai 2. Setelah membaringkan tubuh Felisa di atas ranjangnya, Abi pun segera melangkah keluar dari kamar gadis itu. Namun, saat keluar langkahnya terhenti ketika melihat foto dirinya yang penuh dengan coretan.
__ADS_1
Di lembaran foto itu tertulis kata-kata umpatan yang dituliskan Felisa untuk dirinya.
ABI JAHAT !!! ES BALOK NYEBELIN... NGESELIN!!! RESE ...!!! SUPER TEGA!!!
Melihat fotonya dicoret sedemikian rupa dengan tambahan berbagai umpatan, Abi justru tidak menunjukkan ekspresi kemarahannya. Senyum manis malah tampak di wajahnya yang masih terlihat tampan diusianya yang kini tengah menginjak 34 tahun.
Abi kembali mengingat kejadian yang terjadi antara dirinya dengan Felisa tadi pagi.
Flashback on
Pagi itu seperti biasa Felisa selalu datang dengan wajahnya yang ceria. Sapaan dan senyum ramah selalu ditujukan Felisa kepada siapa pun yang berpapasan dengannya tanpa terkecuali.
Berbeda dengan Felisa yang menebarkan kehangatan dengan raut wajahnya yang manis. Kedatangan Abi justru mengundang nuansa yang berbeda di kampus itu. Wajahnya yang dingin dan tak pernah menunjukkan sikap ramah membuat siapa pun yang berpapasan dengannya dan tak begitu mengenali sifatnya hanya bisa menundukkan kepalanya sebagai bentuk rasa hormat kepada orang yang memegang jabatan sebagai Asisten Rektor 1 di kampus tersebut. Tak ada satu pun yang berani menatap matanya yang tajam setajam mata elang.
Hari itu entah kesialan apa yang menimpa Felisa yang tanpa sengaja menabrak Abi yang kala itu berpapasan dengannya saat sedang membawa beberapa berkas penting miliknya.
“Aduh, Pak! Maaf,” ucap Felisa saat dirinya menabrak Abi dan membuat berkas-berkas yang dibawa Abi berserakan di lantai.
Abi pun menatap Felisa dengan wajahnya yang sangar dan tatapan mata yang penuh kemurkaan. Saat itu juga Abi mendorong Felisa ke tepi tembok.
“Kamu itu kalau jalan pakai mata!” bentak Abi.
“Ma-maf, Pak,” ucap Felisa ketakutan.
“Sekarang, ambil dan bereskan kembali berkas-berkas itu! Saya tidak ingin melihat ada yang berkas yang hilang dan kotor karena ulahmu!” sahut Abi dengan nada tinggi.
Setelah mengatakan itu, Abi pun berlalu meninggalkan Felisa yang dipenuhi rasa ketakutan. Felisa segera mengambil dan merapikan kembali berkas-berkas Abi yang tadi berserakan di lantai karena ulahnya. Sungguh sial nasibnya hari itu, di saat ia sedang sibuk merapikan berkas-berkas itu tiba-tiba saja semilir angin datang menghampirinya dan menerbangkan sebagian lembaran kertas yang ada dalam berkas-berkas tersebut.
“Yah,” Felisa pun berlari memburu kertas-kertas yang terbang itu sebelum akhirnya terjatuh pada genangan air yang ada di sekitar kampus.
Kejadian itu tentu saja membuat lembaran itu kotor dan itu artinya mau tidak mau Felisa harus menyalin isi yang ada dalam di kertas itu. Sedangkan, bagi kertas yang di dalamnya sudah dibubuhi tanda tangan para pejabat kampus, Felisa harus meminta ulang tanda tangan tersebut. Butuh kerja keras bagi Felisa untuk bisa mengerjakan itu semua.
Flashback off
“Kamu pasti sangat lelah hari ini, seharian aku mengerjai kamu di kampus. Sekarang, kamu harus sibuk mencari dan menemani kakak kamu ke rumah sakit,” ucap Abi pelan sambil mengusap wajah Felisa lembut.
Dari kejauhan, Alan memperhatikan tingkah sahabatnya itu. Seulas senyum terukir di wajahnya kala dirinya melihat pemandangan yang tak biasa ia lihat sebelumnya.
***
Bersambung
Kapan Rena menjenguk Alan? 🤔🤔
Tunggu aja di part berikutnya 😁😁
Terima kasih semua sudah membaca karya author ini. ❤️❤️❤️
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan like, rate 5, vote, dan komennya 😘😘😘
__ADS_1