Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 20 Terluka


__ADS_3

Sesampainya di UKS, Rena pun didudukan di atas ranjang yang ada di ruangan itu. Kemudian luka memarnya diberi salep pereda memar oleh Alan yang memang cukup hafal dengan tempat itu,


sedangkan yang lainnya hanya berdiri memperhatikan Alan yang sedang mengobati


luka memar Rena dengan sangat hati-hati.


Posisi Alan saat itu sangat dekat dengan Rena hingga wangi parfum di tubuh Alan pun dapat tercium oleh Rena, meski wangi tersebut sudah bercampur dengan keringat Alan.


Hal itu kembali mengingatkan Rena dengan kaos Alan yang pernah dipakainya dulu yang mengeluarkan wangi yang sama dengan yang dulu pernah diciumnya. Ia selalu merasa malu setiap kali mengingat itu. Bahkan, ia tidak berani mengembalikan kaos itu langsung pada Alan. Ia


hanya menitipkan kaos itu lewat Iyus.


Jantung Rena terus berdegup kencang tak karuan. Entahlah perasaan apa yang ia rasakan, Rena pun tak memahaminya. Ia hanya bisa terpaku menatap Alan yang dengan begitu lembut mengoleskan salep ke bagian kepalanya yang terasa sakit dan mulai membiru.


"Iya, sudah selesai,” ucap Alan sambil meletakan kembali salep tersebut ke tempatnya.


"Makasih, Kak," sahut Rena.


"Gimana rasanya, udah baik kan?" tanya Arka.


Rena kembali menjawab dengan anggukan, entah mengapa lidahnya seolah sulit digerakkan jika berhadapan dengan Arka.


"Sekali lagi aku minta maaf ya atas kejadian tadi dan kalau kamu ingin ke dokter, aku bersedia untuk


mengantarnya," ucap Arka bersungguh-sungguh.


"Tidak usah, Kak. Hanya luka memar ini, sebentar lagi juga baik kan, kok," sahut Rena.


"Iya sudah, aku pamit dulu," ucap Arka meninggalkan Rena dan teman-temannya di UKS, tapi sebelum beranjak keluar ia pun menghampiri Alan


"Thanks ya, Bro. Sudah membantuku mengobati Rena dan selamat atas kemenangannya," ucap Arka sambil menjabat tangan Alan.


"Santai saja dan terima kasih juga sudah mau mengalah saat pertandingan tadi," ucap Alan.


"Mengalah? Mengalah apanya? Ada-ada aja kamu! Aku sampai babak belur kayak gini masih dibilang


mengalah," sahut Arka agak kesal sambil memukul lengan Alan sebelum meninggalkan ruangan itu.


Alan terkekeh menanggapi kesewotan sahabatnya itu. Setelah Arka pergi, ia pun ikut pamit meninggalkan Rena dan teman-temannya.


"Aku juga pamit ya," ucap Alan.


"Iya, makasih banyak ya, Kak. Udah mau bantuin kita," sahut Rindu.


"Iya Kak, makasih," sambung Novi


"Aduh, ada angin apa nih jadi banyak banget yang ngucapin terima kasih?" tanya Alan.


"Angin surga, Kak," jawab Aisyah.


"Ya udah, sekali lagi aku pamit. Rena, cepat sembuh, ya! Assalamualaikum," sahut Alan sambil


meninggalkan ruangan itu.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruangan itu serempak.

__ADS_1


Begitu Alan dan Arka sudah tak terlihat lagi, Rindu pun berteriak histeris.


"Renaaaa!!! Mau dong terluka kaya kamu," teriak Rindu sambil senyum-senyum tidak jelas.


" Apa sih? Kesambet apa kamu, Rin?!" tanya Rena.


"Tau nih si Rindu suka enggak jelas! Gak ngeliat apa kalau jidat si Rena itu sampai memar kayak gitu,"


sahut Novi sambil menunjuk jidat Rena yang masih membiru, namun bengkak di jidatnya sudah tidak separah sebelumnya.


"Ih.. Kalian tuh enggak ngerti banget sih maksud aku," keluh Rindu.


"Memang kepala Rena itu memar dan bahkan jidatnya sampai benjol kayak gitu. Tapi,  dengan begitu Rena kan jadi ada peluang untuk bisa deket sama Kak Arka, cowok yang dia suka, yang ganteng dan populer di kampus kita. Belum lagi Kak Alan, tadi juga perhatiaaaan banget. Aduh, Rena beruntung banget sih kamu, langsung ditolong sama dua cowo terpopuler di kampus kita, mungkin kalo tadi ada Kak Abi, dia juga bakal ikutan nolong kamu kali, ya?" lanjut Rindu menjelaskan.


"Oh.. Kirain kamu udah mulai enggak waras," timpal Novi.


"Huh!" seru Rindu sambil mencebikkan bibirnya ke Novi.


"Iya Na, bener yang dikatakan Rindu, tapi yang aku enggak aku habis pikir, kenapa juga kamu tolak ajakan Kak Arka?" tanya Aisyah.


"Lebay kali, Ais. Kalau sakit kayak gini sampe ke dokter," jawab Rena.


"Iya, juga sih, tapi jangan salah loh memar kaya gini kadang bisa bikin badan kita jadi meriang," ucap Aisyah.


"Masa sih?" tanya Rena tidak percaya.


"Iya, kan adanya pembengkakan alias benjol di kepala kamu tuh menandakan bahwa telah terjadi penyumbatan di area pembuluh darah sehingga darah tidak mengalir dengan lancar dan karena


itulah muncul benjol di kepalamu," ucap Aisyah menjelaskan.


"Biasa aja. Oh ya, kamu sudah minum obat pereda nyeri belum?" tanya Aisyah.


"Belum," sahut Rena sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya, sudah nih minum dulu," sahut Aisyah sambil memberikan obat paracetamol yang diambilnya


dari kotak obat dan air minum dari galon yang ada di ruangan itu kepada Rena.


"Makasih," ucap Rena, lalu mengambil obat dan air putih yang diberikan Aisyah dan meminumnya.


"Beruntung tadi Kak Alan sudah memberimu salep, jadi besok lukamu mungkin sudah tidak akan terlihat lagi," sahut Aisyah


Iya, Kak Alan memang baik dan perhatian banget, tapi enggak tau kenapa aku enggak bisa ramah ke dia (ucap Rena dalam hati) .


****


Di tempat lain


Alan berjalan menuju lapangan, hendak mengambil tasnya dan pulang ke tempat kosnya untuk mandi dan berganti pakaian. Namun, di tengah jalan ia bertemu dengan Faizal.


"Hei, Bro, gimana?" tanya Faizal


"1-0," jawab Alan asal.


"Maksudnya??" tanya Faizal mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Lah, kamu sendiri nanya enggak jelas. Tiba-tiba dateng nanya gimana? Gimana apanya?" tanya Alan balik.


"Maksud aku, gimana keadaan gadis yang tadi kena tendangan bola nyasarnya si Arka?" tanya Faizal


kembali kali ini lebih diperjelas.


"Oh, udah mendingan. Tadi udah aku kasih salep," jawab Alan.


"Siapa sih?" tanya Faizal yang tadi belum sempat melihat Rena.


"Itu si Miss Argentina," jawab Alan.


"Hah.., Dia lagi?!" Ucap Faizal kaget sekaligus tak percaya.


"Benar-benar gadis itu, baru beberapa hari masuk kampus udah banyak cerita tentang dia," ucap Faizal


sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Yap, mahasiswa baru yang namanya pasti bakal kita ingat sampai kita lulus," timpal Alan sambil


tersenyum mengingat banyaknya kejadian yang dialaminya dengan Rena.


"Oh ya, kamu mau ke mana?" tanya Faizal.


"Oh, aku mau ke lapangan. Mau ambil tas, lalu pulang ke tempat kost, ganti baju sekalian mandi," jawab


Alan.


"Gak usah, nih tas kamu udah aku bawain. Mending sekarang kita pulang ke kost-an. Terus jangan lupa, nanti sore kita jadi jengukin Abi di rumahnya," ucap Faizal.


"Emang dia udah pulang dari rumah sakit?" tanya Alan.


"Kata Iyus sih udah. Sekarang dia lagi rawat jalan di rumahnya," jawab Faizal.


"Tapi.. ," ucap Faizal terpotong


"Tapi apa?" tanya Alan.


"Tapi sepertinya dia masih mengalami syok akibat kecelakaan itu sehingga psikologisnya belum benar-benar pulih, jadi sepertinya dia akan izin cukup lama," ujar Faizal.


"Iya, aku cukup mengerti. Tidak mudah bagi kita menerima kepergian orang yang kita sayang apalagi secara tiba-tiba seperti ini," ucap Alan sedih.


"Kamu sendiri?" tanya Faizal


"Iya, aku akui aku cukup kaget dan sedih mendengar kabar kematian Nena. Biar bagaimana pun rasa itu belum wepenuhnya menghilang. Tapi, sebesar apa pun aku menyayangi Nena tetap saja rasa sayang Abi kepadanya jauh lebih besar," jawab Alan.


Alan dan Nena sama-sama mahasiswa dari jurusan Bahasa Indonesia. Ia seangkatan dengan Nena dan pernah satu SMA dengannya. Alan dulu memang pernah memiliki perasaan pada Nena. Namun, Nena


lebih menyukai Abi, sehingga Alan mengalah dan melepas Nena untuk Abi.


****


Bersambung


Catatan:

__ADS_1


Tetap  dukung terus author dengan memberi like, vote, dan komen pada karya ini.


__ADS_2