Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 73 PDKT


__ADS_3

Ruang tamu itu tampak gelap dan tak bercahaya karena memang lampu yang digantung di ruangan itu sengaja tak dinyalakan dan ini memang telah menjadi kebiasaan di rumah Rena. Setiap malam lampu di ruang tamu akan dimatikan guna menghemat daya pemakaian listrik. Mungkin kebiasaan ini bukan hanya terjadi di rumah Rena, tapi juga bisa terjadi di rumah-rumah lainnya. Namun, ada sedikit yang berbeda dengan pemandangan ruang tamu di rumah Rena malam ini. Ruangan yang biasanya kosong karena seluruh penghuninya telah berada dalam kamarnya masing-masing, kini tak lagi kosong.


Rena tampak sedang duduk termangu di atas sofa. Menikmati kesendiriannya dalam kegelapan.


Ceklekk..


Bunyi suara pintu yang dibuka terdengar dari luar rumahnya. Seseorang masuk ke dalam rumah itu melewati ruang tamu, tempat Rena kini berada. Orang itu pun memencet saklar lampu untuk memastikan dugaannya benar.


“Kak Na,” sahut Reni begitu lampu ruang tamu itu dinyalakan.


“Reni, kamu sudah pulang?” tanya Rena yang terkesiap saat melihat lampu di ruang tamunya itu telah menyala dan ruangan itu pun menjadi terang benderang.


“Sudah, Kak. Kakak sendiri kenapa berada di sini? Gelap-gelapan lagi?” tanya Reni


Rena tak menjawab. Ia hanya menghela napasnya panjang.


“Apa terjadi sesuatu di hari pertama Kakak mengajar?” tanya Reni.


“Iya, Ren,” jawab Rena dengan wajah murung.


“Kak, kalau ada apa-apa tolong Kakak ceritakan pada Reni. Jangan Kakak memendam masalah Kakak sendirian,” ucap Reni.


Rena pun menceritakan semua kejadian yang telah terjadi antara dirinya dengan Yuna, istri Dewa di sekolah hari itu.


“Kenapa mereka bisa sampai menuduh Kakak seperti itu? Apakah hanya karena Kakak seorang janda?” tanya Reni geram.


“Entahlah, Ren. Yang Kakak tahu masyarakat memang selalu menilai negatif pada status seorang janda. Apalagi jika status itu terjadi karena sebuah perceraian,” ucap Rena penuh kegetiran.


“Tapi apa mereka tahu apa yang menyebabkan Kakak bercerai? Tidak, kan? Mereka baru mengenal Kakak, tapi dengan mudahnya mereka memberikan penilaian terhadap Kakak. Itu sungguh tidak adil,” sahut Reni kesal.


“Sudahlah, Ren. Mungkin ini memang sudah nasib Kakak harus menerima semua ini,” ucap Rena pedih.


“Kak, yang sabar, ya. Jangan mudah menyerah, setidaknya demi Hana dan Haikal,” ujar Reni.


“ Iya, Ren. Kakak tidak akan menyerah. Kakak akan hadapi ini semua demi Hana dan Haikal karena biar bagaimana pun ini adalah jalan yang telah kakak pilih. Suka tidak suka harus tetap Kakak hadapi,” ucap Rena.


“Kalau begitu sekarang Kakak istirahat, ya.. Besok kan Kakak dan anak-anak Kakak harus berangkat pagi,” ucap Reni lembut.


“Iya, Ren. Terima kasih ya, kamu sudah mau mendengarkan curhatan Kakak. Setidaknya beban di hati Kakak jadi sedikit berkurang,” ucap Rena.

__ADS_1


“Sama-sama, Kak. Reni juga senang karena sekarang Kakak sudah mau berbagi cerita sama Reni,” ucap Reni.


Selama ini Rena memang selalu memendam semua masalahnya sendiri. Ia tidak ingin orang lain atau pun keluarganya ikut kepikiran karena masalah yang harus dihadapinya.


Setelah percakapannya dengan Reni, Rena pun kembali ke kamarnya. Kamar yang dihuni olehnya dan kedua buah hatinya.


Tuhan, aku mohon padamu. Berikanlah yang terbaik untuk kakakku dan kedua buah hatinya. Jauhkan kesedihan dalam kehidupannya! Berikanlah ia pasangan yang benar-benar mencintainya agar ia bisa merasakan kebahagian sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan oleh wanita lainnya (Doa Reni untuk Rena).


***


Pagi ini wajah Alan tampak lebih ceria dari biasanya. Hal itu tak luput dari penglihatan Felisa, adik semata wayangnya, membuat Felisa teringat kembali akan pertanyaan yang dari semalam ingin ia tanyakan. Namun, ditundanya karena saat itu ia sedang sibuk menyelesaikan laporan yang harus ia serahkan hari ini.


“Ciee.. Kak Alan, lagi seneng banget nih kayanya. Abis dapat lotre ya?” goda Felisa.


“Ini lebih membahagiakan daripada sekedar mendapat lotre Felisa,” sahut Alan tersenyum riang.


“Oh ya? Apa ini ada kaitannya dengan wanita yang fotonya ada dilaptop Kakak?” tanya Felisa yang membuat Alan sedang meminum kopinya nyaris saja tersedak.


Ya Tuhan, aku lupa kemarin telah menyimpan foto Rena dalam tampilan layar depan laptopku. (ucap Alan dalam hati)


“Benarkan, Kak?” tanya Felisa sambil menaik turunkan alisnya.


Mendengar perkataan Felisa, Alan pun hanya bisa tersenyum sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Jadi benar?” tanya Felisa tersentak kaget.


Ia tidak menyangka bahwa dugaannya kali ini benar-benar tepat.


“Iya,” jawab Alan singkat.


“Beneran Kakak suka sama Bu Rena?” tanya Felisa lagi memastikan kalau yang didengarnya tidaklah salah.


“Kamu kenal juga sama Rena?” tanya Alan heran adiknya bisa menyebut nama “Rena” karena seingatnya ia sama sekali belum menyebut nama wanita itu.


“Iya, iyalah kenal. Bu Rena kan guru SMP Feli,” jawab Felisa.


Astaga, benar juga ya. Kenapa aku sampai lupa kalau adikku ini muridnya Dewa dan itu berarti dia murid Rena juga (pikir Alan)


“Oh, iya. Kakak baru ingat. Kalau kamu juga pernah belajar di SMP yang sama dengan tempat Rena mengajar dulu,” sahut Alan.

__ADS_1


“Terus sudah sejauh mana hubungan Kak Alan dengan Bu Rena?” tanya Felisa penasaran.


“Masih PDKT,” jawab Alan.


“Yah, lama. Langsung lamar dong, Kak!” sahut Felisa bersemangat.


“Pengennya. Tapi, sepertinya sekarang waktunya masih belum tepat,” ucap Alan.


“Belum tepat gimana?” tanya Felisa.


“Kelihatannya gurumu itu masih ingin sendiri,” jawab Alan dengan wajah yang tiba-tiba jadi berubah menjadi murung.


“Memang sih Kak, aku pun kalau jadi Bu Rena pasti tidak akan mau buru-buru nikah lagi,” ucap Felisa.


“Kenapa begitu?” tanya Alan yang merasa heran dengan perkataan adiknya itu.


“Emang Bu Rena enggak cerita ya, kenapa Bu Rena bisa sampai bercerai dengan suaminya?” tanya Felisa.


“Enggak,” jawab Alan singkat.


Felisa pun menceritakan semua yang pernah didengarnya dari sahabatnya Riska. Riska adalah putri Pak Rama, kepala sekolah Rena dulu. Kepada Pak Rama, Rena menjelaskan semua masalah yang terjadi dalam rumah tangganya, mulai dari perselisihan hingga perselingkuhan suaminya dengan wanita yang merupakan istri orang lain.


Awalnya Rena menolak untuk menceritakan kehidupan pribadinya kepada Pak Rama karena itu aib baginya. Namun, karena didesak oleh Pak Rama agar ia bisa dipertahankan di sekolah itu, Rena pun akhirnya menjelaskan semuannya. Namun, meski begitu nasib ternyata tidak berpihak kepadanya karena kejujurannya itu malah menjadi boomerang baginya. Ternyata wanita yang disebut-sebut Rena, selingkuhan suaminya itu tak lain adalah putri sahabat baik Pak Bambang, pemilik yayasan tempat Rena bekerja.


Alhasil, Rena justru diminta untuk keluar dengan alasan peraturan sekolah. Bukan hanya sampai di situ, tiga bulan setelah Rena diminta untuk keluar, Pak Rama pun diminta untuk berhenti menjadi kepala sekolah. Itulah sebabnya Riska mengetahui itu semua karena ia sempat mencuri dengar percakapan kedua orang tuanya tentang masalah yang menimpa Rena.


Ya Tuhan, kasihan sekali Rena. Ia harus menghadapi cobaan sebesar itu. Pantas saja ia sering terlihat murung dan selalu mencoba untuk menutup hatinya. Mungkin karena rasa sakit ini. Rasa sakit yang tak ingin dirasakannya lagi (ucap Alan dalam hatinya).


“Kak Alan, apa Kak Alan benar-benar mencintai Bu Rena?” tanya Felisa tiba-tiba.


“Iya, Felisa. Kakak benar-benar mencintainya,” jawab Alan.


“Kalau begitu berjuanglah, Kak. Dapatkan cinta Kakak. Feli akan selalu mendukung Kakak,” ucap Felisa memberi semangat pada kakaknya.


“Terima kasih, Feli. Kakak pasti akan berjuang untuk mendapatkan cinta kakak,” ucap Alan.


“Cayo, Kak Alan,” ucap Felisa sambil mengepalkan dan mengangkat sebelah tangannya ke atas.


“Cayo,” sahut Alan melakukan hal yang sama dengan yang Felisa lakukan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2