Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 77 Pesta Penyambutan


__ADS_3

Dengan langkah tegap penuh keyakinan, Surya Atmaja berjalan menghampiri seorang wanita berparas jelita yang sudah cukup lama menanti kedatangannya ke Indonesia. Wanita itu tak lain adalah Naya Atmaja, putri satu-satunya yang dimiliki oleh Surya Atmaja.


Surya Atmaja sendiri adalah kakak kandung dari Riana Atmaja, ibu kandung dari Dewi yang merupakan istri dari Alan yang kini telah tiada. Pria ini masih tampak terlihat tampan dan gagah, meski usianya kini tengah menginjak 65 tahun. Usia yang dapat dibilang sudah tidak muda lagi.


Surya sendiri memiliki karakter yang hampir sama dengan putri semata wayangnya. Mungkin peribahasa yang mengatakan buah jatuh tak jauh dari pohonnya sangatlah tepat untuk menggambarkan karakter dari ayah dan anak ini. Betapa tidak, sama halnya dengan Naya, Surya pun memiliki watak yang sombong, ambisius, licik, dan serakah. Karakter itu pula lah yang telah mendorong Surya untuk menikahkan adiknya Riana dengan Raditya Herlambang, pengusaha kaya dan sukses.


Senyum mengembang tampak di wajah cantik Naya Atmaja kala dirinya melihat sosok ayah yang dirindukannya kini telah memasuki rumah dan berjalan menghampiri dirinya. Betapa tidak, sebelumnya ayahnya tak memberi kabar bahwa ia akan datang hari ini. Ini sungguh kejutan bagi Naya karena sebelumnya ia masih sempat bertelepon-teleponan dengan ayahnya.


Malam itu ayahnya hanya meminta Naya untuk berdandan dengan cantik Karena Aku akan ada seorang tamu penting yang akan datang ke rumahnya. Namun, Naya tidak berpikir bahwa tamu penting yang dimaksud oleh ayahnya itu adalah ayahnya sendiri.


“Halo, Ayah,” seru Naya memeluk kedatangan ayahnya dengan penuh suka cita.


“Halo, Sayang, bagaimana kabarmu?” tanya Surya setelah pelukan kerinduannya dengan putri kesayangan itu berakhir.


“Kabarku tidak terlalu baik Ayah,” keluh Naya.


“Kenapa?Apa yang membuat putriku nampak tidak baik? Apa ada yang mengganggumu?” tanya Surya.


“Benar, Ayah,” jawab Naya dingin.


“Siapa?” tanya Surya.


“Alan,” jawab Naya.


“Alan, kenapa dia? Apa dia masih menolakmu?” tanya Surya memandang putrinya lekat.


“Benar, Ayah. Dia masih menolakku,” jawab Naya.


“Bodoh sekali dia. Bisa-bisanya dia menolak intan berlian seperti kamu. Apa dia sama sekali tidak bisa melihat pesona yang ada dalam dirimu?” tanya Surya heran sekaligus kesal.


“Entahlah, Ayah. Aku hanya tahu dia sekarang sedang tertarik pada wanita lain dan ia sedang berupaya mendapatkan hati wanita itu,” ucap Naya.


“Apa? Dia mengabaikan kamu hanya karena wanita lain yang bahkan belum tertarik kepadanya,” tanya Surya tidak percaya.


“Benar, Ayah,” jawab Naya lesu.


“Sungguh laki-laki bodoh. Lalu apa kau akan menyerah begitu saja?” tanya Surya kesal.

__ADS_1


“Menurutmu Ayah?” Naya membalikkan pertanyaan ayahnya tersebut.


“Tentu tidak. Putri ayah, Naya Atmaja tidak akan pernah menyerah begitu saja.” Ucap Surya tegas.


“Kau benar sekali, Ayah. Aku tidak akan pernah menyerah begitu saja. Apalagi membiarkan apa yang ingin aku miliki direbut dengan begitu mudah oleh orang lain,” sahut Naya kesal.


“Itu baru putri Ayah. Ayah senang mendengarnya. Kau tidak boleh menyerah. Kau harus bisa mendapatkan Alan karena hanya Alan lah laki-laki yang bisa membuat kita menguasai D’ Coorporation sepenuhnya," ucap Surya.


D' coorporation adalah perusahaan milik Raditya Herlambang. Namun, sejak Radit meninggal, ia menyerahkan 50% sahamnya atas kepemilikan D'coorporation kepada Alan. Hal itu sebagai bentuk balas budinya kepada Alan karena Alan telah menjaga putrinya Dewi hingga akhir hayatnya.


Sesungguhnya Alan sempat menolak, namun atas bujukan Alex yang merupakan tangan kanan Radit, Alan pun mau menerimanya. Itu semua dilakukan Alan agar perusahaan yang telah lama di bangun oleh mertuanya dapat bertahan dan tidak gulung tikar.


Sementara Alex sendiri mendapatkan 25% bagian saham di perusahaan itu. Namun, karena Alan kurang tertarik dengan dunia bisnis, maka pengelolaan perusahaan sepenuhnya ia serahkan pada Alex. Hal itu tentu saja menimbulkan kecemburuan bagi Surya yang merupakan kakak ipar dari Radit. Betapa tidak, ia merasa diperlakukan tidak adil karena mendapatkan bagian yang sama dengan Alex yang hanya orang luar. Terlebih lagi, sikap Alan yang lebih memilih Alex ketimbang dirinya untuk menjalankan perusahaan milik Radit.


"Baiklah, Ayah, sekarang kau istirahatlah," seru Naya.


"Tentu, terima kasih. Oh ya, Nay , bisakah kau membuatkan ayahmu ini pesta penyambutan untuk besok malam?" pinta Surya.


"Tentu saja, Ayah. Aku akan menyiapkan semuanya jika memang ayah menginginkan itu," sahut Naya.


"Sama-sama, Yah. Kau pun adalah ayah yang paling aku sayang," sahut Naya.


***


Bel istirahat pun mulai memanggil-manggil siswa untuk keluar dari kelasnya. Sekaligus menjadi pertanda bahwa waktu istirahat telah tiba.


Para guru dan murid tampak bersemangat keluar dari kelas mereka masing-masing. Namun, hal itu tidak bagi Rena. Rasanya ia enggan sekali untuk keluar dari kelas. Apalagi harus kembali ke ruang guru. Ia masih mengingat masalah yang terjadi antara dirinya dengan Yuna kemarin siang.


"Bu Rena kok masih di sini? Emang Ibu gak istirahat?" tanya salah seorang siswi yang bernama Nuri.


"Oh ya, kalau begitu tolong bawakan buku-buku ini ke kantor ya," pinta Rena menunjuk tumpukan buku yang ada di hadapannya.


Siswi tersebut pun bersama seorang temannya membantu Rena untuk membawakan buku-buku yang tadi ditunjuk oleh Rena. Meski, masih enggan, namun Rena berusaha menghilangkan perasaan itu karena tidak mungkin juga baginya untuk berlama-lama di kelas.


"Terima kasih ya," ucap Rena tulus saat kedua siswi itu menyimpan tumpukan buku di atas meja Rena.


"Sama-sama, Bu. Kami permisi dulu," sahut Nuri dan temannya yang bernama Nisa.

__ADS_1


Setelah mengucapkan hal itu kedua siswa itu pun berlalu meninggalkan Rena.


"Bu Rena," sebuah suara menyapa Rena dari belakang.


Suara itu tak lain adalah suara Yuna. Ia dan Jessi kini tengah berjalan menghampiri Rena.


Ada apa lagi dengan mereka? Apa mereka masih ingin cari masalah denganku? (ucap Rena dalam hati)


"Bu Rena, boleh kita bicara?" pinta Yuna.


"Bicaralah, Bu. Silakan," sahut Rena.


"Bu Rena, maaf atas kejadian yang kemarin. Saya sadar apa yang saya lakukan telah melampaui batas kesabaran Ibu. Saya telah menuduh Ibu yang bukan-bukan tanpa memeriksa dulu kebenarannya. Selain itu, saya juga telah memanggil Ibu dengan panggilan yang bukan-bukan. Maka pantaslah jika saya menerima tamparan dari Ibu kemarin," tutur Yuna.


Rena tampak kaget mendengar permintaan maaf dari Yuna. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Yuna akan secepat itu meminta maaf kepadanya.


"Saya juga Bu Rena, karena saya kemarin hanya sibuk menonton. Seharusnya saya menengahi pertengkaran kalian berdua. Namun, saya tidak melakukannya. Untuk itu, saya benar-benar minta maaf, " ucap Jessi.


"Bu Yuna, Bu Jessi sebenarnya saya cukup kaget mendengar permintaan maaf dari kalian. Tapi, saya senang kalau kalian menyadari akan hal itu. Saya juga minta maaf karena telah lancang menampar Bu Yuna," ucap Rena.


"Tidak apa-apa, saya memang layak mendapatkan itu," sahut Yuna.


Setelah permintaan maaf yang disampaikan oleh Yuna dan Jessi kepada Rena, hubungan di antara mereka pun terlihat mulai membaik. Mereka mulai melakukan percakapan layaknya emak-emak yang biasa berkumpul. Canda tawa pun menghiasi percakapan di antara ketiganya.


***


Bersambung


Baca dan simak terus lanjutan ceritanya.


Jangan lupa juga, dukung terus author dengan memberikan like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2