Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 37 Kepergian


__ADS_3

Sang surya kembali menyapa bumi dengan sinar hangat yang begitu dirindukan semesta. Menghapus jejak-jejak hujan yang menempel di setiap sudut jalan yang dilalui para pencari kerja.


Menyemangati para insan muda yang menimba ilmu di kampus tercinta.


Dari kejauhan tampak sosok pemuda tampan sedang berjalan ke arah kampus Rena. Banyak mata memandanginya. Beberapa kaum hawa bahkan sempat tak berkedip dibuatnya. Meski penampilannya terlihat dingin, namun gayanya yang macho membuat siapa pun merasa penasaran dengan sosok yang tak pernah mereka lihat sebelumnya, termasuk Alan.Matanya tak pernah


berhenti memandangi laki-laki yang nampak asing baginya.


"Bang Reno," sahut Rena pada laki-laki yang sekarang sedang menjadi pusat perhatian banyak orang.


"Ya, Tuhan, itu siapa kamu Rena?" tanya Almira yang sedang berdiri di samping Rena. Namun, sebelum Rena sempat menjawab, laki-laki itu memanggilnya.


"Buruan, cepat sini!" sahut Reno pada Rena.


Rena pun lekas menghampiri Reno.


"Nih," sahut Reno menyerahkan seberkas laporan pada Rena.


"Lain kali jangan sampai lupa lagi! Kalo mo ke kampus periksa betul-betul barang yang mo lo bawa! Abang bukan supir Oke-jek ya, yang tukang antar jemput barang," sahut Reno.


"Ya elah, sekali ini doang Bang, lagian kita masih satu lingkungan ini, apa sih susahnya bantuin ade,


jangan cuma bisanya nyusahin doang" sahut Rena ketus


"Hu, kapan Abang nyusahin?" tanya Reno sambil mengacak-acak kepala Rena.


"Sering, apalagi kalau lagi nyusun skripsi. Na, ini tulisannya udah benar belom? Na, kalimat yang bagus kayak gimana ya," ledek Rena mengingat pekerjaan barunya yang jadi editor dadakan karangan abangnya itu.


"Ya, itu kan cuma ngetes Na, sebagai anak bahasa lo bisa kagak," sahut Reno tak mau kalah


"Alah, alasan," sahut Rena.


"Udah, ya, Abang balik ke kampus abang dulu, mo bimbingan soalnya," sahut Reno


"Iya, Abang Reno ku sayang, makasih udah mo nganterin," sahut Rena


"Ingat, abang bukan supir oke-jek, jadi kalo nanti tugas lo ketinggalan lagi, ambil sendiri!"


sahut Reno berlalu meninggalkan Rena.


"Iya, abang bawel," sahut Rena setengah berteriak.


"Abang, kamu ke sini, Na?" sahut Dina yang berada di belakang Rena.


"Dina," sahut Rena berbalik dan memeluk Dina.


"Kirain nggak bakal masuk," ucap Rena melepas pelukannya dari Dina.


"Masuklah, karena kemungkinan ini akan jadi semester akhir aku di kampus ini," sahut Dina


"Maksudnya?" tanya Rena bingung


"Aku sudah memilih, Na. Aku akan menerima lamaran Bagas dan berhenti sementara dari kampus ini," sahut Dina


"Apa kamu yakin dengan pilihanmu ini?" tanya Rena.


"Jujur tidak, tapi pilihan ini kurasa lebih baik daripada harus kehilangan Bagas. Aku sangat sayang sama dia, Na," sahut Dina


"Kuharap kamu selalu bahagia bersamanya,"


sahut Rena.

__ADS_1


"Terima kasih," sahut Dina.


****


Perkuliahan hari ini sudah selesai, semua mahasiswa bersiap untuk meninggalkan kampus itu.


"Lala masih belum masuk juga?" tanya Rena


"Iya, mungkin dia masih patah hati sama Julian," sahut Dina


"Terus gimana kita mendamaikannya dengan Aisyah?" tanya Rena


"Entahlah biar waktu yang menjawab. Lagi pula Aisyah juga sepertinya menjauh dari kita," sahut Dina


"Iya, aku benar-benar sedih dengan kondisi ini," sahut Rena


"Sama, Na. O, ya, Novi udah kasih kabar lagi,"


"Belum," sahut Rena yang tak lama dari itu ponselnya berdering.


"Panjang umur, Din " sahut Rena memamerkan panggilan hp dari Novi.


"Halo, Nov," sapa Rena


"Rena," sahut Novi dengan suara serak


"Bapakku Na," sahut Novi menggantung


"Bapakmu kenapa?" tanya Rena


"Bapak udah enggak ada," sahut Novi


"Iya," sahut Novi langsung mematikan teleponnya.


"Ada apa, Na?" tanya Dina


"Bapaknya Novi meninggal," sahut Rena


"Innalillahi, kita ke sana sekarang ya?" sahut Dina


"Iya," jawab Rena


****


"Novi," Rena berlari memeluk Novi. Novi pun ikut membalas pelukan Rena.


"Yang ikhlas, ya?" sahut Rena.


"Iya, Na, aku udah ikhlas kok, karena selama ini Bapak memang udah sakit-sakitan," sahut Novi. Kemudian Dina pun ikut memeluk Novi.


Rena dan Dina pun kemudian menghampiri ibu dan kakak-kakaknya Novi. Setelah itu, membacakan doa terakhir untuk jenazah, sebelum akhirnya jenazah dishalatkan dan dikebumikan di tempat pemakaman milik keluarga Novi. Isak tangis mengiringi kepergian jenazah. Meski mereka sudah ikhlas, namun kenangan tetap sebuah kenangan yang akan membekas di hati dan memunculkan rasa sedih saat mengingat kebersamaan yang telah terjadi di antara mereka.


****


Dua bulan telah berlalu, namun masalah antara Lala dan Aisyah masih belum bisa terselesaikan. Rasanya sulit dipercaya, kalau persahabatan mereka harus retak karena seorang laki-laki.


Sementara ujian akhir semester 4 kini sudah berada di hari terakhir, tinggal menunggu nilai hasil ujian, setelah itu baru melangkah ke semester 5.


"Rena, Novi, ini undangan untuk kalian," sahut Dina sambil menyerahkan kartu undangan ke tangan Rena dan Novi.


"Cie, jadi juga nih," sahut Rena

__ADS_1


"Alhamdulillah, doakan ya, biar lancar, " sahut Dina


"Kapan Din?" tanya Novi


"Dua minggu lagi," jawab Dina


"Lama amat, Din. Kayaknya aku enggak bisa dateng deh, kalau dua minggu lagi," sahut Novi


"Loh, emang kenapa? Kamu memang mau ke mana?" tanya Dina


"Rena, Dina, maaf ya, aku enggak ngasih tau ini sebelumnya," ucap Novi menggantung


"Sebetulnya sudah lama ingin aku sampaikan tapi aku takut kalian jadi sedih, terutama kamu Rena," sahut Novi.


"Emang kamu mau ngomong apa sih Nov, jangan bikin aku penasaran deh?" tanya Rena.


"Rena sejak Bapakku sakit-sakitan semua pengeluaran keluargaku ditanggung oleh kakak- kakakku terutama oleh Bang Arya. Karena Bang Arya yang paling kaya di antara semua


Kakak-kakakku," sahut Novi


"Lalu?" tanya Rena


"Dan Bang Arya itu tidak tinggal di kota ini. Dia dan keluarganya tinggal di Bandung, begitu pula dengan


usahanya," sahut Novi


"Terus?" tanya Dina


"Dia ingin aku dan ibu tinggal bersamanya dan menetap di sana karena dia khawatir dengan kondisi ibu yang sekarang sudah mulai sakit- sakitan," ucap Novi sedih


"Maksud kamu? Kamu mau pindah kuliah ke sana Nov?" tanya Rena


"Iya, kemungkinan begitu. Kemungkinan aku akan pindah semester lima ini," ucap Novi.


"Jadi kamu mau pergi dan ninggalin aku sendirian di sini?" tanya Rena


"Kamu nggak sendiri kok Rena. Di sini masih ada Aisyah, Almira, Yolanda, dan teman-teman kita yang


lainnya," sahut Doa


"Iya, tapi nggak ada sahabat sebaik kamu, Nov," sahut Rena


"Jadi menurutmu aku enggak baik gitu?" tanya Dina


"Bukan begitu Din, tapi kamu juga kan mau pergi ninggalin aku, kan? tanya Retana


"Ya, mau bagaimana lagi, Na" sahut Dina


"O,ya, Nov kapan rencananya kamu pergi?" tanya Rena.


"Mungkin minggu depan," jawab Novi


"Ya, ampun cepat banget, aku pasti akan sangat merindukanmu, Nov," sahut Rena


"Aku juga. Aku pasti akan sangat merindukan kalian semua," sahut Novi.


Drama kepergian Novi pun diakhiri oleh ketiganya dengan pelukan yang erat. Meski Rena merasa sangat sedih, namun itulah keputusan Novi yang harus dihargainya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2