
Semilir angin menggerakkan ranting dedaunan, menghembuskan udara yang memberikan kesejukan di pagi yang cerah ini. Seiring dengan rona ceria yang tergambar di beberapa wajah mahasiswa yang berlalu lalang menyambut hari yang baru.
Langkah kakinya tidak cepat, namun tidak pula lambat. Namun, senyuman manis selalu tampak mengembang di wajahnya saat berpapasan dengan beberapa mahasiswa yang menjumpainya di jalan menuju gedung fakultas tercintanya.
“Pagi, Bu Ais,” sapa beberapa mahasiswa saat berjumpa dengan Aisyah.
“Pagi,” sahut Aisyah.
“Assalamualaikum, Bu Ais,” sapa mahasiswa lainnya.
“Waalaikumsalam,” sapa Aisyah kembali.
Hari ini adalah hari pertama Aisyah mengajar kembali di kampusnya. Setelah kurang lebih empat bulan ia harus mengistirahatkan dirinya demi menjaga kesehatan jabang bayi yang kini tengah di kandungnya.
Aisyah kini tampak lebih sehat dari sebelumnya. Wajahnya tampak segar dan sepertinya mula-mual yang dulu pernah dialaminya dengan cukup parah sudah menghilang. Yang ada adalah semangat baru untuk mengabdikan dirinya sepenuhnya di dunia pendidikan.
“Bu Ais, syukurlah Ibu sudah kembali,” sahut Felisa saat melihat kedatangan Aisyah.
Mereka pun saling berpelukan melepaskan rindu yang sudah lama tertahan. Betapa tidak, bagi Aisyah, Felisa bukan hanya asisten dosennya, tetapi sudah dianggapnya seperti adik kandungnya sendiri.
“Iya, Alhamdulillah. Maaf ya, Feli, aku sudah banyak merepotkanmu,” ucap Aisyah.
“Ah, Bu Ais, gak apa-apa. Itu sudah tugas Feli sebagai asisten Ibu,” jawab Felisa.
“Tapi, Nathan membantumu kan?” tanya Aisyah.
“Iya, sebelumnya Nathan memang sudah banyak membantu, tapi sejak Kak Alan kecelakaan Nathan lebih banyak membantu pekerjaan Kak Alan,” jawab Felisa.
“Oh, iya kamu benar. Aku sudah dengar kabar kecelakaan kakakmu dari Kevin. Sekarang bagaimana keadaannya? Aku dengar tangan kanannya sempat mengalami cidera yang cukup parah hingga harus digips. Apakah sekarang sudah baikan?” tanya Aisyah.
“Alhamdulillah, sudah Bu. Tangan kanannya kakak sudah baik kan, gipsnya juga sudah dibuka dan hari ini juga Kak Alan sudah mulai masuk,” jawab Felisa.
“Benarkah?” tanya Aisyah seolah tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Felisa.
“Benar, Bu. Sekarang Kak Alan lagi ada di ruangannya,” jawab Felisa.
“Kalau begitu aku akan menemuinya,” sahut Aisyah beranjak pergi meninggalkan Felisa menuju tempat di mana ruangan Alan berada.
***
Di sebuah ruangan, tampak Alan sedang duduk termangu. Ia memikirkan semua kejadian yang baru-baru ini dialaminya. Khususnya, pagi tadi, ia terpaksa harus melewati rumah dari wanita yang dicintainya itu dengan berat hati. Menahan perasaan rindu yang selama ini bersemayam dalam hatinya. Pikirannya menerawang mengingat kembali semua perkataan Mamahnya beberapa hari yang lalu yang ditujukan untuk kebaikannya.
Flashback on
“Jadi, sudah sampai di mana hubunganmu dengan Rena, Alan?” tanya sang Mama.
“Jalan di tempat, Mah,” jawab Felisa menimpali.
“Hus, kamu, sok tahu!” sahut Alan.
“Lah, emang jalan di tempat kan, Kak. Kemarin kakak bilang masih tahap PDKT sekarang juga masih PDKT kan, Kak? Itu artinya hubungan kakak dengan Bu Rena belum ada perkembangan apa-apa alias jalan di tempat,” ucap Felisa yang membuat Alan hanya bisa terdiam seolah membenarkan perkataan adiknya itu.
__ADS_1
“Benar apa yang dikatakan adikmu?” tanya Mama Elana.
“Iya, Mah,” jawab Alan lesu.
“Ya ampun, tidak disangka anak Mama yang tampan ini begitu payah kalau urusan cinta,” ledek Mama Elana.
“Dengarkan Mama ya, Sayang. Kamu ini laki-laki dan dalam hal ini kamu yang harus lebih dahulu mengambil sikap,” ujar sang Mama.
“Maksud Mama?” tanya Alan.
“Kamu harus berani mengatakan padanya semua isi hati kamu. Bila perlu kamu langsung lamar dia,” ujar Mama Elana.
“Alan juga berencana seperti itu, Mah. Alan sudah merencanakan acara lamaran spesial untuk Rena,” ucap Alan bangga.
“Sungguh?” tanya Mama Elana dan Felisa hampir bersamaan.
“Iya, rencananya Alan akan melamarnya saat acara reuni kami nanti, Mah. Tapi,--“ ucap Alan menggantung.
“Tapi apa?” tanya Mama.
“Alan khawatir kalau perasaan Rena ternyata tidak sama dengan perasaan Alan terhadapnya. Alan takut dia akan menolaknya,” jawab Alan.
“Kalau menurut Mama, Rena juga memiliki perasaan yang sama denganmu,” sahut sang Mama.
“Benarkah? Dari mana Mama tahu?” tanya Alan.
“Dari cara dia bicara denganmu, menatap wajahmu. Mama yakin dia memiliki perasaan yang sama denganmu, hanya saja sepertinya dia memang belum menyadari perasaan itu. Oleh karena itu, tugasmu lah yang harus menyadarkannya,” ujar sang Mama.
“Mulai hari ini kamu jangan dulu bertemu dengannya atau pun meneleponnya. Kita lihat apa yang dia rasakan setelah dia jauh darimu. Apakah dia akan merindukanmu dan menanyakan kabar kamu atau dia hanya akan mengabaikanmu,” ucap Mama Elana.
“Kalau dia mengabaikanku bagaimana?” tanya Alan.
“Itu artinya kamu harus bersiap menerima penolakannya,” jawab Mama Elana yang membuat Alan hanya bisa menelan ludahnya karena sungguhh ia tidak ingin jika kemungkinan pahit itu bisa sampai terjadi.
Flashback Off
Tok..tok..tok..
“Masuk,” saat mendengar suara ketukan pintu dari luar.
“Aisyah,” sapa Alan saat melihat Aisyah masuk ke dalam ruangannya.
“Selamat pagi, Kak Alan. Bagaimana keadaanmu? Apa tanganmu sudah baik-baik saja?” tanya Aisyah.
“Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri apa sekarang keadaanmu sudah lebih baik?” tanya Alan.
“Alhamdulillah, seperti yang Kak Alan lihat juga kalau keadaanku ini sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya,” jawab Aisyah.
“Syukurlah, kalau begitu,” sahut Alan.
“Oh ya, aku dengar dari Kevin katanya kita akan mengadakan reuni akbar untuk 10 angkatan. Benar begitu?” tanya Aisyah.
__ADS_1
“Benar sekali, kebetulan kamu di sini karena aku ingin meminta sedikit bantuan darimu,” ucap Alan.
“Kalau begitu katakanlah, bantuan apa yang Kak Alan inginkan?” tanya Aisyah.
“Tolong bujuk Rena agar bisa ikut acara ini,” sahut Alan.
“Maaf, Kak Alan. Sejak Rena menikah aku tidak memiliki nomornya?” jawab Aisyah.
“Jadi kamu belum tahu?” tanya Alan.
“Tahu apa?” tanya Aisyah balik.
Alan pun menceritkan semua yang diketahuinya tentang Rena pada Aisyah, perihal masalah yang terjadi pada rumah tangga Rena, kepindahan Rena kemari, sampai rencana Alan untuk memberikan sebuah kejutan pada Rena di acara reuni nanti.
“Baiklah, aku akan meminta bantuan Novi untuk membujuk Rena. Kalau Rena menolak, aku sendirilah yang akan membujuknya,” sahut Aisyah.
“Terima kasih, Ais,” ucap Alan.
“Tidak perlu terima kasih, Kak. Aku senang melakukannya karena Rena adalah sahabatku dan aku ingin melihatnya bahagia. Semoga kali ini apa yang Kak Alan rencanakan berjalan dengan baik. Kalau begitu sekarang aku permisi dulu, Kak,” ucap Aisyah.
“Baiklah, silahkan” sahut Alan.
Setelah mendapat izin dari atasannya, Aisyah pun berlalu meninggalkan ruangan Alan untuk melanjutkan kembali aktivitasnya mengajar di Kampus Pelangi.
Tak lama, ponsel Alan berdering...
Sebuah panggilan masuk ditujukan Faizal untuk Alan. Alan pun mengangkat telepon dari sahabatnya itu.
“Iya, halo, Faiz ada apa?” tanya Alan tanpa basa basi.
“Eits, si bos nih, langsung nyamber aja. Pake basa basi dulu, kek!” ucap Faizal.
“Pake basa basi sama kamu yang ada cuma basi,” sahut Alan terkekeh.
“Okelah kalau begitu, enggak masalah. Aku langsung saja ke laporannya,” ujar Faizal.
“Laporan? Laporan apa?” tanya Alan bingung.
“Hari ini tepatnya Senin, 20 Juli 2020, aku Faizal, Kepala SMP Cinta Kasih, melaporkan bahwa saudari Rena terlihat sedang jalan bareng bersama Abi. Laporan selesai,” ujar Faizal yang kemudian terkekeh membayangkan reaksi sahabat yang sekaligus juga atasannya itu.
***
Bersambung
Kira-kira bagaimana reaksi Alan ya? ,🤔🤔
Terima kasih telah setia membaca cerita ini dan nantikan jawabannya di part selanjutnya 😉 🙏🙏
Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
__ADS_1
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘