Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Ekstra Part 2-Rahasia Abi


__ADS_3

Adrian menatap kepergian Felisa bersama laki-laki yang belum dikenalinya dengan berbagai pertanyaan.


Siapa laki-laki itu? Ke mana dia membawa Felisa pergi?Lalu kenapa Felisa pergi dengannya dan meninggalkan resepsi pernikahan kakaknya (ucap Adrian dalam hati)


Laela, Bae, dan Riska tampak memperhatikan arah pandang Adrian yang sedari tadi terpusat ke arah pintu keluar.


“Kak Adrian lagi liatian apa sih?” tanya Bae penasaran.


“Emm... Itu tadi aku lihat Felisa keluar bersama seorang laki-laki padahal bukannya sekarang sedang banyak tamu,” jawab Adrian.


“Oh, mungkin mereka ada urusan yang lebih penting barangkali,” ucap Bae.


“Kalian kenal dengan laki-laki itu?” tanya Adrian.


“Kenal,” jawab Laila, Bae, dan Riska secara serempak.


“Siapa?” tanya Adrian.


“Itu Kak Abi, cowok yang dari dulu jadi incarannya Ica,” sahut Riska.


“Cowok incaran?” tanya Adrian terkejut.


“Iya, kenapa? Jangan bilang kalau Kak Adrian cemburu, ya!” tuduh Laila.


“Haa, masa sih? Jangan dong, Kak! Jangan bilang ‘iya’, nanti Bae bisa patah hati nih,” rengek Bae sebelum Adrian menjawab tuduhan Laela.


“Idih! Siapa juga yang suka sama Ratu Comel kaya dia? Aku cuma pengen tahu aja,” ucap Adrian ketus, lalu berlalu pergi meninggalkan Bae, Laila, dan Riska.


“Kayaknya Kak Adrian suka deh sama Ica,” ucap Riska.


“Roman-romannya sih kayak gitu,” sahut Laela.


“Masa sih? Kalau gitu bakalan ada cinta segitiga dong?" tanya Bae.


“Sepertinya... Kita simak aja nanti kelanjutan ceritanya,” jawab Riska menatap keempat teman-temannya yang lain.


***


Di tempat lain


Abi masih melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju sebuah tempat yang masih belum diberitahukannya kepada Felisa.


“Mau ke mana sih, Kak?” tanya Felisa lagi.


“Aduh, kamu tuh benar-benar bawel ya? Berapa kali aku bilang, nanti juga kamu akan tahu sendiri ke mana aku membawamu. Jangan khawatir! Aku tidak berminat menculikmu,” ucap Abi sambil sesekali menoleh ke arah Felisa.


“Dih, siapa juga yang berpikir ke arah itu? Aku hanya penasaran saja ingin tahu kemana kakak membawaku,” kilah Felisa dengan memasang wajah cemberutnya.


Merasa percuma, Felisa pun akhirnya memilih untuk diam saja, mendengar jawaban Abi yang sepertinya enggan untuk menjawab pertanyaannya. Meski rasa penasaran terus menggelayut dalam benak dan hatinya. Namun, sepertinya situasi tak mau berkompromi. Ia hanya mampu menggerutu dalam hati.


Sebenarnya Kak Abi mau bawa aku ke mana sih? Kenapa dia balik lagi jadi menjengkelkan seperti dulu ya... Padahal, akhir-akhir ini aku senang banget ngelihat perubahan sikapnya kepadaku. Bahkan aku berharap apa yang diceritakan Kak Alan benar. Kalau Kak Abi sudah mulai membuka hatinya untukku. (ucap Felisa dalam hati)

__ADS_1


Mobil yang dikemudikan Abi, akhirnya menepi di suatu tempat yang sepertinya sudah tidak asing lagi bagi Felisa.


“Danau hijau,” ucap Felisa.


“Iya, turun yuk!” ajak Abi.


"Memang Kak Abi mau ngapain sih ajak aku ke danau hijau? Jangan.. jangan.. Kak Abi mau ceburin aku ke danau itu ya?” sangka Felisa.


Pertanyaan Felisa itu membuat Abi tertawa terbahak-bahak. Tawa yang jarang bahkan sama sekali tidak pernah dilihat Felisa sebelumnya dari pria itu.


Ya ampun, Kak Abi.. Makin ganteng aja deh Kakak kalau ketawa kayak gitu.. Bikin aku makin klepek-klepek aja. (pikir Felisa).


“Kamu itu ya, Feli... Sebegitu jahatnya kamu berpikir tentang aku. Sudahlah sekarang ikuti saja aku,” ajak Abi yang segera turun dari mobilnya yang lalu diikuti oleh Felisa.


“Kak Abi beneran.. Gak mau ngasi tau aku dulu alasan Kak Abi bawa aku kemari, ,” tanya Felisa yang kini tengah berjalan di belakang Abi.


Membuat Abi menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Felisa. Kemudian ia mendekat ke arah Felisa. Kini hampir tidak ada jarak di antara mereka karena posisi mereka sangat ini sangatlah dekat, bahkan hampir menempel. Lalu ia memandang wajah Felisa dengan tatapan tak terbaca.


Aduh, Kak Abi ngapain sih berdiri di dekat aku seperti ini? Mau bikin aku kena serangan jantung ya? Gak tau apa-apa kalau aku dekat-dekat sama dia itu jantungku rasanya seperti mau meledak (ucap Felisa dalam hati).


“Kamu beneran mau tahu alasan aku mengajakmu kemari?” tanya Abi yang dijawab anggukkan oleh Felisa.


“Gak akan nyesel?” tanya Abi yang kali ini di jawab gelengan kepala oleh Felisa.


“Baiklah.. Aku mengajakmu kemari karena ada satu rahasia yang ingin aku sampaikan kepadamu," jawab Abi.


“Rahasia? Rahasia apa?” tanya Felisa penasaran.


Degh


“Wanita yang ada dalam hati kakak? Apa itu maksudnya wanita yang selama ini kakak sukai?” tanya Felisa.


“Iya, kamu benar sekali," jawab Abi singkat dengan memamerkan senyum manisnya.


Apa? Siapa? Siapa wanita yang disukai Kak Abi? Kok rasanya dadaku sesak banget ya.. ngedenger jawaban Kak Abi. Apa itu karena selama ini aku terlalu berharap kepadanya? (ucap Felisa sedih dalam hatinya)


“Si-siapa?” Felisa memberanikan diri untuk bertanya, sambil terus menahan rasa sesak yang kini dirasakannya.


“Kalau kamu memang penasaran, ikutlah denganku. Nanti kamu juga akan segera mengetahuinya," ucap Abi.


“Kalau aku enggak mau gimana?” tanya Felisa.


“Feli... Jangan konyol! Aku membawamu kemari bukan untuk menerima penolakan darimu, tapi aku ingin kamu mengenalnya dan memberikan pendapatmu tentang ini,” jawab Abi.


Konyol? Justru kamu yang konyol! Kamu tahu benar perasaanku sama kamu dan sekarang kamu bilang kamu menyukai orang lain dan ingin meminta pendapatku tentangnya. Kamu beneran jahat Es Balok... JAHAT!! (Ucap Felisa kesal. Namun, ia hanya mampu mengungkapkan itu dalam hatinya)


“Felisa, ayolah! Kamu sudah jauh-jauh datang kemari masa tidak ingin melihatnya!” pinta Abi saat melihat Felisa masih diam mematung.


Dengan wajah cemberut dan mata yang mulai memerah, Felisa menyambut uluran tangan Abi dan mengikuti langkah kaki pria itu. Langkah kaki mereka pun berhenti di dekat sebuah danau yang sangat indah. Orang-orang menyebut danau itu dengan sebutan ‘Danau Hijau’, disebut demikian karena air danau itu terlihat berwarna hijau.


Air mata mulai menetes di wajah cantik Felisa, namun air mata itu segera dihapusnya saat Abi mengalihkan pandangannya ke arah Felisa.

__ADS_1


“Feli, kamu habis nangis?” tanya Abi saat melihat mata Felisa yang memerah dan terlihat berair.


“Ah, enggak, tadi aku cuma kelilipan aja,” sangkal Felisa.


“Sekarang mana perempuan yang ingin Kak Abi kenalkan sama aku?” tanya Felisa sambil terus berusaha menetralkan perasaannya.


“Kemarilah,” ajak Abi yang membawa Felisa ke sebuah jembatan yang berada di atas danau tersebut.


Felisa mengikuti Abi, sambil sesekali menoleh ke kanan dan kirinya memperhatikan orang-orang yang berada di sekitar tempat tersebut yang mungkin salah satunya adalah wanita yang disukai Abi.


“Kenapa Kak Abi mengajak aku kemari? Mana wanita yang Kakak suka yang katanya ingin Kakak kenalkan sama aku?” tanya Felisa yang bingung saat Abi malah mengajaknya berdiri di tepi jembatan.


Apalagi Felisa juga tidak melihat adanya wanita yang sedang sendirian di sekitar tempat itu. Kebanyakan dari mereka sedang bersama keluarga atau pasangannya masing-masing.


“Coba, kamu lihat ke sana!” tunjuk Abi ke arah danau yang berada di bawah jembatan yang sedang mereka pijaki.


“Kak Abi bercanda ya? Di bawah sana hanya ada danau, memangnya pacar Kak Abi itu putri duyung yang bisa tinggal di dalam danau itu,” ujar Felisa.


“Kamu perhatikan dengan benar, apa yang kamu lihat di dalam danau itu,” ucap Abi lembut.


Felisa mencoba melakukan apa yang dikatakan Abi, meski ia rasa itu tindakan yang sangat konyol karena pastinya yang bisa dilihat dari danau itu hanya airnya yang jernih. Tapi, tunggu...


Felisa terbelalak saat melihat bayangannya dengan Abi berada di danau yang jernih itu. Apa mungkin yang ada di pikirannya itu sama dengan yang ada di pikiran Abi. Tapi, tidak, dia tidak mau menarik kesimpulan itu sebelum memastikan bahwa apa yang ada di pikirannya itu tidaklah salah.


“Aku tidak melihat apa-apa selain bayangan Kak Abi dan bayanganku sendiri,” jawab Felisa.


“Iya, kamu benar karena memang wanita itulah yang selama ini ada dalam hatiku selain Serena tentunya,” sahut Abi sambil menunjuk bayangan Felisa.


“Maksud Kakak?” tanya Felisa yang masih belum yakin dengan apa yang dipikirkannya itu.


“Maksud aku adalah aku mencintaimu Ratu Felisa Wijaya. Apakah kau mau menerima cintaku?” Pertanyaan Abi membuat mata Felisa berkaca-kaca, tangis haru kemudian mengalir begitu saja.


“Kenapa kamu menangis?” tanya Abi heran.


“Kakak tahu, momen inilah yang selama ini Felisa tunggu. Terima kasih, Kak. Aku juga mencintai Kakak,” jawab Felisa memeluk Abi. Namun, tiba-tiba..


Byurr...


Seorang anak berlari ke arah keduanya dan membuat Felisa dan Abi yang saat itu sedang berpelukan terjatuh ke dalam danau itu.


“Yah, Kak... Basah semua. Masa kita pulang seperti ini,” rengek Felisa manja yang disambut tawa oleh Abi.


“Kok Kakak malah ketawa sih?” ucap Felisa jengkel.


“Lucu aja. Baru bilang cinta sudah disambut seperti ini,” Ucapan Abi membuat Felisa juga ikut tertawa. Momen ini tak akan bisa mereka lupakan untuk selamanya.


***


Untuk kisah Felisa, Abi, dan Adrian akan author kupas di musim kedua yang masih belum bisa author tentukan kapan waktunya, doakan saja bisa segera.. terima kasih.. ❤️❤️


💐💐💐

__ADS_1


Setelah menantikan keromantisan kisah ini.. Baca juga kisah author yang tidak kalah seru, romantis, dan lucu dalam "Mengaku Tunangan CEO".


__ADS_2