Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 35 Pertikaian


__ADS_3

Author pov


Ada yang berbeda dari ekspresi Lala saat itu. Ia seperti berusaha menahan sesuatu dan itu tergambar jelas dari raut wajahnya.


Wajah manis itu, kini tampak terlihat masam, tak ada sedikit pun guratan senyum yang tergambar di wajahnya, padahal biasanya, Lala tak pernah seperti itu. Sebenarnya apa yang telah terjadi dengannya. Beribu tanda tanya merasuk dalam jiwa Rena.


"Ais, aku mau bicara empat mata sama kamu." sahut Lala dengan muka masamnya.


"Boleh," sahut Aisyah dengan perasaan yang kurang enak.


Aisyah pun mengikuti langkah Lala. Mereka menjauh sebentar dari sahabat-sahabatnya, meninggalkan taman, tempat Aisyah dan Rena tadi bercakap-cakap.


"Ada apa sih? Kenapa feeling aku enggak enak ya lihat si Lala mukanya cemberut kaya gitu." tanya Rena kepada Novi dan Dina.


"Aku juga enggak tau Na, feeling aku sama seperti kamu. Makanya tadi aku ikutin dia sampai kemari. Mungkin Dina tahu sesuatu karena dari tadi aku lihat Dina ngobrol serius sama Lala. Betul kan, Din?" sahut Novi sambil melihat ke arah Dina.


Dina pun menelan ludahnya dan berusaha untuk menjawab pertanyaan dari kedua sahabatnya itu. Sebelum memulai pembicaraannya, ia pun memilih duduk di sebelah Rena. Dipandanginya wajah Novi


dan Rena satu per satu secara bergiliran.


"Sebenarnya Lala sama seperti aku," jawab Dina.


"Maksud kamu?" tanya Rena masih belum memahami arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Lala juga menjalin hubungan secara diam-diam dengan seseorang," jawab Dina.


"Apa? Backstreet maksud kamu? sama siapa?" tanya Rena kaget.


Dina pun menganggukkan kepalanya, membenarkan ucapan sahabatnya itu.


"Serius kamu, Din? Kok, dia gak cerita sama kami, Din?" tanya Novi.


"Karena Kak Julian yang melarangnya. Dia tidak ingin hubungan mereka diketahui banyak orang,"


jawab Dina.


"Kak Julian, jadi namanya Julian?" tanya Rena


Dina pun menganggukkan kepala membenarkan jawaban Rena.


"Terus kenapa dia melarang Lala untuk menceritakan hubungan mereka? Apa alasannya?" Tanya Rena.


"Aku juga nggak tau, Na," jawab Dina.


"Tunggu, Din! Julian itu maksudnya Kevin Juliano, Ketua BEMJ Bahasa Inggris kita?" tanya Novi


"Iya," jawab Dina


"Pantes! Dia itu kan playboy, Din. Apa Lala tahu tentang itu?" tanya Novi sedikit emosi.

__ADS_1


"Pasti dia ingin punya kebebasan agar bisa mencari mangsa yang lain, makanya dia menyembunyikan


hubungannya dengan Lala!" sahut Novi setengah berteriak.


"Mangsa lain? Apa jangan-jangan...," sahut Dina menggantung seraya membulatkan matanya.


Sebuah pikiran buruk terlintas dibenak Dina. Namun, ia ragu untuk meneruskan ucapannya itu, matanya hanya memandang dua sahabatnya itu secara bergantian. Seolah bisa membaca pikiran Dina, keduanya saling memandang satu dengan yang lainnya.


****


Di tempat lain


"Ais, aku nggak nyangka ya, kamu tega menikung teman sendiri " sahut Lala ketus.


"Menikung, menikung apa?" tanya Aisyah masih tak paham dengan arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Jangan seperti kura-kura dalam perahu, Aisyah!" teriak Lala


"Apa maksudmu? Aku sungguh enggak tahu apa yang kamu maksudkan?" jawab Aisyah mencoba meyakinkan Lala dan membuatnya tetap tenang.


"Alah, munafik," sahut Lala ketus.


"Munafik? Kamu tega menyebut aku seperti itu," sahut Aisyah kecewa.


Ia sungguh tak bisa percaya dengan apa yang barusan didengarnya dari mulut Lala. Lala, sosok sahabat yang selalu ingin melindungi sahabat- sahabatnya itu kini menyebutnya demikian. Padahal, biasanya Lala selalu akan berdiri di garda paling depan jika ada yang mengganggu sahabat- sahabatnya apalagi jika mereka berkata kasar pada


sahabatnya. Tapi sekarang apa yang ia dengar dari mulut Lala. Lala menyebutnya 'munafik'.


"Kekasih? Kekasih siapa yang kamu maksud? Aku bahkan tidak tahu kalau kamu sudah punya kekasih," sahut Aisyah menekan kata terakhir.


"Wah, hebat. Kamu memang wanita yang paling pandai bersandiwara. Kamu pura-pura tidak tahu agar kamu tidak dipersalahkan. Iya, kan?" sahut Lala tinggi.


"Lala, aku sungguh-sungguh tidak tahu apa yang kamu maksud?! Tolong beri tahu aku agar aku bisa


menjelaskan semuanya!" sahut Aisyah.


"Julian, kamu kenal Julian kan? Julian Juliano! Dia itu KEKASIHKU," Sahut Lala dengan nada tinggi dan mata yang mulai sembab.


"Julian? La, demi Tuhan. Aku sungguh tidak tahu kalau kamu kekasih Julian," sahut Aisyah


"Jangan bawa-bawa Tuhan, Aisyah! Kamu tidak perlu membawa-bawa Tuhan untuk menyembunyikan kebohongan kamu," sahut Lala sambil menunjuk Aisyah.


"Tapi aku sungguh tidak tahu, Lala! Terserah kamu mau percaya aku atau tidak," sahut Aisyah mulai


meninggi.


"Ais, jangan kamu pikir semua orang bisa dengan mudah percaya sama kamu! Karena aku sama sekali tidak percaya sama kamu! Kamu selama ini begitu pandai menutupi kebusukan yang ada pada diri kamu. Kamu bahkan menggunakan jilbab ini untuk menutupi diri kamu yang kotor,


kan?" sahut Lala sinis sambil menunjuk jilbab Aisyah.

__ADS_1


Kata-kata Lala begitu menusuk ke jantung hati Aisyah. Selama ini Lala memang sering mengeluarkan kata-kata pedas, namun ia tak pernah menyangka kalau Lala akan mengeluarkan kata-kata yang begitu pedas dan menusuk seperti itu untuk dirinya.


" Lala, cukup! Jangan kamu terus menerus menghinaku seperti itu. Apalagi kamu berani menghina jilbabku! Aku bisa menerima kamu mengatakan apa pun tentang aku kecuali tentang jilbab yang aku kenakan!" sahut Aisyah dengan nada yang mulai meninggi penuh emosi.


"Lalu aku harus bilang apa? Kamu cantik menggunakan jilbab itu. Kamu cocok dengan jilbab itu. Padahal, mungkin kamu gunakan jilbab itu hanya untuk menarik laki-laki ke dalam pelukanmu, dan setelah itu kamu gunakan tubuh kamu agar kamu bisa mengikat mereka dengan tali pernikahan," sahut Lala yang disambut dengan sebuah tamparan keras di wajahnya oleh Aisyah.


Plak!


Bersamaan dengan kejadian tersebut Rena, Novi, dan Dina datang menghampiri keduanya. Mereka sangat terkejut dengan pemandangan yang baru saja mereka lihat.


"Kamu keterlaluan Lala! Hanya sebesar itu kah arti persahabatan kita selama ini," sahut Aisyah dengan


wajah yang dipenuhi buliran air mata yang jatuh deras tak tertahankan.


Setelah mengatakan itu semua, Aisyah pun pergi meninggalkan keempat sahabatnya itu. Namun, sebelum Aisyah menjauh Novi pun berusaha mengejarnya.


"Ais, tunggu!" teriak Novi.


"Cukup, Nov! Aku butuh waktu untuk sendiri." sahut Aisyah tanpa memandang Novi yang berdiri di


belakangnya, kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat itu dengan derai air mata yang terus mengalir di wajah manisnya.


"Lala, apa yang kamu katakan pada Aisyah!" tanya Rena dengan nada tinggi karena ia begitu kesal dengan pemandangan yang baru saja dilihatnya tadi.


"Aku hanya mengatakan apa yang pantas didengarnya. Aku katakan padanya bahwa dia menggunakan jilbabnya itu hanya untuk menutupi kebusukannya dan membuat para lelaki jatuh ke dalam pelukannya. Setelah itu dia akan tidur dengan mereka agar bisa menjerat mereka


dengan tali pernikahan," sahut Lala.


"Lala, kamu keterlaluan," teriak Rena emosi dan hampir saja satu tamparan keras lagi mendarat di pipi putih Lala.


"Rena, cukup, hentikan!" sahut Novi yang membuat Rena mengurungkan niatnya.


"Pantas, kalau Aisyah sampai menangis seperti itu, dia pasti sangat kecewa sama kamu. Hanya karena seorang laki-laki kamu tega menuduh sahabatmu seperti itu," sahut Rena


"Lalu aku harus bagaimana? Berterima kasih kepadanya? Berterima kasih kepada orang yang telah membuat kekasihnya, Julian, ingin mengakhiri hubungan kami karena dia ingin membawa


hubungannya dengan Aisyah ke jenjang yang lebih serius. Julian ingin mengajak Ais menikah. Apakah kalian tahu itu?" sahut Lala terdengar frustasi dengan air mata yang mulai jatuh membasahi wajahnya.


"Sebegitu inginnya kah kamu kepada Julian? Sampai kamu tega berkata seperti itu pada sahabatmu sendiri." sahut Rena


"Iya, aku memang sangat menginginkannya karena dia berbeda dari yang lainnya. Ia tampan, baik, royal, kaya, pintar, dan banyak hal lagi yang dia miliki dan tidak dimiliki laki-laki lain. Lagi pula Rena, kamu tidak akan tahu seperti apa perasaanku karena selama ini kamu belum pernah punya kekasih, kan? Kamu itu cuma seorang jomblo forever !" sahut Lala dengan nada penuh ejekan.


"Huh, aku benar-benar tidak menyangka bahwa kamu bisa berubah secepat ini hanya karena seorang Julian dan asal kamu tahu aku memang seorang jomblo forever , tapi setidaknya aku


tidak akan meninggalkan sahabat-sahabatku hanya demi seorang laki-laki," Ucap Rena tegas. Kemudian ia pun berlalu meninggalkan Lala sendirian, disusul


oleh Novi dan Dina yang mengikuti langkah kaki Rena yang pergi meninggalkan Lala.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2