
Alan menggendong Haikal dan menuntun Hana hingga sampai ke tempat parkir. Lalu, ia mengajak Rena dan kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobilnya. Ia membukakan pintu mobil bagian belakang untuk Hana dan Haikal.
“Ren, kamu mau duduk di mana?” tanya Alan lembut.
“Aku dan anak-anak duduk di belakang saja. Tidak masalah kan?” ucap Rena.
“Tentu saja tidak, duduk di pangkuanku juga enggak masalah,” goda Alan.
“Kakak kenapa sih? Perasaan dari tadi ngegombal terus,” sahut Rena.
“Mungkin karena lagi meriang,” jawab Alan dengan wajah yang tampak lesu.
“Meriang? Kak Alan beneran lagi meriang,” tanya Rena khawatir.
“Iya, beneran. Aku benar-benar lagi meriang Rena,” jawab Alan.
“Masa? Coba sini aku periksa!” pinta Rena.
Alan pun mendekat ke arah Rena agar Rena dapat dengan mudah menjangkau keningnya. Setelah Alan mendekat, Rena yang tampak khawatir, tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Ia pun langsung memeriksa kening Alan yang saat itu berdiri sangat dekat dengannya.
Saat Rena memeriksa kening Alan, ia sama sekali tak merasa adanya hawa panas berlebih di kening itu sebagaimana yang biasanya terjadi pada orang yang sedang meriang. Ia menatap Alan dengan tatapan penuh curiga. Ditatap demikian, Alan hanya bisa mengulas senyumnya.
“Apakah jantungku juga perlu diperiksa Rena? Karena akhir-akhir ini aku merasa denyutnya berdetak lebih cepat dari biasanya?” tanya Alan sembari memindahkan tangan Rena tepat ke bagian di mana jantungnya berada. Rena pun segera menepis tangannya yang dipegang Alan.
“Kak Alan, di depan anak-anak jangan suka berbohong,” ucap Rena sembari mengalihkan pandangannya dari tatapan Alan yang lembut, namun menusuk.
“Aku tidak berbohong Rena. Aku benar-benar lagi meriang, merindukan kasih sayang,” sahut Alan.
“Kalau begitu Kak Alan harus cepat-cepat menikah lagi agar sakit meriang Kak Alan bisa segera disembuhkan,” ucap Rena.
“Sebenarnya aku juga sangat ingin sekali Rena, tapi masalahnya wanita yang ingin aku nikahi belum mau menikah denganku,” sahut Alan.
“Memang siapa dia?” tanya Rena penasaran.
“Tuh,” jawab Alan menunjuk ke arah spion mobilnya yang memperlihatkan wajah Rena.
Rena hanya bisa memutar bola matanya. Lagi-lagi ia merasa Alan sedang menggombalinya.
“Sudahlah, kalau seperti ini terus kapan sampai rumahnya,” gerutu Rena. Ia pun langsung masuk ke dalam mobil Alan untuk menghindari gombalan Alan yang lebih lanjut.
“Perlu aku pasangkan sabuk pengamannya, Rena?” tawar Alan.
“Tidak, terima kasih, nanti yang ada jantung Kakak bakal melompat dari tempatnya,” jawab Rena ketus yang membuat Alan terkekeh karenanya.
***
Hana dan Haikal terlihat sangat menikmati perjalanannya bersama Alan, begitu pula dengan Rena yang juga ikut bahagia melihat kebahagiaan putra-putrinya
“Om Alan, mobilnya bagus,” puji Hana.
“Iya, Ikal juga nanti kalo udah besar mau beli mobil kaya Om Alan,” ucap Haikal.
__ADS_1
Dari kaca spion, Alan tampak memperhatikan Rena. Ia begitu senang melihat Rena yang tampak bahagia bersama kedua anaknya. Wajah murung yang sebelumnya sempat terlihat, kini perlahan-lahan sirna.
Aku harap kau tetap tersenyum seperti itu terus, Rena. Aku sungguh tak ingin melihatmu terus bersedih seperti tadi. Aku percaya padamu. Aku yakin kau bukan wanita seperti yang mereka tuduhkan (batin Alan)
***
Di Kampus Pelangi
“Aduuuuh, Kak Alan mana sih? Katanya mau ke kampus hari ini, tapi jam segini masih belum dateng. Di telepon juga enggak aktif,” gerutu Felisa.
Felisa terus menerus bolak-balik menunggu kedatangan Alan di halaman depan gedung fakultasnya. Rasa cemas tergambar jelas di raut wajah manisnya.
“Kamu kenapa sih? Bolak-balik terus dari tadi, bikin orang susah lewat tau gak!” bentak Abi saat dirinya melewati halaman depan gedung fakultasnya.
“Maaf, Pak. Saya lagi menunggu Kak Alan,” jawab Felisa.
“Menunggu itu di dalam, bukan di jalan seperti ini,” sahut Abi dengan nada ketus.
Kenapa sih dia selalu ketus? Enggak bisa apa bicara lembut dikit. Beda banget sih sama Kak Alan (batin Felisa).
“Kenapa bengong? Bukannya masuk atau kamu perlu saya tarik ke dalam,” ucap Abi masih dengan nada yang sama, ketus.
“E-enggak, Pak,” Felisa pun masuk ke dalam mengikuti perintah Abi.
“Kamu enggak ada jam ngajar?” tanya Abi tanpa menoleh ke arah Felisa.
Felisa pun celingak-celinguk mencari seseorang yang dimaksud Abi.
“Bukan, sama tembok yang punya telinga,” jawab Abi ketus.
“Hehehe.. Maaf, Pak, saya pikir Bapak bukan bicara sama saya,” sahut Felisa.
“Tadi, Bapak nanya apa?” tanya Felisa.
Pertanyaan Felisa cukup membuat Abi sedikit kesal. Ia memalingkan wajahnya menghadap ke arah Felisa.
“Saya tidak habis pikir, kenapa Bu Ais bisa memilih asisten dosen kaya kamu?” ujar Abi sambil melipat kedua lengannya.
“Memang saya kenapa?” tanya Felisa bingung.
“Le-mot,” jawab Abi singkat, padat, jelas, dan menusuk.
Dih, jahat banget sih tuh es balok. Ngatain orang lemah otak. Mending kamu enggak usah ngomong aja sekalian! Lebih cool, lebih ganteng! (ucap Felisa dalam hatinya).
“Kenapa masih berdiri di situ? Kamu beneran gak ada kelas hari ini?” tanya Abi lagi.
“Sebenarnya ada Pak, tapi saya diminta oleh Pak Imran untuk menyelesaikan terlebih dahulu laporan yang seharusnya sudah diselesaikan Bu Aisyah minggu kemarin,” jawab Felisa.
“Terus kenapa masih berdiri di situ?” tanya Abi.
“Masalahnya laptop saya tiba-tiba rusak, makanya dari tadi saya menuggu Kak Alan di sini untuk meminjam laptop punya dia,” jawab Felisa.
__ADS_1
“Kalau gitu ikut saya,” ajak Abi.
“Ke mana?” tanya Felisa.
Namun, Abi tak menjawab pertanyaan yang menurutnya tidak penting itu.
Ih, rese banget sih selalu seperti itu. Kalau ditanya enggak pernah jawab. Oke, saya akan ikutin ke mana pun kamu pergi. Sekalipun ke NERAKA. Eh, tapi jangan deh enggak enak kalau dibawa ke neraka. Bawa ke pelaminan aja kali ya, hehehe.. (Ucap Felisa dalam hati).
Abi pun mengajak Felisa masuk ke sebuah ruangan yang tak lain adalah ruangan miliknya.
Oh, ke sini toh. Bilang kek dari tadi (ucap Felisa dalam hatinya).
Felisa pun memasuki ruang kerja Abi yang tampak berbeda dari ruang kerja para pejabat kampus lainnya. Suasana gelap tampak mendominasi ruangan itu. Berbagai pernak-pernik berwarna abu-abu putih menghiasi ruangan itu. Sekali melihat, orang bisa menerka bahwa pemilik ruangan ini sangat menyukai kedua warna tersebut.
Yang paling menarik adalah keberadaan bunga mawar putih di atas meja kerja Abi. Siapa yang akan menyangka kalau di ruangan laki-laki yang dikenal tegas, dingin, dan macho ini akan ada bunga mawar putih sebagai pemanis ruangannya.
Waw, enggak nyangka banget ternyata di ruangannya es balok ini bisa ada bunga mawar putih toh (batin Felisa).
“Kenapa masih berdiri di situ? Sana, pakai laptop itu dan kerjakan laporanmu!” seru Abi menunjuk ke arah laptop miliknya yang berada di atas meja kerjanya.
Felisa pun melangkah mendekati meja kerja Abi. Dengan ragu-ragu, ia duduk di kursi yang biasanya dipakai Abi bekerja.
Kenapa jantungku jadi deg-degan gini ya? Baru duduk di kursinya aja, rasanya udah kaya gini. Gimana kalau duduk di pangkuannya? Bisa meledak kali ni jantung, hehehe. Aduh, Feli kamu mikirin apa sih kamu.? Sadar, sadar jangan mimpi terlalu tinggi, kalau jatuh rasanya bisa sakit banget. (ucap Felisa dalam hatinya).
Ia pun mulai menyalakan laptop milik Abi. Namun, ternyata laptop itu harus dibuka dengan password yang hanya diketahui oleh pemiliknya.
“Pak Abi, maaf. Passwordnya apa ya?” tanya Felisa.
“Serena,” jawab Abi.
Ternyata sampai detik ini pun Kak Abi masih cinta mati sama Kak Nena. Benar-benar enggak ada peluang (batin Felisa sedih).
Felisa pun mulai mengerjakan laporan yang harus dibuatnya di laptop milik Abi. Abi yang merasa kurang nyaman kalau harus berduaan dengan Felisa di ruangan miliknya memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu.
“Saya keluar dulu. Nanti, kalau sudah selesai laptopnya harap dimatikan dan tutup pintu ruangan ini dengan benar,” ucap Abi sebelum berlalu meninggalkan ruangan itu.
“Iya, Pak. Makasih telah meminjamkan laptopnya,” sahut Felisa.
Setelah kepergian Abi, Felisa pun menatap foto gadis cantik yang dipajang di meja kerja Abi.
“Kak Nena beruntung sekali dicintai oleh Kak Abi sebegitu dalamnya hingga aku pun tak pernah bisa masuk ke dalamnya” gumam Felisa sedih.
***
Bersambung
Dukung karya ini dengan memberikan like ya..
💐💐💐
Setelah menantikan keromantisan kisah ini.. Baca juga kisah author yang tidak kalah seru, romantis, dan lucu dalam "Mengaku Tunangan CEO"
__ADS_1