
Pagi itu Rena tampak sibuk dengan berbagai aktivitasnya sebagai seorang Ibu. Mulai dari memasak, menyapu, mengepel, hingga mencuci baju. Rena tampak sudah biasa dengan semua aktivitas itu karena memang selama menikah, meskipun Rena sibuk mengajar, ia tak memiliki pembantu sama sekali. Ia mengerjakan semua pekerjaannya itu seorang diri.
Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha, Kho, Dal, Dza, Ra, Zai, Sin, Syin, Shad, Dha, Tha, Dzha,...
Suara dering ponsel yang melantunkan lagu deretan huruf hijaiyah yang dilafalkan oleh seorang anak kecil menggema di sudut kamar Rena. Suara yang berasal dari rekaman suara Hana kecil itu memanggil Rena untuk mengangkat ponsel yang sedari tadi, ia letakkan di atas meja yang terletak di sudut kamarnya.
“Halo, Assalamualaikum,” sahut Rena menyapa si penelepon.
“Waalaikumsalam, Bu. Ini Sarah,” sahut si penelepon.
“Iya, Sarah, ada apa? Bagaimana kabarmu?” tanya Rena lembut.
“Alhamdulillah, Bu, kabar Sarah baik-baik saja. O, ya, Bu, Ibu sudah mendapat tempat mengajar yang baru belum?”
tanya Sarah.
“Belum, Sarah, sekarang ini Ibu masih menjadi pengacara,” sahut Rena.
“Pengacara, Bu?” tanya Sarah bingung.
“Iya, pengangguran banyak acara,” sahut Rena.
“Ah, Ibu, bisa aja,” sahut Sarah yang terkekeh mendengar jawaban dari guru SMP-nya itu.
“Iya, dong, memang apa sih yang Ibu enggak bisa,” sahut Rena.
“Tau deh..., Bu Rena memang guru Sarah yang paling hebat,” ucap Sarah dengan memanjangkan kata ‘paling’.
“Bu, teman Sarah kemarin memberitahu Sarah, katanya di SMP Cinta Kasih sekarang sedang membutuhkan Guru Bahasa Indonesia. Ibu coba saja melamar ke situ. Sarah yakin, Ibu pasti diterima,” ucap Sarah.
“SMP Cinta Kasih? Itu di mana ya, Sarah?” tanya Rena.
“Kota Bogor, Bu, dekat kampus kita dulu,” sahut Sarah.
__ADS_1
Sarah dan Rena memang merupakan lulusan dari perguruan tinggi yang sama di Kota Bogor. Mereka sama-sama lulusan dari Universitas Pelangi dan sama-sama pula mengambil Program Studi Bahasa Indonesia di Universitas tersebut, hanya mereka beda generasi.
Rena sendiri dulunya merupakan guru favorit yang begitu diidolakan oleh para siswanya. Sifatnya yang berani, penuh perhatian, dan mampu membaur dengan para siswa membuatnya begitu dekat dengan anak muridnya. Mereka bahkan tidak merasa sungkan untuk bercerita masalah pribadi mereka kepada Rena, termasuk Sarah, Bae, Laela, Mili, dan Riska, kelima siswa Rena yang dulu sempat mengunjungi Rena dan memberikan baju lebaran untuk Hana dan Haikal. Mereka adalah siswa angkatan pertama sekaligus perwalian pertama bagi Rena. Jarak usia mereka dengan Rena pun tidak terlalu jauh karena Rena mengajar saat usianya menginjak 22 tahun, dan anak-anak itu berusia 12 tahun.
“Jauh, juga ya?” tanya Rena.
“Iya, Bu, kalau dari rumah Ibu memang cukup jauh, tapi gajinya lumayan besar loh, Bu. Selain itu, anak-anak Ibu juga bisa sekolah gratis di sana karena selain SMP mereka juga memiliki SD dan SMA bahkan perguruan tinggi,” sahut Sarah.
“Waw, hebat juga, ya? Baiklah akan Ibu coba. Kamu kirimkan saja alamatnya,” sahut Rena bersemangat.
“Siap, Ibu, nanti Sarah kirimkan. Udah dulu, ya, Bu,” sahut Sarah.
“Iya, terima kasih Sarah,” sahut Rena.
“Sama-sama Ibu, Assalamualaikum..,” ucap Sarah sebelum menutup teleponnya.
“Waalaikumsalam,” jawab Rena.
Setelah menerima telepon dari Sarah, Rena pun berdiskusi dengan orang tuanya perihal rencananya untuk melamar pekerjaan di sekolah tersebut. Mereka pun sangat menyetujui dan mendukung keputusan Rena itu, meski itu artinya jika Rena diterima di sekolah tersebut, ia harus tinggal jauh dari kedua orang tuanya.
***
Panas yang dihembuskan oleh angin siang itu terasa membakar kulit, mengundang rasa enggan untuk beraktivitas di luaran sana. Namun, kendati demikian, panas yang dimiliki Kaisar Timur itu tak mampu mengalahkan semangat Rena untuk mengubah nasib dan kehidupan keluarganya menjadi lebih baik. Ia terus menyusuri jalan mengikuti petunjuk yang diberikan Sarah kepadanya.
Kini Rena sudah sampai di depan gerbang depan SMP Cinta Kasih. SMP yang memiliki gedung yang sangat besar dan megah serta memiliki halaman yang sangat luas. Pantas jika rumor yang beredar mengatakan bahwa SMP ini merupakan SMP swasta yang paling banyak diminati di kota Bogor. Meski sepertinya SMP itu terbilang baru, mengingat waktu kuliah dulu Rena belum melihat keberadaan SMP ini.
Dengan gugup Rena melangkahkan kaki masuk ke area halaman gedung SMP itu. Ia pun mendekati pos penjagaan keamanan dan menyampaikan maksud kedatangannya kemari.
“Maaf, Pak, permisi,” sapa Rena.
“Iya, Bu, ada perlu apa?” tanya salah seorang satpam yang menjaga tempat tersebut.
“Maaf, Pak. Saya, Rena. Kemarin saya mendapatkan panggilan melalui e-mail untuk mengikuti tes masuk sebagai guru baru di sekolah ini, dan saya diminta untuk menemui bagian HRD. Kira-kira di mana ya, Pak?” tanya Rena gugup.
__ADS_1
“O, ya, Bu, nanti saya antarkan Ibu ke sana. Sekarang silakan Ibu tinggalkan KTP Ibu di sini, dan pakai ini,” sahut satpam itu sambil menyerahkan kartu pengunjung berwarna biru dengan tali yang berwarna senada kepada Rena.
Rena pun mengambil kartu itu dan memasangkan talinya ke lehernya. Ia pun mengikuti satpam menuju gedung HRD. Gedung yang tidak begitu besar, namum terlihat mewah dan sangat bersih. Di gedung itu Rena mengikuti berbagai macam tes. Mulai dari tes tulis seperti mengisi soal-soal yang berkaitan dengan kebahasaan, pengetahuan umum, dan soal-soal lainnya hingga tes kecakapan seperti kemampuan dalam membaca dan menulis Alquran. Setelah menjalani tes tulis dan tes kecakapan, Rena juga harus menjalani dua tes lainnya, yaitu tes micro teaching dan wawancara.
“Baik Bu, sekarang Ibu dapat melanjutkan ke tes micro teaching. Saya akan antarkan Ibu menemui orang yang akan memberikan tes tersebut pada Ibu. Mari!” Ajak seorang wanita muda yang barusan memperkenalkan dirinya dengan nama Maya. Mereka pun melangkahkan kaki mereka menuju salah satu ruangan yang terdapat di lantai dua gedung tersebut.
Tok.. tok.. tok..
“Permisi, Pak,” sahut Maya sambil mengetuk pintu ruangan.
“Iya, silakan masuk,” sahut seseorang yang suaranya seperti tidak asing di telinga Rena.
Rena dan Maya pun membuka pintu ruangan itu. Di dalam ruangan itu, tampak seorang pria yang sedang duduk membelakangi mereka. Maya pun menghampiri orang tersebut dan menyerahkan map berwarna merah yang di dalamnya terdapat hasil tes Rena.
“Maaf, Pak, ini guru baru yang akan melaksanakan tes micro teaching dengan Bapak dan ini hasil tes tulis dan tes kecakapan dari Ibu itu beserta format laporan hasil penilaian tes micro teaching yang harus Bapak isi,” sahut Maya sambil menyerahkan maaf merah itu.
“Baiklah, terima kasih,” sahut laki-laki itu saat menerima map merah dari Maya.
“Sama-sama, Pak,” sahut Maya sambil berlalu pergi meninggalkan Rena di ruangan itu.
Setelah Maya pergi, laki-laki itu pun membalikkan kursinya menghadap Rena. Betapa terkejutnya Rena saat melihat sosok laki-laki yang tak asing baginya. Begitu pula dengan laki-laki itu. Mata mereka pun saling bertemu dan bertatapan satu dengan lainnya.
****
Bersambung
Maaf, jika up nya terlambat. Mohon
untuk tetap mendukung author dengan memberikan like, rate 5, vote, dan
komennya. Terima kasih. ❤️❤️❤️
.
__ADS_1
.