Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 91 Reuni Akbar


__ADS_3

Sebuah mobil berwarna silver berhenti tepat di halaman depan rumah Rena. Mobil itu tak lain milik Diki, suami Lala yang juga merupakan kakak ipar Reno, kakak kandung dari Rena.


Lala dan Adhel turun dari mobil itu, kemudian disusul oleh Diki. Mereka mengetuk pintu rumah milik Rena.


Tok..tok.. tok..


“Assalamualaikum,” sahut Lala.


“Waalaikumsalam,” jawab Rena membukakan pintu untuk Lala.


“Kalian sudah sampai?” tanya Rena.


“Seperti yang kamu lihat. Kamu sendiri gimana? Apa kamu dan anak-anakmu sudah siap?” tanya Lala.


“Sudah, bahkan dari tadi kami sudah menunggu kedatangan kalian,” jawab Rena.


“Kalau begitu baguslah, kita langsung berangkat saja,” ajak Lala.


“Tidak masuk dulu? Minum kopi dulu barang kali,” sahut Rena.


“Tidah usah, kami baru saja selesai sarapan,” jawab Lala.


“Kalau begitu Hana, Haikal kita berangkat sekarang!” ajak Rena.


“Yeeaaay,” sorak sorai Hana dan Haikal bersamaan. Mereka berdua pun berlarian menghampiri Rena.


“Reni, Kakak berangkat dulu,” ucap Rena pada Reni yang memang sedari tadi berada di sana ikut memperhatikan perbincangan sang kakak.


“Iya, Kak, hati-hati,” ucap Reni.


Rena dan kedua anaknya lalu mengikuti langkah kaki Lala dan suaminya yang kini berada di depan mereka.


“Hai, Dhel,” sapa Hana pada Adhel sahabatnya.


“Hai juga Hana. Gak nyangka ya kalo kita ternyata masih saudara,” sahut Adhel.


“Iya, aku juga baru tau semalam dari Mama,” sahut Hana tersenyum senang.


“Kak Diki, maaf sudah merepotkan,” ucap Rena begitu duduk di dalam mobil.


“Gak apa-apa, Rena. Kamu kan adiknya Reno berarti kamu juga adik aku,” ucap Diki.


“Iya, Na, enggak usah sungkan kaya gitu apalagi kamu itu bukan hanya adiknya Reno. Tapi, kamu juga sahabatku, jadi pantaslah jika kami menjemput kamu kemari,” sahut Lala.


Diki mulai melajukan mobil yang dibawanya. Selama perjalanan canda tawa mengisi kebersamaan mereka yang berada di dalam mobil itu.


Aku senang sekali melihat kamu bahagia dengan keluargamu sekarang. Padahal jika diingat, dulu kamu begitu marah pada Ais hanya karena seorang Kevin. Aku pun begitu kesal karena sikapmu yang terlalu berlebihan saat itu. Kamu terlalu berlebihan mencintai Kevin, tetapi ternyata sekarang kamu bisa melihat sendiri bahwa itu semua adalah cara Tuhan untuk mempertemukanmu dengan cinta sejatimu (ucap Rena dalam hati).


***


Di rumah Alan


“Sudah siap, Lan?” tanya Abi saat menjemput sahabatnya Alan.

__ADS_1


“Sepertinya sudah, lagipula sebagian barang-barang kan sudah kita bawa ke sana,”jawab Alan sambil meletakkan barang-barang yang akan dibawanya ke bagasi mobil Abi.


“Kalau begitu kita berangkat sekarang,” ajak Abi.


“Oke!! Feli, kakak berangkat dulu. Kamu hati-hati di rumah, jangan bawa orang keluar masuk rumah sembarangan,” ucap Alan menekan kata terakhir.


“Iya, Kak. Kalau begitu kakak juga hati-hati di jalan. Kak Abi, aku titip kakakku. Jagain dia baik-baik, jangan sampai terjadi sesuatu sama Kak Alan,” ucap Felisa.


“Baiklah, aku akan jagain kakakmu semampuku,” sahut Abi.


“Enggak bisa, Kak Abi harus jagain kakakku dengan segenap jiwa dan raga,” protes Felisa.


“Feli, kamu jangan berlebihan. Apa maksudmu dengan menyuruh Kak Abi untuk menjaga kakak sampai seperti itu?” tanya Alan yang sedikit heran dengan tingkah adiknya.


“Kamu baru tahu kalau adikmu itu memang sering melebih-lebihkan segala sesuatunya, Lan. Baiklah, Ratu Felisa Wijaya, aku berjanji akan menjaga kakakmu dengan segenap jiwa dan raga,” ucap Abi sambil menatap Felisa.


Mendengar perkataan Abi, Felisa langsung mendekati Abi, dekat sangat dekat. Sambil berjingjat Felisa mendekatkan wajahnya ke wajah Abi. Lalu, membisikkan sesuatu ke telinga sahabat kakaknya itu.


Ya Tuhan, aku pikir apa yang mau gadis ini lakukan dengan mendekatiku seperti ini? Ternyata hanya mau bilang itu saja toh, mengagetkan saja. (ucap Abi dalam hati dengan jantung yang berdetak lebih cepat dari biasanya)


“Iya, Kak Abi?” tanya Felisa.


“Baiklah,” jawab Abi.


Alan yang sedari tadi mengamati interaksi sahabat dan adiknya itu hanya tersenyum simpul, terutama saat melihat wajah Abi yang memerah saat Felisa berdiri begitu dekat dengannya.


“Felisa, apa yang kamu bisikan ke telinga Abi?” tanya Alan penasaran.


“Cih, kalian ini sudah mulai main rahasia-rahasiaan ya sama Kakak. Baiklah, nanti akan kakak sampaikan hal ini sama Mama,” ancam Alan.


“Bilangin aja,” tantang Felisa.


“Sudahlah, Lan. Itu bukan hal yang penting untuk kamu ketahui. Sekarang, cepat kita berangkat. Teman-teman pasti sudah menunggu kita di sana,” sahut Abi berusaha melerai perdebatan dua kakak beradik itu.


“Baiklah, kamu benar,” Alan pun bergegas masuk ke dalam mobil Abi diikuti oleh sang pemilik mobil yang langsung mengambil alih kemudinya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan sedang, meninggalkan Felisa yang masih berdiri di halaman depan menunggu hingga mobil itu tak terlihat lagi.


“Semoga sukses, Kakak. Kutunggu kabar baik darimu,” gumam Felisa.


***


Hijaunya hamparan perkebunan teh menjadi panorama indah yang tersaji bagi para pengunjung Gunung XX. Dinginnya semilir angin yang dirasakan tak mengurangi minat para pengunjung untuk menikmati panorama indah tersebut. Sambil melepas rindu mereka berfoto ria bersama dengan berbagai macam gaya yang tak mengenal batasan usia.


“Rena, kangeeeen,” pelukan hangat diberikan Aisyah saat berjumpa dengan Rena. Begitu pula dengan beberapa teman seangkatannya. Sama seperti yang lain, mereka pun tak kalah narsis. Berbagai macam gaya ditampilkan untuk mengisi galeri foto di ponsel mereka masing-masing. Mulai dari gaya lidah menjulur sampai gaya ala-ala boyband dan girlband K-pop favorit mereka.


Rona kebahagiaan terpancar jelas di wajah Alan saat melihat kedatangan wanita yang telah dinantikannya itu.


“Ehem, akhirnya yang ditunggu datang juga,” ucap Faizal yang berdiri di dekat Alan.


“Enggak mau disamperin tuh?” sahut Abi menimpali perkataan Faizal.


“Iya, padahal tadi ada yang kelihatan harap-harap cemas,” goda Faizal.

__ADS_1


“Sudahlah, kalian berdua ini senang sekali menggodaku,” sahut Alan.


“Bukan menggoda, tapi memberikan dukungan,” ucap Faizal.


“Hey, kalian bertiga! Berdiri saja dari tadi, enggak bisa apa berhenti ngeliatin cewek-cewek itu! Apalagi kamu Faiz ketahuan Kanjeng Mimi bisa tau rasa kamu,” sahut Iyus yang tiba-tiba datang menghampiri mereka bertiga. Di antara semua temannya, ia lah yang sedari tadi terlihat sibuk mondar-mandir memastikan segalanya telah berjalan sebagaimana mestinya.


“Kamu tuh Yus, dari dulu sifat gampang panikmu enggak pernah hilang. Tenang saja, semua telah selesai disiapkan. Dan awas kalau kamu sampai bicara macam-macam sama Kanjeng Mimi,” ancam Faizal. Kanjeng Mimi adalah panggilan Iyus untuk Mauri yang sekarang sudah menjadi istri Faizal.


“Sudah, sudah, kalian berdua ini masih saja suka ribut. Sekarang, kita bersiap untuk memulai acara pembukaannya,” ucap Abi.


Mereka berempat dibantu dengan panitia lainnya bersiap untuk memulai acara pembukaan Reuni Akbar Angkatan 2001-2010 FKIP, Universitas Pelangi.


***


Acara pembukaan Reuni Akbar angkatan 2001-2010 FKIP, Universitas Pelangi, berlangsung cukup khidmat, terutama saat Abi selaku Ketua Panitia acara itu memberikan sambutannya. Air mata tergenang di pelupuk mata para alumni saat Abi menuturkan suka duka yang harus mereka rasakan untuk bisa di posisi sekarang ini. Suka duka, tangis haru berkumpul menjadi satu. Cinta, persahabatan, pertikaian kadang mewarnai hari-hari mereka selama menjalani pendidikan di kampus itu.


Semua yang berdiri saling memeluk satu sama lain, melepas rasa rindu, terima kasih, serta maaf yang mungkin belum sempat terucap saat di akhir perpisahan mereka di kampus itu.


“Ais, aku minta maaf ya, aku pernah berkata kasar banget sama kamu. Bahkan, aku pernah menghina jilbab yang kamu kenakan. Sungguh aku malu jika mengingat itu semua. Itulah sebabnya aku selalu menghindar darimu setiap kali kita bertemu karena aku merasa tidak punya muka berhadapan denganmu,” seru Lala dengan terisak menghampiri Aisyah.


Air matanya mengalir di wajah manis Lala menandakan ketulusan akan semua kata-kata yang diucapkannya.


“Aku juga minta maaf ya, La. Kenyataannya pada akhirnya aku menikah dengan Kevin. Maaf, jika aku merebut laki-laki yang begitu kamu dambakan,” ucap Aisyah.


“Kamu bicara apa sih Ais. Aku sudah dengar cerita yang sebenarnya bahwa Kevin begitu susah payah untuk mendapatkan hati dan kepercayaanmu. Lagipula kalau aku masih bersama Kevin, aku tidak mungkin sekarang bersama Diki, laki-laki yang seratus kali jauh lebih baik daripada Kevin tentunya,” ucap Lala membanggakan suaminya.


“Kamu ini La, habis ngasih bawang ke mataku sekarang narsismu keluar lagi,” ucap Dina.


“Benar, Din. Emang enggak tau diri si Lala,” ujar Novi menimpali.


“Iya, kalau enggak narsis bukan Lala namanya,” sahut Rena.


“Betul itu,” sahut Lala.


Mereka berlima pun tertawa bersama-sama.


Akhirnya semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi di antara mereka berakhir sampai di sini (ucap Rena dalam hati)


***


Bersambung


Netizen : Thor, kapan lamarannya?


Author: Kapan-kapan. Sabar aja, nunggu wangsit dulu 😁😁😁


Terima kasih semua yang telah membaca cerita receh ini, tunggu dan nantikan cerita selanjutnya 😉 🙏🙏


Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘

__ADS_1


__ADS_2