Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 53 Kisah Baru


__ADS_3

Awal kehidupan baru Rena akan segera di mulai. Ia bersama kedua anaknya dan adiknya Reni, kini menapaki pusat kota Bogor. Mereka mencari alamat yang sebelumnya telah diberikan Novi kepadanya. Alamat sebuah rumah yang kelak dapat ditinggali oleh Rena dan kedua anaknya. Rumah tersebut merupakan rumah dari saudara Novi yang kini telah pindah ke kota Bandung dan dititipkan kepada Novi.


Sebelum sampai ke alamat tujuan tersebut, Rena, Reni, dan kedua anaknya mampir ke sebuah kedai bakso yang cukup ternama di tempat itu. Kedai yang terletak di pusat kota yang terkenal karena rasa baksonya yang enak dan harganya yang cukup terjangkau.


“Kakak yakin Kakak tau alamat itu?” tanya Reni.


“Iya, Kakak yakin karena zaman kuliah dulu Kakak sudah beberapa kali main ke daerah sana. Kebetulan alamat itu dekat dengan alamat rumahnya Kak Lala, teman kuliah Kakak yang sekarang menjadi kakak iparnya Kak Nita,” jawab Rena.


“Sayang ya, Kak Reno lagi kerja. Ayah juga lagi kurang sehat. Jadi, mereka nggak bisa menemani Kakak mencari alamat itu,” sahut Reni.


“Nggak apa-apa, biar bagaimana pun Kakak memang harus mulai belajar mandiri, tidak terus menerus bergantung pada Kak Reno dan Ayah. Lagipula, kamu jadi kan ikut Kakak tinggal di sana?” tanya Rena.


“Iya, jadi lah Kak. Masa aku udah bawa tas segede gini pake nggak jadi,” sahut Rena.


“Kirain cuma mau nginep doang,” goda Rena.


“Idih, kalau cuma nginep doang ngapain juga bawa baju sebanyak ini? Asal Kakak tau ya, aku kalau nginep paling cuma bawa baju satu,” sahut Reni.


“Oke, oke.. Kakak percaya. Kakak cuma mau memastikan aja, takutnya kamu berubah pikiran,” sahut Rena.


“Iya, nggak lah Kak,” sahut Reni sambil terus mengunyah baksonya.


“Oh ya, Ren, Kakak mau ambil uang dulu di ATM sana. Kamu jaga Hana dan Haikal dulu ya, di sini,” sahut Rena menunjuk sebuah ATM yang letaknya berada di seberang kedai bakso tersebut.


“Iya, Kak,” sahut Reni.


Setelah mendapat persetujuan dari adiknya, Rena pun segera keluar dari kedai bakso menuju tempat penarikan uang tunai itu. Saat berjalan keluar, entah mengapa Rena merasa ada beberapa orang yang mengikutinya. Namun, prasangka itu segera dibuangnya jauh-jauh. Ia pun tetap melanjutkan perjalanannya ke ATM tersebut.


Setelah mengambil beberapa lembar uang dari ATM itu, Rena pun berjalan kembali menuju kedai bakso tempat adik dan kedua anaknya menunggu di sana. Namun, di tengah perjalanan, tiba-tiba seseorang hendak merebut tas kecil milik Rena.


“Hei, apa-apaan kalian!,” sahut Rena yang berusaha mempertahankan tas kecil miliknya itu dari seorang laki-laki yang tak dikenalnya.


“Berikan tas itu, cepat!” teriak orang itu.


“Nggak!! Enak aja kamu mau ambil tas orang sembarangan!” bentak Rena.


“Oh, kalau begitu rasakan ini,” sahut orang tersebut seraya mengambil pisau lipat miliknya dan hendak melukai Rena. Namun, sebelum pisau itu sempat mendarat di bagian tubuh Rena, seseorang dari arah samping memukul laki-laki tadi.


Bugh!!

__ADS_1


Perkelahian pun terjadi antara si penjambret dan laki-laki yang tadi menolong Rena. Perkelahian yang berjalan cukup sengit dan semakin sengit saat komplotan dari penjambret itu datang membantu temannya yang sudah kewalahan menghadapi sang penolong Rena.


Bagh!! Bugh!! Bagh!! Bugh!!


Tendangan demi tendangan, pukulan demi pukulan terus terjadi di antara mereka hingga akhirnya komplotan penjambret itu berhasil dikalahkan oleh pria yang menjadi penolong bagi Rena. Sebelum benar-benar babak belur, para komplotan itu pun segera berlari pergi meninggalkan Rena dan pria tadi.


“Terima kasih ya,” sahut Rena.


“Iya, sama-sama. Lain kali berhati-hatilah kalau mengambil uang di sekitar sini,” sahut laki-laki itu yang wajahnya tampak tidak asing bagi Rena.


“Iya, kamu benar. Lain kali saya akan lebih berhati-hati. Oh ya, sepertinya saya mengenal kamu,” tanya Rena.


“Benarkah?” tanya laki-laki itu dengan nada yang dingin.


Gaya bicara yang dingin, wajah yang tampan, dan postur tubuh yang atletis yang dimiliki laki-laki itu membuat Rena yakin bahwa ia tidak salah mengenali laki-laki yang telah menolongnya itu.


“Kamu Kak Abi, kan? Abimanyu Syahputra?” tanya Rena yang membuat laki-laki yang tengah berdiri di depannya itu tampak kaget.


Ternyata Rena benar-benar mengenalinya. Ia mengira Rena sama sepeti wanita lain yang sering mengaku-ngaku mengenalnya dan ujung-ujungnya mengajaknya berkenalan.


“Benar, kamu sendiri siapa ya?” jawab Abi yang balik memperhatikan Rena.


“Jadi, kamu juga alumni Kampus Pelangi?” tanya Abi.


“Benar,” jawab Rena.


“Baiklah, kalau begitu senang bertemu denganmu dan maaf kalau saya tidak mengenalimu,” sahut Abi.


“Tidak masalah, saya mengerti apalagi kita sudah lama tidak bertemu.Ya.. kira-kira hampir sebelas tahun lah,” ucap Rena.


“Benar, lama juga ya,” sahut Abi.


“Oh ya, Kak Abi, saya permisi dulu. Sekali lagi terima kasih atas pertolongannya,” sahut Rena.


“Iya, sama-sama dan kalau boleh tau nama kamu siapa? Mungkin saya bisa mengingatnya?” tanya Abi.


“Saya Renata biasa dipanggil Rena,” jawab Rena dan lekas berlalu pergi meninggalkan Abi.


“Renata? Sepertinya nama itu sangat familiar,” gumam Abi.

__ADS_1


Setelah sampai di kedai bakso, Rena dibuat heboh oleh tingkah adik perempuannya itu. Reni rupanya melihat semua kejadian saat Rena diserang oleh seorang penjambret hingga perkelahian yang terjadi antara Abi dan komplotan penjambret itu.


“Ya ampun, Kakak nggak apa-apa, kan?” tanya Reni saat Rena duduk di sampingnya.


“Nggak apa-apa apanya?” tanya Rena pura-pura bingung.


“Ah, Kakak jangan pura-pura! Tadi kan Reni lihat sendiri kalau tas Kakak itu hampir diambil oleh seorang penjambret,” sahut Reni.


“Iya, kamu benar. Itu berati kamu juga sudah melihat semuanya dong,” sahut Rena.


“Iya, Kak. Oh ya, Kak, siapa sih laki-laki yang tadi menolong Kakak? Kakak kenalan enggak sama dia? Ya ampun, Kak......Dari jauh aja dia itu kelihatan ganteng banget. Apalagi dari dekat, ya....,” sahut Reni.


“Nggak, Kakak nggak kenalan sama dia,” jawab Rena sambil menyedot es jeruk yang sebelumnya sudah dipesannnya.


“Ah, Kakak payah,” sahut Reni.


“Tapi Kakak kenal sama dia,” sahut Rena.


“Serius, Kak?” tanya Reni semangat.


“Iya, dia dulu kakak kelas waktu masih kuliah,” jawab Rena.


“Ya, ampun... bisa kebetulan sekali. Mudah-mudahan kita bisa ketemu dia lagi, ya, Kak?” sahut Reni penuh harap.


Rena pun hanya tersenyum melihat tingkah adik perempuannya itu. Adik perempuan yang memiliki usia terpaut 7 tahun darinya. Yang hingga kini di usianya yang sudah terbilang matang dan beranjak ke angka 26 tahun belum juga menikah.


Reni sebenarnya gadis yang cantik, sudah banyak laki-laki yang mendekatinya dan mengajaknya menikah. Hanya saja, ia tidak ingin hal yang sama yang telah menimpa kakak perempuannya itu terjadi padanya. Ia tidak ingin buru-buru menikah hingga salah memilih suami.


Cukup baginya pengalaman kakaknya menjadi guru baginya. Ia ingin benar-benar selektif memilih calon suaminya. Apalagi seorang suami adalah jalan bagi seorang istri untuk menuju surga-Nya sehingga jika salah memilih, maka itu berarti akan sulit baginya untuk mendapatkan surga yang idam-idamkan semua kaum perempuan.


Maka perempuan manakah yang tidak menginginkan surga itu? Tentunya semua perempuan di muka bumi ini pastinya memiliki cita-cita yang agung tersebut. Hanya saja jalan yang akan mereka tempuh berbeda-beda satu dengan lainnya. Ada yang mendapat kemudahan dengan mendapat suami yang baik, ada juga harus ekstra sabar menghadapi kelakuan suaminya.


***


Bersambung


Jangan lupa, tinggalkan jejak kalian dengan like, komen, dan votenya. Author sangat berterima kasih untuk itu 😘😘😘😘


Semoga sehat selalu..❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2