Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 94 Ketakutan


__ADS_3

Lamaran yang dilakukan Alan untuk Rena mengakhiri pertunjukan hiburan dan pentas seni hari itu. Setelahnya, semua peserta diberikan kesempatan untuk melaksanakan kegiatan bebas. Lalu pukul 4 sore kegiatan baru dilanjut kembali dengan acara penutupan.


Selama kegiatan bebas para peserta memilih untuk berkumpul bersama teman-teman dekat mereka. Ada yang hanya sekedar foto-foto, mengobrol, dan ada juga yang menghabiskan waktu mereka dengan berkuda untuk mengelilingi wilayah Gunung XX.


“Kamu mau berkuda denganku Rena?” tanya Alan saat melihat beberapa peserta menunggangi kuda sewaan di tempat itu.


“Maksud Kakak apa? Kakak kan tau aku tidak bisa berkuda,” jawab Rena yang mulai mengingat kenangan yang pernah terjadi antara dirinya dan Alan.


“Iya, siapa tau ada yang mau mengulangi masa-masa itu,” goda Alan mengingatkan kejadian beberapa tahun yang lalu.


“Cih, itu sih enak di Kakak,” sahut Rena ketus.


“Maksud kamu apa? Bukan kah juga kamu juga menikmati kebersamaan kita saat itu?” tanya Alan menatap Rena lembut membuat wanita yang ada di hadapannya itu tertunduk.


“Iya, aku tidak menyangkal kalau saat itu aku memang merasa sangat nyaman di dekat Kakak karena Kakak telah menyelamatkanku dari situasi yang sebelumnya tak pernah kubayangkan. Aku merasa aman di dekat Kakak, tapi bukan berarti aku ketagihan ya,” jawab Rena.


“Lalu kalau tentang ini?” tanya Alan menunjuk ke pipi kanannya.


“Ih, Kakak mesum deh, itu kan beneran gak sengaja,” sahut Rena.


“Gak sengaja, sampai dua kali,” goda Alan.


“Ih, Kakak.. udah ah, aku pergi aja,” sahut Rena pergi menjauh dari Alan.


“Hey, Rena.. Jangan jauh-jauh!!,” teriak Alan saat Rena mulai menjauh darinya.


Rena tak menanggapi teriakan Alan, dia hanya membalikkan badannya lalu menjulurkan lidahnya seolah sengaja ingin membuat Alan kesal. Kemudian ia terus menjauh dari sisi Alan. Hal itu tentu saja malah membuat Alan semakin gemas, karakter wanitanya memang kadang sulit ditebak. Ia kadang bisa bersikap sangat dewasa, tapi kadang juga bertingkah kekanak-kanakkan. Namun, semua sifatnya itulah yang membuat Alan selalu merindukannya.


Rena berjalan semakin menjauh dari pandangan Alan, membuat Alan mulai merasa khawatir. Apalagi ketika sebuah jeep tiba-tiba saja berhenti di depan Rena, lalu membawa Rena masuk ke dalam jeep itu dan membawanya pergi.


“Siapa kalian?!” teriak Rena saat dua orang yang turun dari mobil jeep menarik dan memaksanya untuk naik ke dalam mobil jeep tersebut.


“Lepaskan! Mau apa kalian?” Rena terus meronta, namun tidak ada satu pun dari mereka yang mau melepaskan genggaman tangan mereka yang begitu kuat pada Rena.


“Kami ingin memberikanmu sedikit pelajaran atas kelancanganmu,” seringai dari salah satu dari mereka yang diiringi tawa dari rekan-rekannya.


“Apa maksud kalian?” tanya Rena lantang.


“Kau akan mengetahui maksud kami nanti, Nona,” jawab salah satu di antara lima orang laki-laki berwajah garang yang ada di dalam mobil jeep itu.


Sementara di sisi sana, tampak Alan yang terlihat begitu cemas saat melihat Rena dibawa paksa begitu saja oleh rombongan yang tak dikenalinya. Dengan cepat Alan menghadang salah satu temannya yang saat itu sedang berkuda.

__ADS_1


“Almira, tolong aku pinjam kudanya! Aku ingin mengejar jeep itu,” pinta Alan.


“Memang ada apa dengan jeep itu Kak Alan?” tanya Almira yang masih dengan keadaan yang sebenarnya.


“Di dalam jeep itu ada Rena, dua orang tak dikenal membawa Rena masuk ke dalam jeep itu secara paksa,” jawab Alan.


“Astaga! Kalau begitu Kak Alan, cepat pakai kuda ini! Kejar jeep itu! Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Rena,” sahut Almira sembari turun dari kudanya.


“Terima kasih, Almira, dan tolong beri tahukan ini pada yang lain!” ucap Alan sembari menaiki kuda itu.


“Baik, Kak Alan. Hati-hati!” sahut Almira.


Alan lalu dengan cepat memacu kudanya, mencoba mengejar jeep yang jaraknya sudah cukup jauh darinya.


“Rena,” teriak Alan berulang-ulang.


Teriakan Alan yang berulang-ulang itu terdengar ke telinga Abi, Arka, dan Jessi yang saat itu kebetulan sedang berkuda di sekitar tempat itu.


“Arka, tunggu! Aku seperti mendengar teriakan Alan memanggil Rena,” sahut Abi.


“Kau benar, sepertinya telah terjadi hal buruk pada mereka,” sahut Arka yang juga ikut mendengar teriakan Alan.


“Ayo, cepatlah! Kita lihat apa yang terjadi,” ajak Jessi yang langsung merasa cemas.


“Alan, ada apa?” teriak Abi sambil terus berusaha mengejar kuda yang ditunggangi Alan.


“Rena, ada di dalam jeep itu. Mereka membawa Rena secara paksa,” jawab Alan.


“Apa?!” Abi, Arka, dan Jessi yang mendengar itu ikut memacu kuda mereka mengejar mobil jeep yang dimaksud Alan.


Pengemudi dan penumpang yang berada di dalam mobil jeep itu menyadari bahwa saat ini mereka sedang diikuti. Itulah sebabnya, sang supir menambah kecepatan jeep yang sedang ia kemudikan. Namun, sial bagi supir itu karena terlalu fokus menghindari pengejaran Alan dan teman-temannya. Mereka terjebak di jalanan buntu antara jurang dan turunan tajam.


“Hey, kenapa kau membawa kami kemari?” tanya salah satu di antara mereka.


“Maaf, aku lupa kalau ini jalanan buntu,” sahut supir itu.


“Bodoh!! Kalau begitu sekarang kita turun saja. Kita bawa gadis ini sekarang turun ke bawah dan lakukan sekarang juga semua yang diperintahkan oleh Nona,” sahut yang satunya lagi.


Nona? Siapa yang mereka maksud? Orang-orang ini disuruh siapa? Dan apa yang mereka mau lakukan padaku? (ucap Rena penuh kekhawatiran dalam hatinya)


“Cepatlah, sebelum mereka mengejar kita sampai kemari!” perintah si botak.

__ADS_1


“Tolong, aku mohon lepaskan aku! Apa yang sebenarnya ingin kalian lakukan kepadaku? Siapa yang menyuruh kalian? Kenapa kalian berbuat seperti ini kepadaku?” teriak Rena.


“Diam!!” bentak laki-laki berkepala botak yang sekarang sedang mencengkeram kuat tangan Rena dan menariknya paksa untuk turun ke bawah bersama mereka.


Rena sendiri terus berusaha melepaskan dirinya dari cengkeraman laki-laki berkepala botak itu. Namun, cengkeraman laki-laki itu terlalu kuat hingga sulit dilepaskan. Air mata mulai membasahi pipinya ketika dirinya dihempaskan ke tanah begitu saja. Rasa takut semakin kuat ia rasakan. Saat kelima laki-laki itu tertawa terbahak-bahak seolah merasakan kemenangan atas kekalahan Rena.


“Kau ingin tahu bukan apa yang ingin kami lakukan kepadamu?” ucap salah satu di antara mereka.


Laki-laki itu kemudian mengeluarkan sebuah botol yang disimpannya di saku celananya.


“ Setelah ini tugas kami selesai,” ucapnya dengan tawa menyeringai.


“Apa itu? Apa yang ingin kalian lakukan kepadaku?” tanya Rena sambil terus berusaha menghindar dari mereka.


“Itu adalah air keras yang akan disiramkan ke wajahmu Bu Rena. Dengan begitu wajahmu akan hancur dan kekasihmu itu tidak akan mau lagi melanjutkan rencana pernikahannya denganmu,” jawab pria botak yang sedari tadi mencengkeram Rena.


“Apa? Siapa yang menyuruh kalian? Kenapa kalian setega ini kepadaku?” tanya Rena.


Air matanya semakin mengalir deras di pipinya. Ia tidak menyangka ada orang yang ingin berniat buruk kepadanya. Padahal, selama ini Rena tidak pernah merasa memiliki musuh. Apakah hubungan dia dengan Alan menimbulkan kemurkaan seseorang? Tapi, siapa? Kenapa Alan tidak pernah bercerita kalau ada orang lain yang juga mengharapkannya. Pertanyaan itu terus muncul di benak dan pikiran Rena.


Sementara, laki-laki ompong yang kini tengah memegang botol yang berisi air keras itu terus mendekat ke arah Rena. Tawa mereka tiada pernah berhenti saat menikmati ketakutan yang dirasakan oleh Rena. Seolah mereka semua adalah komplotan dari orang-orang sakit jiwa.


Langkah laki-laki ompong itu semakin mendekat, dekat terus mendekat dan akhirnya ia pun membuka tutup botol yang sedari tadi tertutup rapat. Lalu, setelah tutup botol itu terbuka ia langsung menyiramkan isinya ke arah wajah Rena.


Byurr...


***


Bersambung


Netizen: Thor apa yang terjadi pada wajah Rena? 😱😱😱


Author: Tunggu di part selanjutnya 😉


Netizen: Aih, Author kebiasaan 😥😥. Lalu apa yang pernah terjadi antara Rena dan Alan di masa lalu di tempat itu? 🤔🤔


Author: Ah, kamu ketahuan, bacanya cuma sepotong cerita 😎 silakan balik lagi ke part 'Sang Penyelamat' 😁😁😁


Terima kasih semua yang telah setia membaca cerita receh ini, tunggu dan nantikan cerita selanjutnya 😉 🙏🙏


Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, rate 5, komen, vote, dan tipsnya ya.. 😁😁😁

__ADS_1


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘


__ADS_2