
Burung-burung berkicau menyambut datangnya pagi. Diiringi semilir angin sejuk yang menyapa kalbu dan cahaya matahari yang menghangatkan tubuh.
Sungguh besar kuasa Tuhan yang telah menciptakan bumi dengan segala isinya. Menjadi satu kesatuan harmoni artistik yang menyatu menyambut pagi nan indah.
Sayangnya keindahan pagi ini tidak dapat dinikmati dengan sepuasnya oleh semua insan. Di halaman sana, tampak Rena yang tengah berlari kencang. Dengan jantung yang menderu dan nafas yang memburu Rena berlari menuju gedung fakultasnya.
"Aduh, kenapa selalu terlambat di saat yang tidak tepat sih," gumam Rena dengan wajah cemas sambil terus berlari.
"Rena, kamu cuma punya waktu 10 menit lagi untuk sampai kelas," gumam Rena menyemangati diri sendiri.
Akhirnya Rena sampai juga di depan gedung fakultasnya. Ia memasuki gedung tersebut dan mulai menaiki tangga menuju lantai 3, tempat ia berkuliah pagi ini. Namun, karena kurang hati-hati saat menaiki tangga, tubuh Rena menjadi tidak seimbang dan hampir saja terjatuh. Beruntung
seseorang dari belakang berhasil menahan tubuh Rena dengan tubuhnya dan memeluk pinggang Rena agar keseimbangannya tetap terjaga.
Aroma parfum yang tercium dari orang itu sungguh tidak asing bagi Rena. Kemudian, ia menolehkan pandangannya untuk melihat siapa orang yang telah menolongnya. Seketika mata keduanya saling beradu tatap. Keheningan sejenak melanda.
"Hati-hati," ucap Alan pelan di telinga Rena
Wajah Rena kini memerah saat sadar bahwa badannya begitu menempel dengan badan Alan. Posisinya kini seperti sedang dipeluk Alan dari belakang.
"Eh, iya, makasih," sahut Rena seraya berusaha bangkit berdiri memperbaiki posisi badannya. Saat dirasa posisi badannya sudah seimbang, ia pun segera berlalu pergi meninggalkan Alan.
Di bawah sana Alan memperhatikan kepergian Rena. Bibirnya tersenyum tipis. Ada perasaan aneh yang hinggap di hatinya. Namun, ia tak memahami perasaan apa itu.
****
Siang itu Rena dan teman-temannya kembali mengikuti perkuliahan Pak Janwar. Ada rasa canggung ketika ia memasuki kelas itu, terutama saat ia harus berjumpa dengan Alan lagi. Dirinya masih teringat dengan kejadian tadi pagi.
Bugh
Pukulan dari tas Mauri seketika mendarat di tubuh Faizal. Membuat Faizal dan Alan yang berada di sampingnya terkejut dibuatnya.
"Aww, sakit, Ndut, apaaan sih?" keluh Faizal
"Sakit, ya? Ni lagi," ucap Mauri sambil kembali melepaskan pukulan dengan tasnya kepada Faizal.
"Aduh, kenapa sih kamu, Ndut? Udah kaya kebo ngamuk aja," bentak Faizal, tak terima dirinya terus
menerus dipukul.
"Kenapa? Kenapa? Masih mo nanya kamu kenapa? Udah ambil makanan orang, ngatain orang gendut, ngatain kebo ngamuk, masih nanya kenapa?" sahut Mauri kesal.
"Yaelah, cuma masalah makanan doang, entar diganti!! Lagian salah sendiri makanan ditinggal- tinggal." sahut Faizal.
"Eh, kutilang! Aku tuh ninggalin makanan itu di sini karena kebelet ke kamar mandi. Masak aku harus
bawa makanan ke sana sih," sahut Mauri geram.
"Udah, Mauri, gak enak diliatin sama yang lain," sahut Alan menengahi.
"Biarin biar kapok dan tahu rasa dia," sahut Mauri ketus. Setelah mengatakan itu, ia pun lekas berlalu
dari Alan dan Faizal dan duduk di tempat yang jauh dari mereka dengan wajah cemberut.
"Kak Mauri sama Kak Faizal lucu ya?" tanya Dina.
"Iya, kaya kucing sama anjing aja, kalo ketemu pasti berantem," sahut Lala.
"Biasanya kalo kaya gitu tuh berjodoh," sahut Novi.
"Betul itu," sahut Lala sambil tertawa pelan.
Sedang Rena hanya diam saja tak memberikan komentar.
"Na, kamu kenapa?" tanya Novi
"Enggak, aku enggak kenapa - kenapa kok lagi ngantuk aja," jawab Rena berbohong karena sebenarnya saat melihat Alan, ia jadi teringat kembali kejadian tadi pagi. Entah kenapa, ada perasaan aneh yang sulit digambarkan dalam dirinya saat melihat Alan.
Rena tanpa sadar terus memperhatikan Alan hingga tatapan mata mereka saling bertemu satu sama lain. Saat itulah Rena segera mengalihkan pandangannya dari Alan. Ia tak ingin Alan menyadari kalau dirinya sedari tadi sibuk memperhatikan Alan.
__ADS_1
Duh, kira-kira dia sadar gak sih, kalau aku dari tadi memperhatikannya (piikir Rena).
Ternyata gadis itu sama saja, masih tetap dingin dan cuek. Aku pikir setelah kejadian tadi pagi, dia bisa bersikap lebih manis dan hangat kepadaku (Pikir Alan yang tidak menyadari kalau gadis yang
dipikirkannya itu dari tadi memperhatikannya)
Pikiran yang dari tadi mengganggu Rena, kinibteralihkan saat Novi mengajaknya berbincang-
bincang.
"Na, kamu belum cerita. Kemarin itu kamu wawancara sama siapa sih jadinya?" tanya Novi.
"Oh, itu... Aku jadinya wawancara sama tukang cilok," jawab Rena.
"Tukang cilok, kok bisa? Kenal di mana?" tanya Novi.
"Ya, bisalah. Kebetulan minggu kemarin dia lewat depan rumah aku. Tetanggaku ada yang nyetop, terus aku beli ciloknya. Lalu, sambil beli cilok iseng-iseng aku tanya deh berbagai hal yang
aku butuhkan untuk bahan tulisanku," jawab Rena.
"Tapi Nov, besok-besoknya, dia lewat terus ke depan rumahku, dan kaya SKSD gitu deh sama aku. Ih, jadi gak nyaman." ucap Rena yang justru disambut tawa oleh Novi.
"Ha ha ha, mungkin kemarin dia salah paham kali sama kamu. Disangkanya kamu pengen deketin dia. Karena kamu pasti nanya ini itu kan ke dia." sahut Novi
"Iya, juga sih, tapi males banget. Masa setiap dia lewat mesti buru-buru ngumpet di kamar," sahut Rena dengan ekspresi wajah yang lucu dan menggemaskan.
"Ha ha ha, Rena, Rena, kamu tuh beruntung banget sih udah dikejar-kejar sama pengamen, sekarang sama tukang cilok. Cilok.. cilok.., hahaha" sahut Novi sambil tertawa memperagakan gaya tukang cilok.
"Iiih, kamu tuh jahat banget sih, Nov," sahut Rena gemas akan tingkah sahabatnya itu yang tak pernah
berhenti menertawakannya.
"Sorry, sorry...," ujar Novi berusaha menahan tawanya.
"Tapi Na, wajar sih mereka itu suka sama kamu dan ngejar-ngejar kamu karena kamu tuh sebenarnya cantik, lho. Mungkin selain mereka masih banyak cowok di luaran sana yang suka sama kamu.
"Ah, kamu, kayak Mama aku aja. Tahu nggak Mama bilang apa ke aku 'Rena kamu itu kalau sama cowok, jangan judes, apalagi bersikap dingin! Nanti mereka gak ada yang mau sama kamu,"
sahut Rena menirukan gaya Mamanya.
"Lah, emang betul tuh apa yang dibilang Mama kamu. Jadi, cewek itu gak boleh terlalu dingin, mencair lah sedikit supaya mereka tidak takut dekat sama kamu," sahut Novi yang tak mendapat jawaban dari Rena.
"Hallo, dari tadi kalian bahas apa sih? Seru bener! Kami di sini sampai gak dicuekin," tanya Lala.
"Ini si Rena, dapat fans baru, sesudah pengamen sekarang dapat tukang cilok," jawab Novi.
"Ha, tukang cilok! Ha ha ha," sahut Lala, Dina, dan Aisyah serempak dan langsung tertawa bersama.
"Udah deh, Novi ghibah nya! Jangan jadi biang gosip deh," sahut Rena kesal.
Namun, hal itu tidak dihiraukan oleh Novi dan ketiga temannya yang lain. Mereka masih tetap saja tertawa hingga Pak Janwar masuk ke ruangan itu.
Sesaat keheningan melanda ruangan itu.
"Oke, sobat muda, selamat siang semuanya," sapa Pak Janwar
"Siang, Pak," jawab seluruh mahasiswa secara serempak.
"Apa kabar?" tanya Pak Janwar lagi.
"Baik, Pak," sahut seluruh mahasiswa bersama-sama
"Baik, sekarang saya akan membagikan hasil pekerjaan kalian yang kemarin. Saya cukup senang dengan hasil pekerjaan kalian. Terlebih lagi ada dua orang di antara kalian yang tulisannya sangat bagus dan menarik untuk dibaca. Oleh karena itu, saya memberikan nilai A+ untuk mereka," ucap Pak Janwar.
"Wuih, siapa tuh Pak? " tanya Faizal antusias.
"Pasti si Alan itu mah," sambung Mauri.
"Apa sih Ndut, bilang sialan, sialan," ledek Faizal yang mendapat pukulan buku di wajahnya oleh Alan,
__ADS_1
'puk' karena tak terima namanya dijadikan bahan candaan.
"Ha ha haa.. Bagus, tuh, Lan, si kutilang emang sekali-sekali perlu dikasih pelajaran," sahut Mauri.
"Aduh, Lan, maaf... " sahut Faizal.
Tiba-tiba suara Pak Janwar kembali menggema di ruangan itu. Suara yang cukup untuk mengakhiri pertikaian antara Faizal dan Mauri.
"Alan, coba tolong bagikan ini," pinta Pak Janwar kepada Alan yang saat itu juga menjabat sebagai
ketua kelas.
"Baik, Pak," sahut Alan seraya mengambil beberapa lembar kertas yang disodorkan Pak Janwar kepadanya.
Alan tersenyum senang saat melihat lembar pertama dan yang paling atas dari kertas itu adalah miliknya. Nilai yang tertera pada lembaran itu sesuai dengan harapannya yaitu A+. Ia lalu
menyimpan nilai yang diperolehnya itu di kursi lipat miliknya.
"Wuih, ternyata benar Alan memang is the best," sahut Faizal saat melihat lembaran yang tersimpan di kursi Alan.
Setelah menyimpan hasil pekerjaannya, Alan pun langsung mengambil lembaran tugas berikutnya untuk dibagikan. Pandangannya tertegun sebentar saat melihat nama dan nilai yang tertera pada lembaran tersebut.
"Rena," gumam Alan pelan sambil mengulas senyum di bibirnya.
Ternyata selain manis gadis itu pintar juga, (batin
Alan)
"Alan, siapa yang dapat nilai Apes berikutnya?" tanya Faizal penasaran.
"Apes.. A+, Kutilang," sahut Mauri.
"Iya, nilai A+ Ndut," sahut Faizal.
"Rena," jawab Alan.
"Wah, pinter juga dia, kakak kelas aja kalah," sahut Faizal.
Alan menghampiri Rena dan memberikan lembaran kertas tugas itu kepada Rena dan Rena pun menerimanya.
"Terima kasih," sahut Rena mengambil kertas itu dari Alan dan
"Deg"
Seketika jantung Rena seolah berdetak lebih cepat saat ia tak sengaja memegang tangan Alan. Ia pun
segera menarik kertas itu dengan cepat agar perasaannya tak terbaca oleh Alan.
Hah, gadis itu masih saja bersikap dingin (batin Alan).
Setelah memberikan lembaran kertas itu pada Rena, Alan lalu bergegas memberikan lembaran-lembaran berikutnya pada teman-temannya yang lain.
***
Bersambung
.
Jangan lupa like, vote, dan komennya ya...
.
.
.
Tetap tinggalkan jejak kalian di
karya author ya, dengan memberikan like, vote, dan komennya.
__ADS_1