Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 29 Sadar


__ADS_3

Alan segera mengambil alih kemudi kuda yang ditunggangi oleh dirinya dan Rena. Ia melingkarkan tangannya ke tubuh Rena agar dapat memegang tali pelana kuda yang terhalang oleh tubuh Rena dengan


baik. Mereka begitu dekat. Debaran jantung keduanya bisa saling terdengar. Begitu pula dengan keringat yang mengalir di badan keduanya seolah bercampur menjadi satu. Ada rasa bahagia yang hinggap di hati Rena. Terutama saat kuda Rena


akhirnya bisa dikendalikan Alan dengan baik.


Rena begitu menikmati perjalanannya bersama Alan. Alan mampu menunggangi kuda tersebut dengan sangat baik. Tanpa sadar, Rena menyandarkan tubuhnya ke dada bidang milik Alan seolah terbuai oleh suasana yang tercipta saat itu. Rena terus memperhatikan wajah Alan yang begitu dekat dengannya. Sadar akan dirinya yang terus diperhatikan oleh Rena, Alan pun mengulas senyum simpul di bibirnya.


"Kenapa kamu dari tadi terus memandangiku? Baru sadar ya, kalau aku ini sangat tampan," goda Alan


tersenyum tipis.


Godaan Alan itu menyadarkan Rena akan tindakan yang dianggapnya bodoh. Ia terlalu hanyut dalam suasana yang dianggapnya begitu romantis. Ia pun kembali memasang sifat angkuhnya.


"Dih, siapa yang memandangi Kakak? Kakak terlalu percaya diri," sahut Rena.


Dasar, gadis ini masih saja bersikap angkuh, (ucap Alan dalam hatinya)


Kuda yang ditunggangi Alan terus berjalan mengitari seluruh daerah yang ada di wilayah Gunung XX. Kuda tersebut berjalan dengan lambat. Keheningan sejenak melanda dua insan yang tampak begitu mesra seperti pasangan kekasih. Mereka diam seribu bahasa dengan jantung yang masih berdetak cepat dan tak bisa dikendalikan oleh keduanya.


"Rena, kamu bilang kamu tidak bisa berkuda terus kok kamu bisa ada di sana?" tanya Alan lembut.


"Tadi ada petugas yang mendampingi aku berkuda dan kemudian dia izin ingin buang air kecil,"


jawab Rena.


"Buang air kecil? Ke mana?" tanya Alan sambil memperhatikan sekelilingnya untuk melihat letak


toilet.


"Gak tau Kak, ke laut kali," jawab Rena sambil memonyongkan bibirnya. Hal itu terlihat oleh Alan dan itu membuat Alan semakin bertambah gemas pada gadis yang kini berada begitu dekat dengannya.


"Ya sudah, kalau begitu kita kembali ke tempat tadi, mungkin orangnya sudah kembali ke sana dan mungkin sekarang dia sedang panik mencari kamu," ucap Alan.


"Lalu kuda kakak yang tadi?" tanya Rena.


"Oh ya, kamu benar. Aku benar-benar lupa dengan hal itu karena tadi aku sangat khawatir denganmu


sehingga aku tadi tidak begitu memperhatikan hal tersebut. Mungkin nanti setelah kita bertemu dengan petugas itu barulah kuda itu kita cari bersama," jawab Alan.


Jawaban Alan tadi benar-benar membuat Rena sangat bahagia.

__ADS_1


Ternyata Kak Alan benar-benar mengkhawatirkan keadaanku sampai-sampai dia melupakan kuda yang disewanya tadi (batin Rena).


Alan membawa kuda itu kembali ke tempat ia dan Rena sebelumnya bertemu.


Sesampainya di tempat tersebut, sebagaimana yang telah diduga oleh Alan dan Rena, petugas yang sebelumnya mendampingi Rena berkuda tampak panik. Ia seperti sedang mencari sesuatu. Posisi badannya kini membelakangi Alan dan Rena. Tak jauh dari tempat ia berdiri, tampak seekor kuda yang telah diikat di sebuah pohon besar. Kuda itu


tak lain adalah kuda sewaan yang tadi ditunggangi oleh Alan.


"Eh, si Eneng, dicariin dari tadi. Ke mana aja Neng? Saya sampai panik. Kalau mau jalan-jalan sama pacarnya mah bilang-bilang dulu atuh ke saya," sahut laki-laki itu setelah membalikkan badannya. Lalu, melihat Rena dan Alan ada di depannya.


Perkataan petugas tadi tentang kata "pacar" membuat Rena dan Alan saling bertatapan. Mereka tak bisa menyangkal perkataan petugas tadi tentang sebutan "pacar" bagi mereka, karena siapa pun pasti akan berpikiran sama jika melihat Alan dan Rena berkuda saat ini. Posisi mereka saat ini begitu dekat.


"Lagian si Mamang nih buang air kecil aja sampai setahun," ucap Rena.


"Maaf atuh Neng, saya kan tadi harus ke villa dulu buang air kecilnya, jadi ya lumayan jauh dan lama,"


sahut petugas itu.


"O, pantesan! Emang di sekitar sini gak ada toilet, Mang," tanya Rena.


"Iya, atuh enggak ada Neng. Di sini mah cuma ada kebun teh doang," sahut petugas itu.


"Oh, tadi ada sedikit insiden, Mang," jawab Rena.


"Insiden apa?" tanya petugas itu.


"Tadi kuda yang saya tunggangi ini lepas kendali Mang. Kuda ini ngamuk dan berlari dengan sangat cepat," jawab Rena.


"Ya Allah, Neng, tapi Eneng tidak apa-apa kan?" tanya petugas itu lagi.


"Alhamdulillah, Mang, saya gak apa-apa. Untung tadi ada Kak Alan," sahut Rena sambil melempar senyum manis ke arah Alan.


Ya Tuhan, baru kali ini aku benar-benar melihat dia tersenyum, ternyata gadis ini semakin manis dengan senyum itu, biasanya dia hanya memasang muka jutek dan asamnya itu (batin Alan).


"Kak Alan, tolong bantuin aku turun dong," pinta Rena yang sebenarnya dari tadi kurang merasa nyaman dengan posisinya yang terlalu dekat dengan Alan.


Alan turun terlebih dahulu dari kuda yang ditunggangi nya itu. Setelah itu, ia membantu Rena turun dari kudanya. Namun, saat hendak turun tubuh Rena yang cukup berat malah menimpa Alan hingga membuat keduanya terjatuh ke tanah. Kini tubuh Rena berada persis di atas tubuh Alan. Bahkan,


saat jatuh tadi secara tak sengaja bibir Rena sempat menempel di pipi Alan. Hal itu tentu membuat wajah Rena maupun Alan merona. Kendati demikian mereka tetap berusaha menetralkan perasaan yang bergejolak di dalam diri mereka. Perasaan yang mereka sendiri belum bisa mengartikannya.


"Maaf, ya, Kak," ucap Rena dengan kepala yang menunduk karena malu.

__ADS_1


"Gak apa-apa, lupakan saja," sahut Alan.


Alan berjalan menghampiri kuda yang terikat tadi.


"Mang, kuda ini kebetulan kuda yang saya sewa tadi, yang saya tinggalkan tadi saat menolong Rena. Sekarang, saya ambil lagi ya, Mang, mau saya kembalikan ke tempatnya," sahut Alan seraya melepaskan ikatan kuda itu.


"O, ternyata itu kuda Aden. Ya, sudah silakan saja, sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Kalau tadi si Eneng kenapa-kenapa saya bisa dipecat," sahut petugas itu.


Alan langsung menaiki kuda yang sudah disewanya itu.


"Rena, aku duluan ya! Hati-hati di jalan dan lain kali jangan bersikap sok tahu kalau kamu tidak tahu, katakan saja yang sebenarnya." ucap Alan lembut.


"Iya, Kak, terima kasih ya, sudah menolongku," ucap Rena.


"Mang, tolong jaga dia untuk saya," sahut Alan melihat ke arah Rena.


"Siap, Den. Pacar Aden pasti akan saya jaga," sahut petugas itu yang membuat wajah Rena dan Alan


kembali merona.


Setelah mendengar jawaban petugas itu, Alan pun segera berlalu meninggalkan Rena bersama petugas yang mendampinginya menunggang kuda.


"Neng, pacarnya ganteng banget ya," sahut petugas itu.


"Pacar? Bukan Mang, dia itu belum jadi pacar saya," sahut Rena.


"Kalau belum berati nanti juga akan jadi pacar, Neng," goda petugas itu.


Sepertinya Rena memang salah berucap dengan menggunakan kata 'belum'. Mungkin itu terjadi karena jauh di lubuk hatinya, keinginan itu ada. Namun, Rena masih belum menyadarinya. Ia selalu


merasa bahwa ia dan Alan tidak mungkin bisa bersama. Alan terlalu istimewa untuk menjadi miliknya.


Setelah Alan pergi jauh menunggangi kuda miliknya dan kuda Rena pun dianggap sudah siap untuk ditunggangi oleh Rena, ia lekas naik ke atas kuda itu. Dengan dibantu petugas tadi, ia membawa


pergi kuda tersebut menjauh dari tempat itu.


***


Bersambung


Like, vote, dan komennya jangan lupa ya...

__ADS_1


__ADS_2