Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 56 Jodi


__ADS_3

Di ruang tamu, suara canda dan tawa kelima gadis itu terdengar menggema memenuhi seluruh isi ruangan.


“Hahaha.. gue beneran gak nyangka kalau si Sarah tuh bakal nikah sama si Poltak itu,” sahut Bae yang tak bisa menahan tawanya.


“Hus.. sembarang banget kamu Bae, masa Ziko kamu panggil Poltak,” sahut Laela.


“Iya nih, Bae, ada yang marah lo,” sahut Riska.


“Tau nih, makanya aku tuh males cerita ini sama kalian. Pasti bakalan kaya gini nih,” ucap Sarah cemberut.


“Sabar Sarah, Bae itu emang kaya gitu. Maklum dia itu kan masih ‘jodi’,” sahut Felisa.


“Jodi? Apaan itu Ca?” tanya Bae.


“Jomblo Abadi, hahaha,” sahut Felisa.


“Sial lo, kaya lo sendirinya bukan ‘jodi’ aja,” sahut Bae sambil melempar bantal ke arah Felisa.


“Oho, itu beda. Walaupun aku nih ‘jodi’, tapi setidaknya aku masih punya gebetan yang statusnya sama-sama ‘jodi’,” sahut Felisa.


“Jadi, Kak Abi lo tuh sampe sekarang statusnya masih ‘jodi’ juga?” tanya Riska.


“Wah, berati dia cowok enggak laku tuh, Ca,” sahut Laela.


“Enak aja,” sahut Felisa.


“Iya, jangan-jangan mukanya bukannya mirip Lee Min Ho tapi malah mirip Mandra lagi, hahaha,” ejek Bae yang membuat semua teman-teman Felisa ikut tertawa dibuatnya. Namun, suara tawa kelima gadis itu pun tak berlangsung lama. Suara itu terhenti mana kala dua sosok laki-laki hadir di tengah-tengah perbincangan mereka berlima.


Dua sosok laki-laki tampan dan berbadan tinggi itu, tak lain adalah Iyus dan Abi.


“Kak Abi, Kak Iyus,” sapa Felisa kaget.


“Hai, Cantik. Lagi pada ngomongin apa sih ketawanya sampai kedengaran ke luar?” tanya Iyus pada Felisa yang memang sering dipanggilnya dengan sebutan ‘cantik’.


“Lagi ngomongin Kak A-..” sahut Bae yang terpotong karena mulutnya langsung ditutup oleh Felisa.


“Kak Alan, Kak,” sahut Felisa.


“Oh, ngomongin Kak Alan, kirain ngomongin Kak Abi,” goda Iyus sambil melirik ke arah Abi yang sedari tadi diam tanpa ekspresi.


“Ih, enggak Kak, beneran. Kami cuma ngomongin Kak Alan, sama teman kami Sarah yang rencananya bentar lagi mau nikah,” sahut Felisa.


“Sama ngomongin ‘Jodi’ juga, Kak,” sahut Sarah yang kemudian mendapat pelototan dari Felisa.


“Jodi siapa? Calon suaminya Felisa?” sahut Iyus asal yang membuat Felisa terbatuk dibuatnya.


“Bukan, Kak, ‘Jodi’ itu 'jomblo abadi,” sahut Bae yang mendapat sikutan dari Felisa.


“Aduh, salah lagi gue?” gumam Bae.


“Wah, kamu tuh Fel, Kakak sendiri dibilang ‘Jodi’,” sahut Iyus.


"Eh, bukan. Maksud aku bukan Kak Alan,” sahut Felisa.


“Terus siapa? Aku ?” sahut Iyus menunjuk dirinya sendiri.


“Ah, Kak Yus, bukan,” jawab Felisa merengek.


“Atau Abi?” sahut Iyus melirik ke arah Abi yang masih belum mau bicara.

__ADS_1


“Bukan,” jawab Felisa lantang yang membuat teman-temannya yang lain saling berpandangan.


“Bukan Kak, yang Felisa maksud ‘Jodi’ itu Bae,” sahut Laela.


“Iya, Kak, aku. Aku masih 'Jodi’ loh. Kakak sendiri ‘Jodi’ bukan?” goda Bae.


“Kok tau, bisa terbaca ya?” goda Iyus balik.


“Serius? Bisa kenalan dong,” sahut Riska yang membuat Felisa menepuk jidatnya melihat tingkah centil kedua sahabatnya itu.


“Boleh, teman yang di samping Kakak juga ‘jodi’ kok,” sahut Iyus yang kemudian mendapat pelototan dari Abi.


“Wah, ‘jodi’ di sini kece-kece Ris,” bisik Bae kepada Riska.


“Bener, Bae. Meski usianya udah pada matang, tapi masih pada kece juga,” sahut Riska pelan.


“Ih, kalian ini nggak punya malu banget sih,” sahut Sarah yang merasa kurang nyaman dengan tingkah kedua temannya itu yang menurutnya terlalu over.


“Tau, nih Sar, malu-maluin banget,” sahut Laela.


“Gimana? Jadi, kenalan enggak?” sahut Iyus yang sedari tadi mendengar percakapan kelima gadis itu yang menurutnya punya karakter yang unik.


“Emang boleh?” tanya Riska.


“Tentu aja boleh. Emang siapa yang ngelarang ? Atau aku aja dulu yang memperkenalkan diriku,” sahut Iyus.


“Boleh,” sahut Bae antusias.


“Baik, aku Iyus, dan teman di sampingku ini namanya Abi,” sahut Iyus.


“Oh, ini yang namanya Kak Abi,” sahut Bae yang lagi-lagi mendapat cubitan dari Felisa.


“Kalau aku Riska, ini Sarah, Laela, dan ini Ayu alias Bae,” sahut Riska memperkenalkan diri dan teman-temannya satu per satu.


“Kalian sudah sampai sini rupanya?” tanya seseorang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.


Orang tersebut tak lain adalah Faizal yang baru saja datang bersama Arka.


“Eh, Pak Kepsek udah dateng,” sahut Iyus.


“Alan di mana?” tanya Faizal.


“Kak Alan di kamarnya Kak Faiz,” sahut Felisa.


“Hai, Feli cantik apa kabar? Lagi banyak tamu rupanya?” tanya Faizal.


“Iya, Kak. Alhamdulillah, kabar Feli baik. Nanti biar Feli panggil dulu, ya, Kak Alannya,” sahut Felisa seraya beranjak dari kursinya menuju kamar Alan.


“Duduk, Kak,” tawar Riska.


“Kalau yang dua ini statusnya bukan ‘Jodi’ lagi, ya?” sahut Iyus.


“Jodi? Apaan tuh?” tanya Faizal.


“Jomblo Abadi,” sahut Iyus.


"Wah, itu sih kalian, hahaha," sahut Faizal.


Tak lama berapa lama, setelah kedatangan mereka, tampak Dewa yang baru saja masuk ke dalam rumah itu.

__ADS_1


“Pak Dewa,” sahut keempat gadis itu secara bersamaan.


Mereka tampak terkejut dengan kehadiran Dewa di rumah Kakak Felisa, begitu pula dengan Iyus, Faizal, Abi, dan Arka yang tampaknya sama terkejutnya dengan mereka saat menyadari keempat gadis itu mengenal Dewa.


“Pak Dewa... Kangen...,” sahut Riska, Bae, dan Laela secara bersamaan. Mereka bertiga pun berdiri dan hendak memeluk Dewa.


“STOP!!! Bukan muhrim,” sahut Dewa menghentikan langkah ketiga gadis itu.


“Ups, lupa,” sahut Laela dan kedua temannya yang lain dengan malu-malu.


“Tau, nih Pak, agresif banget nih ya Pak, murid-murid Bapak,” sahut Sarah yang sedari tadi melihat tingkah ketiga sahabatnya itu.


“Kalian ini?” tanya Dewa yang mencoba mengingat-ingat wajah keempat gadis yang ada di depannya itu.


“Bapak lupa sama kami?” tanya Riska sedih.


“Ya, iyalah mana mungkin Pak Dewa ingat, kita ini kan cuma sebutir debu di padang pasir yang luas,” sahut Laela.


“Paling Pak Dewa, ingatnya cuma sama Bu Rena doang,” sahut Bae yang mendapat sikutan dari Laela.


“Aduh, kenapa sih pada seneng banget nyikut Bae, sakit tau,” gumam Bae.


Mendengar nama Rena disebut di antara perbincangan Dewa dan keempat gadis itu. Kelima laki-laki itu pun sibuk dengan pikirannya masing-masing.


Ada hubungan apa Dewa dengan Rena? Apa mereka pernah dekat ? (pikir Iyus).


Jadi, Dewa juga ternyata pernah dekat dengan Rena.(pikir Faizal).


Rena, ada apa Dewa dengan Rena? Wah, bisa bahaya kalau Yuna sampai tahu (pikir Arka).


Rena? Lagi-lagi nama itu? Apa cuma aku yang tidak begitu mengenal Rena? (pikir Abi)


Kenapa namaku selalu dikaitkan dengan Rena? Apa memang sebegitu bucin nya aku dulu sama dia? (pikir Dewa)


Pikiran kelima laki-laki itu pun terhenti ketika Alan datang di tengah-tengah mereka.


“Kalian sudah sampai rupanya. Maaf, tadi aku lagi mandi dulu. Kalau begitu kita bicarakan masalah reuni itu di taman belakang saja, oke,” sahut Alan yang disetujui oleh kelima temannya itu.


Alan dan kelima temannya itu pun berlalu dari hadapan keempat gadis itu menuju taman yang berada di belakang rumah Alan.


“Teman-temannya Kak Alan ganteng-ganteng , ya?” sahut Riska.


“Iya, apalagi Kak Abi, COOL,” sahut Bae.


“Bener banget, pantes Ica sampai gagal move on,” sahut Laela.


“Hayo, siapa yang lagi ngomongin aku?” sahut Felisa yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang.


“Tuh,” sahut ketiganya saling tunjuk.


“Jadi, kalian ngomongin apa soal aku?” tanya Felisa sambil berkacak pinggang.


“Mereka bilang teman-teman kakakmu itu ganteng-ganteng terutama Kak Abi. Pantes kamu sampai gagal move on,” sahut Sarah yang sedari tadi hanya menyimak pembicaraan teman-temanya.


“Oh.. itu, jadi sekarang udah jelas kan, kalau Kak Abi itu ganteng banget. Jadi, jangan ada lagi ya... yang bilang kalau mukanya Kak Abi itu mirip MANDRA,” sahut Felisa menekan kata terakhir yang disambut tawa oleh teman-temannya.


***


Bersambung

__ADS_1


Tinggalkan jejak kalian dengan vote, like, dan komennya ya... Terima kasih 😘😘❤️❤️


__ADS_2