Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 23 Berikan Aku Sesuatu


__ADS_3

Hujan semalam meninggalkan jejak-jejak basah di setiap sisi permukaan bumi, membuat para pengguna jalan harus lebih berhati-hati dalam mengemudikan kendaraannya. Menyebabkan kemacetan terjadi di mana-mana. Hal itu tak luput pula dialami oleh Rena. Ia tampak resah, berkali-kali ia memandangi jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Aduuuh, kalau kaya gini bisa kesiangan," gumam Rena saat bus yang ditumpangi hanya diam tak bergerak.


Ponsel yang berada dalam tasnya pun berbunyi. Tampak panggilan masuk dari seseorang yang cukup dikenalnya.


"Halo, kamu lagi di mana sih, Na?" tanya si penelepon yang tak lain adalah Novi.


"Masih di bus, Nov," jawab Rena.


"Ya ampun, mo datang jam berapa kamu? Ni udah mo mulai loh acaranya," sahut Novi.


"Iya gak tau, gimana lagi masih macet?" keluh Rena frustasi.


"Hadeuh.. Mang tadi kamu berangkat jam berapa sih?" tanya Novi gemes.


"Kayak biasa Emak," sahut Rena.


"Huss, Emak, Emak! Emang kapan aku nikah sama abah kamu!" sahut Novi nyolot.


"Hahaha, becanda Nov. Lagian bawel sih kamu kayak emak-emak," Sahut Rena.


"Ya udah, ya udah, sekarang dengerin emak! Emak mau nanya posisi kamu lagi di mana, Neng?" tanya Novi


"Masih di daerah XX dekat Gang Pocong," sahut Rena.


"Lah, itu mah masih jauh banget. Sementara waktu kamu sekarang tinggal 20 menit lagi, Cinta," sahut


Novi


"Iya sayang, makanya doain aku biar cepat nyampe," sahut Rena


"Ya udah, aku doain semoga kamu cepat sampai. Oh ya, jangan lupa pakai sepatu supernya ya, biar bisa cus sampai kampus." sahut Novi


"Oke, Ayang Nov Nov, kalau udah sampai kampus, aku pasti pakai sepatu super biar cus sampai kampus dan yang penting gak sampai m4mpus," sahut Rena


"Huss, nie anak kalo ngomong suka asal! Udah, ah aku tutup teleponnya!" ucap Novi


"Iya, Ayang Nov Nov, " sahut Rena


"Oh ya, satu lagi, semoga kamu datang dengan selamat, enggak sampai terlambat karena kalau terlambat kamu bisa enggak selamat," ucap Novi menekan kata terakhir


"Iya, makasih doanya," sahut Rena


Rena dan Novi sama-sama mengakhiri panggilan telepon mereka.


***


"Gimana Nov, Rena lagi di mana?" tanya Rindu


"Masih di bus. Di daerah XX, Gang Pocong," jawab Novi


"Waduh, masih jauh banget. Acaranya bentar lagi mulai, lho," sahut Rindu


"Entahlah," sahut Novi sambil mengangkat kedua bahunya.


"Novi, Rindu, Rena mana?" sapa Aisyah berjalan menghampiri Novi dan Rindu bersama dengan Lala dan Dina


"Belum datang, masih di jalan," jawab Novi.


"Ya udah, kalo gitu sekarang kita langsung masuk ke aula aja, yuk!" ajak Aisyah


"Yuk," jawab Novi dan Rindu bersamaan


Mereka pun berjalan menuju aula.


***


Setelah turun dari bus, Rena dengan cepat melanjutkan perjalanannya. Ia pun kemudian menaiki angkot yang akan mengantarkannya langsung menuju kampus tercintanya. Sesampainya di depan kampus. Lalu ia turun dari angkot. Tanpa melihat ke kanan dan kiri jalan, ia pun menyeberang.


Tettttttt...


Suara klakson mobil menggema panjang di telinga Rena, dan saat itu juga seseorang menarik lengan Rena hingga ia berada persis di halaman depan kampusnya. Orang itu tak lain adalah Arka. Arka

__ADS_1


menarik lengan Rena saat melihat sebuah mobil hampir saja menabrak Rena.


“Aduh, beneran.. untuk gak m4mpus,” gumam Rena sambil memegang dadanya.


"Kamu enggak apa-apa, kan?" tanya Arka.


"Iya, aku gak apa-apa. Makasih ya, Kak, udah nolongin aku untuk kedua kalinya," jawab Rena.


"Kedua kalinya???" tanya Arka bingung


"Iya, sebelumnya Kakak juga sudah pernah menyelamatkanku saat aku hampir saja tertabrak mobil di Jalan XXX depan pusdikzeni waktu MOS di sana," jawab Rena.


"Oh iya, aku ingat sekarang. Jadi itu kamu?" Ucap Arka setelah mengingat kejadian tersebut.


"Iya, Kak," jawab Rena.


"Ya ampun, berarti kamu orangnya ceroboh juga, ya? Pantes aku tuh kaya pernah lihat kamu sebelumnya.


Terus itu gimana luka di keningmu? Udah baik, kan?" tanya Arka sambil menyingkirkan rambut yang menutupi kening Rena.


Ya ampun... deket banget.. jantungku bisa loncat nih... (batin Rena)


"Udah baik kan, Kak," ucap Rena.


"Baguslah, kalo begitu. Kemarin, aku benar-benar merasa bersalah banget," sahut Arka.


"Gak apa-apa, Kak. Namanya juga Kakak gak sengaja. Kalau sengaja tuh baru aku gak akan maafin Kakak," jawab Rena.


***


Di tempat lain


Dua orang perempuan yang hampir sebaya dengan Rena sedari tadi memperhatikan percakapan antara Rena dengan Arka. Mereka menggunakan jas almamater biru dengan name tag di sebelah


kanannya.


Perempuan yang satu berkulit putih. Rambut panjangnya diikat dengan rapi. Name tag yang dipakainya bertuliskan "Jessy". Sedangkan, yang satunya lagi bertubuh tinggi, lebih tinggi dari Jessy, berkulit kuning langsat, dan rambut yang diikat rapi sama seperti Jessy. Nama tag yang dipakainya bertuliskan "Melinda".


"Siapa sih anak baru itu? Akrab banget sama Arka," tanya Jessy.


Jessy terus memperhatikan muda-mudi yang berada di depannya itu. Ia mengepalkan kedua tangannya seolah menahan amarah yang tak tertahankan. Setelah itu, ia pun mengajak Melinda untuk lekas pergi dari tempat itu, membawa rasa jengkel yang disimpan di hatinya.


***


"Kamu kok baru berangkat jam segini?" tanya Arka di tengah-tengah perbincangannya dengan Rena


"Astaga, aku lupa. Aku kan tadi lagi buru-buru, Kak. Takut kesiangan," sahut Rena panik, kemudian melirik jam tangannya.


"Ya ampun, udah siang banget. Gimana ini, Kak?" tanya Rena.


"Ya, siap-siap aja terima hukumannya. Aku duluan, ya!" sahut Arka sambil berjalan mendahului Rena.


"Lain kali berangkatlah lebih pagi!" sahut Arka menoleh sebentar ke arah Rena, lalu melanjutkan perjalanannya.


"Yah..Kakak... Kirain bakal bantuin," keluh Rena cemberut.


Setelah Arka menjauh, Rena pun lekas mengambil langkah seribu dan tiba-tiba...


Bugh!


Badan Rena bertabrakan dengan seseorang yang tak lain adalah Alan.


Saat itu Alan baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di lantai bawah gedung fakultasnya. Ia memperhatikan gadis yang baru saja bertabrakan dengannya.


"Kamu lagi.. Jam berapa ini?" tanya Alan sambil melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.


"Jam setengah 8, Kak," jawab


Rena merasa bersalah.


"Itu artinya?" tanya Alan lagi.


"Saya kesiangan, Kak," jawab Rena pelan.

__ADS_1


"Baik, kalo gitu kamu harus saya hukum," sahut Alan menekan kata terakhir.


"Dihukum, Kak? Jangan dong, Kak, please!" pinta Rena dengan memelas.


"Enak, aja. Setiap kesalahan itu harus menerima hukuman," sahut Alan lagi-lagi menekan kata terakhir.


"Tapi kan.. kemarin, saya baru aja kena musibah, Kak. Kepala saya masih sakit, itu sebabnya tadi saya agak kesulitan bangun karena merasakan sakit di kepala saya," ucap Rena berbohong.


"Alasan kamu!" sahut Alan.


"Enggak Kak, beneran," ucap Rena berusaha meyakinkan


"Lagian kenapa juga kamu enggak tendang kembali bola itu dengan betis kamu. Kamu kan Gabriela Betistuta,"ledek Alan mengingat peran Rena di drama yang kemarin sempat dimainkannya.


"Kakak, kalau saya bisa pasti sudah saya lakukan, enggak mungkin juga saya biarkan wajah saya yang manis ini sampai terkena tendangan bola, " sahut Rena sedikit narsis.


"Manis? Narsis juga kamu, ya," ucap Alan.


"Tapi ya.. omonganmu mungkin ada benarnya juga.


Saking terlalu manisnya sampai-sampai bola si Arka itu tak sabar ingin mencium keningmu. Bahkan, sampai ada bekasnya pula ha ha," ledek Alan lagi sambil tertawa geli. Rena yang mendengar itu mengerucutkan bibirnya sebal.


"Baiklah, tenang saja, saya tidak akan menghukum kamu hari ini," ucap Alan.


"Serius, Kak?" tanya Rena senang.


"Tapi... berikan saya sesuatu yang kamu suka," ucap Alan sambil merebut ponsel yang sedari tadi dipegang oleh Rena. Ponsel yang sempat dikeluarkan Rena dari dalam tasnya saat ingin menelepon Novi.


"Ih, Kakak, jangan ambil ponsel saya dong! Itu kriminal namanya. Mengambil barang orang tanpa izin itu tindakan kriminal, Kak," sahut Rena sambil berupaya merebut kembali ponselnya dari tangan Alan. Namun, Alan terus menghindarinya.


"Ini hukuman buat kamu, lagipula saya tidak mengambil. Saya meminta dan kamu memberikannya," ucap Alan.


"Cih, mana mungkin saya memberikan ponsel yang saya beli dari hasil tabungan saya selama satu


tahun kepada Kakak," sahut Rena.


"Kalo begitu berikan saya sesuatu yang lain yang kamu sukai kalau kamu ingin ponsel ini kembali," ucap Alan.


Meski merasa jengkel, Rena tetap harus memikirkan apa yang bisa ia berikan kepada Alan agar ponselnya bisa kembali.


"Ayo, cepatlah! Sebelum kamu lebih terlambat lagi!" sahut Alan sambil melirik jam di tangan kirinya.


Sebuah senyum tampak mengembang di wajah Rena. Ia pun mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Alan.


"Permen??? Yang benar saja sebuah ponsel kamu tukar hanya dengan sebungkus permen?" tanya Alan tidak percaya dengan apa yang disodorkan Rena.


"Kan tadi Kakak bilang, saya harus berikan kakak sesuatu yang saya sukai, dan permen ini yang paling saya sukai," jawab Rena.


"Hei, jangan main-main kamu! Saya ingin sesuatu yang istimewa bukan permen seperti ini," sahut Alan.


"Cih, tadi bilang sesuatu yang saya suka. Sekarang yang istimewa," gumam Rena.


"Apa kamu bilang?" tanya Alan.


"Permen itu juga istimewa, Kak," jawab Rena.


"Kamu jangan bohongi saya! Apa yang istimewa dari sebungkus permen strawbery mint seperti ini?" tanya Alan menunjuk permen itu.


"Kata Dini, teman SMA saya yang sekarang sudah tiada. Kalau dia makan permen itu, dia akan ingat sama saya. Dia bilang rasa dari permen itu menggambarkan saya banget. Rasa strawbery mint, manis, sedikit asam, dan dingin." sahut Rena.


"Jadi, kamu memberikan permen ini supaya saya selalu ingat sama kamu?" tanya Alan.


"Ya, enggak gitu juga, Kak. Itu kan karena Kakak tanya apa istimewanya permen itu bagi saya," sangkal Rena.


"Oke, saya terima permen ini," sahut Alan mengambil permen yang dipegang Rena dan mengembalikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


Setelah mengambil ponselnya, Rena bergegas pergi meninggalkan Alan dan naik ke lantai atas gedung tersebut.


Gadis yang unik (pikir Alan sambil memandangi


permen yang dipegangnya).


***

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa kasih like, votenya, dan komen terbaiknya ya....


__ADS_2