
Air matanya semakin mengalir deras di pipinya. Ia tidak menyangka ada orang yang ingin berniat buruk kepadanya. Padahal, selama ini Rena tidak pernah merasa memiliki musuh. Apakah hubungan dia dengan Alan menimbulkan kemurkaan seseorang? Tapi, siapa? Kenapa Alan tidak pernah bercerita kalau ada orang lain yang juga mengharapkannya. Pertanyaan itu terus muncul di benak dan pikiran Rena.
Sementara, laki-laki ompong yang kini tengah memegang botol yang berisi air keras itu terus mendekat ke arah Rena. Tawa mereka tiada pernah berhenti saat menikmati ketakutan yang dirasakan oleh Rena. Seolah mereka semua adalah komplotan dari orang-orang sakit jiwa.
Langkah laki-laki ompong itu semakin mendekat, dekat terus mendekat dan akhirnya ia pun membuka tutup botol yang sedari tadi tertutup rapat. Lalu, setelah tutup botol itu terbuka ia langsung menyiramkan isinya ke arah wajah Rena.
Byurr...
Beruntung tendangan Alan meluncur di saat yang tepat. Botol yang berisi air keras itu jatuh ke tanah yang letaknya cukup jauh dari Rena. Air di dalam botol itu pun keluar tak bersisa.
“Kak Alan,” Rena menghampiri Alan yang datang untuk menolongnya.
Ia bersembunyi di balik tubuh tegap Alan.
“Rena, kamu tidak apa-apa?” tanya Alan.
Namun, belum sempat Rena menjawab kelima laki-laki itu berusaha menyerang Alan.
“Kurang ajar,” teriak salah satu dari mereka Alan.
Perkelahian yang tidak seimbang antara kelima laki-laki itu dengan Alan pun terjadi. Alan diserang beberapa kali oleh kelima laki-laki itu. Namun, beruntung di saat Alan mulai terdesak Abi, Arka, dan Jessi datang membantunya.
Perkelahian yang terjadi itu antara Alan dan teman-temannya serta komplotan para penjahat itu berlangsung semakin sengit.
“Abi sepertinya mereka bukan orang biasa,” sahut Jessi yang terus berusaha menyerang salah satu dari kelima laki-laki tadi.
“Benar, mereka bukan penjahat biasa,” sahut Abi.
Gerakan kelima penjahat itu cukup tangkas, sepertinya mereka juga memiliki kemampuan bela diri yang sama hebatnya dengan Abi dan Jessi. Namun, itu tak membuat Abi dan Jessi menyerah. Mereka terus menyerang hingga satu per satu dari kelima penjahat itu tumbang. Begitu pula dengan Alan dan Arka, meski kemampuan bela diri mereka tidak sehebat Abi dan Jessi tetapi mereka cukup mampu menahan serangan dari para penjahat itu.
Saat dirasa posisi mereka mulai terjepit, salah satu dari kelima penjahat itu mengeluarkan pisau lipat yang sedari tadi disimpannya. Ia ingat pesan majikannya, kalau rencana mereka tak berhasil maka Rena harus mati. Itulah sebabnya tanpa ragu, ia mengarahkan pisau itu pada Rena.
Jlep
Pisau itu tepat menusuk perut Alan yang saat itu berusaha melindungi Rena yang hampir terkena tikaman dari pisau penjahat itu.
“Kak Alan,” teriak Rena.
__ADS_1
Alan tumbang, tubuhnya terjatuh menimpa Rena yang saat itu berada di dekatnya. Darah segar mengalir dari perutnya, membasahi kemeja biru yang kini dikenakannya.
Abi yang melihat itu benar-benar murka hingga sebuah tendangan sangat keras mengenai laki-laki yang baru saja menusuk Alan. Laki-laki itu pun terjatuh ke tanah seperti teman-temannya yang lain, entah dia pingsan atau sudah mati akibat tendangan keras dari Abi.
“Alan,” teriak Arka, Jessi, dan Abi yang berlari menghampiri tubuh Alan yang kini berada dalam pangkuan Rena.
“Tolong, jaga Rena!” ucap Alan dengan napas tersengal menahan sakit diperutnya.
“Bicara apa kamu? Diamlah!” teriak Abi.
“Alan, bertahanlah!” ucap Jessi.
“Abi, tenanglah,” ujar Arka.
Rena terus menangis, hatinya begitu hancur melihat laki-laki yang dicintainya dan hendak mempersutingnya bersimbah darah. Ini kedua kalinya bagi Rena, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, orang yang sangat disayanginya terluka begitu parah. Ia teringat saat Dini, sahabatnya yang mengalami kecelakaan harus tiada.
Saat itu juga, Rena melihat tubuh Dini yang dibanjiri darah segar. Begitu pula dengan Abi, ini kedua kalinya ia melihat orang yang disayanginya terluka setelah ia menyaksikan sendiri bagaimana Nena, kekasihnya tiada.
“Kak Alan, tolong jangan tinggalkan aku. Aku sangat menyayangimu. Aku membutuhkanmu di sisiku,” Kalimat itulah yang terucap dari mulut Rena, sedang air matanya masih belum bisa berhenti mengalir di wajahnya.
“Alan, bangun Alan! Kau tidak boleh sampai tertidur,” ucap Abi.
“Arka, Jessi, kalian bantu Rena naik ke atas. Biar aku yang menggendong Alan,” ujar Abi.
Arka dan Jessi menuruti perintah Abi, mereka memapah Rena yang saat itu terlihat begitu lemas bahkan nyaris pingsan. Sedangkan Abi, menggendong tubuh Alan dengan sangat hati-hati. Bajunya ikut terbanjiri oleh darah yang masih mengalir dari perut Alan. Rasa lelah tak lagi dirasakan laki-laki itu.
Setelah sampai di atas, mereka memakai mobil jeep yang tadi dipakai para penjahat itu untuk menculik Rena. Beruntung kuncinya masih menempel di jeep itu. Tubuh Alan dibaringkan di kursi penumpang bagian belakang di samping Rena dan juga Jessi.
“Rena, Jessi, tolong usahakan agar Alan tetap sadar,” perintah Abi yang dijawab anggukkan oleh keduanya.
Abi lalu mengambil posisi kemudi, sedang Arka duduk di depan bersamanya.
“Arka, tolong telepon polisi dan ceritakan semua yang terjadi di sini agar mereka bisa segera menangkap para penjahat itu dan mengusut tuntas kasus ini,” seru Abi.
“Baiklah,” jawab Arka tanpa banyak bertanya.
" Dan kamu Jessi, tolong telepon Faiz, kamu katakan semua yang telah terjadi di sini agar mereka bisa segera menutup acara Reuni karena sepertinya kita akan langsung ke rumah sakit. Dan bilang juga pada Faiz untuk menelepon keluarga Alan,” ucap Abi.
__ADS_1
“Baiklah,” jawab Jessi.
Arka dan Jessi pun melakukan semua yang diperintahkan Abi. Mereka menelepon polisi dan juga Faizal. Betapa terkejutnya Faizal mendengar berita buruk yang keluar dari mulut Jessi.
Seperti halnya yang diperintahkan Abi, Faizal segera memerintahkan teman-temannya untuk melakukan acara penutupan dan membubarkan semua peserta acara. Lalu, menitipkan Hana dan Haikal pada Lala. Setelah itu, Faizal segera menghubungi Felisa.
***
Di rumah Alan
Felisa tampak begitu senang menerima kiriman video rekaman proses lamaran Alan dari Abi. Bukan hanya karena isi videonya, melainkan juga karena lelaki yang mengirim video inilah yang membuatnya merasa sangat bahagia. Ia begitu senang melihat sikap Abi yang sudah mulai berubah kepadanya. Sikap yang ditunjukkan Abi tak lagi sedingin dulu.
Tak berlama-lama, Felisa dengan antusias langsung memutar kiriman video itu.
“Oh, so sweet banget sih Kak Alan.... Syukurlah, akhirnya semua berjalan sesuai rencana. Semoga hubungan Kak Alan dengan Bu Rena berjalan lancar dan mereka bisa segera naik ke pelaminan,” gumam Felisa dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajah manisnya.
Namun, sepertinya senyuman Felisa itu tak berlangsung lama, saat sebuah panggilan masuk dari Faizal diterimanya. Wajahnya pucat pasi, menandakan kabar luar biasa yang baru saja diterimanya. Ia seakan tak percaya mendengar kabar itu. Belum lama ini ia mendengar berita bahagia dari kakaknya dan hanya dalam sekejap berita bahagia itu telah berubah menjadi berita duka.
Ponsel itu terjatuh dari tangannya. Air mata pun mengalir membasahi pipi Felisa.
Ya Tuhan, apa yang terjadi? Dia baru saja merasakan kebahagian, namun secepat itu Kau ingin mengambilnya kembali. Tolong, Tuhan, selamatkan nyawa Kakakku. Aku mohon kepadamu (ucap Felisa memohon kepadanya).
***
Bersambung
Mungkinkah takdir berpihak kepada Alan dan Rena?
Tunggu dan saksikan kisah selanjutnya 😁😁
Terima kasih semua yang telah setia membaca cerita receh ini, tunggu dan nantikan cerita selanjutnya 😉 🙏🙏
Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, rate 5, komen, vote, dan tipsnya ya.. 😁😁😁
Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️
Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘
__ADS_1