
Rena melangkahkan kakinya menuju sebuah bangunan bercat biru muda dengan plang “SMP Cinta Kasih” di atasnya. Bangunan yang untuk kedua kalinya diinjak oleh Rena, setelah beberapa hari yang lalu pernah dimasukinya saat melakukan tes wawancara dengan kepala sekolah di SMP tersebut.
“Bu Rena, baru datang?” sapa Dewa yang berpapasan dengan Rena di persimpangan jalan yang dilaluinya.
“Iya, Pak Dewa, tadi saya ke gedung SD dulu untuk mengurus kepindahan kedua anak saya ke sekolah ini,” jawab Rena.
“Baguslah, dengan begitu Ibu bisa tetap dekat dengan anak-anak Ibu. Oh ya, Ibu sudah tahu ruang gurunya?” tanya Dewa.
“Belum, Pak,” jawab Rena menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, mari saya antar,” ujar Dewa.
“Iya, Pak, terima kasih,” sahut Rena.
Rena dan Dewa pun berjalan ke arah sebuah ruangan yang letaknya tak jauh dari tempat mereka berpapasan sebelumnya. Di dalam ruangan itu, sudah ada dua orang guru yang memakai seragam yang sama tampak sedang asyik mengobrol.
“Selamat pagi Bu Jessi, Bu Mila,” sapa Dewa yang membuat perhatian kedua guru tersebut beralih pada Dewa dan Rena yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
“Pagi, Pak Dewa,” balas keduanya.
“Perkenalkan, ini guru baru kita yang akan menggantikan Ibu Mauri mengajar Bahasa Indonesia di sini,” ucap Dewa menunjuk ke arah Rena.
“Salam kenal, saya Mila guru IPS di sini,” ucap Mila dengan senyum di wajahnya.
“Salam kenal kembali, saya Rena,” sahut Rena dengan senyum yang sama.
Rena? Bukannya dia itu adik kelas yang dulu suka sama Arka. Melinda bilang dia mengajar di SMP Pelita Jiwa sama dengannya. Ada masalah apa dia tiba-tiba pindah kemari?Aku harus menyelidikinya. (Pikir Jessi)
“Bu Jessi,” panggil Dewa kepada Jessi yang sedari tadi tampak melamun dan belum memperkenalkan dirinya.
“Oh, maaf. Saya Jessi, kamu tentu sudah mengenal saya, kan?” ucap Jessi dengan wajah yang kurang ramah.
Jessi? Itu kan kakak kelas yang dulu pacarnya Kak Arka. Apa mereka sekarang masih pacaran atau sudah jadi suami istri? Tapi, kenapa dari dulu sikapnya tak pernah ramah kepadaku. Apa aku punya salah sama dia atau hanya perasaanku saja (ucap Rena dalam hatinya).
“Iya, saya sudah kenal sama Bu Jessi. Senang bisa bertemu Ibu kembali di sini,” jawab Rena memamerkan senyum manisnya.
“Kalau begitu Ibu juga sudah tahu kalau Bu Jessi ini juga mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia di sini. Jadi, Ibu nanti bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman seputar mata pelajaran yang kalian ampu bersama-sama,” jelas Dewa.
“Iya, Pak,” jawab Rena.
Tapi apa mungkin aku bisa berbagi dengannya? Wajahnya saja, tampak tidak ramah (ucap Rena dalam hati).
“Kalau begitu Ibu boleh duduk di sebelah sana dan sekarang saya permisi dulu,” ucap Dewa.
Dewa pun pergi meninggalkan ruang guru tersebut, meninggalkan Rena yang masih tampak canggung dengan suasana baru yang dialaminya. Ia pun mendudukan di kursi yang ditunjuk oleh Dewa.
Tak lama satu per satu guru masuk ke ruangan tersebut, memperkenalkan diri mereka masing-masing kepada Rena. Ada yang menyambut Rena dengan penuh suka cita, namun ada pula yang terkesan kurang suka dengan kehadiran Rena.
“Pagi semua,” sapa seorang perempuan yang baru saja datang.
“Pagi Bu Yuna,” sapa para guru yang ada di ruangan tersebut.
Yuna? Berarti perempuan ini yang diceritakan oleh Bu Maya kalau dia itu istrinya Pak Dewa (ucap Rena dalam hatinya)
“Ibu itu guru baru yang bakal gantiin Bu Mauri di sini, bukan?” tanya Yuna pada Rena.
__ADS_1
“Iya, Bu, kenalkan saya Rena, “ ucap Rena sembari mengulurkan tangannya pada Yuna dan dibalas olehnya.
Rena? Kenapa sepertinya aku tidak merasa asing dengan nama itu, ya? (ucap Yuna dalam hatinya).
“Saya Yuna, guru IPA di sini, sekaligus istri dari wakasek kurikulum dan adik dari wakasek kesiswaan di sekolah ini,” sahut Yuna menyombongkan dirinya.
Jadi, Pak Dewa dan Pak Arka punya jabatan di sini. Pantas saja Yuna terlihat sedikit sombong. Aku jadi ingat dengan apa yang dikatakan Bu Maya. Tapi, mudah-mudahan dia tidak seperti yang dipikirkan Bu Maya (batin Rena)
Bel pun berbunyi, pertanda bahwa upacara hari itu akan segera dimulai. Para guru dan para siswa diminta untuk berbaris sesuai dengan posisinya masing-masing.
***
Jam istirahat 1
"Aku penasaran, kenapa Rena bisa sampai pindah ke sekolah ini? Bukankah setahuku dia sudah cukup lama mengajar di SMP Pelita Jiwa. Sebaiknya, aku tanyakan langsung saja pada Melinda,” gumam Jessi.
Jessi pun mengambil ponselnya dan menghubungi nomor sahabat lamanya itu.
“Halo, Mel,” sapa Jessi.
“Iya, Jess, apa kabar ? Tumben meneleponku? Biasanya juga gak pernah?” tanya Melinda.
“Kabarku baik, Mel. Kamu sendiri gimana kabarnya? Maaf, kalau aku jarang nelepon kamu,” jawab Jessi.
“Canda, Jess. Kabarku juga baik,” sahut Melinda.
“Mel, aku mau nanya sesuatu ke kamu. Kamu pernah bilang kalau kamu pernah satu sekolah dengan Rena, bukan?” tanya Jessi.
“Bukan, Jess. Aku hanya satu yayasan dengannya karena aku mengajar di SMA, sedangkan dia di SMP-nya. Tapi, yang aku dengar sekarang dia sudah keluar dari sekolah itu,” jawab Melinda.
“Aku dengar karena pembina sekaligus pemilik yayasan di sekolah kami yang memintanya untuk keluar,” jawab Melinda.
“Jadi maksud kamu sebenarnya dia itu dikeluarkan gitu dari sekolahmu?” tanya Jessi.
“Bisa dibilang begitu,” jawab Melinda.
“Kenapa?” tanya Jessi semakin penasaran.
‘Yang aku dengar yayasan memintanya berhenti karena dia sudah bercerai dari suaminya,” jawab Melinda.
“Bercerai, apa maksudmu?” tanya Jessi karena ia masih belum bisa memahami maksud perkataan sahabatnya itu.
“Iya, dia sudah bercerai dari suaminya. Itulah sebabnya dia diminta keluar oleh pihak yayasan sesuai dengan aturan yang ada di lembaga kami. Aturan yang menyebutkan bahwa suami atau istri yang sudah bercerai tidak boleh berada di yayasan yang sama guna menjaga reputasi sekolah,” jawab Melinda.
“Sampai seperti itu sekolahmu, Mel?” tanya Melinda.
“Iya, begitulah. Aku dengar juga dia bercerai karena kasus perselingkuhan Jess,” ucap Melinda.
“Apa? Siapa yang berselingkuh?” tanya Jessi kaget.
“Entahlah, aku juga gak tahu. Hanya menurut asumsiku sepertinya Rena. Itulah sebabnya dia yang diminta keluar oleh pihak yayasan,” sahut Melinda.
“Oh, begitu. Lalu, apa kau tahu dia pindah ke mana? Ke SEKOLAHKU,” sahut Jessi menekan kata terakhir.
“Apa? Itu artinya sekarang dia satu sekolah juga dengan Arka dan Dewa, dong?” tanya Melinda.
__ADS_1
“Iya, memangnya kenapa? Apa kaitan dia dengan Arka dan Dewa?” tanya Jessi.
“Kamu lupa, Jess. Dia itu kan pernah suka sama suami kamu Arka. Lalu, yang aku dengar juga kalau dia itu ternyata pernah dekat sama Dewa,” sahut Melinda.
“Apa dia pernah dekat juga sama Dewa?” tanya Jessi kaget.
“Iya, aku dengar juga kalau Dewa keluar dari sekolah ini karena patah hati sama Rena yang lebih memilih menikah dengan Rayhan dibanding dia,” ucap Melinda.
“Ah, masa. Tahu darimana kamu tentang gosip murahan kayak gitu?” tanya Jessi.
“Dari Bu Desi, istrinya Pak Asep yang juga guru SMP di sana,” jawab Melinda.
“Ya sudah, kalau gosip itu memang benar akan aku beri tahu Yuna agar dia selalu mengawasi Dewa dari perempuan itu. Jangan sampai Dewa kepincut lagi sama janda itu,” ucap Jessi.
“Bener banget, Jess. Kamu juga, awasin tuh suami kamu Arka, jangan sampai Arka kecantol janda itu,” ucap Melinda semakin memanasi.
“Kalau gitu terima kasih ya, Mel, atas infonya yang berguna banget buatku,” sahut Jessi.
“Sama-sama,” balas Melinda.
“Bye, Melinda... Asssalamualaikum,” sahut Jessi.
“Waalaikumsalam,” jawab Melinda yang kemudian memutus sambungan telepon itu.
Tak lama setelah percakapan antara Jessi dan Melinda berakhir, tampak Rena memasuki ruang guru tersebut. Ia pun mengistirahatkan tubuhnya yang terlihat begitu lelah di meja kerjanya.
Perempuan munafik! Dari luar saja wajahnya terlihat polos dan baik hati, tapi ternyata sesuatu yang ada di dalamnya sangatlah busuk (Pikir Jessi)
“Bu Jessi, maaf. Kalau boleh tahu untuk materi teks persuasi, biasanya Ibu kasih tugas anak-anak dalam bentuk apa ya?” tanya Rena.
“Maaf, Bu, materi saya belum sampai sana. Ibu pikirkan saja sendiri,” jawab Jessi ketus.
Ya ampun, kenapa sih nih orang ketus banget? Abis makan tahu pedes kali ya, kata-katanya pedes banget. Aku kan cuma ingin menyamakan metode penilaiannya saja agar penilaian di setiap kelas itu sama. Sabar Rena, sabar. Ini ujian awal kamu mengajar di sini. (ucap Rena dalam hati)
“Bu Jessi, dari tadi di sini aja gak cari makan?” tanya Mila yang baru masuk bersama Yuna.
“Iya, Kak Jessi, emang enggak laper?” timpal Yuna.
“Enggak, Yuna. Aku lagi enggak laper. Oh ya, sini deh aku mau ngomong,” sahut Jessi memanggil Yuna untuk mendekat ke arahnya.
Yuna pun duduk di dekat Jessi. Namun, sebelum Jessi sempat berbicara panjang dengan Yuna, bel tanda masuk pun berbunyi.
Teeeet... teeeet.. teeeeet..
“Yah... Yun, udah masuk. Nanti, istirahat kedua aja deh kita obrolinnya,” ucap Jessi.
“Emang ada apa sih? Kayaknya serius banget,” sahut Yuna.
“Iya, ini memang serius BANGET,” jawab Jessi menekan kata terkahir.
Setelah mengatakan hal itu, Jesi dan Yuna, serta beberapa guru lainnya yang ada di ruangan tersebut membubarkan diri menuju kelas masing-masing sesuai dengan jadwal yang dipegangnya, termasuk juga Rena.
***
Bersambung
__ADS_1