Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 86 Mitos


__ADS_3

Gedung itu kini disulap begitu indah. Perpaduan warna merah dan keemasan mengisi ruangan yang kini dijadikan tempat pelaminan dua insan manusia yang akan disatukan Tuhan dalam sebuah ikatan janji pernikahan. Pelaminan itu kini dipenuhi dengan rangkaian bunga mawar merah, aster, asoka, dan bunga sedap malam. Tak lupa pula beberapa lampu dan dekorasi mewah lainnya yang berwarna keemasan, membuat pelaminan itu memiliki kesan anggun dan elegan.


Di sudut sebelah kanan ruangan, tampak seorang laki-laki tampan yang memakai balutan jas berwarna abu-abu dengan kemeja hitam di dalamnya. Lengkap dengan dasi kupu-kupu yang melingkar di lehernya. Laki-laki itu wajahnya tidaklah asing. Iya, dia adalah Alan yang kini tengah siap menanti kedatangan mempelai wanitanya.


Senyum manisnya mengembang saat mempelai wanita mulai memasuki gedung tempat Alan berdiri. Mempelai wanitanya tampak begitu cantik dan anggun. Keanggunannya bahkan mampu menghipnotis para tamu yang sudah terlebih dahulu berada di dalam ruangan.


Tampak di deretan para tamu undangan, seorang wanita yang terlihat begitu gelisah. Dirinya seolah ingin berteriak agar pernikahan ini bisa segera dibatalkan. Jantungnya berdetak begitu kencang, keringat dingin mengalir di tubuhnya saat langkah demi langkah mempelai wanita mendekat ke arah Alan.


“Cukup, hentikan!” teriak Rena yang terbangun dari tidurnya.


“Astaga, ada apa denganku? Kenapa aku bisa sampai bermimpi seperti itu?” gumam Rena yang masih tampak kaget saat mendapati dirinya tengah berbaring di atas ranjangnya.


Rena pun kemudian turun dari ranjang itu, berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air putih yang kemudian diminumnya. Setelah itu, ia pun merebahkan dirinya di atas sofa, membayangkan kembali mimpi yang baru saja dialaminya.


“Kenapa semuanya terlihat begitu nyata? Kenapa aku tiba-tiba memimpikan dia dalam keadaan seperti itu? Apa yang sebenarnya akan terjadi? Ya Tuhan, mudah-mudahan itu bukanlah pertanda buruk,” sahut Rena yang terlihat begitu cemas.


Rena berbicara seperti itu bukan tanpa sebab. Konon, ada mitos yang mengatakan padanya jika kita melihat seseorang memakai baju pengantin, maka itu pertanda bahwa umur orang itu sudah tidak panjang lagi. Apalagi sebelum ini pun ia pernah memimpikan hal yang sama tentang Rindu, sahabatnya yang telah tiada.


Dilihatnya jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 04.30 WIB, Rena pun segera mengambil air wudhu untuk melaksanakan ibadah shalat Subuh. Dalam shalatnya ia berdoa agar semua yang dipikirkannya tidaklah menjadi suatu kenyataan.


Selesai melaksanakan shalat, Rena kembali melaksanakan rutinitasnya sehari-hari yakni menyiapkan sarapan pagi untuk kedua anaknya dan juga adik perempuannya. Setelah itu, barulah ia menyiapkan segala keperluannya sebelum berangkat ke sekolah.


***


Rena masih belum bisa melupakan mimpi yang baru saja dialaminya. Kecemasan masih menggelayut sanubarinya. Apalagi sudah satu minggu ini dia tak mendengar kabar tentang Alan. Meskipun selama seminggu ini, Felisa mengantarnya ke sekolah, namun gadis itu sama sekali tak banyak bercerita tentang Alan. Rena pun enggan untuk bertanya karena rasa malu dan gengsinya yang terlalu besar. Beberapa kali, ia menatap layar ponselnya, berharap Alan menelepon dan menanyakan kabar dirinya.


“Kalau rindu... telepon aja, Kak,” goda Reni.


“Apa sih?” sahut Rena ketus.


“Udah lah, enggak usah bohong sama Reni. Kak Na rindukan sama Kak Alan?” ucap Reni.


“Sok tahu kamu!” sahut Rena.


“Iya, emang bener kan?” goda Reni. Namun, tak mendapat jawaban apa pun dari kakaknya.


“Mama rindu sama Om Alan? Hana juga,” sahut Hana yang sedari tadi ikut menyimak pembicaraan tante dan mamanya.


“Ikal juga,” sahut Haikal menimpali.


“Tuh, anak-anak Kakak aja bisa jujur,” ucap Reni yang lagi-lagi diabaikan oleh Rena.


“Emang Om Alan kenapa sih Mah? Kok enggak pernah jemput kita lagi,” tanya Hana.


“Iya, Mah. Apa karena Mama masih marah sama Om Alan? Gara-gara waktu itu Om Alan nakal sama Mama,” tanya Haikal.


“Enggak kok, Mama udah gak marah sama Om Alan. Hanya sekarang tangannya Om Alan lagi sakit jadi enggak bisa antar jemput kita,” ucap Rena.


“Kalau begitu hari ini Kak Na mau berangkat bareng Reni?” tanya Reni.

__ADS_1


“Iya, tapi benar enggak apa-apa Ren kita berangkat pakai motor berempat?” tanya Rena khawatir.


“Gak apa-apa, Kak. Banyak kok yang kaya gitu, lagian Hana dan Haikal juga badannya kecil-kecil,” ucap Reni.


“Ya sudah, kalau begitu. Kakak juga gak enak kalo harus berangkat bareng Feli terus,” jawab Rena.


Kemudian, Reni, Rena, dan kedua anak Rena bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kali ini, mereka berencana berangkat dengan menggunakan motor yang belum lama ini dibeli oleh Reni dari temannya. Sebelum berangkat, terlebih dahulu Reni memanaskan motornya. Saat itulah Rena melihat mobil Alan melintas di depan rumahnya. Namun, mobil yang diyakini milik Alan itu sama sekali tidak berhenti.


Itu kan mobilnya Kak Alan. Apa tangannya sudah sembuh? Tapi kenapa dia tidak berhenti? (ucap Rena dalam hatinya).


Ada rasa sedih dalam hati Rena saat berpikir Alan sudah tidak lagi mempedulikannya.


“Kak Na, ayo!” ajak Reni membuyarkan lamunan kakaknya.


Rena dan kedua anaknya kini bergegas menaiki motor yang dibawa oleh Reni. Dengan posisi duduk Haikal berada di jok motor paling depan, setelah itu Reni, Hana, dan barulah yang paling belakang Rena. Setelah semuanya naik dan dipastikan sudah dalam posisi duduk yang aman, Reni pun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


Sebenarnya ada rasa cemas saat Reni melajukan motor itu, karena ini pertama kali bagi Reni membawa penumpang sebanyak itu. Apalagi dia sendiri memang belum lama ini baru bisa mengendarai motornya sendiri dengan benar.


Beberapa kali ia melihat kaca spion motor yang dikendarainya untuk memastikan tidak ada kendaraan yang menyalip motornya secara tiba-tiba. Namun, belum sempat Reni menghindar dari mobil yang ingin menyalip motor miliknya, mobil itu sudah berhasil melaju terlebih dahulu di depannya hingga menyebabkan motor Reni yang tersenggol oleh kendaraan itu kehilangan keseimbangannya. Alhasil, motor Reni pun jatuh di pinggir jalan.


Rena, Reni, dan kedua anaknya ikut terjatuh dari motor. Beruntung keempatnya tidak mengalami luka yang cukup parah. Namun, Haikal yang tampak syok dengan kejadian tadi menangis histeris membuat ketiganya menjadi panik.


“Aduh, Haikal jangan nangis dong! Kamu enggak apa-apa kan sayang?” ucap Rena cemas.


Tak lama sebuah mobil yang sebelumnya berada di belakang mereka dan melihat kejadian itu ikut berhenti. Dari dalam mobil itu, turunlah seorang laki-laki bertubuh tegap dengan perawakan yang atletis menghampiri mereka berempat.


“Oh, kami enggak apa-apa kok,” jawab Reni yang kemudian menoleh ke arah Abi.


“Eh, kamu kan laki-laki yang dulu menolong Kak Rena bukan?” tanya Reni yang masih mengingat persis wajah Abi, laki-laki yang dulu pernah menolong kakaknya dari serangan beberapa preman yang ingin merampas uang kakaknya.


Mendengar perkataan adiknya, Rena ikut menoleh ke arah Abi.


“Kak Abi,” sapa Rena.


Abi pun melihat ke arah Rena, berusaha mengingat wajah wanita yang kini berada di hadapannya.


“Kamu Rena bukan?” tanya Abi.


“Iya, saya Rena dan ini adik serta kedua anak saya,” jawab Rena.


“Kamu kenapa kok nangis? Jagoan gak boleh nangis,” sahut Abi saat melihat Haikal yang masih menangis.


Haikal yang mendengar itu pun langsung menghentikan tangisnya.


“Habis Ikal kaget, Om,” sahut Haikal.


“Yang lain juga pasti kaget, tapi mereka gak nangis tuh,” sahut Abi yang membuat Haikal terdiam.


“Tapi, kamu enggak apa-apa kan, Nak?” tanya Rena.

__ADS_1


“Enggak kok, Mah. Ikal tadi cuma kaget aja,” jawab Haikal.


“Syukurlah, Mama pikir tadinya ada bagian tubuhmu yang sakit sampai kamu menangis seperti tadi,” tutur Rena.


“Enggak kok, Mah. Sakitnya pas tadi aja waktu kejatuhan badan Tante Ren yang gendut itu,” ledek Haikal.


“Eh, keponakan kurang ajar. Belum pernah disentil kamu ya?” ucap Reni sewot.


“Becanda, Tante Ren,” sahut Haikal yang terkekeh saat melihat tante kecilnya itu sewot saat mendengar perkataannya.


“Ya sudah, kalau begitu sekarang kalian naik mobilku saja. Karena terus terang dari tadi sebenarnya aku agak khawatir melihat kalian naik motor berempat seperti tadi,” ujar Abi.


Rena cukup memahami kekhawatiran Abi, mengingat Abi memang sudah pernah mengalami sendiri kecelakaan motor yang berujung pada kematian sang kekasih yang sangat dicintainya itu.


“Tapi, apa itu tidak merepotkan Kak Abi?” tanya Rena.


Mendengar pertanyaan Rena, Abi pun melirik jam tangannya.


“Memang kalian mau pergi ke mana?” tanya Abi.


“Kami mau ke SMP Cinta Kasih, sedangkan adik saya ke ‘Jaya Mart’. Kalau begitu naiklah karena kebetulan kita searah,” ajak Abi.


“Ya sudah, Kak, kakak naik saja daripada nanti kakak terlambat. Biar nanti Reni naik motor ini saja,” sahut Reni.


“Kamu yakin mau naik motor ini lagi?” tanya Abi.


“Iya, Kak. Kalau jatuh kaya gini sih aku udah biasa daripada ditinggal, nanti ada yang ngambil lagi,” jawab Reni.


“Oke, kalau begitu saya ajak kakak dan keponakan kamu pergi dulu,” sahut Abi.


“Iya, Kak, hati-hati!” ucap Reni.


Setelah berpamitan kepada Reni, Rena dan kedua anaknya menaiki mobil Abi, mereka meneruskan perjalanan yang sempat tertunda karena kecelakaan yang mereka alami.


***


Bersambung


Apa yang sebenarnya terjadi pada Alan ya? 🤔🤔


Nantikan jawabannya di part selanjutnya 😉


Jangan lupa berikan dukungan terus pada author melalui like, vote, dan komennya😊😊😊


Jadikan pula favorit ❤️❤️❤️


Salam sayang dan semoga sehat selalu 😘😘


Terima kasih 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2