
Abi dan Faizal kembali dari ruangan dokter. Wajah mereka berdua tampak tidak begitu baik.
“Kau dengar tadi apa yang dikatakan dokter, Abi. Jika, dalam dua hari ini Alan masih tidak sadarkan diri itu artinya kondisinya dalam bahaya. Lalu, apa yang harus kita lakukan?” tanya Faizal.
“Entahlah, satu-satunya jalan bagi kita adalah melakukan apa yang disarankan oleh dokter. Kita harus memberikan rangsangan yang bisa membuat Alan sadar dengan sendirinya,” ujar Abi.
“Rangsangan seperti apa? Apa kita harus memberinya obat perangsang?” tanya Faizal.
“Apa kau ini sudah gila? Di mana pikiranmu? Sudah jadi kepala sekolah masih saja berpikir yang aneh-aneh. Memang kau ingin Alan cepat mati karena ide bodohmu itu,” sahut Abi kesal.
“Bukan begitu, aku benar-benar tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh dokter tadi,” jawab Faizal.
“Memang tadi kau tidak mendengar saat dokter menjelaskannya pada kita?” tanya Abi.
“Itu dia, saat dokter menjelaskan bahwa kondisi Alan sedang dalam bahaya. Pikiranku berkelana entah ke mana dan hasilnya aku sama sekali tidak ingat dengan apa yang dikatakan dokter barusan. Aku hanya mendengar dokter mengatakan pada kita bahwa Alan harus mendapatkan rangsangan,” ucap Faizal.
“Dan otakmu itu terlalu mesum hingga kau sampai berpikir yang aneh-aneh,” timpal Abi.
“Lalu rangsangan seperti apa memang yang dimaksud dokter?” tanya Faizal.
“Rangsangan yang dimakasud oleh dokter itu adalah dengan suara dan sentuhan dari orang-orang yang dekat dengan Alan dan sangat disayanginya,” jawab Abi.
“Maksudnya kita harus mengajak Alan bicara dan memberikan sentuhan-sentuhan yang dapat mengembalikan kesadarannya begitu?,” tanya Faizal.
“Iya, begitulah,” jawab Abi.
“Tapi, sentuhan seperti apa?” tanya Faizal.
“Ayolah, Faiz, hentikan otak mesummu! Tentu saja sentuhan biasa, seperti tangan dan yang lainnya,” jawab Abi.
“Oh, kirain lebih dari itu, hehehe,” sahut Faizal terkekeh dengan kebodohannya sendiri.
“Iya, memang kau pikir apa? Dasar !!” sahut Abi sudah bisa menerka isi kepala sahabatnya itu.
“Kalau begitu itu artinya kita harus memberi tahukan kondisi Alan yang sebenarnya pada Rena dan Felisa bahwa Alan sedang dalam kondisi yang kritis,” ucap Faizal.
“Iya, begitulah. Untuk saat ini semua orang harus tahu kondisi Alan yang sebenarnya agar bisa membantu proses penyembuhannya dan Alan bisa melewati kondisi yang berbahaya ini,” ujar Abi.
“Tapi pastinya berita ini akan membuat mereka sangat terpukul,” ucap Faizal.
“Tentu, tapi harus bagaimana lagi? Hanya ini satu-satunya jalan yang bisa kita lakukan untuk membantunya melewati kondisi yang berbahaya ini,” ucap Abi dengan air mata yang mulai menggenang.
“Kau benar. Semoga saja Alan bisa melewati ini semua dan bisa kembali dalam pelukan kita,” ucap Faizal.
“Semoga saja, aamiin,” sahut Abi.
***
__ADS_1
Ayah dan Reni tidak bisa berlama-lama di rumah sakit karena kondisi kesehatan ayah Rena untuk saat ini memang sedang tidak begitu baik. Itulah sebabnya mereka pulang terlebih dahulu tanpa sempat bertemu dengan Abi dan Faizal.
Makanan yang tadi dibelikan Reni untuk semua orang yang bearda di sana belum tersentuh oleh Rena. Ia masih memikirkan kondisi Alan saat ini.
“Bu Rena, makanlah nanti Ibu sakit,” bujuk Felisa.
“Nanti saja, Feli. Aku belum mau makan,” ucap Rena.
Tak lama, Abi dan Faizal pun sampai di ruang perawatan Alan.
“Kak Abi, Kak Faizal, bagaimana?” tanya Felisa begitu melihat kedatangan mereka berdua.
Abi dan Faizal pun menceritakan semua mereka dengar dari dokter kepada Rena dan Felisa.
“Jadi sekarang Kak Alan dalam kondisi kritis dan jika dalam dua hari dia masih belum sadar, kondisinya akan semakin berbahaya,” ucap Felisa yang tak dapat lagi membendung air matanya.
“Benar, tapi aku yakin dengan dukungan kita semua di sisinya, Alan pasti bisa melewati ini semua,” ucap Abi.
“Berdolah, Felisa. Kita lakukan semua saran dari dokter,” ujar Rena menambahkan.
Felisa tahu hati wanita di sampingnya ini merasakan rasa sakit yang sama dengannya. Bahkan mungkin bisa lebih sakit. Betapa tidak, ketika kebahagiaan baru saja menghampirinya ia sudah didera cobaan yang baru.
“Feli, Kak Abi, Pak Faiz, aku masuk dulu ya. Aku mau menemani Kak Alan di dalam,” ucap Rena.
“Iya, Rena, masuklah. Lakukan saran yang diberikan dokter. Siapa tau dengan sentuhan spesial dari calon istrinya bisa menyadarkan Alan,” tutur Faizal.
“Sentuhan spesial? Maksudnya?” tanya Rena bingung.
“Faiz...,” tegur Abi karena dia sudah bisa menebak arah pembicaraan Faizal.
“Kalau sudah di dalam kamu pasti tahulah maksudnya,” ucap Faizal menggoda.
Rena mulai mengerti arah pembicaraan yang dimaksud Faizal. Namun, ia tak begitu mempedulikannya. Baginya sekarang yang ia inginkan hanyalah melihat kondisi Alan segera membaik dan ia akan berusaha sebisa mungkin untuk membangunkan kesadaran Alan.
“Kasihan Bu Rena,” ucap Felisa lirih.
Abi berjongkok di dekatnya. Menatap dalam wanita yang kini sedang duduk di depannya.
“Felisa, maafkan aku. Aku tak bisa memenuhi janjiku untuk menjaga kakakmu dengan baik hingga sekarang ia harus bertaruh nyawa di ruangan itu,” ucapnya.
“Kak Abi bicara apa sih? Feli kan sudah dengar semua ceritanya dari Bu Rena bahwa Kak Abi sudah berjuang dengan segenap jiwa raga Kak Abi untuk melindungi Kak Alan. Bahkan kemarin, Feli lihat sendiri baju Kak Abi dipenuhi banyak noda darah karena menggendong Kak Alan. Meski pada akhirnya kondisi Kak Alan tidak sebaik yang kita harapkan. Tapi, Feli benar-benar berterima kasih atas semua pertolongan yang Kak Abi berikan,” ucap Feli tulus.
“Ehem, kayaknya ada yang jadi obat nyamuk nih... Ya sudah, aku permisi dulu ya.. mau menelepon Kanjeng Mimi dulu. Mau ngasih tahu sama dia kalau malam ini, aku menginap di sini,” ucap Faizal.
***
Rena terpaku melihat Alan yang tak berdaya. Air mata kembali menetes di pipinya. Digenggamnya tangan Alan, lalu ditempelkannya ke pipi putih miliknya.
__ADS_1
“Kak Alan, bangunlah! Kami semua ingin melihat Kak Alan sembuh. Kalau Kak Alan tidak bangun bagaimana dengan rencana pernikahan kita? Bukankah Kak Alan bilang Kak Alan sayang padaku. Buktikanlah! Bangunlah Kak Alan, aku mohon. Jangan tinggalkan aku,” ucap Rena terisak.
“Kak, aku mungkin belum pernah mengatakan ini padamu dan sekarang akan aku katakan Kak bahwa aku sayang padamu. Aku tidak mau kehilangan kamu,”
Air mata Rena terus mengalir di pipinya, berulang kali ia menyebut nama Alan dan berharap Alan akan terbangun dari tidurnya. Namun, nampaknya usaha Rena kali ini sia-sia. Alan masih tak bergeming hingga rasa lelah menghampiri tubuh Rena dan menjemputnya ke alam mimpi.
“Kak Alan..Kak Alan..,” panggil seseorang.
“Dewi,” sapa Alan pada sosok yang sedari tadi memanggilnya.
“Akhirnya kamu datang juga kemari. Ayo, ikut aku!” ajak Dewi.
“Ke mana?” tanya Alan.
“Ke sebuah tempat yang sangat indah. Tempat di mana hanya ada ketenangan dan kedamaian. Di sana juga anak kita telah menunggumu,” ujar Dewi.
“Anak kita?” tanya Alan bingung.
“Iya, Kakak masih ingat kan? Anak yang kubawa pergi bersamaku,” ucap Dewi menampakkan senyum manisnya.
“Baiklah,” jawab Alan.
“Kak Alan, tunggu!” teriak seseorang dari kejauhan.
“Rena,” sahut Alan.
“Kak Alan, kumohon tetaplah di sini. Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku,” ucap Rena terisak.
“Rena, tapi...” ucap Alan menggantung.
“Rena, tolong jangan seperti itu! Biarkan Kak Alan ikut denganku. Biarkan dia melihat anaknya,” ucap Dewi.
“Tidak, Dewi tidak. Aku tidak akan lagi melepaskannya untukmu. Cukup, waktu itu saja aku pernah melepaskannya dan menjauh darinya untukmu. Tapi, sekarang tidak. Kau tidak boleh lagi menjauhkan dia dariku,” ucap Rena dengan nada tinggi, namun terdengar sesak.
Air matanya pun masih terus mengalir di pipinya. Menatap sendu Alan yang masih diam tak bergeming.
“Ayah... Ayah...,” suara seorang anak kecil memanggil Alan.
“Dengar, Kak Alan, anak kita memanggilmu,” ucap Dewi.
“Maaf, Rena... ,” ucap Alan lirih.
***
Bersambung
Bagaimana kisah selanjutnya?
__ADS_1
Jangan lupa juga berikan dukungannya dengan like, vote, dan komennya. 🙏🙏🙏
Terima kasih dan salam sayang buat semua😘😘😘