
Prank!!!
Prank!!!
Prank!!!
Bunyi barang pecah belah terdengar dari dalam rumah Rena. Hal itu membuat Rena yang baru saja sampai di depan halaman rumahnya dilanda kecemasan.
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam? Kenapa ribut sekal? (batin Rena)
Rena masuk ke dalam rumahnya dengan perasaan cemas. Saat hendak masuk ke dalam, ia berpapasan dengan seorang laki-laki paruh baya yang memasang wajah masam dan penuh amarah.
"Ayah," panggil Rena pada laki-laki yang saat itu berlalu pergi meninggalkannya.
Ada apa dengan ayah? Apa ayah yang tadi membuat keributan di dalam? (batin Rena)
Ayah Rena memang orang yang mudah marah. Namun, sebenarnya dia adalah sosok lelaki yang sangat baik dan penuh perhatian. Entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu, yang Rena lihat ayahnya
seperti sedang marah saat meninggalkan rumah mereka.
Di dalam rumah, seorang wanita paruh baya tampak terduduk lemas. Wajahnya dipenuhi dengan derai air mata.
"Ma, ada apa?" tanya Rena lirih saat menghampiri wanita itu. Ia menyeka air mata yang menetes di kedua sudut mata mamanya.
"Ayahmu marah sama Mama," jawab Mama Rena.
"Emang kenapa, Ma?? Kenapa ayah bisa sampai marah seperti itu?" tanya Rena sambil melemparkan pandangannya ke setiap sudut ruangan yang dipenuhi serpihan gelas dan piring pecah.
"Mama berhutang tanpa sepengetahuan ayah," jawab Mama.
"Hah, hutang? Hutang apa Ma, kok bisa?" sahut Rena.
"Hutang buat modal Mama dagang Rena. Buat nambahin biaya kuliah kamu dan kakak kamu, juga sekolah adikmu," jawab Mama Rena.
Jawaban Mamanya Rena membuat hati Rena seakan teriris. Begitu besar pengorbanan sang Mama, hanya untuk membiayai sekolah anak- anaknya, terutama setelah pabrik tempat ayah mereka bekerja mengalami kebangkrutan. Setelah itu, ayahnya Rena sudah tidak bisa lagi mencari nafkah dengan benar. Mereka hidup hanya dengan bermodalkan warung kecil yang modal awalnya diambil dari uang pesangon kecil milik ayahnya.
Namanya warung kecil, tentu pemasukannya juga kecil. Mungkin hanya bisa dipakai untuk makan sehari-hari saja sedang untuk biaya kuliah atau sekolah lainnya tentu perlu uang yang cukup besar. Makanya, dalam hal ini Rena paham kalau Mamahnya sampai harus berhutang pada yang lain.
"Dan Mama tidak minta izin dulu ke ayah?" tanya Rena
"Tidak, karena Mama takut ayah tidak akan mengizinkan Mama," sahut Mama
"Tapi kalau seperti ini, ayah jadi lebih marah kan, Ma?" tanya Rena
__ADS_1
"Iya," sahut Mama memelas.
"Ya, sudah sekarang Mama ke dalam aja istirahat, biar nanti ini Rena yang beresin. Mama jangan nangis terus, sabar ya Ma! Sebentar lagi marahnya ayah pasti akan hilang," sahut Rena sambil mengelus punggung Mamahnya.
Mama Rena pun masuk ke kamar dan Rena
membereskan barang-barang yang berantakan di ruang makan tadi.
****
Bulan terlihat kesepian malam ini, hal itu karena tak ada satu pun bintang-bintang yang tampak menemaninya di singgasana langit yang menghitam saat itu. Langit yang gelap yang tak terkena
pancaran hangat sang mentari.
Disudut kamar sana, di bawah tatapan sinar rembulan yang indah. Tampak Rena yang termenung sendirian di sana. Ia kembali mengingat cerita sang Mama.
Mendengar cerita dari Mamahnya, muncul kegalauan di hati Rena. Berbagai macam pikiran berkecamuk di dalam kepalanya. Mulai dari masalah Aisyah dan Lala, yang hingga saat ini pun keduanya masih belum berdamai. Bahkan, Lala sama sekali tak menampakkan batang hidungnya
sekali pun di kampus. Pernah satu hari Rena, Novi, dan Dina mengunjungi rumah Lala tapi ternyata rumah itu kosong.
Lalu masalah Dina, yang memutuskan untuk berhenti sementara dari kuliahnya. Sahabat Rena yang satu itu lebih memilih menikah muda dengan kekasih dambaan hatinya itu dan rela meninggalkan
kuliahnya. Kemudian, Novi yang akan pindah dari kampusnya, ikut tinggal bersama Kakaknya di Bandung.
Apakah aku juga harus berhenti dulu, untuk sementara waktu, ya..? (Pikir Rena)
Kalau memang jodoh, enggak akan ke mana(Pikir Rena)
****
"Bang Reno," sahut Rena saat hendak masuk ke kamar Reno yang saat itu pintunya terbuka.
"Ada apa Na?" sahut Reno yang saat itu sedang mengetik.
"Bang Reno, kapan sidangnya?" tanya Rena begitu memasuki kamar kakak laki-lakinya itu.
"Insyaallah, minggu depan," jawab Reno
"Berati enggak perlu bayar SPP dong?" tanya Rena.
"Gak tau juga, tapi kayaknya masih deh karena setau abang, setelah sidang abang masih harus ikut Compre agar benar-benar dapat titel S-1," jawab Reno
" Kok gitu sih Bang? Jadi sidang skripsi tuh bukan final?" tanya Rena
__ADS_1
"Bukan," sahut Reno sambil terus mengetik
"Terus lama nggak?" tanya Rena
"Tergantung, ada yang 1 bulan selesai, ada juga yang sampai 3 bulan," sahut Reno
Rena pun menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan percakapannya.
"Abang, udah tau masalah Mama sama ayah," sahut Rena yang membuat Reno cukup terkejut dan menghentikan ketikannya
"Emang ada apa antara Mama dan ayah," sahut Reno menatap Rena
"Mereka tadi bertengkar, Bang," sahut Rena dengan mata berkaca-kaca.
"Apa?! Kok bisa, kenapa?" tanya Reno
"Mama punya banyak hutang di luar dan ayah baru tahu hari ini," sahut Rena
"Hutang? Hutang apa?" tanya Reno
"Selama ini kita cuma sibuk sama urusan kita, Bang, tanpa pernah berpikir Mama dapat uang dari mana untuk biaya kuliah kita," sahut Rena
"Jadi maksud kamu Mama berhutang untuk membiayai kita kuliah?" tanya Reno
"Iya, Bang, dan tadi Mama dimarahi habis-habisan oleh ayah karena yang ngutangin Mama mulai menagih hutangnya kepada Mama untuk biaya anaknya sekolah," jawab Rena tak kuasa menahan air matanya mengingat peristiwa siang.
"Ya Tuhan, lalu kita harus bagaimana Rena? Belum tahun ini juga Reni perlu biaya untuk masuk SMA
bukan?" tanya Reno sedih
"Iya, Bang, karena itu mungkin dua semester ke depan Rena akan berhenti kuliah dulu, Bang. Rena mau cuti, Rena mau cari kerja buat bantuin Mama bayarin utang sekalian bantuin Reni juga. Tadinya Rena berharap Abang bisa selesai semester ini dan bantuin kerja, tapi ternyata Abang ga bisa ya?" sahut Rena menggantung
"Iya, Rena, maafin abang, ya. Memang seharusnya abang yang cuti dan cari kerja, tapi abang juga bingung karena kuliah abang tinggal sebentar lagi, sayang kalau ditunda untuk cuti dulu," sahut Reno.
"Iya, Bang, Rena ngerti. Abang yang semangat ya, biar bisa cepat-cepat lulus dan gantiin Rena kerja,"
sahut Rena.
"Iya, makasih, kamu memang ade yang terbaik, Rena," sahut Reno sambil mengusap lembut kepala Rena.
Kini Rena sudah memantapkan hatinya. Ia sudah memutuskan bahwa untuk semester depan dia akan mengambil cuti.
****
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa vote dan likenya ya...