Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 60 Duren


__ADS_3

“Uhuk..uhuk..., Kak Na, apa kita masih akan terus membahas masalah permen? Karena sepertinya perutku dari tadi sudah memanggil untuk minta diisi” sahut Reni sambil memegang perutnya.


“Sama, Ikal juga,” sahut Haikal.


“Hana, juga Mah,” sahut Hana.


“Ya sudah, kalau gitu kita makan sekarang saja, yuk!” ajak Rena.


“Om Alan ajakin juga Mah,” sahut Hana yang membuat Rena dan Alan saling berpandangan.


“Tentu. Kak Alan mari ikut makan bersama kami,” ajak Rena.


“Oh, tidak usah aku makan di rumah saja,” jawab Alan sungkan.


“Rezeki jangan ditolak Kak,” sahut Reni.


“Reni, enggak boleh gitu! Mungkin Kak Alan ingin makan bersama istrinya di rumah,” sahut Rena melirik sekilas wajah Alan.


“Emang, Kak Alan udah punya istri?” tanya Reni kecewa.


“Tentu sudah Reni, emang kamu pikir dia masih bujang,” sahut Rena.


“Kok, Kak Na yang jawab, aku kan nanyanya sama Kak Alan,” sahut Reni yang membuat Alan pun ikut tersenyum karena melihat Rena yang sudah begitu yakin dengan asumsinya sendiri.


“Kalau kakakmu bilang aku sudah punya istri ya.. anggap saja sudah,” jawab Alan sengaja ingin melihat ekspresi Rena.


“Kok, jawabannya gitu? Terus kalau Kak Na bilang Kak Alan belum punya istri berarti belum gitu? Ih... jawaban Gajebo,” sahut Reni.


“Gajebo? Apa itu ?” tanya Alan.


“Gak jelas, Bro,” jawab Reni.


Alan pun tersenyum mendengar ucapan Reni. Namun berbeda dengan Rena, sepertinya ia pun masih menunggu jawaban dari Alan yang menurut Reni enggak jelas itu. Rena terus memandangi wajah Alan, menunggu jawaban yang lebih jelas dari laki-laki yang kini berdiri di sampingnya itu. Dipandangi demikian, tentu membuat Alan menjadi salah tingkah dan mau tidak mau dia harus menjelaskan semua maksud perkataannya.


“Aku memang bukan bujang, tapi aku juga bukan pria beristri,” jawab Alan memandang Rena yang terlihat cukup kaget.


“Jadi, maksudnya Kak Alan itu duren gitu?” tanya Reni.


“Duren? Tante Reni tadi bilang duren ya... yeee Ikal suka makan duren,” teriak Haikal yang membuat Rena, Alan, dan Reni saling berpandangan dan tersenyum secara bersamaan saat tahu bahwa Haikal salah mengartikan maksud kata-kata Reni.


“Tapi Hana enggak suka makan duren, Mah,” keluh Hana.


“Iya, memang siapa yang mau kasih kamu duren,” jawab Rena.


“Kasih aja, Kak.. apalagi kalau durennya manis, hehe..” goda Reni yang mendapat cubitan di pinggangnya dari Rena.


***


Setelah mendapat bujukan maut dari Reni, Alan pun akhirnya bersedia untuk ikut makan bersama mereka. Rena pun mengeluarkan satu persatu bekal makanan yang telah disiapkan sebelumnya, termasuk nasi goreng spesial buatannya.


“Wah, nasi goreng nih Kak, kayaknya enak. Aku cicipi dulu, ya..” sahut Reni yang mulai menyendokkan nasi goreng yang dihidangkan oleh Rena.


“Mmmm, asin Kak Na.. Kak Na mau nikah lagi ya..,” sahut Reni menutup matanya.


“Masa sih?” sahut Rena khawatir.


Ia pun lekas mengambil sendok baru dan mencicipi sendiri nasi goreng buatannya.


“Kamu, ya?” sahut Rena menatap Reni dengan sorot mata yang tajam seperti hendak menerkamnya hidup-hidup.


“Senang banget bikin Kakak khawatir, dasar tukang boong!” mendorong adiknya yang tertawa terpingkal-pingkal karena berhasil mengerjai Rena.


“Lagian Kak Na percaya aja, hahaha,” sahut Reni yang masih berusaha menahan tawanya.


“Ayo, Kak Alan dimakan, nasi gorengnya enak, kok,” sahut Reni kepada Alan yang sedari tadi hanya tersenyum memperhatikan tingkah kedua kakak beradik itu.


“Terima kasih,” sahut Alan.

__ADS_1


Alan pun mencicipi nasi goreng yang telah disediakan Rena untuknya dengan sangat lahap. Begitu pula dengan Reni, Rena, dan kedua anaknya, Hana dan Haikal.


“Nasi gorengnya enak kan, Kak Alan ?” tanya Reni.


“Iya, enak sekali. Kakakmu pintar sekali memasaknya,” sahut Alan sambil mengerlingkan matanya ke arah Rena yang sedari tadi memperhatikannya. Hal itu tentu saja membuat Rena menjadi salah tingkah karena ketahuan memperhatikan Alan sedari tadi.


“Kak, kalau nasi goreng ini benar-benar asin, apa Kak Alan akan tetap memakannya?” tanya Reni.


“Tentu, aku akan tetap memakannya, asal kakak kamu ada di sampingku saat menikmati nasi goreng itu,” jawab Alan.


“Maksudnya ?” tanya Reni dan Rena hampir bersamaan.


“Iya, kan nanti nasi goreng yang asin itu akan berubah menjadi manis saat melihat wajah kakakmu yang manis itu,” goda Alan yang membuat pipi Rena merona.


“Ciee...,” sahut Reni yang ikut menggoda kakaknya.


Asyik... sepertinya Kak Alan memang beneran suka sama Kak Rena. Jadi, aku akan lebih mudah mempersatukan mereka. (ucap Reni dalam hatinya)


Mereka pun terus menikmati nasi goreng buatan Rena hingga habis sambil sesekali menyelipkan canda tawa di tengah-tengah kegiatan makan mereka.


Kak Alan dan Rayhan memang benar-benar berbeda. Bahkan, hampir sepuluh tahun pernikahanku dengan Rayhan, aku tak pernah melihat Reni tertawa lepas dengannya seperti ini. Iya, jangankan tertawa, bicara dengan Rayhan pun hanya Reni lakukan seperlunya saja. Aduh,kenapa aku jadi banding-bandingkan Kak Alan dengan Rayhan seperti ini sih..? (pikir Rena)


“Alhamdulillah, kenyang,” sahut Reni saat nasi goreng dipiringnya sudah tak bersisa lagi


“Alhamdulillah,” sahut Hana dan Haikal hampir bersamaan.


“Kak Na, aku mau ke kamar mandi dulu ya, mau buang air kecil,” sahut Reni.


“Ikut Tante Ren,” pinta Hana.


“Ikal juga,” sahut Haikal.


“Ih, kalian ikut-ikut aja,” sahut Reni.


“Iya, kan Hana juga pengen pipis,” sahut Hana.


“Ikal juga,” sahut Haikal.


“Iya, kan Ikal juga pengen pipis kaya Kak Hana dan Tante Ren,” sahut Haikal.


“Sudah-sudah,” sahut Rena melerai pertengkaran kedua buah hatinya.


“Reni, ajak mereka sekalian!” seru Rena.


“Iya, Kak. Ayo, Hana, Haikal,” ajak Reni.


Setelah Hana, Haikal, dan Reni pergi, Rena pun membereskan bekas makanan mereka.


“Alhamdulillah, kenyang. Terima kasih ya, Rena, masakanmu sungguh lezat sekali,” puji Alan yang membuat Rena tersipu.


“Terima kasih juga, Kak, atas pujiannya yang berlebihan,” sahut Rena.


“Sungguh, aku tidak mengatakannya berlebihan, nasi gorengmu memang sangat lezat,” sahut Alan yang hanya dibalas senyuman oleh Rena.


Rena pun membereskan bekas makan Alan. Ada rasa bahagia melihat Alan benar-benar menghabiskan nasi goreng buatannya itu. Terlebih pujian Alan yang membuatnya merasa tersanjung sekaligus terharu karena sebelumnya suaminya sendiri yang kini sudah resmi menjadi mantannya itu nyaris tak pernah memuji masakannya.


Sejenak keheningan melanda di antara mereka berdua, hingga Alan melontarkan pertanyaan yang sebenarnya sangat enggan bagi Rena menjawabnya.


“Rena, ke mana suamimu ?” tanya Alan berpura-pura tidak tahu.


“Aku.. aku sudah berpisah dengannya,” jawab Rena dengan menyimpan sejuta kepedihan.


“Kenapa apa kau tidak merasa kasihan dengan anak-anakmu ?” tanya Alan.


“Maaf, Kak Alan, aku rasa aku tidak perlu menjelaskan semua alasannya kepadamu, kan,” sahut Rena.


“Iya, kau benar, Rena.. Maaf. Kau tak perlu menjelaskan semua alasannya kepadaku apalagi aku hanyalah orang asing,” sahut Alan.

__ADS_1


“Bukan begitu, Kak Alan. Aku hanya tidak ingin kembali mengorek luka yang hanya akan membuatku sakit,” sahut Rena dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Maaf,” sahut Alan lirih. Ia merasa bersalah akan pertanyaannya pada Rena.


“Kak Alan, sendiri kenapa berpisah dari Dewi ?” tanya Rena yang sedari tadi sebenarnya menyimpan rasa penasarannya akan status Alan.


“Dewi meninggalkanku,” jawab Alan dengan nada yang terdengar parau.


“Ha, laki-laki selalu saja menyalahkan kaum wanita ya?” sahut Rena dengan nada sinis.


“Maksud kamu ?” tanya Alan tak paham dengan maksud perkataan Rena.


“Iya, maksud aku kenapa sih jika terjadi kegagalan dalam sebuah pernikahan selalu saja kaum wanita yang disalahkan?” tanya Rena dengan nada geram.


“Aku tidak menyalahkan Dewi,” jawab Alan.


“Lalu tadi Kak Alan bilang apa? Kak Alan bilang Dewi meninggalkan Kakak. Kakak pikir aku percaya? Setahuku itu sangat tidak mungkin karena yang aku tahu Dewi sangat mencintai Kakak dengan seluruh jiwa dan raganya,” sahut Rena.


Alan tersenyum ketika tahu Rena salah mengartikan maksud perkataannya.


“Kau benar. Dewi sangat mencintaiku dan dia tidak mungkin meninggalkanku karena keinginannya,” sahut Alan.


“Betulkan? Pasti Kakak yang telah meninggalkan dia karena keinginan Kakak sendiri. Hu, laki-laki memang selalu egois,” sahut Rena sinis.


“Kau salah Rena. Aku tidak pernah menginginkannya dan aku pun tidak pernah meninggalkannya,” sahut Alan memberi penekanan pada setiap kata dalam kalimatnya.


“Maksud, Kakak apa? Tolong jangan membuatku bingung,” tanya Rena.


“Dewi meninggalkanku bukan karena keinginannya bukan juga karena keinginanku, tapi karena keinginan yang Maha Kuasa yang lebih mencintainya dibanding aku,” jawab Alan yang membuat Rena terpaku.


“Jadi, maksud Kak Alan, Dewi---?” tanya Rena.


“Iya, Dewi sudah tiada Rena. Dia sudah meninggalkanku untuk selama-lamanya, “ jawab Alan sedih.


“Maaf, aku sudah salah sangka. Sudah berapa lama Dewi meninggal?” tanya Rena sedih bercampur malu.


“Sudah sekitar empat tahun yang lalu,” jawab Alan.


“Apa? Sudah selama itu dan Kakak belum menikah lagi ?” tanya Rena heran.


“Iya, seperti yang kamu lihat,” jawab Alan.


Aku masih sendiri Rena karena selama ini aku belum menemukan wanita yang mampu mengisi hatiku. Selain kamu, hanya kamu yang selalu ada di hati bahkan ketika aku sudah mengikat janji dengan Dewi pun, dirimu dan semua kenangan yang pernah terjadi di antara kita tidak pernah bisa aku lupakan (batin Alan).


“Aku harap Kakak bisa segera menemukan pengganti Dewi,” sahut Rena.


“Aku harap kau juga begitu,” sahut Alan.


“Tidak, tidak, tidak... aku tidak pernah berniat untuk menikah lagi. Bagiku sudah cukup pernikahanku yang kemarin membuat luka dalam di hatiku dan aku tidak ingin terluka lagi karena itu,” sahut Rena.


“Kau pikir semua pria sama seperti mantan suamimu,” sahut Alan jengkel.


“Iya, aku tahu. Tapi, entahlah, Kak. Aku sungguh tidak ingin membahas itu lagi,” sahut Rena yang berusaha mengalihkan pembicaraannya.


“Maaf, kalau begitu. Namun, aku harap kau bisa mengubah jalan pikiranmu dan tidak lagi menutup pintu hatimu untuk yang lain,” sahut Alan.


Dan izinkan aku, masuk ke dalam hatimu (batin Alan).


***


Bersambung


Terima kasih sudah setia membaca cerita ini dan jangan lupa tinggalkan jejakmu lewat like, vote, komen, dan jadikan favorit ya..😁😁❤️❤️


Jangan lupa juga mampir ke ceritaku yang lain “Arabella Gadis Jelita”!


Semoga sehat selalu...

__ADS_1


Aku sayang kalian.. 😘😘😘


__ADS_2