Mungkinkah Kembali?

Mungkinkah Kembali?
Bab 58 Jangan Bersedih


__ADS_3

Sore itu Reni tampak sangat lelah. Hal itu terlihat jelas di wajahnya yang kusut dan tak bercahaya.


“Ren, capek banget, ya?” tanya Rena.


“Iya nih, Kak, aku capek banget,” sahut Reni sambil merebahkan badannya di kursi.


Rena yang melihat keadaan adiknya itu benar-benar merasa tidak tega. Ia pun mengambilkan segelas air putih dan memberikannya kepada adiknya Reni.


“Minum dulu Ren,” sahut Rena.


“Makasih, Kak Na,” sahut Reni mengambil segelas air putih yang diberikan Rena, lalu meminumnya.


“Tiap hari kamu capek kaya gini, Ren?” tanya Rena.


“Nggak juga sih Kak Na, ini karena awal bulan aja. Makanya swalayan rame banget. Biasalah emak-emak, kalau awal bulan kan perlu diruqyah semua,” sahut Reni.


“Diruqyah? Emangnya kenapa?” tanya Rena bingung.


“Iya, pada kesurupan. Kesurupan setan belanja, hahaha,” sahut Reni.


“Hahaha, kamu tuh bisa aja Reni,” sahut Rena yang ikut tertawa.


“Kak Na, Reni seneng deh ngeliat Kak Na bisa ketawa lepas kaya tadi,”


Ucapan Reni seketika membuat Rena terdiam karena memang benar ia sudah jarang sekali tertawa seperti tadi.


“Sejak Kak Na bercerai dengan Kak Rayhan, Kak Na jadi jarang ketawa. Kak Na lebih banyak diam dan mengurung diri di kamar,” sahut Reni.


Perkataan Reni membuat mata Rena berkaca-kaca, terbayang kembali dalam ingatannya luka demi luka yang ditorehkan oleh mantan suaminya.


“Kak Na, kenapa sedih lagi?” tanya Reni saat melihat mata kakak perempuannya kembali berkaca-kaca.


“Reni minta Kak Na enggak boleh sedih lagi. Lupakan apa yang dilakukan Kak Rayhan sama Kak Na,” sahut Reni.


“Apa itu bisa Ren?” tanya Rena.


“Bisa! Kak Na pasti bisa! Reni yakin itu. Bukan kah kita pindah kemari juga salah satu alasannya adalah agar Kak Na bisa melupakan semua masa lalu Kak Na," sahut Reni.


“Kamu benar, tapi masa lalu itu seperti bayang-bayang Reni. Yang ke mana pun kita pergi, bayang-bayang itu akan selalu ada dan mengikuti kita,” sahut Rena.


“Mungkin dalam hal ini Kak Na benar. Masa lalu seperti bayang-bayang yang selalu ada dan mengikuti kita. Tapi apakah keberadaannya membuat kita berhenti melangkah? Tidak, Kan? Ada atau tidaknya bayang-bayang, di mana pun letaknya bayang-bayang yang mengikuti kita. Bayang-bayang tak pernah bisa menghentikan langkah kita. Dia ada tapi tak perlu kita pedulikan, bahkan mungkin kita abaikan agar kita tetap bisa melangkah. Begitu pula dengan masa lalu kakak, masa lalu itu memang ada tapi kakak tak perlu lagi mempedulikannya, terlebih lebih menangisinya,” ucap Reni sembari menatap lekat wajah kakaknya.


“Kak Na, Reni minta jangan bersedih lagi hanya karena masa lalu Kak Na. Jadikan masa lalu Kakak sebagai pembelajaran. Biarkan ia hanya menjadi bayang-bayang, yang ada, namun tak perlu kakak pedulikan lagi,” sahut Reni.


“Kamu benar. Kakak janji, kakak tidak akan lagi bersedih hanya karena masa lalu Kakak,” sahut Rena.


“Gitu, dong, itu baru kakaknya Reni. O, ya Kak, Reni ada sesuatu buat Kakak,” ucap Reni sambil mengeluarkan sebungkus permen dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Rena.


“Strawbery mint ? Bukannya kamu bilang Kakak enggak boleh banyak makan permen karena nanti gigi kakak bisa cepat habis,” sahut Rena mengambil permen strawbery mint yang diberikan oleh adiknya.


“Tapi itu bukan dari Reni, Kak,” sahut Reni.


“Lalu dari siapa?” tanya Rena bingung.


“Itu dari salah satu pembeli di ‘Jaya Mart’ yang menitipkannya untuk Kakak,” jawab Reni.


“O,ya? Kok bisa? Apa Kakak kenal sama dia?” tanya Rena penasaran.


“Enggak, sepertinya Kakak enggak kenal sama dia,” jawab Reni.

__ADS_1


“Lalu? Kok bisa dia menitipkan permen ini buat Kakak?” tanya Rena.


“Jadi, gini Kak, tadi itu dia beli permen strawbery mint banyak banget. Terus Reni bilang, kalau Kakak juga sama kaya dia, suka banget sama permen strawbery mint. Eh, dia langsung ngasi permen itu deh ke Reni,” jawab Reni.


“Wah, baik banget,” sahut Rena.


“Ya, dia itu emang baik banget Kak. Tadi aja, dia bayarin belanjaan Nenek-nenek yang enggak dia kenal. Terus bayarin belanjaan adiknya yang banyaknya minta ampun. Kakak-kakak Reni aja mana pernah kaya gitu, paling banter juga bayarin coklat sama minuman doang,” sahut Reni.


“Kamu itu suka banding-bandingin, ya,” sahut Rena.


“Hehehe.. bukan maksud ke situ sih Kak, walaupun ngarep,” sahut Reni.


“Hu.. dasar,” sahut Rena.


“O,ya, Kak, satu lagi, dia itu orangnya juga ganteng loh," sahut Reni.


“Jadi, kamu naksir gitu?” tanya Rena.


“Nggak juga sih, tapi kalau dia mau sama Reni. Reni nggak akan nolak,” sahut Reni.


“Kamu ini nggak bisa ya.. liat cowok ganteng!” sahut Rena.


“Iya, itu karena Reni masih normal, Kak,” sahut Reni.


“Oh, masih normal toh, kirain udah nggak,” sahut Rena.


“Ah.. Kakak nih...” sahut Reni cemberut.


“Bercanda..Neng geulis...” sahut Rena sambil mengelus pipi adiknya.


“Ya, udah, nanti kalau kamu ketemu dia lagi sampaikan ucapan terima kasih Kakak ke dia,” sahut Rena.


“Bisa aja sih. Kalau jodoh?” sahut Rena.


“Aamiin.. paling enggak kalau pun enggak berjodoh sama Reni, berjodoh lah sama Kakak,” goda Reni.


“Loh, kok jadi bawa-bawa Kakak ?” sahut Rena.


“Ya, iya lah, kan yang nerima permennya Kakak. Kali aja itu bisa jadi permen cintanya Kakak sama dia," sahut Reni.


“Ada gitu permen cinta?” tanya Rena.


“Iya, ada aja. Dalam kamus cinta, apa sih yang ngga ada?” sahut Reni.


“Hu.. kebanyakan baca novel kamu. Udah, ah, sana mandi, bau tau!” sahut Rena.


“Iya, Kak Na cantik, ini juga mau mandi. O,ya, jangan lupa, dimakan ya.. permen cintanya,” goda Reni beranjak berdiri dan berlalu pergi meninggalkan Rena menuju kamar mandi.


****


Tok tok tok


“Iya, bentar,” sahut Felisa yang baru beranjak dari tempat tidurnya.


Felisa pun segera membuka pintu yang sedari tadi diketuk Alan.


“Ada apa sih Kak? Pagi-pagi udah gangguin orang tidur aja,” sahut Felisa begitu melihat Alan yang sudah bediri di depan pintu kamarnya.


“Ya, ampun Feli, kamu baru bangun. Enggak shalat Subuh kamu?” tanya Alan.

__ADS_1


“Enggak, kan Feli lagi ‘M’” jawab Felisa.


“M ? Maksud kamu males?” tanya Alan.


“Menstruasi, Kakak,” jawab Felisa.


“Oh.. mau ikut Kakak lari pagi nggak?” tanya Alan.


“Kak Abi ikut nggak?” tanya Felisa.


“Enggak, dia lagi ada urusan, makanya Kakak ajakin kamu,” jawab Alan.


“Kalau gitu males ah, Kakak lari pagi aja sendiri! Feli mau tidur lagi,” sahut Felisa.


“Yah.. enggak asyik kamu Fel,” sahut Alan.


“Emang,” sahut Felisa yang langsung menutup kembali pintu kamarnya, membuat sang Kakak yang berada di depan kamarnya itu hanya mampu mengeleng-gelengkan kepala melihat tingkah adik kesayangannya itu.


***


Di rumah Rena


“Mamah,” sapa Hana dan Haikal bersamaan.


Mereka menghampiri Rena yang tengah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


“Eh, kalian udah bangun. Udah pada shalat Subuh belum?” tanya Rena.


“Udah, dong Mah,” jawab Hana.


“Ikal juga udah,” sahut Haikal.


“Masyaallah.. anak-anak Mamah pinter ya..,” puji Rena.


“Iya, tentu dong, anak siapa dulu? Mamah Rena,” sahut Hana.


“Mah, ayo!” ajak Haikal.


“Ayo, kemana sayang?” tanya Rena.


“Mamah lupa ya..? Mamah kan udah janji sama kita bakalan ngajak aku dan Haikal pergi ke taman yang ada di kompleks ini. Sekalian lari pagi,” sahut Hana.


“Oh, iya Mamah lupa,” sahut Rena saat mengingat janjinya pada anak-anak.


“Kalau gitu, sekarang Mamah selesaikan ini dulu dan kalian bangunin Tante Reni! Ajak Tante Reni lari pagi bareng kita,” seru Rena.


“Siap, Mah.” Sahut Hana dan Haikal.


Rena pun segera menyelesaikan pekerjaannya, membuat sarapan pagi dengan menu nasi goreng spesial ala Rena. Sedangkan,Hana dan Haikal menuju kamar atas untuk membangunkan tante mereka.


***


Bersambung


Kira-kira bakalan ketemu nggak ya.. Rena sama Alan? 🤔🤔🤔


Tunggu aja deh kelanjutannya di episode berikutnya..😁😁


Baca dan nikmati terus ceritanya dan jangan lupa tinggalkan jejakmu lewat like, rate 5, komen, dan votenya ya... Jangan lupa juga jadikan favorit! ❤️❤️❤️

__ADS_1


Terima kasih, sehat selalu 😘😘😘


__ADS_2